Jumat, 11 September 2020

Buku "Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us" karya Daniel Pink

Selama ini, cara yang sering dipakai untuk memotivasi tim adalah "Reward and Punishment" alias memberikan penghargaan dan hukuman. 

Kalau tim bekerja dengan baik maka dikasih penghargaan yang bisa berupa bonus. Dan kalau tim sering telat, maka dihukum dengan SP, misalnya. 

Betul ini bisa memotivasi tim untuk bekerja lebih rajin. Tapi apakah ini akan mendorong mereka untuk memberikan yang terbaik? 

Buku "Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us" karya Daniel Pink membongkar 3 rahasia motivasi yang jauh lebih efektif.

Dengan 3 cara ini, siapa pun, termasuk juga tim Anda, akan termotivasi untuk memberikan hasil kerja terbaik mereka.

Penasaran? Berikut ringkasan singkat 3 cara memotivasi tim dari buku "Drive". 

1️⃣ Otonomi

Otonomi berarti kita memberikan kebebasan & kepercayaan kepada tim dalam mengerjakan tugas-tugasnya. 

Kurangi seminimalisir mungkin untuk mendikte mereka apa yang harus dilakukan, terlebih menyangkut hal-hal teknis. 

Biarkan mereka menemukan cara sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

Dorong mereka untuk berani berpendapat, memberikan ide, mengambil keputusan, bahkan melakukan kesalahan. 

2️⃣ Mastery

Semakin menguasai skill maka semakin semangat dalam bekerja. Ini karena skill memudahkan kita dalam mengerjakan tugas-tugas yang ada. 

Oleh karena itu, sangat penting untuk mendorong tim terus meningkatkan kemampuan mereka. 

Kalau perlu, bekali mereka dengan berbagai pelatihan, buku, dst. 

Dan yang tak kalah penting adalah, membekali mereka dengan skill belajar (skill how to learn) agar mereka semakin mudah menyerap buku-buku yang mereka pelajari. 

3️⃣ Tujuan

Bekerja tanpa tujuan yang jelas akan membuat kita mudah kehilangan makna. Dan, kalau sudah kehilangan makna, maka kita akan bekerja ogah-ogahan. 

Untuk itu, penting sekali mendorong tim untuk menemukan tujuan mereka. 

--------

Nah demikianlah insight dari buku "Drive" karya Daniel Pink



SALAM BERKAH

ILMU UANG

Jauh lebih sulit menguasai
“ilmu menggunakan uang”
daripada “ilmu mendapatkan uang"

🌻Kekayaan atau kemiskinan bukan ditentukan oleh kemampuan menghasilkan uang atau cara menghasilkan uang (sebagai karyawan maupun pebisnis), melainkan kemampuan mengatur penggunaan uang dengan cerdas. 

💡Jika mampu terus memperbesar selisih antara pemasukan dan pengeluaran, kemudian dinvestasikan, menebarkan kebaikan dengan sedekah, maka seorang akan menjadi semakin kaya. 

Sebaliknya,
jika abai dalam mengatur penggunaan uang, selalu lebih besar “pasak dari pada tiang", berapapun pendapatan yang diterima tetap saja seseorang akan terus menjadi semakin miskin.

SALAM BERKAH

Rabu, 09 September 2020

belief system


"KONSEP REZEKI"

Suatu ketika, saya pernah datang kepada seorang guru dan bertanya ...

"Guru, sebenarnya bagaimanakah konsep rejeki itu? Kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rejekinya segitu-gitu aja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak."

Sang guru pun menjawab ...

Pada dasarnya rejeki itu ibarat hujan yang turun dari langit. Begitu nyata dan jelas. Manusia hanya perlu menjemputnya saja. 

Kenapa rejeki manusia itu berbeda?
Karena wadah mereka untuk menampung rejeki juga berbeda. Ada yang kecil, ada yang sedang, dan ada yang besar. Bahkan ada yang sangat besar.

Wadah rejeki mereka itu ibaratkan sebuah kotak dan rejeki itu ibaratkan hujan yang turun dari langit. Semakin besar kotak untuk menampung air hujan maka air hujan yang kita dapatkan pun juga akan semakin besar.

Nah, kotak itu ada 3 dimensi, yaitu PANJANG, LEBAR, dan TINGGI. Untuk memperbesar ukuran wadah tadi, maka ketiga dimensi itu juga harus dibesarkan, tidak hanya ditambah salah satunya saja.

PANJANG Kotak itu melambangkan USAHA/IKHTIAR dalam menjemput rejeki.

LEBAR Kotak itu melambangkan ILMU yang dimiliki oleh seseorang.

Sedangkan TINGGI melambangkan IBADAH dan RASA SYUKUR yang dimiliki seseorang.

Setelah tahu 3 dimensi itu, tentu Anda pun tahu bahwa kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rejekinya segitu-gitu aja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak.

Mereka mungkin saja punya uang banyak meski bekerjanya tidak terlalu berat karena mereka memiliki ILMU dan RASA SYUKUR serta IBADAH yang besar.

Semoga bermanfaat 

Repost mas Fajar Ali Imron Rosyidi

Selasa, 08 September 2020

Karena saya gak boleh ngomong covid lagi, karena bukan dokter, bukan virolog, bukan ahlinya, gak sekolah... Heehehe...

Jadi saya copaste aja tulisan Kokoh Septian Hartono , sahabat mas Ainun Najib, Profile nya cek sendiri, core of the core.. Ahlinya ahli..

Tulisannya bijak.. senada dengan pendapat saya... 

BAHWA YANG BAHAY DARI INDONESIA INI ADALAH ANAK MUDANYA BANYAK... DAN BANYAK YANG SUDAH POSITIF..  TAPI TANPA GEJALA... 

DAN MEREJA MASIH JALAN JALAN ...

DAN BERPOTENSI NULARIN KE GENERASI ELDER KITA YANG JUMLAHNYA 50 JUTAAN SE INDONESIA.

Rapid test pake sample darah....
Bukan swab cairan pernafasan...
Akurasinya 30%..

Akan tetjadi false negative... Harusnya positif tapi divonis negatif...

Kecepatan kematian dan kesembuhan lebih cepat kematian.. Fasilitas kesehatannya gak nunjang...

Jabodetabek gak bisa di lockdown.. Padahal sudah jadi Wuhannya Indonesia... Milannya Italia...

Indonesia terancam korban jutaan...

TV masih dangdut.
Anak2 Indonesia masih tik tok an...

Lihat aja... Kita ukur aja tahun depan kalo ada umur..

Tingkat kematian di Indonesia 1,6 juta jiwa per tahun..

Kita cek nanti di 2021... Berapa statistik kematiannya...

Tulisan kami hari ini ngibul atau ngingetin serius.

sila dibaca aja.... 

*****

COVID-19 di Indonesia: Masih Puncak dari Gunung Es (23 Mar)

Untuk menghadapi suatu persoalan, sangatlah penting memiliki perspektif yang tepat terhadapnya. Dalam hal ini, perspektif yang tepat adalah perang. Kita sedang berada dalam perang sekarang.

Siapa musuh kita dalam perang ini?

Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19.

Bagaimana karakter musuh ini?

Tidak terlihat dan sangat, sangat mudah menular lewat cairan pernapasan. Penyakit akibat virus ini secara umum gejalanya tidak berat bagi orang muda (walau tentunya ada pengecualiannya!), namun mematikan bagi orang tua atau orang dengan imunitas yang compromised.

Summary dalam 4 kata: “Muda menulari, tua mati.” (Ainun Najib)

Dengan kata lain, hayati bahwa perang ini adalah untuk melindungi orang-orang yang tua dan lemah. Camkan hal ini baik-baik.

Apa masalah utama dari perang melawan musuh ini di Indonesia?

Masalahnya adalah virus ini dibiarkan tidak terdeteksi selama lebih dari sebulan di Indonesia, dengan keyakinan bahwa COVID-19 adalah penyakit yang akan sembuh sendiri dan karena itu yang terpenting adalah menjaga imunitas tubuh.

Pemahaman ini sangat menyesatkan karena yang berbahaya dari wabah ini bukan hanya soal tingkat kesembuhan / kematiannya tapi penularannya. Kenyataan bahwa 20% dari pasien akan mengalami gejala serius dan butuh dirawat di RS menunjukkan kalau penyakit ini tidak bisa diremehkan, belum lagi bahwa 5% dari seluruh pasien perlu dirawat di ICU. Jika terlalu banyak orang yang tertular virus ini pada waktu yang bersamaan, sistem kesehatan publik akan kolaps dengan begitu banyaknya orang yang membutuhkan perawatan di RS.

Awalnya mungkin wabah ini masih bisa dianggap tidak ada karena yang terkena masih sedikit, namun lama-kelamaan strategi seperti ini akan runtuh juga, simply karena pertumbuhan kasusnya sifatnya eksponensial dan akan segera memenuhi RS-RS, seperti yang sudah terjadi di Indonesia sekarang dimana RS-RS di berbagai kota sudah kewalahan menghadapi membludaknya pasien dengan gejala COVID-19.

Apa akibatnya?

Per 23 Maret, Indonesia memiliki tingkat kematian akibat COVID-19 yang sangat tinggi, yaitu 49 kematian / 579 kasus = 8,46%. Situasi Indonesia sekarang bahkan lebih parah dari Iran di akhir bulan Februari (43 kematian / 593 kasus per 29 Feb). Tidak sulit untuk membayangkan kondisi Indonesia dalam 3 minggu ke depan jika belum ada perubahan kebijakan yang signifikan: Lihat saja Italia saat ini (5.476 kematian / 59.138 kasus = 9,26%).

Tingkat kematian yang sangat tinggi di Indonesia tidak berarti bahwa virus ini tiba-tiba menjadi jauh lebih ganas di Indonesia. Hal ini menandai bahwa masih ada jauh lebih banyak kasus-kasus dengan gejala ringan yang tidak terdeteksi.

Jumlah kasus COVID-19 yang sudah terkonfirmasi di Indonesia masih hanyalah puncak dari gunung es. COVID-19 di Indonesia masih severely underdetected, undertested, underdiagnosed and underreported.

Namun, kasus-kasus yang belum terdeteksi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja berkeliaran dimana-mana, karena, lagi-lagi, yang paling berbahaya dari wabah ini adalah penularannya. Jika kasus-kasus ini tidak ditemukan dan diisolasi, maka mereka akan terus menularkan kepada orang-orang di sekitar mereka dan wabah ini akan terus berlipat ganda.

Bagaimana menemukan kasus-kasus ini? 

Jadi begini. Kalau Indonesia masih berada dalam fase dimana sebagian besar kasus yang ada sekarang masih bisa ditelusuri jalur penularannya ke kasus-kasus sebelumnya, maka caranya adalah contact tracing yang sangat agresif seperti yang dilakukan oleh Singapura.

Namun Indonesia tidak berada dalam fase ini lagi. Sebagian besar dari kasus-kasus ini sudah merupakan kasus independen yang tidak terhubung dengan kasus-kasus lainnya. Sudah ada penularan lokal dengan skala yang luas di Jabodetabek dan skala yang lebih kecil namun cukup signifikan di kota-kota besar lainnya di pulau Jawa (Bandung, Solo, Surabaya, Malang).

Karena itu, contact tracing sudah tidak cukup lagi dalam konteks Indonesia (bukan tidak perlu, tapi tidak cukup). Perlu ada usaha yang jauh lebih agresif lagi untuk menemukan kasus-kasus yang tidak terdeteksi ini, yang terkait dengan faktor kedua: undertested. 

Jumlah sampel yang dites oleh Kemenkes dan sudah ada hasilnya sampai tanggal 23 Maret adalah sebanyak 2.483 sampel. Dengan demikian, rasio antara jumlah kasus positif dibanding jumlah sampel yang dites adalah 579/2.483 = 23,32%. Rasio ini sangat tinggi, yaitu 1 dari 4 sampel itu positif, yang menandai bahwa kriteria testingnya terlalu sempit / kapasitas testingnya terlalu kecil / keduanya.

Sebagai perbandingan, gold standard nya adalah Korsel. Rasio antara jumlah kasus positif dibanding jumlah sampel yang dites oleh Korsel dan sudah ada hasilnya sampai tanggal 23 Maret adalah sebanyak 8.961/324.408 = 2,76% ! Hanya 1 dari 36 sampel di Korsel yang positif, yang menunjukkan bagaimana agresifnya Korsel di dalam melakukan testing.

Hanya dengan testing yang sangat agresif seperti inilah kita dapat menemukan dan mengisolasi kasus-kasus yang tidak terdeteksi selama ini. Dengan cara itulah Korsel berhasil membengkokkan kurva wabah mereka dari fase eksponensial kembali menjadi fase linear (eksponensial: tidak terkendali, linear: terkendali).

Namun kenyataan yang kita hadapi adalah jumlah tes hariannya masih sangat sedikit (rata-rata hanya sekitar 200 sampel/hari selama 6 hari terakhir; rasio positive ratenya bahkan lebih tinggi lagi dalam periode ini: 407/1.228 = 33,14%, i.e., 1 dari 3 sampel itu positif!) dan waktu pemeriksaannya masih terlalu lama, yang dapat dilihat dari banyaknya pasien-pasien yang masih berstatus PDP dan sudah meninggal dunia terlebih dahulu bahkan sebelum mengetahui hasil tes mereka.

Apa masalahnya jika kapasitas testing kita terbatas?

Masalahnya adalah jumlah kasus yang belum terdeteksi ini terus bertumbuh secara eksponensial, bukan linear. Bedanya begini. 

Linear itu, jika dari 1 kasus menjadi 2 kasus membutuhkan waktu 1 hari, maka dari 1.000 kasus menjadi 2.000 kasus membutuhkan waktu 1.000 hari. 

Sementara eksponensial itu, jika dari 1 kasus menjadi 2 kasus membutuhkan waktu 1 hari, maka dari 1.000 kasus menjadi 2.000 kasus juga membutuhkan waktu 1 hari saja. 

Dengan kata lain, sekarang saja kita itu masih mengejar ketinggalan akibat tidak mendeteksi wabah ini selama lebih dari 1 bulan. Karena itu, jika kapasitas testingnya juga terbatas, semakin lama malah semakin jauh ketinggalannya!

Seperti apa?

Anggaplah sekarang jumlah kasus sebenarnya itu 5.000 (skala jumlah kasus sebenarnya di Indonesia sekarang definitely sudah ribuan - model lain bahkan memprediksikan bahwa skalanya bisa mencapai puluhan ribu sekarang seperti tautan berikut).

Dari 5.000 kasus ini, sudah 579 yang terisolasi, jadi sisanya 4.400an yang masih belum terdeteksi.

Dari 4.400 ini, jika kita hanya bisa menemukan dan mengisolasi 100 kasus per hari, maka ada 4.300 yang berpotensi menularkan hari itu. Dengan asumsi tingkat pertumbuhan harian kasusnya itu 20% (yaitu, doubling time-nya tiap 4 hari), maka dari 4.300 ini akan menjadi 5.160 kasus besoknya (+860).

Dengan kata lain, jumlah pertumbuhan harian kasusnya (860) jauh melampaui jumlah kasus yang dapat kita temukan hari itu (100). Hari ini kita memiliki 4.400 kasus yang belum terdeteksi, besok jumlahnya sudah menjadi 5.160, dan begitu seterusnya. Alih-alih berkurang, jumlah kasus yang belum terdeteksinya justru semakin bertambah!

Bagaimana dengan rencana tes masif?

Ini sudah kemajuan dan cukup membantu, tapi tidak ideal, karena tes masifnya menggunakan rapid test yang berbasis antibodi dan rentan terhadap hasil false negative (seharusnya positif tapi hasilnya negatif), dimana setiap orang yang diperiksa dan hasilnya negatif perlu diperiksa ulang kembali beberapa hari kemudian untuk mendapatkan hasil yang definitif. Jadi, untuk sebagian kasus memang akan lebih cepat hasilnya, tapi untuk sebagian lainnya tetap membutuhkan waktu berhari-hari.

Idealnya memang seperti Korsel, yang melakukan tes masif dengan PCR. Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa Indonesia tidak memiliki infrastruktur yang cukup untuk melakukan hal ini, baik itu labnya maupun sumber daya manusianya. Mungkin kita tidak bisa melakukan tes PCR sebanyak 10.000-15.000 sampel/hari seperti Korsel, namun menurut saya Kemenkes masih bisa push kapasitas testing PCR-nya lebih lagi sampai batasnya sebisa mungkin. 200 sampel/hari itu sangat, sangat kecil.

Selain itu, cara lain untuk mempercepat proses diagnosanya adalah dengan menggunakan kriteria klinis + imaging (CT/X-ray), seperti yang sempat digunakan di Wuhan/Hubei ketika mereka juga sedang back log proses testing parah-parahnya. Dalam situasi genting seperti ini, lebih baik false positive (seharusnya negatif tapi dinyatakan positif) daripada terlalu ketat memastikan yang positif yang mana. Speed really matters here. Semakin lama proses konfirmasi diagnosanya, semakin panjang pula waktu yang terbuang yang seharusnya bisa digunakan untuk menghubungi dan mengisolasi kontak erat kasus-kasus ini.

Dengan segala keterbatasan ini, apakah Indonesia basically hanya bisa pasrah saja dan menerima kenyataan bahwa jutaan penduduknya akan meninggal dunia akibat wabah ini? Apa yang kita bisa lakukan sebagai warga?

Di sinilah pentingnya social/physical distancing, mengingat karakter lain dari wabah ini yaitu penularannya dari orang ke orang lewat cairan pernapasannya, baik itu secara langsung ketika misalnya kita bercakap-cakap dengan orang yang sudah terinfeksi atau ketika kita menyentuh permukaan dengan cairan tersebut.

Dengan kata lain, jika semua orang diam di rumah saja, maka pertumbuhan wabah ini akan langsung melambat drastis, karena semua kasus-kasus yang belum terdeteksi ini menjadi tidak bisa menularkan ke orang lain (kecuali di rumah sendiri). Selain itu, kasus-kasus dengan gejala ringan juga bisa memulihkan dirinya sendiri di rumah.

Inilah yang dimaksud dengan flatten the curve / melandaikan kurva, yaitu usaha untuk memperlambat pertumbuhan wabah ini sebisa mungkin supaya tenaga medis kita bisa menangani pasien-pasien yang ada dengan lebih baik dan pihak yang berwenang juga bisa mengejar ketertinggalan mereka dalam menemukan dan mengisolasi begitu banyak kasus-kasus lainnya yang belum terdeteksi ini.

Masalahnya adalah, social distancing sukarela dan diam di rumah sebisa mungkin seperti ini sangat sulit untuk direalisasikan, karena masih banyak orang yang perlu pergi keluar rumah untuk mencari nafkah dsb, yang sangat dapat dimengerti. Jumlah orang yang masih perlu keluar rumah jauh lebih tinggi dari orang yang sudah diam di rumah. Misalnya, alih-alih bertumbuh 20% per hari, berkurangnya hanya menjadi 15% per hari. Sudah berkurang, memang, namun masih belum cukup rendah untuk pihak berwenang supaya dapat mengejar ketertinggalannya.

Di sinilah perlunya kebijakan yang lebih drastis. Dari sebaran kasus sekarang, sebenarnya kita sudah tahu dimana pusat penyebaran wabah COVID-19 di Indonesia: Jakarta. Anggap saja Jakarta itu adalah Wuhan-nya dan Jabodetabek sebagai Hubei-nya. Karantina wilayah Jabodetabek dulu saja, tidak perlu lock down seluruh Indonesia. Setelah itu, bisa diikuti oleh karantina wilayah kota-kota lain yang juga sudah menjadi pusat penularan sekunder seperti Bandung, Solo, Surabaya dan Malang jika penyebaran di sana juga semakin tidak terkendali.

Karantina wilayah/lock down memastikan apa yang ingin dicapai oleh social distancing: memberikan waktu bagi pihak yang bewenang untuk bisa melakukan testing, isolasi kasus dan contact tracing yang agresif sementara semua orang tidak bisa kemana-mana di rumah saja sampai wabahnya sudah lebih terkendali.

Karantina wilayah itu adalah sebuah keniscayaan jika outbreaknya sudah terjadi dan kita tidak bisa melakukan tes masif dengan PCR seperti Korsel sejumlah puluhan ribu sampel/hari. Jadi pertanyaannya bukan soal perlu karantina wilayah atau tidak, namun soal kapannya. Lebih cepat, lebih baik.

Sementara itu, saya memohon kepada Anda sekalian terutama yang tinggal di Jabodetabek, diam di rumah dulu saja sebisa mungkin, terutama Anda yang memang memiliki privilese untuk diam di rumah, supaya orang-orang yang keluar rumah memang hanyalah mereka yang perlu keluar rumah demi penghidupan mereka.

Jika Anda adalah seorang pengusaha yang berkecukupan, please, liburkan usaha Anda untuk sementara, namun tetap berikan nafkah kepada karyawan-karyawan Anda. Merugilah untuk sementara sebisa Anda. 

Jika Anda adalah pemimpin gereja, tutup gereja Anda dan hentikan segala kegiatan untuk sementara. Tidak ada pengecualian. Sudah banyak kasus yang terkena di atau lewat acara gereja, sama seperti pengalaman di Singapura.

Selain itu, mari kita berupaya bagaimana dapat mendukung tenaga medis kita dengan berbagai kebutuhan seperti alat pelindung diri (APD), masker, ventilator, dsb. Mereka adalah prajurit-prajurit kita di lini depan. Jangan biarkan mereka bertempur tanpa alat yang memadai layaknya misi bunuh diri. Sudah ada beberapa tenaga medis yang meninggal dunia akibat terinfeksi dari pasiennya sendiri. Jangan biarkan jumlah ini bertambah lagi. Cukup sampai di sini saja

Pada dasarnya, bagaimana kita meresponi wabah ini merefleksikan tanggung jawab sosial kita sebagai anggota masyarakat, yaitu bagaimana kita melindungi orang-orang yang lebih rentan di antara kita. Sekian.

Singapura, 23 Maret 2020
Jumlah kasus: 509
Sembuh: 152
Aktif: 355 (kritis: 15)
Meninggal dunia: 2

SADAR KAYA

Pertanyaan Kaya 

Satu titik balik dalam hidup saya terjadi pada saat berumur 20an awal, ketika saya melihat sekitar dan ada banyak orang sebaya yang tampak nya jauh lebih baik dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan daripada saya saat itu. 

Mereka mengenakan baju yang lebih bagus, punya pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar dan punya mobil terbaru. Yg ini masih inget nih, ada temen yg posting doi sm mobil putih barunya. Dalam hati gw "Wah enak juga ya kerja di perminyakan, gajinya gede bgt pasti"

Sementara, gw masih pake motor butut yg langganan tambel ban, memakai baju usang yg dibeli di pasar tumpah atau pasar malem, bekerja sebagai pengusaha serabutan, memikirkan terus berapa pengeluaran bulanan, nyampe nih ga duit buat sebulan, serba mencemaskan uang sepanjang waktu. Bukan cara hidup yang baik.. 

Mungkin masih ada kawan2 disini yang mengalami nya. Santai ajah, roda pasti berputar. Kadang kita di bawah, kadang orang lain yang di atas 🤣

Dan titik balik saya adalah ketika saya mulai mempertanyakan:

"Mengapa Sebagian orang lebih sukses daripada sebagian yang lain?"

Pertanyaan ini mengubah hidup saya. Ini membuat saya mulai melakukan pencarian intens untuk menemukan jawaban pertanyaan itu. Mulai baca-baca buku, bersilaturahim ketemu guru-guru yang sudah terlebih dahulu melewati kondisi itu, ikut seminar-seminar gratis, memaksakan diri sekali kali ikut yg berbayar, karena kendala dana. Bahkan sampe pernah ngutang2 buat ikut workshop berbayar yg saya yakini akan menemukan jawaban atas pertanyaan itu dan jalan untuk mencapai nya. 

Mengapa Sebagian orang lebih sukses daripada sebagian yang lain?
Jawaban nya sederhana, simpel dan jelas: Produktifitas.

Orang yang dibayar tinggi adalah orang yang paling produktif. Mereka menggunakan waktu dengan lebih baik dibanding dengan rata-rata orang. Mereka meraih hasil yang lebih banyak dan lebih baik sehingga orang bersedia membayar mereka. Mereka menggunakan lebih banyak waktu untuk melakukan lebih banyak hal yang bernilai lebih besar.

Apa aset finansial kita yang paling berharga?
Tanah? Rumah? Tabungan? Emas?

Kemampuan kita untuk menghasilkan uang adalah ASET FINANSIAL kita yang paling berharga.

Kita bisa saja kehilangan pekerjaan, rumah, mobil, uang Miliaran karena ditipu temen, ditipu investasi, sehingga bangkrut dan ga punya apa-apa lagi. Namun, selama kita masih memiliki kemampuan menghasilkan uang, kita bisa meraih semuanya kembali dan bahkan lebih banyak lagi. Sering  bsnget dah kita denger orang2 yang bangkit dari keterpurukan, melawan kemustahilan, ditipu sm temen atau partnet bisnisnya tapi bisa bangkit, udah banyak ceritanya. Ini menunjukkan bahwa ASET FINANSIAL ini PROVEN. 

Kemampuan menghasilkan Uang adalah kemampuan untuk produktif dalam meraih hasil yang membuat orang bersedia membayar kita. Ini bukan kemampuan kita untuk bekerja, menghabiskan waktu dan bermain dengan temen2 kerja sekantor. Kemampuan yang dimaksud disini adalah kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan dapat diandalkan, tepat waktu dan sesuai budget. 

Semua kesuksesan di dunia kerja dan bisnis pada intinya adalah penyelesaian tugas. Kemampuan kita untuk menyelesaikan tugas secara konsisten dan dapat diandalkan adalah salah satu hal yang menjadikan Kita sumber daya yang berharga dan sangat diperlukan, baik bagi perusahaan, partner  bisnis, atau masyarakat kita.

Ujungnya, kita akan menjadi "orang yang selalu bisa diandalkan"

Orang-orang akan mengatakan,
Jika kamu mau hasilnya baik dan cepat, beri pekerjaan itu padanya.
Jika produk mu mau laku, kerjasama ajah sama dia.
Jika butuh produk2 berkualitas, kontak ajah dia. 
Jika mau belajar kemampuan menghasilkan uang, tau kan harus kontak siapa?
yang jelas bukan ke gw.. Hehe.. 

Copas dr Maha Guru 
-Papagon-

Sabtu, 05 September 2020

lIMA USAHA BERTAHAN DIMASA PANDEMI



Banyak teman relasi kenalan bertanya, untuk bertahan sebaiknya saya usaha apa? Nah menarik ini untuk obrolan omong kosong kita sambil sarapan..

Sejauh ini sy berusaha menelusuri usaha apa yang probabilitas survive saat krisisnya tinggi dan berikut hasilnya, tapi sebelum kesana, bagi anda yang harus beralih bisnis, ada baiknya bukan seperti orang pindah rumah. Tp hanya seperti nginap di hotel untuk sementara. Untuk bertahan aja dulu sampai badai berlalu. Setelah itu kita bisa kembali ke rumah (siapa tau anda sukses, hotelnya besok dibeli jugaa.. 😆 kenapa tidak).. Ok langsung aja...

1. Dagang kebutuhan pokok.
Sembako itu barang yang ga ada cerita orang berhenti beli, walau perang dunia ke-tiga sekalipun. InsyaAllah bisnis kebutuhan pokok paling cerah.

2. Kesehatan.
Ini kebutuhan yang tak bisa ditunda, orang sakit pasti akan berobat ke klinik/rs dan beli obat entah bagaimana caranya. InsyaAllah cerah usaha kesehatan.

3. Pertanian dan usaha turunannya
Ini juga bisnis yang takkan berhenti walau perang dunia. Bertani dan usaha penyuport pertanian juga insyaAllah aman.

4. Jasa dasar.
Dari logistik, kurir, dst.. Sampai jasa jasa yang dibutuhkan sehari hari ini masih aman. Jasa keuangan yang segmen bawah bukan korporasi besar juga insyaAllah masih aman. Apalagi jasa yang mensupport 3 sektor diatas ini.

5. Usaha lainnya dengan karakteristik:
- fast moving, dibutuhkan terus dan cepat oleh masyarakat
- bukan kemewahan, bukan kelas tersier banget
- trending, bisa dicermati yang sedang hits dan membuka peluang baru.
- sasar pasar dalam.

Demikian obrolan omong kosong kita pagi ini, semoga bermanfaat. Jika tdk ada manfaatnya, anggap saja hiburan.

Semangat pagi ...

Musibah atau Anugerah

Setidaknya.. ada 5 pelajaran dari setiap musibah yang terjadi.
.
1. Pengingat bahwa kita tak punya daya apa-apa jika Alloh sudah berkehendak. Maka tawakal adalah pilihan terbaik.
.
2. Kita semua bisa saja ada di posisi yang mendapatkan musibah. Maka belajar empati dengan ikut mendoakan, lebih-lebih bisa ikut meringankan beban.
.
3. Sehebat apapun harta, ada kalanya ia tak mampu jadi penyelamat kita. Di dunia saja tak bisa jadi penolong, apalagi di akhirat. Maka gunakan harta dengan bijak.
.
4. Pada akhirnya.. semua manusia saling membutuhkan. Budaya baik kepada orang lain, menghormati orang lain adalah tabungan kebaikan yang akan kita tuai jika kelak kitalah yang butuh pertolongan.
.
5. Selalu ada harapan kebaikan setelah datangnya musibah. Bahwa apa yang hilang akan Alloh ganti dengan yang lebih baik. Ini mengajarkan punya harapan, sekaligus menguatkan iman. Insyaallah.. ada takdir yang lebih baik bagi mereka yang bersabar.


Salam Berkah 
Jakarta, the green Inn aeropolis 03 Januari 2019 

Cukup Ayah ( Saja ) ...


CUKUP JADI RAHASIA AYAH
(Oleh Bayugawtama)

Tidak semua Ayah pandai menceritakan kejadian di tempatnya bekerja. Perihnya dampratan atasan, keributan yang terjadi dengan rekan kerja, fitnah dari koleganya, atau sekadar gesekan kecil antar mitra kerja yang kadang menimbulkan percikan emosi.

Tidak sedikit Ayah yang gagap untuk memulai kata, memilih bahasa untuk bisa menyampaikannya dengan tenang. Masalah yang dialaminya di jalan, tentang motornya yang bersenggolan dengan kendaraan lain, panasnya terik yang menyengat sampai ke ubun-ubun, riuhnya macet jalan raya hingga mengeringkan tenggorokan. Belum lagi soal kereta mogok berjam-jam.

Sehingga menunda waktu tiba di rumah, hingga pupus rencana bermain bersama anak-anak yang sudah terlelap, martabak bawaan tak lagi hangat, bahkan semua kejadian di kantor, di jalan, di kereta, di bis, ikutan dingin untuk diceritakan.

Ayah, tak jarang ia simpan sendiri semua kisah. Sebagian Ayah memang berniat menceritakannya ke istri sesampainya di rumah. Sebagian yang lain baru sempat kirim pesan singkat, “bu, Ayah mau cerita...” namun lama sang istri membalasnya. Kelamaan, jadi lupa, dan tak lagi semangat bercerita. Boleh jadi, istrinya pun sedang sibuk dengan tumpukan setrikaan.

Sebagian Ayah, justru memang sengaja tak berniat sedikit pun menceritakan seburuk apa pun kejadian yang dialaminya di kantor, di jalan atau di mana saja. Bukan, bukan karena ia tak percaya istrinya, tetapi karena ia hanya ingin selalu membawa kabar positif pulang ke rumah. Tak jarang ia mampir dulu ke kedai kopi sebelum di rumah, sebagian lain memilih menumpahkan keluh kesahnya di masjid dekat rumah, atau menghisap dalam2 sebatang rokok yang mulai kembali dinikmati, bukan untuk menunda pulang, tetapi untuk menenangkan batinnya, agar tak meluap emosi di rumah. Oya, beberapa Ayah sering kali mengusap-usap atau merapikan struktur wajahnya sebelum mengetuk pintu, agar hanya wajah ceria yang disambut istri dan anak-anaknya.

Ada yang istrinya sanggup menangkap rahasia yang dibalik senyum suaminya, “Abang kok murung, cerita dong...” berkelebat segala baku hantam di jalan akibat senggolan motor, juga makian atasan di kantor, tetapi justru dijawab dengan senyum yang kadang dipaksakan, “nggak kok, nggak ada apa-apa...” sambil bergumam, biarlah jadi rahasia Ayah.

Ada pula yang istrinya justru tidak peka. Mulai dari pesan singkat yang lupa dijawab, sampai suaminya harus telepon, “sudah baca WA ayah?” Pastinya belum, “Ya sudahlah, nggak apa-apa...” lagi-lagi, akhirnya tetap jadi rahasia Ayah. Padahal, si Ayah mau cerita soal kerlingan perempuan lain yang baru saja bikin deg-degan. Sengaja mau cerita agar tak jadi rahasia, agar istrinya terus membentenginya.

Beberapa Ayah cukup sadar untuk menahan diri, sedikit sabar untuk menunggu gilirannya bercerita. Sebab, begitu di rumah ia sudah diberondong dengan berbagai kisah yang tak kalah serunya. Tentang uang belanja yang menipis, pulsa listrik yang sudah nut nut nut, bayaran sekolah anak yang harus dilunasi, cicilan rumah yang tertunggak, hutang ke warung di ujung gang, atau pun cerita-cerita seru anak-anak di sekolah mereka... kapan giliran Ayah?

Ayah yang lain, begitu bersemangat untuk segera sampai di rumah karena ia tahu istrinya selalu senang diajak diskusi tentang apa pun, sampai soal remeh temeh macam sendal jepitnya yang kerap berpindah ke kolong meja rekan kerjanya. Eh, setibanya di rumah, istri cantiknya sudah terlelap di depan televisi, nggak tega untuk membangunkannya dari mimpi selepas nonton drama Korea. Diambilnya selimut dari kamar lalu didekap sang istri dengannya.

Sebagian istri, mungkin tak cukup pandai menyediakan hati dan telinganya untuk menampung semua cerita sang suami. Sebagian lainnya, mungkin juga tak siap bekal untuk mengimbangi dan memberi saran, masukan atas semua persoalan suaminya. Syukur, masih ada kalimat pamungkas, “Sabar ya yah...” sambil usap-usap pundak, atau kecup-kecup mesra. Memang, sebagian masalah sepertinya bisa selesai -setidaknya lupa- kalau istri sudah terlihat manja di pembaringan. Aih...

Harus dibatasi bahasan ini, sama sekali tak ingin menyinggung sesuatu yang negatif dari semua yang masuk dalam rahasia Ayah. Mari kita bicara yang positif, yang negatif urusan di lapak sebelah saja.

Lebih dari itu, sebagian Ayah tetap merahasiakan segala yang tak perlu menjadi beban pikiran istrinya. Ia tahu betul, peran istri di rumah tak kalah rumitnya. Tak ingin ia menambahnya, meski sang istri ikhlas. Semua tagihan yang harus dibayar, yang perlu dibeli, yang harus diselesaikan terjawab dengan satu kalimat, “Tenang, Ayah akan bereskan semuanya...”

“Everything is OK!”, “Insya Allah akan ada jalan” adalah kalimat sakti peneguh jiwa, meskipun otaknya berputar untuk mencari pinjaman ke siapa lagi, padahal hutang yang kemarin pun belum lunas. Ini juga kerap jadi rahasia Ayah.

Sayangnya, sebagian Ayah ada yang memilih jalan pintas, mengambil hak orang lain, merekayasa anggaran kantor, demi menuntaskan semua masalahnya. Nyatanya, tak pernah selesai masalahnya, justru bertambah.

Di tengah malam, ada sebagian Ayah yang mengadukan segala keluhnya, semua masalah yang tak pernah menjadi rahasia bagi Sang Pemilik Semesta. Baginya, langit tempat terbaik menyimpan rahasia. Air wudhu bercampur air mata adalah versi ketika hatinya semakin dekat denganNya. Yakin akan pertolongan ... aamiin.

Ayah, kerap dianggap sosok misterius, tak terduga. Ia menyimpan banyak misteri dalam hidupnya, tak sedikit hal yang justru istri dan anak-anaknya belum tahu. Beberapa rahasia Ayah bahkan baru terbuka di hari ia menutup mata selamanya, sebagian rahasia lainnya ikut terkubur bersama jasadnya.

Dan tetap menjadi rahasia Ayah.

Ayah adalah Ayah.., it's always like that.

Jumat, 04 September 2020

4E ... REZEKI IS SIMPLY AN EXCHANGE OF ENERGI



ENJOY, mencintai apa yang kita kerjakan  membuat segalanya menjadi  mudah, bahkan yang berat sekalipun menjadi ringan karena kecintaan kita padanya.

EASY , saat semuanya dilandasi cinta maka perasaan mudah menyeruak. Neurologis kita bekerja dalam keadaan rileks dan tidak merasa tertekan, menjadikan otak dan otot bekerja secara optimal.

EXPERT, adalah hasil dari kombinasi memory otak dan memory otot yang telah menjelma menjadi kemampuan dan kapasitas diri dalam menghandel pekerjaan itu.

EARN, adalah hasil akhir yang pada dasarnya adalah ikutan yang pasti, karena mekanisme semesta tidak pernah mau berhutang kontribusi pada orang yang ahli. Semesta menghargai keahlian, keahlian diganjar dengan pendapatan dan kesempatan.

ENJOY, EASY, EXPERT, EARN ...... energinya tinggi...vibrasinya lembut. Cintai pekerjaan anda dan pendapatan akan mencintai anda :-)

Tetap semangat keep moving sahabat ...