Seperti kita lihat, kejadian dalam kehidupan kita tidak selalu penuh dengan kegembiraan, tawa dan canda serta sukacita. Ada kalanya, yang terjadi adalah peristiwa duka, malapetaka ataupun kesulitan-kesulitan yang tidak bisa kita antisipasi sebelumnya. Realitanya, kita tidak bisa mencegah berbagai peritiwa, baik dan buruk silih berganti terjadi dalam kehidupan kita. Tetapi, ada satu hal yang bisa kita kendalikan, yakni bagaimana cara kita memberikan makna kepadanya.
Konon, inilah yang dilakukan oleh Thomas Alva Edison tatkala laboratoriumnya terbakar. Orang-orang menghampirinya serta menyesali kejadian itu. Tapi, apa kalimat yang diucapkan oleh Thomas Alva Edison, “Nggak apa-apa. Dengan terbakarnya lab-ku maka, segala kesalahan dan kekeliruan saya juga dibakar. Saya punya kesempatan untuk memikirkan ulang dengan cara yang lebih baik”. Nah, apa yang dilakukan oleh Thomas Alva Edison ini tergolong apa yang kita sebut sebagai kemampuan melakukan reframing.
Ingatlah. Dengan kemampuan reframing ini, kita tidak mengubah kejadian tetapi kita mengubah makna dari kejadian itu. Sebuah kejadian sifatnya netral, kejadian ya kejadian. Tetapi, pikiran kitalah yang memberikan makna baik dan buruk, hitam maupun putih kepadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar