Tujuan dari manajemen waktu adalah ketenangan batin. Setidaknya itulah yang disampaikan oleh pak Hyrum W. Smith di dalam bukunya. Gambarannya dapat dilihat di piramida yang saya lampirkan.
Begini penjelasannya. Banyak orang mengalami konflik batin karena apa yang ia lakukan sehari-hari (daily activities) bertentangan dengan nilai-nilai yang ia anggap baik, penting, dan bermakna (values). Bentuknya bisa dua macam:
1. Mereka tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, namun mereka tetap melakukannya.
2. Mereka tahu apa yang ingin (atau seharusnya) mereka lakukan, namun mereka tidak melakukannya.
Mari kita bahas poin pertama. Berapa banyak orang yang tidak suka dengan apa yang mereka lakukan tetapi tetap melakukannya? Tidak suka dengan pekerjaan yang mereka miliki saat ini, tapi tetap bertahan di sana. Tidak suka dengan kebiasaan buruknya, namun mereka tetap melakukannya. Kondisi seperti ini akan menimbulkan pertentangan di dalam batin mereka.
Sementara itu, di poin kedua - berapa banyak orang yang tahu apa yang ingin mereka lakukan namun mereka tidak melakukannya. Mereka sadar apa yang penting dan bermakna dalam hidup mereka, namun hal ini tidak tercermin dalam kegiatan sehari-hari mereka. Ada yang ingin jadi penulis, tapi tiap hari tidak pernah menyempatkan waktu untuk menulis. Ada yang berkata keluarga itu nomor satu, tapi sedikit sekali waktu berkualitas yang mereka berikan pada keluarganya. Ada yang tahu belajar ilmu agama itu penting, namun boro-boro setiap hari belajar, sebulan sekali menyimak kajian pun sudah luar biasa. Hal-hal seperti ini membuat kita inkongruen - tidak selaras. Kita mengalami pertentangan batin, membuat diri kita tidak utuh.
Meskipun wujudnya berbeda, pola mereka tetap sama. Mereka tidak mau bertanggungjawab terhadap kehidupan mereka. Mereka cenderung melimpahkan tanggungjawab ke pihak lain. Menyalahkan hal-hal di luar kendali mereka. Mungkin mereka tidak sadar, mereka hanya berkata:
"Nanti kalau sudah punya waktu luang lebih banyak, aku baru akan mulai menulis..."
"Nanti kalau bisnisku sudah mulai stabil, barulah aku akan luangkan waktu lebih banyak buat keluarga..."
"Pengin sih resign dari sini, aku udah muak sama pekerjaan di sini, tapi aku nggak bisa ngelakuinnya sekarang... nanti lah, kalau nggak ada perubahan setahun ke depan baru aku resign..."
"Aku pengin mulai belajar agama, tapi nanti lah, kalau kerjaan udah mulai nggak terlalu berat aku akan mulai..."
Ini adalah bentuk melimpahkan tanggung jawab ke pihak luar. Mengapa kita tidak berkata:
"Menulis bukan hal yang penting saat ini, makanya aku belum mulai menulis."
"Keluarga bukan hal yang penting bagiku saat ini, bisnis lebih penting."
"Resign bukan hal yang penting bagiku saat ini, aku masih mau bertahan di sini."
"Belajar agama bukan hal yang penting saat ini... dst"
Pertanyaannya, berani kah kita jujur pada diri sendiri?
#produktivitas
#makna

Tidak ada komentar:
Posting Komentar