(Apa yang kita bisa pelajari dari para pelatih Olah Raga (dan kita bisa terapkan sebagai leader)?)
**
Dengan peran sebagai bisnis leader, kadangkala team kita sudah mampu perform dengan baik, dan mencapai objective nya. Tetap saja, kadang challenge kita adalah bagaimana kita push mereka untuk lebih meningkatkan lagi kinerjanya, di atas ekspektasi. Bukan hanya mencapai tetapi melampaui. Kita sudah banyak ikut training leadership, kita sudah banyak membaca buku. Tetapi kadang kita kehabisan ide untuk me-motivasi dan mem-push anggota team kita.
Saya sering kali belajar dari bidang yang lain. Saat saya kehabisan ide dari buku-buku business leadership, saya membaca dan mencari ide dari buku tentang coach (pelatih) olahraga yang ditulis oleh Damian Hughes, berjudul “The Winning Mindset”. Hari ini saya akan share beberapa Teknik coaching (leadership) yang di share di buku itu.
**
Kita mulai dengan cerita pertama. Bill Shankly memulai jabatan sebagai pelatih Liverpool Football Club pada tahun 1959. Dengan tangan dinginnya dia berhasil mencetak prestasi yang cemerlang beberapa tahun kemudian. Bahkan tahun 1965, mereka masuk ke European Cup. Di quarter final mereka melawan juara Liga Jerman, FC Cologne. Babak itu dilakukan dengan dua pertandingan. Di Cologne, mereka seri. Di Liverpool, mereka seri lagi. Mereka harus bertanding lagi di lokasi netral, di Rotterdam. Dan ternyata tetap seri, setelah extra time. Sesuai peraturan saat itu, terpaksa hasil akhir ditentukan dengan lemparan coin. Dan ternyata Liverpool menang.
Tiga hari kemudian, Liverpool harus menghadapi Chelsea dalam babak semi final Piala Inggris (FA Cup). Chelsea masih sangat fresh. Liverpool tentu saja dalam kondisi Lelah, mental maupun fisik. Di atas kertas, Liverpool akan sulit sekali menang. Dan memang hampir semua pemain sudah kelelahan, habis-habisan, setelah tiga pertandingan full-time melawan Juara Liga Jerman (FC Cologne).
**
Di ruang briefing, Bill Shankly, bercerita kepada semua pemain.
“Guys, sebenarnya saya tidak ingin menunjukkan ini. Tapi ya sudahlah, we have nothing to lose”. Shankly menunjukkan sebuah brosure berwarna, brosur pertandingan final di Wembley, oleh Chelsea. Para pemain Liverpool kebingungan. Shankly meneruskan,”Chelsea sudah yakin mereka akan mengalahkan kita. Mereka menganggap pertandingan semifinal ini hanya formalitas belaka. Mereka sudah begitu yakin akan maju final dan bahkan sudah mencetak brosur ini. Mungkin karena mereka berpikir bahwa kalian sudah habis”
Pemain-pemain Liverpool mulai marah.
Shankly terus bertanya,”Apakah kalian sudah habis dan kelelahan?”
“Apakah pertandingan ini hanya formalitas?”
“Apakah kalian terlalu Lelah untuk bertanding?”
“Apakah mereka bisa menghabisi kalian?”
Setiap pertanyaan itu membangkitkan kemarahan dan semangat pemain-pemain Liverpool. Mereka bermain dengan semangat membara, dan menghabisi Chelsea 2-0. Bill Shankly tersenyum di akhir pertandingan. Dia merobek brosur yang dia cetak sendiri, dan sebenarnya Chelsea tidak pernah mencetak brosur itu. Itulah caranya untuk memotivasi dan membakar semangat teamnya agar menang.
**
“Apa lagi yang ditulis Damian Hughes di buku itu?”.
Damian Hughes meringkas, lima hal yang biasanya dilakukan oleh pelatih-pelatih olahraga. Menariknya, lima hal itu sangat bisa diterapkan dalam context business leadership.
Damian menyingkatnya dalam sebuah akronim: STEPS (Simplify, Thinking, Emotion, Practical and Stories). Kita diskusikan satu per satu. Saya share di bawah ini beserta cerita-cerita dari buku itu dan beberapa pengalaman saya sendiri.
a) *Simplify*
Seorang leader seharusnya bisa menjelaskan setiap objective nya sesederhana mungkin, agar semua anggota teamnya bisa mengerti. What is the “one sentence statement that represent what we need to achieve”. Alex Fergusson, pelatih Manchester United mengulang berkali-kali,”We never accept defeat”.
Pemain-pemainnya tampil dengan semangat luar biasa, habis-habisan, agar jangan sampai kalah.
Perdana Menteri Korea Selatan, dulu berulangkali mengatakan,”Mari kita kalahkan Jepang”, untuk menyemangati seluruh rakyatnya dalam perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Sekarang dalam beberapa hal mereka mengalahkan Jepang.
Seorang CEO di Indonesia pernah menyampaikan targetnya ke ribuan karyawan,”Satu-dua-tiga. Mari menjadi Nomor satu dalam hal quality. Mari menjadi Nomor dua dalam market share. Dalam TIGA tahun”. Tiga tahun kemudian mereka mencapai hal itu.
Apakah sebagai bisnis leader, anda mampu menjelaskan objective anda secara gambling kepada seluruh anggota team anda?
**
b) *Thinking*
Bagaimana kita membuat mereka memperhatikan dan selalu ingat objective kita? Bagaimana kita bisa membangun motivasi dan menjaga motivasi mereka?
Jose Morinho, seorang pelatih sepakbola kelas dunia, berpendapat,” Setiap pemain bola itu ya Sukanya bermain bola. Anda bisa memberikan mereka Latihan fisik, push-up atau apapun. Tapi tetap berikan kesempatan kepada mereka untuk bermain bola. Let them do what they like to do”
Seorang CEO di Amerika, selain memberikan tugas inti kepada setiap karyawan, juga memberikan 20% waktu mereka untuk melakukan apapun yang mereka sukai terkait inovasi dan improvement.
Perusahaan itu selalu mencapai objective mereka.
Sebagai business leader, apakah anda mampu memotivasi semua karyawan untuk bekerja dan belajar terus menerus? Apakah anda mampu menempatkan mereka pada posisi yang mereka sukai dan membuat mereka mengerjakan tugas yang mereka suka lakukan?
**
c) *Emotion*
Manusia adalah kombinasi antara otak (yang berpikir), hati yang punya emosi dan tangan (tubuh) yang bergerak. Kalau mau mengajak seluruh team untuk bekerja keras menggerakkan tangannya, maka anda harus menyentuh hati mereka dan menggerakkan tangannya.
Saat Herve Renard memimpin team Arabia Saudia melawan Argentina, dia bilang ke teamnya,”Ini bukan 11 pemain melawan 11 pemain. Ini adalah kebanggaan seluruh jazirah Arab di panggung dunia. Apa yang akan kalian lakukan?”. Akhirnya mereka menang melawan team Argentina.
Saat saya bekerja di sebuah perusahaan air mineral, seorang lulusan UGM yang berasal dari Klaten, menyampaikan,”Saya ingin bekerja di perusahaan ini, karena perusahaan ini membuat product yang menyehatkan badan, melestarikan lingkungan dan menyejahterakan masyarakat di sekitarnya.”
Sebagai seorang business leader, apa yang anda lakukan untuk menyentuh hati karyawan-karyawan anda, meyakinkan otak mereka sebelum menggerakkan tangan mereka?
**
d) *Practical*
Bagaimana sebagai leader membuat ide-ide itu mudah diterapkan?
David, seorang teman saya, yang sudah menjadi Director, tetapi masih sering mengajar training di perusahaan di mana dia bekerja, sering mengajak para talent membuat pesawat terbang dari kertas, menuliskan cita-cita mereka dan menerbangkannya. Dia tidak hanya mengajarkan teori, tetapi mengajak semua peserta melakukan role-play, bagaimana melakukan coaching kepada anak buah yang bermasalah, mengamati dan memberikan feedback.
Tugas anda sebagai leader, bukan hanya menjelaskan teori, tetapi membuat semuanya menjadi mudah untuk diimplementasikan, praktis, sederhana dan benar-benar akan dijalankan.
**
e) *Stories*
Anda baru saja merasakan, bahwa semua cerita yang saya share di atas, ternyata sangat memudahkan kita untuk mengerti, yakin dan menjalankan hal-hal tersebut. Kekuatan seorang leader yang wajib dimiliki adalah “story-telling”. Kemampuan bercerita, kepada team anda agar team anda yakin, tergerak dan mengikuti serta menjalankan apa yang perlu dilakukan untuk mencapai obecjtive bersama.
**
Voila, kita baru saja mempelajari beberapa advice sederhana, untuk meningkatkan leadership capability kita, yang diringkas oleh Damian Hughes dalam bukunya,”The Winning Mindset”.
STEPS (Simplify, Thinking, Emotion, Practical dan Story-telling).
**
Salam Hangat, Pambudi Sunarsihanto