Minggu, 29 Agustus 2021

Benarkah Azan di Indonesia Tidak Mengikut Mazhab Imam Syafi’i?

Seorang sahabat bertanya tentang isi ceramah seorang ustadz yang beredar di media sosial. Dalam ceramah tersebut, sang ustadz menyebut bahwa azan yang digunakan di Indonesia tidak mengikut mazhab Imam Syafi’i. Kenapa demikian? Karena lafaz azan yang dikumandangkan para muazin di negeri ini adalah lafaz azan Bilal. Sementara azan yang diakui oleh Imam Syafi’i adalah azan Abu Mahdzurah, bukan azan Bilal. Berangkat dari perbedaan ini, sang ustadz lalu menyimpulkan bahwa: “Kita tidak wajib bermazhab…”.

☆☆☆

Perbedaan antara azan Abu Mahdzurah dengan azan Bilal sebenarnya hanya terletak pada satu poin saja yaitu masalah tarji’. Tarji’ adalah membaca kalimat syahadat secara pelan (sirr) sebelum membacanya dengan suara tinggi. Kalimat syahadat yang dimaksud adalah kalimat أشهد أن لا إله إلا الله yang dibaca dua kali dan kalimat أشهد أن محمدا رسول الله juga dibaca dua kali. Keempat kalimat ini dibaca secara pelan terlebih dahulu, baru setelah itu dibaca secara keras.

Karena perbedaan ini maka jumlah kalimat dalam azan Abu Mahdzurah adalah 19. Sementara jumlah kalimat dalam azan Bilal adalah 15. 

☆☆☆

Secara umum memang azan yang digunakan di banyak daerah di Indonesia adalah azan Bilal. Tapi ini tidak berarti bahwa azan Abu Mahdzurah tidak digunakan sama sekali. Sebagian masjid di kampung-kampung masih menggunakan azan Abu Mahdzurah. Hanya saja, karena tarji’ itu dibaca secara pelan sehingga tidak terdengar jelas, apalagi dari kejauhan. Masih ada para muadzin, sebelum membaca kalimat syahadat dengan keras, ia baca dulu dengan pelan. Ini artinya ia menggunakan azan Abu Mahdzurah.

Namun demikian, katakanlah sang muadzin tidak memakai azan Abu Mahdzurah, dan malah menggunakan azan Bilal, apakah itu berarti ia tdak lagi bermazhab Syafi’iyyah? Apakah untuk bermazhab Syafi’iyyah seseorang mesti mengikuti pendapat Imam Syafi’i seorang dan apa adanya, lalu mengabaikan pendapat ulama Syafi’iyyah yang lain?
 
Ini yang tidak dipahami sang ustadz secara baik dan juga orang-orang yang anti mazhab. Mereka mengganggap bahwa kalau bermazhab dengan mazhab tertentu, berarti mesti ikut seluruh pendapat sang pendiri mazhab. Dari anggapan inilah muncul kesan dan penilaian keliru bahwa bermazhab itu identik dengan ta’ashub (fanatik). 

Andaikan saja sang ustadz mau mengkaji mazhab secara lebih objektif dan mendalam, tentu kesimpulan seperti itu tidak akan muncul. Karena sesungguhnya bermazhab tidak berarti mengikuti pendapat pendiri mazhab secara membabi-buta tanpa dikaji kekuatan dalil dan argumentasinya. Maka, bermazhab sesungguhnya tidak identik dengan fanatik.

Para ulama yang datang setelah imam-imam pendiri mazhab, sebenarnya bisa saja membuat mazhab baru, karena banyak dari mereka yang sampai ke derjat mujtahid. Tapi mereka menemukan bahwa ushul yang akan mereka pakai tidak banyak berbeda dengan ushul yang telah dibangun secara kokoh oleh para pendiri mazhab. Kalau demikian, hasrat untuk mendirikan mazhab sendiri sementara pondasi dan akarnya sama dengan mazhab sebelumnya, tentu bisa menjadi nafsu dan syahwat ingin dikenal dan dikenang.

Perhatikan mazhab Hanafiyyah. Meskipun antara Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan dengan guru mereka sendiri Imam Abu Hanifah sang pendiri mazhab terdapat banyak perbedaan, tapi mereka tetap menisbahkan diri pada mazhab imam dan gurunya. Tidak pernah kita mendengar ada mazhab Yusufiyyah atau Hasaniyyah. 

Namun demikian, bernaungnya mereka di bawah panji mazhab sang guru tidak menghalangi mereka untuk berbeda dengan sang guru dalam banyak masalah. Kenapa? Karena memang bermazhab itu tidak berarti fanatik dan harus sama seratus persen.

☆☆☆

Kembali ke masalah azan. Imam Syafi’i memang lebih memilih azan Abu Mahdzurah yang jumlah kalimatnya 19. Tapi ini tidak berarti orang yang menggunakan azan Bilal yang jumlah kalimatnya 15 tidak lagi mengikuti mazhab Syafi’iyyah. Kenapa? Karena memang tarji’ itu sendiri dalam mazhab Syafi’iyyah hanyalah sunnah, bukan wajib.

Imam Nawawi, salah seorang rujukan utama dalam mazhab Syafi’iyyah menulis :

وَهَذَا التَّرْجِيعُ سُنَّةٌ عَلَى الْمَذْهَبِ الصَّحِيحِ الَّذِي قَالَهُ الْأَكْثَرُونَ فَلَوْ تَرَكَهُ سَهْوًا أَوْ عَمْدًا صَحَّ أَذَانُهُ وَفَاتُهُ الْفَضِيلَةُ (المجموع شرح المهذب 3/91)

“Tarji’ ini hukumnya sunnah menurut pendapat yang shahih yang disampaikan banyak ulama. Kalau seorang (muazin) meninggalkannya karena lupa atau sengaja, azannya tetap sah meski memang ia kehilangan fadhilah.”

Apakah Imam Nawawi tidak tahu kalau pendapat Imam Syafi’i dalam masalah ini cukup ‘keras’? Menurut Imam Syafi’i, kalau tarji’ ditinggalkan maka azan tidak sah. 
Imam Nawawi tentu tahu hal itu. Tapi Imam Nawawi bermazhab tidak seperti yang dipersepsikan sebagian orang; jumud dengan pendapat pendiri mazhab lalu mengabaikan dalil dan argumentasi yang boleh jadi lebih kuat.

Setelah menjelaskan hukum tarji’ diatas, Imam Nawawi menulis :

 قَالَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ نَقَلَ أَحْمَدُ الْبَيْهَقِيُّ الامام عن الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ إنْ تَرَكَ التَّرْجِيعَ لَا يَصِحُّ أَذَانُهُ 

Al-Qadhi Husein berkata, “Imam al-Baihaqi menukil dari Imam Syafi’i bahwa jika seseorang meninggalkan tarji’ maka azannya tidak sah.”

Perhatikan bagaimana beliau mengomentari hal ini:

وَالْمَذْهَبُ الْأَوَّلُ لِأَنَّهُ جَاءَتْ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ بِحَذْفِهِ مِنْهَا حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ الَّذِي قَدَّمْنَاهُ فِي أَوَّلِ الْبَابِ وَلَوْ كَانَ رُكْنًا لَمْ يُتْرَكْ وَلِأَنَّهُ لَيْسَ فِي حَذْفِهِ إخْلَالٌ ظَاهِرٌ بِخِلَافِ بَاقِي الْكَلِمَاتِ

“Yang jadi pegangan dalam mazhab adalah yang pertama (bahwa tarji’ itu hukumnya sunnah) karena ada banyak hadits yang tidak mencantumkan tarji’, diantaranya hadits Abdullah bin Zaid yang telah kita kemukakan di awal bab. Kalau tarji’ itu adalah rukun tentu tidak akan pernah ditinggalkan sama sekali. Di samping itu juga, menghilangkan tarji’ ini tidak terlalu berpengaruh, berbeda dengan kalimat-kalimat yang lain.”

☆☆☆

Bukan hanya masalah tarji’, dalam masalah tatswib juga terdapat perbedaan pendapat di kalangan Syafi’iyyah. Tatswib artinya membaca الصَّلاةُ خَيْرٌ مِّنَ النَّوْمِ setelah kalimat حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ .

Imam Syafi’i memakruhkan membaca kalimat ini dalam azan subuh. Tapi pendapat yang lebih kuat dalam mazhab Syafi’iyyah, hal ini adalah sunnah.

Imam al-Baghawi, salah seorang ulama Syafi’iyyah menulis :

والتثويب سنَّة في أذان الصُّبح؛ وهو أن يقول بعد الفراغ من الحيعلتين: الصَّلاةُ خَيْرٌ مِّنَ النَّوْمِ مرتين.
وكرهه في الجديد؛ لأن أبا محذورة لم يحكه. فمن أصحابنا من جعله على قولين. والصحيح: أنه سنةٌ قولاً واحداً. روي ذلك عن عمر، وابن عمر، وبه قال ابن المبارك، وأحمد. والشافعي إنما كرهه في الجديد؛ لأنه لم يبلغه عن أبي محذورة، وقد ثبت عن أبي محذورة؛ أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال له: "فإن كان صلاة الصُّبح، قلت: الصلاة خيرٌ من النوم، الصلاة خير من النوم، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله".

“Tatswib itu sunnah dalam azan subuh, yaitu membaca الصَّلاةُ خَيْرٌ مِّنَ النَّوْمِ dua kali setelah hay’alatain. Imam Syafi’i memakruhkan ini dalam qaul jadid, karena Abu Mahdzurah tidak ada menyebutkan lafaz ini. Sebagian ulama Syafi’iyyah ada yang menjadikan hal ini dua pendapatnya. Tapi yang benar adalah tatswib tetap sunnah. Ini sudah disepakati. Ini diriwayatkan dari Umar dan Ibnu Umar. Ini juga pendapat Ibnu al-Mubarak dan Ahmad. Imam Syafi’i memakruhkannya dalam qaul jadid-nya karena hadits Abu Mahdzurah (mengenai lafaz ini) tidak sampai kepadanya. Padahal ada hadits yang kuat dari Abu Mahdzurah, Rasulullah Saw bersabda padanya: “Kalau (azan) shalat subuh ucapkanlah: الصلاة خيرٌ من النوم، الصلاة خير من النوم، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله.”

☆☆☆

Di bagian akhir penjelasan, sang ustadz melantukan lafaz azan Abu Mahdzurah. Entah khilaf atau memang demikian yang beliau tahu, azan Abu Mahdzurah yang ia lantunkan berbeda dengan azan Abu Mahdzurah yang ada di berbagai riwayat dan yang juga digunakan banyak muazin bermazhab Syafi’iyyah. Dalam lantunan sang ustadz, kalimat takbir di awal azan dibacanya sebanyak 8 (delapan) kali. Sementara dalam riwayat yang shahih, dalam azan Abu Mahdzurah, takbir di awal hanya empat kali (dalam riwayat Abu Dawud) atau dua kali (dalam riwayat Muslim). 

Adapun yang sampai delapan kali seperti yang dilantunkan sang ustadz, bukanlah azan Abu Mahdzurah (أبو محذورة), melainkan azan Mahdhur (محظور) . 😁

والله تعالى أعلم وأحكم

[YJ]
Ibnu ‘Atha`illah Pun Awalnya Menentang Tasauf

Seorang bapak yang biasa mengikuti pengajian saya bertanya, “Ustadz, kenapa tidak banyak para ustadz yang membuka kajian tentang tasauf, apakah karena ia sesuatu yang salah, atau pembahasannya berat sehingga tak semua orang mampu mengkajinya?”

Dengan keterbatasan ilmu, saya menjawab, “Banyak faktornya, Pak… Diantaranya karena istilah ‘tasauf’ dalam persepsi sebagian orang terlanjur negatif. Ini disebabkan banyak hal. Ada yang disebabkan oleh perilaku dan praktek ibadah orang-orang yang mengaku sufi dan ahli tariqat yang menyimpang sehingga muncul kesan bahwa memang begitulah tasauf dan tariqat itu. Padahal, membebankan kesalahan oknum kepada komunitas adalah sesuatu yang salah, apalagi membebankan kesalahan oknum kepada suatu ajaran dan prinsip yang murni dan bersih. Ada juga karena keterbatasan bacaan dan sumber yang lebih terpercaya tentang tasauf. Ada juga karena polemik yang terjadi antara orang-orang yang anti tasauf dengan tokoh-tokoh tasauf. Polemik ini menghalangi mereka untuk mengkaji tasauf secara jernih dan murni.”

☆☆☆

Sebenarnya, Ibnu ‘Atha`illah sendiri yang merupakan salah seorang tokoh ternama dalam dunia tasauf yang dijuluki sebagai Shahib al-Hikam, awalnya juga menentang dan mengingkari tasauf. Ini ia ceritakan dalam kitabnya Lathaif al-Minan. Dalam bukunya ini ia bercerita tentang pertemuannya dengan sang guru ; Abu al-Abbas al-Mursi. 

“Aku termasuk orang yang sering mengkritik dan menentang Syekh ini (maksudnya Abu al-Abbas al-Mursi). Bukan karena ada sesuatu yang meragukan yang aku dengar langsung darinya atau yang disampaikan orang yang bisa dipertanggungjawabkan informasinya, melainkan karena polemik (mukhasamah) yang terjadi antaraku dengan beberapa orang muridnya. Itulah yang membuatku berkomentar negatif tentang mereka.

Tapi suatu hari aku berkata pada diri sendiri, “Mungkin ada baiknya aku pergi langsung mendengarkan perkataan orang ini (Syekh Abu al-Abbas). Orang yang benar tentu akan tampak tanda-tandanya (baik dalam perkataan maupun perbuatannya). Akhirnya aku datang ke majelisnya. 

Setibanya di majelis Abu al-Abbas, aku mendengar ia bicara tentang nafas (waktu) dan dzauq (rasa), tingkatan orang-orang yang berjuang menuju Allah (salik) dan sejauh mana pengenalan dan kedekatan mereka dengan-Nya. 

Ia (Abu al-Abbas) berkata, “Pertama adalah Islam. Ini derjat ketundukan, kepatuhan dan melaksanakan seluruh aturan syariat. Kedua adalah Iman. Ini derjat hakikat (inti) dari syariat dengan mengenali implikasi (lawazim) dari penghambaan. Ketiga adalah Ihsan. Ini adalah maqam (level) ‘menyaksikan’ (syuhud) al-Haqq SWT di dalam hati. Engkau bisa mengatakan, pertama ibadah (عبادة), kedua ubudiyyah (عبودية), ketiga ubudah (عبودة). Engkau juga bisa mengatakan, pertama syariat (شريعة), kedua hakikat (حقيقة), ketiga tahaqquq (تحقق).”

Ia terus berkata, “engkau bisa mengatakan… engkau bisa mengatakan…” hingga aku tertegun dan merasa sangat takjub dengan kedalaman pemahamannya. Akhirnya aku tahu bahwa orang ini ‘menyauk’ dari karunia lautan ilahi. Setelah itu hilanglah semua yang aku rasakan sebelumnya (penentangan, ketidaksetujuan dan sebagainya).

Malam itu aku pulang ke rumah. Aneh, aku tak merasa ada hasrat untuk berkumpul dengan keluarga seperti kebiasaanku sebelumnya. Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi aku tidak tahu apa itu? Hatiku merasa disentuh oleh sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Akhirnya keesokan harinya aku kembali lagi ke majelis orang itu.

Ketika aku tiba di majelisnya, ia berdiri menyambutku penuh gembira. Akupun merasa malu. Aku merasa tidak pantas dihormati seperti itu. Kata pertama yang terucap dari mulutku padanya adalah, “Tuan, demi Allah, aku mencintaimu.” Ia pun membalas, “Dan akupun mencintaimu.”

Kemudian aku mengeluhkan padanya keresahan dan gundah-gulana yang kurasakan. Ia berkata:

"Seorang hamba ada dalam empat kondisi saja; nikmat (نعمة), ujian (بلية), taat (طاعة) dan maksiat (معصية). Kalau engkau berada dalam nikmat maka hak Allah terhadapmu adalah bersyukur. Kalau engkau berada dalam ujian maka hak Allah terhadapmu adalah bersabar. Kalau engkau berada dalam taat maka hak Allah terhadapmu adalah engkau merasakan semua itu datang dari-Nya. Kalau engkau berada dalam maksiat maka hak Allah terhadapmu adalah memohon ampun.”

Setelah mendengar itu, akupun pamit. Seluruh keresahan dan gundah-gulana yang kurasakan tadi hilang seperti baju yang baru saja aku tanggalkan.”

من كانت بدايته محرقة كانت نهايته مشرقة

التصوف الإعراض عن الاعتراض

[YJ]

Sabtu, 28 Agustus 2021

Kendali Diri


Apa yang membuat seseorang merasa tidak berdaya? Jawabannya sederhana. Orang merasa tidak berdaya ketika ia kehilangan kendali terhadap dirinya , kehidupannya, dan waktunya. 

Orang merasa tidak berdaya ketika mereka tidak memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang ia ingin lakukan. Orang merasa tidak berdaya ketika ia tidak bisa menentukan hidupnya mau dibawa kemana. Orang merasa tidak berdaya ketika mereka tidak bisa mengendalikan waktunya akan digunakan untuk apa. 

Perhatikan 24 jam kita setiap hari. Lalu lihat, apakah setiap waktu yang kita punya kita gunakan untuk hal-hal yang memang INGIN kita lakukan? atau hanya diisi dengan kegiatan yang HARUS kita lakukan? Jika sebagian besar waktu kita hanya digunakan untuk melakukan hal-hal yang merasa kita harus lakukan, wajar bila kita merasa terjebak dan tertekan. Kita merasa tidak bisa mengendalikan hidup kita.

Bila kita ingin merasa punya kendali terhadap kehidupan kita, maka kita perlu fokus pada hal-hal yang memang di dalam kendali kita. Pak Stephen Covey pernah menggambarkan lingkaran sebagai berikut:

1. Lingkar kendali.
2. Lingkar pengaruh.
3. Lingkar peduli.

Lingkar kendali adalah apa-apa yang secara penuh bisa kita kendalikan. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita anggap penting, apa yang kita kerjakan, apa yang kita beli, keputusan, mood, motivasi, tindakan, perilaku, dan ucapan kita ada dalam kategori ini.

Lingkar pengaruh adalah apa-apa yang kita pedulikan, kita tidak memiliki kendali penuh atasnya, namun kita bisa berusaha untuk memengaruhinya. Kesehatan kita, tujuan kita, penghasilan kita, kinerja tim kita, sikap orang lain, dan masa depan, masuk dalam kategori ini.

Bukankah kesehatan ada dalam kendali kita? Tentu tidak. Kita memang bisa memutuskan berolahraga, makan-makanan bergizi seimbang, dan menjalani pola hidup sehat. Namun, siapa yang bisa menjamin kita tetap sehat? Hanya Allah. Kita bisa pengaruhi, tetapi kita tidak bisa kendalikan hasilnya.

Sikap orang lain pun sama. Kita bisa pengaruhi, namun kita tidak bisa mengendalikannya secara penuh. Demikian pula dengan masa depan kita.

Lingkar peduli adalah semua hal yang kita pedulikan, namun kita tidak punya pengaruh atasnya. Kebijakan ekonomi pemerintah, cuaca, kemacetan, pandemi, masa lalu kita, dimana kita dilahirkan, komentar orang asing di sosial media, inflasi, adalah beberapa contoh yang masuk dalam kategori ini.

Lingkar pengaruh dan lingkar peduli ada di luar kendali kita. Kita tidak dapat mengendalikannya secara penuh. Maka, fokus ke sana akan membuat kita merasa tidak punya kendali. Kecemasan, frustrasi, stress, marah, dan takut sering kali merupakan reaksi yang terjadi saat kita terlalu banyak memikirkan hal-hal di luar kendali kita ini. Saat kita ingin mengendalikan hal-hal di luar kendali kita.

Kunci ketentraman batin adalah fokus pada lingkar kendali kita. Saat kita berfokus pada lingkar kendali kita, maka lingkar pengaruh kita akan membesar, insyaallah. Dan langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah mengenali prioritas kita:
- apa yang benar-benar ingin kita lakukan. 
- apa yang kita anggap benar dan ingin kita perjuangkan.
- apa yang benar-benar penting dalam hidup kita.
Dengan kata lain, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengenali nilai-nilai inti (core value) kita.

Langkah berikutnya adalah menjalani hidup selaras dengan nilai-nilai inti kita. Mendahulukan hal-hal penting sebelum hal-hal yang urgen. Mendahulukan hal-hal esensial sebelum hal-hal yang remeh temeh. Mendahulukan prioritas sebelum hal-hal sepele.

Saat ini dilakukan — saat aktivitas sehari-hari kita mencerminkan nilai-nilai yang kita anggap benar dan penting — maka kita akan mengalami ketentraman batin. Mengapa? Karena kita menjalani hidup dengan utuh, kongruen (baca: sama dan sebangun) antara apa yang kita anggap penting dengan apa yang kita lakukan, kongruen antara apa yang kita inginkan dengan apa yang kita lakukan.

#manajemenwaktu
#manajemenhidup
#produktivitas

Jumat, 27 Agustus 2021

KAIZEN, PENINGKATAN 1%, DAN EFEK BOLA SALJU





Banyak orang percaya bahwa untuk mencapai hal-hal besar perlu dimulai dengan melakukan langkah-langkah besar, untuk mencapai hal-hal luar biasa perlu langkah-langkah yang luar biasa pula. Padahal, yang sebenarnya terjadi tidak demikian. Mereka yang memiliki pencapaian besar sering kali hanya melakukan langkah-langkah sederhana, tindakan-tindakan biasa. Namun, mereka melakukannya secara konsisten berbulan-bulan, bertahun-tahun. 

Mereka pun tidak berhenti di sini, mereka juga melakukan peningkatan kecil setiap harinya. Kaizen istilahnya. Secara harafiah dalam bahasa Jepang, kaizen bermakna perubahan untuk menjadi lebih baik (kai = perubahan, zen = baik). Secara istilah, menurut Robert Maurer, kaizen adalah melakukan langkah yang sangat kecil untuk meningkatkan sebuah proses tertentu. Jadi, peningkatan yang dilakukan dengan metode kaizen sangatlah kecil, namun dilakukan secara terus-menerus (continuous improvement).

Jangan remehkan peningkatan kecil. Peningkatan 1% setiap hari akan menghasilkan peningkatan 38x di akhir tahun (1,01^365 = 37,78). Artinya, Anda akan lebih baik dari diri Anda 3778%! Ini bukan peningkatan yang sedikit. Supaya dapat sensenya, bayangkan hari ini Anda berpenghasilan hanya 100 ribu per hari. Peningkatan 1% setiap hari akan membuat penghasilan Anda menjadi 3,8 juta per hari di akhir tahun.

Bagaimana bila hanya melakukan peningkatan 1% setiap pekan? 1,01^52 = 1,67, tidak buruk. Anda akan menjadi lebih baik 167% dibandingkan hari ini.

Jadi, peningkatan, seberapa pun kecilnya, akan menciptakan efek bola salju. Tindakan sekecil apapun, asal mulai digulirkan, akan menciptakan momentum. Bila terus menerus dilanjutkan, ia akan membesar sedikit demi sedikit, seperti bola salju yang digelindingkan dari atas bukit, ia akan menggulung dan membesar di sepanjang perjalanannya.

Praktinya bagaimana? Ada empat hal yang perlu dilakukan:
Pertama, tetapkan tujuan.
Sebuah tindakan tentu perlu punya tujuan yang jelas. Apa tujuan dari tindakan yang akan kita lakukan? Menghasilkan buku? Menurunkan berat badan? Meningkatkan jumlah follower di Instagram?

Kedua, lakukan tindakan.
Tujuan penting, rencana juga penting, namun tindakan jauh lebih penting. Tidak perlu tindakan yang muluk-muluk, cukup tindakan yang sederhana. Namun kuncinya adalah mulai bertindak. Misalnya: menulis 200 kata setiap hari untuk menghasilkan buku, mengurangi satu sendok gula setiap hari untuk turun berat badan, memposting 2 konten setiap pekan untuk meningkatkan jumlah follower di Instagram. Ingat, tidak perlu sempurna, di awal yang penting adalah memulai dengan semudah dan sesegera mungkin.

Ketiga, dapatkan umpan balik.
Dapatkan umpan balik secara teratur sehingga tahu mana yang perlu dipertahankan dan mana yang perlu diubah. Ini merupakan langkah penting, karena kita tidak tahu apakah rencana yang sudah kita buat efektif atau tidak. Rencana hanyalah hipotesis awal. Kita perlu bereksperimentasi, mencoba berbagai hipotesis yang terpikir sebelumnya dan mendapatkan umpan balik, mana yang berhasil dan mana yang perlu kita ubah.

Keempat, lakukan peningkatan kecil secara berkelanjutan.
Ada dua macam peningkatan yang bisa kita lakukan: peningkatan kuantitas dan peningkatan kualitas. Misal, dalam konteks menulis, peningkatan kuantitas bisa berupa menambah jumlah kata dari 200 kata menjadi 300 kata pekan depannya, dst. Sementara peningkatan kualitas adalah dengan meningkatkan kemampuan menulis (diksi, komposisi, dsb) secara bertahap. 

Kita bisa terapkan prinsip kaizen ini dalam banyak hal. Tiga bulan lalu, saya hanya kuat melakukan push up sempurna 2x (ini menunjukkan stamina dan struktur tubuh saya payah). Lalu saya mulai berlatih, mulai dengan mendorong tembok, push up ala cewek menggunakan lutut, dsb. Alhamdulillah, hari ini saya mampu melakukan push up sempurna 18x. Semuanya dibangung secara perlahan, selangkah demi selangkah. Seperti apa yang dikatakan oleh Lao Tse “perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama.”

Minggu, 22 Agustus 2021


Tempo hari saya pernah bertanya, apasih yang dimaksud dengan circle-circle itu? Bagi beberapa orang itu pertanyaan konyol dan gak perlu banget. 

Karena nampaknya sudah jadi pengetahuan umum kalau circle yang dimaksud itu sederhananya adalah kumpulan orang dengan minat-minat yang sama, misalnya circle penulis, ya kumpulan penulis. 

Circle imers, ya kumpulan imers-imers aja. Circle aburizal bakrie? Ya kumpulan orang-orang kaya, bukan kumpulan yang bernama rizal, atau bakrie.

Tapi kenapa circle? Gak kotak. Kalau kotak, nanti disangka amal. Halah. Cara bercanda harus diperbaiki. 

Serius kenapa lingkaran? Apa karena lingkaran lebih moderat dan terkesan tidak berkelompok? Lebih lembut gitu? Karena ada unsur kesetaraan? Karena melingkar. Tidak ada yang dipojok atau sudut. Kalau saya bilang, ada alasan psikologis kenapa dipilih sebutan circle bukan kotak. Anda tidak percaya, anda akan menyangka itu terlalu berlebihan. 

Aneh, padahal buat jualan kita sering-sering bawa-bawa alasan psikologis, kita harus mengenal psikologi konsumen. Ah ini standar ganda. Memang untuk urusan profit kita rela berlelah-lelah untuk ribet, tapi kalau untuk urusan makna, kayaknya simpel-simpel aja deh. Hidup itu sederhana cuy, kamu aja yang bikin ribet. Benarkah?

Oiya, jika anda menyebutkan "circlenya beda," itu dalam pikiran anda, itu bener ada lingkarannya dengan ada garis di pinggir? Atau tidak? Kalau ada. Rasanya-rasanya saya ingat dengan istilah imaginary wall, mungkin biar lebih moderat bisa diganti istilahnya jadi, imaginary line. 

Line itu akan menutup anda, analogi sederhananya begini, minat ada adalah toleransi berkumpul dengan orang-orang yang minat sama, sama-sama menjujung toleransi. Etapi tiba-tiba anda tidak mentoleransi orang-orang yang berbeda pendapat dengan anda. Iki piye jal?

Circle its just a pattern not a shape. Lingkaran itu cuma pola saja, bukan sebuah bentuk. Beda? Tentu beda, penjelasannya ada pada buku Neng Marissa King itu.

Nb: bisa jadi yang kita maksud circle itu type network yang expansionist, lihat gak ada bulatannya kan di pinggir? Cuma spreading nya aja berbentuk lingkaran.

Tujuan dari manajemen waktu adalah ketenangan batin. Setidaknya itulah yang disampaikan oleh pak Hyrum W. Smith di dalam bukunya. Gambarannya dapat dilihat di piramida yang saya lampirkan.

Begini penjelasannya. Banyak orang mengalami konflik batin karena apa yang ia lakukan sehari-hari (daily activities) bertentangan dengan nilai-nilai yang ia anggap baik, penting, dan bermakna (values). Bentuknya bisa dua macam:

1. Mereka tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, namun mereka tetap melakukannya.
2. Mereka tahu apa yang ingin (atau seharusnya) mereka lakukan, namun mereka tidak melakukannya.

Mari kita bahas poin pertama. Berapa banyak orang yang tidak suka dengan apa yang mereka lakukan tetapi tetap melakukannya? Tidak suka dengan pekerjaan yang mereka miliki saat ini, tapi tetap bertahan di sana. Tidak suka dengan kebiasaan buruknya, namun mereka tetap melakukannya. Kondisi seperti ini akan menimbulkan pertentangan di dalam batin mereka. 

Sementara itu, di poin kedua - berapa banyak orang yang tahu apa yang ingin mereka lakukan namun mereka tidak melakukannya. Mereka sadar apa yang penting dan bermakna dalam hidup mereka, namun hal ini tidak tercermin dalam kegiatan sehari-hari mereka. Ada yang ingin jadi penulis, tapi tiap hari tidak pernah menyempatkan waktu untuk menulis. Ada yang berkata keluarga itu nomor satu, tapi sedikit sekali waktu berkualitas yang mereka berikan pada keluarganya. Ada yang tahu belajar ilmu agama itu penting, namun boro-boro setiap hari belajar, sebulan sekali menyimak kajian pun sudah luar biasa. Hal-hal seperti ini membuat kita inkongruen - tidak selaras. Kita mengalami pertentangan batin, membuat diri kita tidak utuh.

Meskipun wujudnya berbeda, pola mereka tetap sama. Mereka tidak mau bertanggungjawab terhadap kehidupan mereka. Mereka cenderung melimpahkan tanggungjawab ke pihak lain. Menyalahkan hal-hal di luar kendali mereka. Mungkin mereka tidak sadar, mereka hanya berkata:

"Nanti kalau sudah punya waktu luang lebih banyak, aku baru akan mulai menulis..."
"Nanti kalau bisnisku sudah mulai stabil, barulah aku akan luangkan waktu lebih banyak buat keluarga..."
"Pengin sih resign dari sini, aku udah muak sama pekerjaan di sini, tapi aku nggak bisa ngelakuinnya sekarang... nanti lah, kalau nggak ada perubahan setahun ke depan baru aku resign..."
"Aku pengin mulai belajar agama, tapi nanti lah, kalau kerjaan udah mulai nggak terlalu berat aku akan mulai..."

Ini adalah bentuk melimpahkan tanggung jawab ke pihak luar. Mengapa kita tidak berkata:

"Menulis bukan hal yang penting saat ini, makanya aku belum mulai menulis."
"Keluarga bukan hal yang penting bagiku saat ini, bisnis lebih penting."
"Resign bukan hal yang penting bagiku saat ini, aku masih mau bertahan di sini."
"Belajar agama bukan hal yang penting saat ini... dst"

Pertanyaannya, berani kah kita jujur pada diri sendiri?

#produktivitas
#makna

Sabtu, 21 Agustus 2021

Intrapreneurship

Memberi dulu baru menerima, atau menerima dulu baru memberi?

Seseorang yang memiliki mindset entrepreneurship, selalu siap dan bersedia melakukan apapun yang perlu dilakukan untuk mencapai sasaran yang sudah ditetapkannya, meskipun ia tahu, belum ada kepastian untuk mendapatkan hasil dari apa yang diupayakannya.

Sementara seseorang yang memiliki mindset karyawan, terlebih dulu akan memastikan untuk mendapatkan sesuatu, sebelum ia melakukannya.

Saat mendapat penugasan dari atasan atau perusahaan, mereka yang memiliki mindset entrepreneurship akan berkata: "ini kesempatan berharga, peluang emas, atau tantangan untuk naik kelas, dsb. Sehingga ia rela melakukan apapun yang ditugaskan atasan atau perusahaan.
Ia berpikir MEMBERI DULU, MENDAPATKAN KEMUDIAN.

Sementara mereka yang memiliki mindset karyawan, saat mendapat penugasan baru, ia berpikir transaksional. Ia berkata: "ini tidak ada dalam jobdes, ini bukan tugas saya, saya dimanfaatkan atasan/perusahaan, saya dieksploitasi, kalau gajinya ditambah baru saya kerjakan, saya dulu direkrut untuk posisi A; sekarang juga B dan C; namun gaji tidak double atau triple, dsb.
Ia berpikir MENERIMA DULU, BARU MEMBERI

Para pekerja yang memiliki mindset entrepreneurship disebut INTRAPRENEUR.

Dalam bisnis yang sukses biasanya terdapat banyak intrapreneur di dalam perusahaannya.
Karena itu penting untuk mengelola pikiran.
MIND YOUR MINDSET !

Jumat, 20 Agustus 2021

Dragon Ball

LIRIK LAGU DRAGON BALL versi Indonesia ternyata punya arti pengingat kita sebagai manusia.

Orangpun datang = lahir
Dan akan kembali = meninggal
Kehidupan kan jadi satu = dunia
Di kehidupan yang kedua = akhirat
Akan menjadi lebih indah = Surga
Siapakah yang dapat melaksanakan = ibadah
Sekarang berusaha mewujudkannya = istikamah

Cahaya cinta perlahan menyilaukan = hidayah
Itulah mimpi kehidupan kedua = impian semua orang
Mimpi itu dari mana datanganya = Allah

Tahanlah pian?

Minggu, 15 Agustus 2021

MEMASRAHKAN REZEKI

Semakin Gelisah Seseorang Akan Rezekinya, Maka Akan Semakin Sulit Rezekinya Hadir. (Force & Power)

Alam semesta ini punya sistem yang bekerja secara otomatis. Bagi orang muslim, kita mengenalnya dengan sunnatullah. Aturan Allah yang menjadi sistem kerja alam semesta. 

Rezeki manusia, termasuk ke dalam sistem yang berjalan secara otomatis ini. Itu sebabnya, rezeki punya pola-pola tertentu yang bisa dipelajari, dan dipahami dengan baik. Semakin baik pemahaman seseorang tentang konsep rezeki, kemungkinan besar akan semakin mudah ia mendapatkan rezeki.

Pernah gak suatu hari kamu sangat menginginkan dan mengharapkan sesuatu??

Sampai kamu gelisah menunggunya, tapi justru yang sangat di inginkan tadi gak kunjung datang.

Tapi anehnya, saat kamu sudah lupa akan sesuatu yang di inginkan dan diharapkan tadi, eh malah hadir dengan sendirinya.

Keinginan dan Harapan adalah sebuah rasa, salah satu cara kerja alam semesta yg berhubungan dengan perasaan manusia adalah sebuah konsep “Memaksakan & Memasrahkan”.

Saat kamu menginginkan sesuatu secara berlebihan sampai kamu gelisah, itu kamu sedang “Memaksa” semesta. Bukannya datang, rezeki justru akan semakin menjauh dari kita.

Tapi saat kamu tidak menginginkannya dalam hal ini “Pasrah”, maka rezeki atau hal yg kamu inginkan tadi justru akan datang.

Kalau di dunia barat, fenomena ini dinamakan “Force and Power”.
( David Hawkins Ph.D dalam bukunya yg berjudul : Force VS Power)

Saat seseorang merasa sangat ingin, dan ada perasaan memaksa keinginannya itu harus-harus benar-benar menjadi kenyataan, perasaan itu disebut FORCE. 

Dan sebaliknya, saat seseorang menginginkan sesuatu, tapi keinginannya itu punya sensasi “nothing to lose” dan memasrahkan tentang apapun hasilnya, perasaan itu disebut POWER.

Dalam konsep force & power, inilah masalahnya. “Ngarep” itu adalah indikator bahwa perasaan kita sedang tidak netral. Ketidaknetralan perasaan itulah yang menjauhkan kita dari rezeki kita. Semakin gelisah seseorang akan rezekinya, biasanya akan semakin sulit rezekinya hadir.

Kita punya pilihan untuk mengatur seperti apa kondisi pikiran kita (Mind State), selanjutnya kondisi pikiran ini akan secara langsung berpengaruh pada kondisi perasaan (Feeling State). Setiap kondisi perasaan, akan sangat memengaruhi tindakan-tindakan seseorang (body state). Dan semua itu akan memengaruhi kenyataan kehidupan kita (Reality). Kenyataan rezeki kita

Begitu pun dalam konteks penjualan.

Saat kita terlalu ngarep, ngotot, maksa, bahwa iklan kita, dagangan kita harus dan wajib closing atau laku, biasanya akan semakin sulit untuk closing. Sebaliknya, saat pikiran kita netral, perasaan kita tenang, maka closing atau penjualan akan bertubi-tubi datang and datang terus.

Semua pilihan ada pada kita. Mau gelisah atau tenang? Mau memasrahkan atau memaksakan hasilnya? Semua kembali lagi ke diri kita masing – masing.

Selamat me-masrahkan unlimited rezeki :)

Rabu, 04 Agustus 2021

VISION


Sebuah riset di Harvard Business School pernah melakukan penelitian tentang hubungan antara memiliki cita-cita dan menuangkannya dalam bentuk tulisan dengan pencapaiannya.

Hasilnya, 84% 
ternyata tidak punya impian. 

13% punya impian yag spesifik, jelas tapi tidak menuliskannya.

 3% punya impian yang spesifik, jelas dan TERTULIS. 

Setelah 10 tahun, seluruh responden itu di-survey lagi perkembangannya.

 Ternyata, 13% orang yang punya impian, spesifik dan jelas tapi tidak menuliskannya, memiliki penghasilan 2x lipat dibandingkan 84% orang yang tidak punya impian. 

Dan hebatnya, 3% orang yang punya cita-cita dan menuliskannya, memiliki penghasilan 10x lipat dibandingkan 97% lulusan lainnya.

Sudahkah Anda Menulis impian Anda?
- Tuliskan
- Visualisasikan

MAKE YOUR DREAM COMES TRUE






Senin, 02 Agustus 2021

VISI & MIMPI


Sebuah Tulisan Yang Sangat Menginspirasi , Kisah Nyata dari Ibu Fauziyah Zulfitri , ACC dr Makassar ...


➡️ Visualisasikan Mimpimu

➡️➡️ Bayangkan satu step sesudah sukses 

2013 saya mengambil sertifikasi NLP di Singapore. Guru saya Billy Kueek dari Billy Kueek International.

Di training itu saya membawa 1 goal : persiapan mau resign sebelum usia 40.

Di salah satu sesi untuk membuat Goal dan Outcome yg powerful, 2 tips itu yg menancap kuat di kepala saya.

➡️ Visualisasikan mimpi itu seolah-olah dia ada di depan mata, rasakan bersama seluruh panca indera. Warnanya, suara yg terdengar, baunya, sentuhan yg kita rasakan.

Maka di 2013 itu saya membayangkan ini ...

Punya kantor dua tingkat, sekantor bersama suami, beliau dan team di lantai bawah, saya di lantai atas. 
Kantor warnanya krem, sesuai kesukaan suami (dan sy membayangkan senyuman beliau), ada pohon rindang di samping kantor dan saya bisa merasakan semilir anginnya menerpa wajah saya. Saya seolah mendengar suara suami  saya yg bilang,"kantor ini bisa jd rumah kedua anak-anak juga, pulang sekolah bisa mampir sini semua sebelum kita pulang sama-sama"

Di lantai dua kantor saya, saya punya 1 ruangan training kapasitas 40 orang, 1 ruangan saya untuk konsultasi klien, 1 ruangan untuk musholla dan ruangan kerja karyawan. Wangi pengharum ruangannya pun bisa saya hadirkan waktu itu.

➡️➡️ Bayangkan satu step sesudah sukses 
Billy megajarkan juga pada kami waktu itu, sesudah bikin goal secara clear (dengan list pertanyaan yg sangat puanjang, kapan2 nanti sy share) - kami hrs membayangkan 1 step sesudah sukses. Jadi yg saya bayangkan adalah gandengan tangan ama suami saya, masuk di kantor hari pertama setelah kantor jadi, mencium wangi cat yg masih tersisa dr dinding kantor.

Mei 2016,
Atas izin Allah kantor ini terwujud sebelum Insight Sinergi Talenta  launching resmi 1 Agustus 2016.

Bapak suami, yg sudah punya bisnis duluan, menjual bangunan kantor beliau untuk mewujudkan impian istrinya patungan dengan dana pesangon saya. 

Saya bukan sekedar ada previlege krn dukungan suami, tapi ada PLANNING besar dan PERSIAPAN matang di balik lompatan PINDAH KUADRAN ini. Nanti sy ceritakan proses RESIGN ELEGAN PENUH PERENCANAAN matang itu, ya, dear friends.

Karena apa yg dilihat dari gambar ini, di baliknya ada ikhtiar dan persiapan menuju ke titik itu, waktu itu.

5 tahun pencapaian Insan Sinergi Talenta .. dari cuma impian, diawali hanya dengan dua orang, hari ini saya sudah punya 15 orang team, 2 unit usaha baru yg lahir di masa pandemi dan 100an klien tersebar dr Sumatera, Jawa, kalimantan sampai Nusa Tenggara. 

Sesuai tulisan besar di dinding ruangan training kantor kami, berlatar laut yang terbelah dua ... inspirasi dari kisah mukjizat nabi Musa membelah lautan atas izin Allah ..

WITH ALLAH NOTHING IS IMPOSSIBLE

Biidznillah 

Makassar, 02 Agustus 2021

🏷 Fauziah Zulfitri, ACC
🏷 Insight dari Timur Indonesia