Jumat, 24 Juli 2026

Rejeki dari Allah

Mengapa Al-Qur’an Menghubungkan Rezeki dengan Langit, Padahal Kita Mengambilnya dari Bumi? Sebuah Keajaiban Tauhid yang Mengubah Cara Pandang terhadap Rezeki

Bayangkan sebuah pohon mangga.

Setiap musim, orang datang memetik buahnya. Mereka melihat buah itu tumbuh di dahan, lalu berkata, “Inilah sumber rezekinya.”

Padahal, benarkah buah itu berasal dari dahan?

Akarnya tidak pernah terlihat.
Air yang menghidupkannya tidak tampak.
Sinar matahari tidak bisa disentuh.
Dan hujan datang dari langit.

Yang terlihat hanyalah hasilnya.
Yang bekerja justru banyak hal yang tidak terlihat.

Pernahkah Anda memperhatikan satu hal yang sangat menarik?

Kita mengambil padi dari sawah.
Kita memanen ikan dari laut.
Kita menggali emas dari perut bumi.
Kita memerah susu dari hewan.

Namun ketika berbicara tentang rezeki, Al-Qur’an berkali-kali mengarahkan pandangan kita ke langit.

Mengapa?

Allah berfirman,

“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”

(QS. Adz-Dzariyat: 22)

Allah juga berfirman,

“Tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”

(QS. Hud: 6)

Mengapa Allah tidak mengatakan, “Di bumi terdapat rezekimu”?

Padahal hampir semua makanan kita berasal dari bumi. Di sinilah letak salah satu keajaiban cara Al-Qur’an mendidik cara berpikir manusia.

[Rezeki dan Sebab Tidak Pernah Sama]

Manusia sering tertukar antara tempat mengambil dan asal pemberi.

Petani melihat sawah.
Pedagang melihat pelanggan.
Karyawan melihat perusahaan.
Nelayan melihat laut.

Padahal semuanya hanyalah sebab, bukan pemberi.

Al-Qur’an mengangkat pandangan kita lebih tinggi.

Rezeki boleh datang melalui bumi, tetapi keputusan rezeki berasal dari Allah yang di atas langit.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mengingatkan manusia agar tidak menggantungkan hati kepada makhluk. Sebab seluruh sebab hanya bekerja karena Allah mengizinkannya.

[Sains Justru Menguatkan Ayat Ini]

Coba renungkan.

Apa yang membuat sebutir benih tumbuh?

Tanah memang menjadi tempatnya. Tetapi tanah tidak mampu menciptakan hujan.

Tanah tidak mengatur sinar matahari.
Tanah tidak menentukan komposisi udara.
Tanah tidak menggerakkan siklus air.

Tanpa hujan dari langit, tanpa cahaya matahari, tanpa keseimbangan atmosfer, bumi yang subur sekalipun tidak mampu menghasilkan panen.

Sains menyebutnya sebagai siklus hidrologi, fotosintesis, dan keseimbangan ekosistem.

Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang lebih dalam.

Seluruh sistem itu berada dalam pengaturan Allah.

[Kesalahan yang Sering Terjadi Hari Ini]

Banyak orang berkata,

“Bos saya memberi saya gaji.”

“Klien saya memberi saya keuntungan.”

“Pembeli saya memberi saya penghasilan.”

Kalimat itu tampak biasa.

Namun jika hati benar-benar meyakininya, di situlah tauhid mulai bergeser.

Bos hanyalah perantara.
Pembeli hanyalah jalan.

Perusahaan hanyalah sebab.
Pemberi rezeki tetap Allah.

Karena itu, ketika satu pintu tertutup, seorang mukmin tidak kehilangan harapan.

Ia tahu bahwa yang menutup pintu bukanlah akhir dari rezekinya.

Allah mampu membuka pintu lain yang bahkan belum pernah ia bayangkan.

[Ekonomi Mengajarkan Distribusi, Al-Qur’an Mengajarkan Sumber]

Ilmu ekonomi membahas bagaimana rezeki diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi.

Itu penting.

Islam tidak menolaknya.

Namun Al-Qur’an melengkapi sesuatu yang tidak dibahas oleh teori ekonomi.

Siapa yang menetapkan kadar rezeki?

Ada orang bekerja siang malam tetapi hasilnya sedikit. Ada orang lain memperoleh peluang yang tidak pernah direncanakan.

Bukan berarti ikhtiar tidak penting. Justru Islam memerintahkan bekerja, berdagang, bertani, dan berusaha.

Namun setelah semua ikhtiar dilakukan, seorang mukmin sadar bahwa hasil akhirnya tetap berada dalam keputusan Allah.

Ikhtiar adalah kewajiban. Rezeki adalah pemberian. Jangan pernah menukar keduanya.

[Mengapa Ayat Ini Menenangkan Hati?]

Psikologi modern menjelaskan bahwa kecemasan sering muncul ketika seseorang merasa seluruh hidupnya bergantung pada sesuatu yang tidak ia kuasai.

Al-Qur’an mengubah titik sandaran itu.

Jika rezeki hanya bergantung pada manusia, kita akan terus hidup dalam ketakutan.

Takut kehilangan pekerjaan.
Takut kehilangan pelanggan.
Takut kehilangan jabatan.

Tetapi ketika hati yakin bahwa rezeki berada di tangan Allah, usaha tetap maksimal, namun kecemasan tidak lagi menguasai jiwa.

Inilah yang disebut para ulama sebagai tawakal.

Bukan berhenti bekerja.

Tetapi berhenti menyembah sebab.

[Renungkan Sejenak]

Seekor burung keluar dari sarangnya setiap pagi.

Ia tidak membawa bekal.
Ia tidak memiliki rekening.

Ia tidak menyimpan persediaan makanan berbulan-bulan.

Namun Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”

(HR. At-Tirmidzi)

Perhatikan.

Burung itu pergi.
Ia tidak diam.
Ia berikhtiar.

Tetapi ia juga tidak pernah membawa kegelisahan pulang ke sarangnya.

Mungkin itulah rahasia mengapa Al-Qur’an menghubungkan rezeki dengan langit.

Agar setiap kali kita memanen hasil dari bumi, kita tidak lupa mengangkat kepala ke langit.

Karena sawah bukan pemberi.
Pasar bukan pemberi.
Perusahaan bukan pemberi.
Bahkan kekuatan tubuh kita pun bukan pemberi.

Semua hanyalah jalan yang Allah bentangkan. Pemberi rezeki yang sesungguhnya adalah Allah. Ketika keyakinan itu hidup di dalam hati, manusia akan bekerja sekuat tenaga tanpa diperbudak oleh pekerjaannya, berusaha sepenuh kemampuan tanpa diperbudak oleh hasilnya, dan hidup dengan hati yang tenang karena ia tahu: rezekinya tidak pernah salah alamat.

#AlQuran #KeajaibanAlQuran

Selasa, 21 Juli 2026

📌 Tuan Guru Nor Syahid Ramli, Mutiara dari Al-Falah dan seorang pendidik sejati.✍🏻 Oleh: Ibnu Ghani Al-Martapuri


Tuan Guru Nor Syahid Ramli, atau yang lebih akrab disapa Guru Syahid / Murabbi, merupakan salah seorang ulama dan pendidik yang telah mengabdikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk dunia pendidikan Islam. Selama puluhan tahun beliau berkhidmat sebagai pengajar di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru, membina serta mencetak generasi santri melalui dedikasi yang konsisten dan penuh keikhlasan.

Selain mengajar di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru, beliau juga aktif sebagai tenaga pengajar di Mahad Aly Darussalam Martapura, sebuah lembaga pendidikan tinggi keislaman yang didirikan oleh sahabat beliau, Tuan Guru Hatim Salman.

Dalam kesempatan bersilaturahmi dengan beliau, saya memperoleh kesempatan berharga untuk mendengarkan secara langsung kisah perjalanan intelektual beliau. Beliau menuturkan secara rinci pengalaman menuntut ilmu yang dimulai dari tanah kelahirannya di Banjar, kemudian melanjutkan studi ke Madrasah Shaulatiyah di Makkah, hingga menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. 

Beliau juga mengisahkan para guru yang membimbing perjalanan ilmiahnya, serta para sahabat seperjuangan yang turut mewarnai dinamika kehidupan waktu menuntut ilmu.

Pendidikan agamanya di mulai dari bersekolah di PGA selama 6 tahun atau kata beliau sekarang itu setingkat Tsanawiyah dan Aliyah, setelah lulus beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di UIN Antasari, di Fakultas Ushuluddin jurusan dakwah, waktu masa masa kuliah, ayah beliau mempunyai keinginan yang kuat untuk menyekolahkan beliau ke Kota Mekkah, pada akhirnya beliau tuluskan keinginan ayah beliau tersebut.

Pada tahun 1975 M. beliau ke kota Mekkah, dan melanjutkan pendidikannya di Madrasah Shaulatiyah, waktu di Mekkah kata beliau, beliau di sambut oleh Guru Abror Dahlan, ada juga Haji Zainuri dari Sampit, selain itu beliau juga sempat bergabung dengan alumni pemangkih tang ada di Mekkah padahal kata beliau, beliau bukan alumni Pemangkih.
Waktu di Mekkah juga beliau akrab dengan Tuan Guru Hatim Salman juga kakaknya Tuan Guru Supian Salman, karena keduanya sama sama menuntut ilmu di Madrasah Shaulatiyah, adapun Guru Hatim Sendiri sekelas dengan beliau. Beliau juga sekelas dengan Pimpinan Ibnul Amin sekarang, yaitu Tuan Guru Supian Tsauri, beliau juga akrab dengan dua kakak beradik yaitu Guru Sya'rani Tayyib dan Guru Syaraqowi Tayyib, beliau juga waktu di Shaulatiyah sekelas juga dengan ulama madura yang sekarang terkenal dengan keproduktifan nya dalam menulis kitab, yaitu KH. Barizi, bahkan KH Bariziini juga ada menulis tentang biografi guru beliau Syekh Ismail bin Zain al-Yamani, di di biografi itu Kyai Barizi sebutkan diantara murid murid Syekh Ismail bin Zein al-Yamani yang berasal dari Banjar, diantaranya ada Guru Syahid, selain itu juga beliau sering bertemu dan kenal baik dengan ulama Madura yg dulu waktu masih nyantri di Mekkah yaitu KH Thaifur Ali Wafa, KH. Abul Futuh, Dll.

Adapun waktu di Madrasah Shaulatiyah, waktu itu beliau masuk di tes oleh Syekh Ismail bin Zein al-Yamani, dan waktu itu beliau masuk di kelas satu Tsanawiyah, dan waktu itu dibawah kepemimpinan Syekh Salim Rahmatullah, waktu di Shaulatiyah beliau juga sempat mengkhatamkan Kutubussab'ah, diantara Syekhul Hadis beliau wakti di Madrasah Shaulatiyah adalah :
1). Syekh Ismail bin Zein al-Yamani (Shohih Bukhari)
2). Syekh Muhammad Iwad (Shohih Muslim, Sunan Abi Daud, dan Muwattho Imam Malik)
3). Syekh Abdullah Lahji (Sunan Tirmidzi)
4). Syekh Saifurrahman (Sunan Nasa'i)
5). Syekh Sa'id (Sunan Ibnu Majah).

Adapun guru guru beliau di luar Madrasah Shaulatiyah diantaranya :
1). Syekh Yasin al-Fadani (Ijazah dan beberapa musalsal)
2). Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki (Sunan Abi Daud)
3). Sayyid Hamid al-Kaff
4). Syekh Abdul Karim al-Banjari
5). Syekh Jabir Jubron
6). Syekh Zakaria Billa, Dll.

Pada tahun 1981, beliau berhasil menyelesaikan pendidikan di Madrasah Shaulatiyah setelah menempuh masa belajar selama enam tahun. Pada tahun yang sama, beliau bersama dua orang sahabat sekelasnya, yaitu Tuan Guru Hatim Salman dan Tuan Guru Supian Tsauri, bertekad melanjutkan pendidikan ke Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. 

Dengan izin Allah, pada tahun itu juga mereka berangkat menuju Mesir untuk menuntut ilmu.
Setelah menempuh pendidikan selama enam tahun di Universitas al-Azhar, beliau berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1987. Seusai menyelesaikan pendidikan, beliau kembali ke tanah kelahirannya di Banjar.

Sekembalinya ke Banjar, ayahanda beliau meminta agar beliau turut mengabdikan ilmunya dengan mengajar di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru. Hal ini tidak terlepas dari kedekatan ayahanda beliau dengan Mu'allim Sani, serta keterlibatan beliau dalam membantu proses pembangunan Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru. Sejak saat itulah beliau mulai aktif mengajar dan berkhidmat dalam dunia pendidikan pesantren, mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya di Tanah Suci dan Universitas al-Azhar kepada masyarakat Banjar.

Sebelum pulang, alhamdulillah kami sempatkan membaca Hadis Musalsal bil Awwaliyah dan Mahabbah kepada beliau, setelah itu kami lanjut dengan membaca Athrof (Awal-Akhir) Kutubussab'ah 

Setelah itu beliau beri pesan kepada kami bahwa yang paling terpenting daripada ilmu itu adalah “Mengamalkan”.


Rabu, 24 Juni 2026

Biografi Ustadz H. Ilham Humaidi



Nama beliau adalah H. Ilham Humaidi , beliau dilahirkan di kota Banjarmasin pada hari Jum’at 16 Sya’ban 1409 H bertepatan dengan 
tanggal 24 maret 1989 M dari pasangan H. Suriansyah. beliau merupakan anak ke 2 dari 4 bersaudara yang mana kakak perempuan 
beliau bernama Normala Hayati serta adik perempuan beliau bernama Nor Laili Safitri dan adik laki-laki beliau bernama M. Khairil Wafa”

“Ayah Beliau yang bernama H. Suriansyah bin H. Said bin H. Matsain yang lahir tahun 1964. beliau adalah keturuanan kai Qosim yang mana beliau adalah salah satu sosok ulama dan Hafidz Qur’an di Kota Banjarmasin yang keilmuan beliau sangat luar biasa, kai Qosim
meninggal di usia 135 tahun. sedangkan nasab ibu, H. Suriansyah mempunyai nasab yang tersambung dengan nasab Gusti atau Antung 
yang mana pada zaman dahulu itu dinisbatkan untuk para keturuan kerajaan Banjar”.

“Kemudian ibu beliau bernama Hj. Wardiah binti H. Kasyful Anwar yang lahir di tahun 1965, nasab beliau langsung bersambung ke Guru H. Abdul Hamid atau yang sering disebut dengan Guru Lamak, paman beliau pun adalah ulama kharismatik pada masanya yaitu Guru H. Ridwan Pengambangan. jika kita lihat dengan seksama Nasab kedua orang tua Ustadz H. Ilham Humaidi sudah mempunyai kecintaan yang sangat luar biasa dengan ilmu pengetahuan agama”.

“Asal usul nama Ustadz H. Ilham Humaidi adalah yang mana diceritakan oleh ayah beliau dahulu ketika sang ibu mengandung anak 
yang ke 2 yaitu Al Ustadz H. Ilham Humaidi, ayah dan ibu beliau sangat senang membaca Al-Qur’an sehingga ingin memberi nama anak beliau itu dari Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah Ilham yang diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW. maka diberi nama lah Ilham. 
Disamping sangat senang membaca Al-Qur’an, ayah dan ibu beliau juga sangat senang mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an melalui kaset atau radio.
Adapun Qori yang membacakan ayat suci Al-Qu’an pada saat itu adalah KH. Muammar ZA dengan sahabat beliau yaitu KH. Chumaidi H, duet beliaupun menjadi duet yang terbaik saat itu dalam melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Dari situlah ayah dan ibu Ustadz H. Ilham Humaidi untuk mengambil nama kedua untuk anak beliau dari nama Qori KH. Chumaidi maka terciptalah nama Ilham Humaidi”.

“Juga perlu diketahui disamping ibu beliau (Hj. Wardiah) senang mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an, yang mana selama mengandung Ustadz H. Ilham Humaidi, beliau menghatamkan Al-Qur’an sebanyak 9 kali ditambah 16 juz atau hampir 10 juz. 
Amaliah itu rutin beliau lakukan karena memang kesenangan beliau terhadap Al-Qur’an. Beliau juga berharap terhadap keluarga dan terlebih untuk anak-anak beliau agar selalu mendapatkan keberkahan dan cinta terhadap Al-Qur’an. setelah anak kedua beliau lahirpun namanya tidak lepas maknanya dari Al-Qur’an dan tentunya ini menjadi panutan untuk kita menjadikan generasi-generasi selanjutnya yang cinta dengan Al-Qur’an”.

“Setelah kelahiran Ustadz H. Ilham Humaidi, ibu beliau Hj Wardiah juga mengikuti pepatah ulama terdahulu yaitu untuk tidak makan makanan yang bernyawa selama 41 hari lamanya, yang diyakinihal tersebut oleh orang-orang terdahulu in sya Allah menjadikan anak yang baik dikemudian hari, yang mana hal tersebut juga beliau lakukan kepada anak Al Ustadz H. Ilham Humaidi dan anak-anak beliau yang lain”.

”Semasa kanak-kanak, tepatnya saat Ustadz H. Ilham Humaidi lagi bersekolah TK, beliau dibawa oleh ibunya kepada para guru-guru 
Alim Ulama yang ada di Pemurus untuk minta didoakan dan meminta berkah dari mereka dengan cara tahnik dan meniup kepala Ustadz H.Ilham Humaidi kecil. Diantara Ulama yang beliau datangi adalah kai Guru Jafar, Guru H. Sam’ani, Guru Ridwan Pengambangan, dan masih banyak lagi. ketika dibawa ibu beliau Ustadz H. Ilham Humaidi kecil tidak banyak bertanya kepada ibu beliau seperti kebanyakan anak zaman sekarang, beliau menurut dengan apa yang dikatakan ibu beliau. 
Hj Wardiah mengatakan kepada para Guru-guru “Guru doakan anak 
saya supaya alim seperti guru”.

”Ustadz H. Ilham Humaidi semasa kecil juga bermain seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya seperti bermain kelereng danlain-lain. Namun apabila lantunan ayat Al-Qur’an dibacakan pertanda waktu masuk 
Shalat sudah dekat yang dibacakan sebelum adzan dikumandangkan dimasjid-masjid Kalimantan Selatan, beliau langsung bergegas mengakhiri permainannya dan berkata kepada teman-teman beliau “teman-teman, aku berhenti main karena sholat sudah hampir tiba”.

“Kemudian beliau pulang kerumah untuk membersihkan diri dari segala kotoran dan mengganti pakaian beliau dan langsung pergi 
ke masjid Jami Pemurus Dalam yang tidak jauh dari rumah beliau, dan hal itu dilakukan beliau setiap hari. Dengan kebiasaan beliau tersebut
Ustadz H. Ilham Humaidi kecil sangat disayang dan disukai oleh kaum Masjid Jami dan juga beliau sering disuruh untuk mengumandangkan adzan. Beliau sejak kecil juga sudah terbiasa untuk melaksanakan shalat waktu secara berjamaah di Masjid, tentu ini adalah didikan dari kedua orang tua beliau yang bagitu kuat”.

“Bahkan saat Ustadz H. Ilham Humaidi kecil, ayah beliau sering membawa beliau kemajelis di Sekumpul Martapura untuk menghadiri 
pengajian Abah Guru Sekumpul setiap malam senin. Ketika beliau masih kecil beliau berangkat dengan ayah beliau menuju ke Sekumpul menggunakan sepeda motor yang sering kali ketika pulang dari sana Ustadz H. Ilham Humaidi kecil sering tertidur sehingga digendong oleh ayah beliau dengan harapan dalam hati beliau “Semoga anakku ini 
menjadi anak yang sholeh”. 

“Tidak hanya pengajian di Sekumpul, Ustadz Ilham kecil juga dibawa ibu beliau untuk mengahadiri pengajian Guru Bakrie, Guru 
Mukri dan guru-guru yang lainnya. Bahkan didikan tersebut tidak hanya diterapkan kepada Ustadz H. Ilham Humaidi, namun orangtua 
beliau juga menerapkan kepada adik beliau yaitu Nor Laili Safitri dan Muhammad Khairil Wafa. Luar biasanya didikan orang tua Ustadz H. Ilham Humaidi kepada anak-anaknya dengan tujuan tertanamnya di dalam diri mereka kecintaan terhadap ilmu agama dan guru-guru yang mana hal seperti ini sudah sangat jarang ditemui”.

“Pendidikan pertama Ustadz H. Ilham Humaidi dimulai pada saat usia beliau 3 tahun di TK Rana Pemurus Dalam. Kemudian beliau 
melanjutkan pendidikan ke MIN Pemurus Dalam sambil bersekolah di Pondok Pesantren Babussalam di siang harinya seusai beliau pulang sekolah dari MIN Pemurus Dalam di pagi harinya. Lalu Beliau menjadi 
santri di Pondok Pesantren Al Falah Putra Landasan Ulin Banjarbaru .

pada tahun 2000, beliau menyelesaikan pendidikan wustho dan ulya 
disana hanya dalam waktu 6 tahun yang mana normalnya pendidikan 
tersebut ditempuh dalam waktu 7 tahun”.
12
“Setelah beliau menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Al Falah Putra, beliau kembali melanjutkan pendidikan agama ke 
negeri seribu wali yaitu Tarim Hadramaut tepatnya pada tahun 2006. 

Disana pada awalnya beliau bersekolah di cabangnya Darul Musthofa 
lalu akhirnya beliau bersekolah di Pondok Pesantren Darul Musthofa Tarim, Hadramaut, Yaman yang mana pimpinan Pondok Pesantren tersebut adalah Al Habib Umar Bin Salim bin Hafidz. Beliau menuntut ilmu disana sekitar 5 tahun yang akhirnya beliau kembali ketanah air pada bulan rajab tahun 1432 H bertepatan bulan juni tahun 2011 M”.

“Tidak lama setelah kepulangan beliau dari negeri Tarim, Hadramaut, Yaman beliau langsung melaksanakan pernikahan dengan 
seorang perempuan yang bernama Hj. Nina Maulida, dari pernikahan 
tersebut lahir 4 orang laki-laki dan 1 orang perempuan yang di beri nama M. Musthofa, Abu Bakar, Umar dan Utsman. 

M. Musthofa lahir pada tanggal 13 Syawal 1433 H bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2012, kemudian Abu Bakar lahir pada tanggal 23 Jumadil Awal 1437 H bertepatan dengan 
tanggal 3 Maret 2016. lalu Umar lahir pada tanggal 13 Ramadhan 1440 
H bertepatan dengan tanggal 18 Mei 2019. Dan yang terakhir ada 
Utsman lahir pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1443 H bertepatan dengan tanggal 20 November tahun 2021 M”.
sedangkan yang 1 perempuan diberi nama fathimah azzahra yang dilahirkan pada tanggal 13 april 2024

“Sebagai seorang guru atau pengajar, Al Ustadz H. Ilham Humaidi adalah sosok seorang ulama yang mana setiap untaian nasihat-nasihatnya selalu dinantikan para jamaah pengajian beliau. 

Semua kalimat yang beliau ucapkan tersusun dengan rapi dan mudah dipahami 
sehingga para jamaah yang mendengarkan ceramah beliau mudah mencerna dan memahami apa yang disampaikan oleh Al Ustadz H. Ilham Humaidi. 

Di samping beliau sebagai guru/pengajar di Majelis Taklim As Shofa dan berbagai masjid-masjid, mushalla di Kota Banjarmasin, di sela jadwal padat beliau juga sambil mengajar di Pondok Pesantren Al Falah Landasan Ulin

Selasa, 05 Mei 2026

5 ALASAN KENAPA REZEKI "MEMILIH" UNTUK MENJAUHIMU:



Pernah ngerasa udah kerja rodi, bangun pagi, jualan tiap hari, tapi uang kayak menghindar?  
Itu bukan karena kamu kurang usaha. Tapi karena energimu ngirim memo ke semesta: "Jangan dulu ke sini".

Rezeki itu cerdas. Dia nggak mau mampir ke tempat yang belum siap. Dan ini 5 alasan kenapa dia memilih menjauh:

1. KAMU MEMBERI SINYAL "KEKURANGAN" (DESPERATION)  

Energi butuh vs energi butuh banget itu beda. Saat kamu jualan sambil panik, "aduh harus laku bulan ini buat bayar cicilan", klien bisa ngerasain. Desperation itu repulsif. Uang lari dari orang yang kelihatan "haus".  

Analoginya: Kamu nggak mau diajak kenalan sama orang yang 5 menit pertama udah ngajak nikah kan? Rezeki juga gitu.  

Solusi: Jualan dari energi "aku punya solusi", bukan "tolongin aku dong".

2. OBSESIMU PADA ANGKA MEMPERSEMPIT PELUANG  

"Pokoknya bulan ini harus 100 juta". Niatnya bagus, tapi kalau kamu kaku cuma ngejar angka itu, kamu nutup pintu rezeki dari jalur lain. Bisa jadi semesta mau kasih kamu koneksi senilai 500 juta, tapi kamu tolak karena fokusnya cuma "transferan 100 juta sekarang".  

Solusi: Punya target itu wajib. Tapi lepasin "caranya harus begini". Biarin semesta yang atur rute terbaiknya.

3. MENTALITAS "DISKONAN" YANG MENGHANCURKAN 

"Ya udah deh buat kamu aku diskon 50%" padahal HPP udah mepet. "Ngga enak nolak, nanti dia ngga jadi beli". Setiap kali kamu banting harga karena ngga enakan, kamu ngajarin semesta bahwa value kamu itu murah. Dan pelanggan yang datang berikutnya akan bawa energi yang sama: nawar, ngutang, ngilang.  

Solusi: Harga dirimu = harga produkmu. Orang yang tepat akan bayar tanpa drama.

4. KECEMASANMU ADALAH "DINDING" FREKUENSI 

Cemas = getaran chaos. Uang suka mengalir di tempat yang tenang. Kalau isi kepalamu isinya "gimana ya kalo gagal, gimana kalo rugi, gimana kalo ditipu", kamu secara harfiah bikin dinding energi. Rezeki mau masuk tapi mental.  
Tesla bilang: Kalau mau temukan rahasia semesta
pikirkan dalam energi, frekuensi, dan vibrasi. Cemas itu frekuensi rendah.  

Solusi: Latih "calm confidence". Tenang bukan berarti pasif. Tenang berarti yakin.

5. KAMU MENGHAMBA PADA PROSES, BUKAN HASIL AKHIR

Kamu sibuk. Sangat sibuk.
Tapi… apakah kamu bergerak ke arah yang benar?
Kadang kita terjebak pada rutinitas: posting, kerja, ulangi.
Merasa produktif, padahal tidak mendekatkan diri ke hasil yang diinginkan.
Proses itu penting. Tapi tanpa arah yang jelas, proses hanya jadi pengalihan.

JADI, GIMANA BALIKIN REZEKI YANG MENJAUH?

Berhenti ngejar. Mulai menarik.  

1. CEK ENERGIMU DULU SEBELUM CEK
     REKENING. 
     Kamu jualan dari takut atau dari berdaya?  
2. LONGGARKAN GENGGAMAN. 
    Target boleh, tapi jangan ngotot sama caranya.  
3. NAIKKAN STANDARMU. 
     Berhenti kasih diskon ke dirimu sendiri.

Usahamu nggak sia-sia. Cuma frekuensinya yang perlu di-tuning.  
Karena rezeki nggak pernah telat. Dia cuma nunggu kamu siap nerima tanpa drama.

---

#dailygrowth #motivasi #inspirasiharian

Sabtu, 21 Maret 2026

MENGAPA MENJADI GENERALIS TERKADANG LEBIH BAIK DARIPADA MENJADI SPESIALIS

Dunia sedang terobsesi memuja spesialisasi ekstrem, hingga kita lupa satu hal penting: menjadi terlalu ahli dalam satu lubang kecil bisa membuatmu terkubur di dalamnya saat zaman berubah. Banyak orang mengejar gelar spesialis karena merasa aman dengan satu keahlian spesifik. Padahal, di era yang bergerak cepat, kekakuan intelektual justru menjadi resep instan menuju kedaluwarsa profesional.

Menjadi seorang generalis bukan berarti kamu tidak tahu apa-apa. Justru sebaliknya, kamu memiliki kemampuan untuk menghubungkan titik-titik yang tidak bisa dilihat oleh mereka yang pandangannya tertutup oleh kacamata kuda spesialisasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat spesialis teknis yang sangat hebat, namun gagal memimpin tim karena tidak memahami dinamika manusia atau logika ekonomi dasar. Mereka menguasai alatnya, tetapi buta terhadap konteks besar di mana alat itu digunakan. Akibatnya, solusi yang mereka tawarkan sering kali tidak relevan dengan kompleksitas dunia nyata.

Dengan mengembangkan spektrum pengetahuan yang luas, kamu sebenarnya sedang membangun sistem navigasi mental yang jauh lebih adaptif untuk bertahan di tengah ketidakpastian global.
 1. Memiliki Ketangguhan Adaptasi yang Luar Biasa
Spesialisasi adalah strategi berisiko di era otomatisasi dan kecerdasan buatan. Satu keahlian teknis bisa digantikan dalam semalam. Generalis memiliki jaring pengaman berupa beragam keterampilan yang bisa dirakit ulang sesuai kebutuhan zaman.

Mulailah mempelajari dasar berbagai disiplin seperti psikologi, pemasaran, dan logika dasar pemrograman. Jangan takut dianggap tidak fokus. Justru di sanalah fleksibilitas terbentuk. Adaptabilitas adalah asuransi karier paling nyata.
 2. Menjadi Penghubung Ide yang Inovatif
Inovasi jarang lahir dari satu bidang tertutup. Ia muncul dari persilangan ide. Generalis mampu mengambil konsep dari satu dunia dan menerapkannya di dunia lain dengan cara yang tak terduga.

Biasakan membaca atau berdiskusi di luar bidang utama. Saat menghadapi masalah, tarik analogi dari pengalaman lain. Kekuatan generalis terletak pada kemampuannya melihat pola besar yang luput dari spesialis.
 3. Memahami Gambaran Besar Secara Strategis
Spesialis cenderung melihat semua masalah sebagai paku yang harus dipukul dengan palu keahliannya. Generalis justru mundur dan bertanya: apakah ini benar-benar paku?

Latih diri untuk selalu bertanya “mengapa” sebelum “bagaimana”. Hubungkan pekerjaan dengan tujuan besar. Dengan memahami konteks, setiap tindakan menjadi lebih bermakna dan tidak sekadar mengejar kesempurnaan teknis.
 4. Lebih Mudah Berkolaborasi dalam Tim Multidisiplin
Masalah terbesar dalam tim bukan kurangnya keahlian, tapi kegagalan komunikasi. Setiap spesialis berbicara dengan bahasanya sendiri.

Generalis hadir sebagai jembatan. Ia mampu menerjemahkan berbagai sudut pandang menjadi satu arah yang jelas. Gunakan pengetahuan luasmu untuk mendengarkan, merangkum, dan menyatukan ide. Di sinilah pengaruh dan karisma terbentuk.
 5. Terhindar dari Kejenuhan Mental Jangka Panjang
Melakukan hal yang sama selama puluhan tahun bisa mematikan kreativitas. Generalis memiliki keunggulan: kebebasan untuk berpindah fokus dan mengeksplorasi hal baru.

Ambil proyek di luar zona nyamanmu. Variasi akan menjaga pikiran tetap segar. Hidup yang kaya pengalaman menciptakan perspektif yang lebih bijaksana.
 6. Memiliki Kemandirian yang Lebih Tinggi
Dalam membangun sesuatu, generalis tidak terlalu bergantung pada orang lain di tahap awal. Ia bisa memahami pemasaran, keuangan, hingga komunikasi dasar.

Manfaatkan akses informasi untuk menguasai keterampilan pendukung. Pemahaman ini membuatmu lebih cepat bergerak dan lebih sulit dimanipulasi. Generalis adalah kapten yang memahami arah sekaligus mesin kapalnya.
 7. Masa Depan Milik “T-Shaped Individual”
Dunia tidak membutuhkan spesialis sempit atau generalis dangkal. Dunia membutuhkan kombinasi keduanya.

Miliki satu keahlian mendalam sebagai jangkar, namun terus perluas pengetahuan di berbagai bidang. Inilah konsep T-shaped individual. Kedalaman memberi nilai jual, keluasan memberi fleksibilitas.

Pilih satu bidang untuk ditekuni serius, lalu sisihkan waktu untuk belajar hal-hal lain. Keseimbangan ini akan membuatmu relevan sekaligus adaptif di masa depan.

Menurutmu, di dunia hari ini lebih menguntungkan menjadi orang yang tahu segalanya tentang sedikit hal, atau tahu sedikit tentang banyak hal?

Martapura , 01 Syawal 1447 H / 21 Maret 2026


Senin, 12 Januari 2026

SLOW BUT SURE : CARA ALLAH MENOLONG KITA



PERNAHKAH kamu merasa pertolongan Allah tak kunjung tiba, sehingga hidup terasa berjalan lambat dan hampa?
Impian tak kunjung tercapai, doa seolah tak dikabulkan, usaha belum membuahkan hasil. 

Di dunia yang serba instan, kita terbiasa dengan kecepatan: makanan cepat saji, internet supercepat, dan harapan untuk kesuksesan yang kilat.

Tapi coba kita renungkan...
Bukankah matahari terbit perlahan, namun menerangi seluruh dunia?
Bukankah biji tumbuh dalam diam di bawah tanah, sebelum akhirnya menjadi pohon yang kokoh?
Bukankah embun turun setetes demi setetes, namun mampu membasahi bumi?

Allah mengajari kita tentang "slow but sure" (pelan tapi pasti). Allah berfirman:

"Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini mengingatkan bahwa rencana Allah punya waktunya sendiri. Apa yang terasa lambat bagi kita, mungkin sedang dipersiapkan menjadi sempurna.

Mengapa pertolongan Allah kebanyakan datang dengan "slow but sure"?

1.⁠ ⁠Agar kita belajar kesabaran.
Sebelum pertolongan datang, Allah sering menguji kesabaran kita. Itu bukan penghalang, melainkan training untuk mental yang lebih kuat.

2.⁠ ⁠Agar kita merasakan kebahagiaan dengan solusi yang datang bertahap. 
Karena solusi kecil membuat kita bahagia dan terus bahagia dengan solusi kecil berikutnya, sampai menuju kemenangan yang besar.

3.⁠ ⁠Agar kita belajar dan bertumbuh.
Proses yang "slow" seringkali adalah ruang bagi kita untuk berkembang. Untuk belajar ikhlas, rendah hati, tidak mudah putus asa serta menghargai proses.

4.⁠ ⁠Agar pertolongan Allah datang pada waktu yang tepat.
Allah tidak hanya memperhatikan apa yang kita butuhkan, tapi juga mengetahui kapan kita benar-benar siap menerimanya.

Allah, dalam kebijaksanaan-Nya, sering menggunakan waktu sebagai alat untuk menolong kita. Ini agar kita terus mematangkan rencana, menyiapkan hati dan terhindar dari sesuatu yang belum mampu kita tanggung.

Lalu apa yang perlu kita lakukan jika pertolongan Allah "slow but sure"?

1.⁠ ⁠Tetap yakin dengan pertolongan Allah.
Percayalah bahwa Allah sedang bekerja, bahkan dalam keheningan dan perlahan.

2.⁠ ⁠Fokus pada ikhtiar, serahkan hasil pada-Nya.
Terus lakukan ikhtiar dengan maksimal, lalu tetap bertawakal.

3.⁠ ⁠Syukuri progress sekecil apapun.
Karena syukur mendatangkan nikmat, sebaliknya kufur alias tidak bersyukur mendatangkan petaka. 

4.⁠ ⁠Tetap beribadah dan menjaga keikhlasan.
Jangan tinggalkan Allah. Justru perbanyaklah ibadah. Tingkatkan kekhusyu'an dalam ibadah, seperti sholat, shaum, tilawah, zikir, dan lain-lain. Tetap jaga keikhlasan sebagai tameng dari berbagai godaan dunia. 

Ingatlah...
Allah tidak pernah terlambat.
Dia hanya punya timeline yang berbeda, yang seringkali lebih indah dari yang kita bayangkan.

Mungkin hari ini kamu sedang menunggu.
Mungkin doamu belum terjawab.
Mungkin usahamu belum terlihat hasilnya.

Tapi yakinlah...
Allah sedang menuliskan cerita yang lebih baik dari yang kamu khayalkan.
Dengan cara-Nya.
Pada waktu-Nya.



Salam Berkah 

Sabtu, 15 November 2025

JANGAN BERHARAP ...



Jangan pernah berharap kepada Makhluk , Siapapun itu ...

Karena ketika berharap kepada selain Allah , dan hasil nya tidak sesuai dengan ekspektasi maka bisa jadi  akan timbul rasa kecewa dan sakit hati 


Salam Berkah
15 November 2025