Lagi duduk-duduk memandangi sawah, menikmati matahari sore, tiba-tiba terdengar loudspeaker pedagang keliling. Saya pasang telinga. Tahu bulat kah?
Makin dekat, saya baru dengar jelas. “Servis AC! Remot TV! Jam tangan!”
Unik nih. Pikir saya. Saya baru tahu ada penjaja servis keliling seperti itu. Saya lalu menyadari perubahan respon saya saat melihat pedagang-pedagang kecil seperti itu.
Ada masanya saya melihat pedagang kecil seperti itu cuma bisa kasihan. Lalu, setelah punya ilmu jualan, melihat mereka rasa-rasanya saya pengen ngasih ilmu marketing. Biar dagangannya laris.
Setelah punya duit, mikirnya beda lagi. Udahlah ga usah diajarin. Langsung dilarisin!
Toh, dikasih ilmu belum tentu paham. Toh, bagi mereka, ilmu ga bisa langsung dimakan.
Toh, bagi banyak orang, ilmu kita baru didengarkan kalo mereka sudah kita kasih uang. "Buktikan dulu kamu mampu, baru kuikuti kata-katamu."
Dan sekarang? Beda lagi.
Kita mulai dari masa-masa awal.
Waktu kecil, rasa memelas lebih kuat. Melihat bakul yang kesepian itu, saya sering ga tega.
Mereka berteriak-teriak menjajakan dagangan hanya untuk diabaikan. Mereka panas-panasan. Hujan-hujanan. Untuk hasil yang tak seberapa. Sedangkan saya? Cukup beruntung tak perlu sesusah itu untuk hidup senikmat ini.
Pada masa itu, sering muncul rasa iba. Kasihan.
Padahal, kalo dipikir-pikir, kenapa harus kasihan? Maksud saya, bukannya ga boleh iba. Bukannya ga boleh bantu.
Melainkan, kenapa kita muncul rasa kasihan? Kenapa saya mengasihani mereka?
Karena saya merasa lebih kaya dari mereka? Lebih beruntung dari mereka? Karena mereka harus berjerih payah untuk sesuatu yang saya dapatkan dengan mudah?
Saya ini sedang mengasihi, atau malah tinggi hati?
Tidakkah merasa mampu menolong, itu dekat dengan sombong?
Akhirnya, saat remaja, cara pandang saya berubah.
Mereka ini bekerja. Berdagang. Halal.
Mereka ini mulia. Mereka ini menjaga 'izzah. Mereka ini berjihad.
Mereka makan dari keringat sendiri.
Soal makan dari keringat sendiri ini, saya teringat kisah Nabi Daud AS yang dinukil dalam kitab Al Kasbu karya Imam Asy-Syaibani. Salah satu guru Imam Asy-Syafi'i.
Suatu hari, Nabi Daud AS "blusukan" untuk melakukan "Survey persepsi publik". Ditanyainya salah seorang pemuda. "Katakan pendapatmu tentang Raja Daud."
Si pemuda menjawab,"Daud adalah hamba yang baik. Hanya satu kekurangannya."
"Apa itu?"
"Dia masih makan dari baitul mal kaum muslim. Padahal, Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang makan dari ketrampilan tangannya sendiri."
Nabi Daud as berlari pulang ke mihrabnya. Menangis tersedu. Seraya berdoa,"Ya Allah, ajarilah aku keterampilan hingga aku tidak makan dari baitul muslimin."
Kemudian, Allah ilhamkan kemampuan membuat baju besi. Allah lenturkan besi hingga di tangan Nabi Daud as, besi itu lunak seperti adonan tepung. Sejak itulah, Nabi Daud dan keluarganya hidup dari hasil penjualan baju besi.
Kembali ke sosok pedagang yang kesepian itu.
Biasanya, kita mendapati mereka di lampu merah, trotoar, atau pelosok kampung.
Saya-versi-remaja membayangkan. Seandainya Rasulullah SAW datang ke hadapan kami. Saya yakin. Para pedagang dan pekerja keras itulah yang akan dipeluk Rasul. Bahkan, dicium tangannya. Bukan saya, yang hanya memandangi mereka dari dalam mobil atau teras rumah.
Sejak itu, saya tidak mengasihani mereka. Saya hormat.
Saya tak lagi membeli karena kasihan. Karena bisa jadi, sayalah yang perlu dikasihani. Saya-remaja yang hidup nyaman itu, bisa jadi malah terhina. Karena tidak mengenal arti kerja keras. Sejak saat itu, saya membeli karena hormat.
Beranjak SMA dan kuliah, cara pandang saya berubah lagi.
Masa itu adalah masa awal saya (merasa) ngerti “ilmu” marketing. Tidak jarang saya melihat fenomena itu dengan kaca mata sok tahu. “Haduh. Gimana mau laku? Positioningnya ga jelas! Ga pake copywriting. Cara jualannya pun membosankan. Harusnya yang unik dong. Biar viral!”
Ga cuma pedagang kecil. Kadang masuk restoran atau toko yang terlihat bonafide pun, sifat “kritikus marketing” saya keluar.
Kalo Bondan Winarno mengomentari makanan, saya mengomentari cara menjual makanannya.
“Wah, harusnya desain menunya diganti nih. Ga sesuai ilmu psikologi marketing!”,
“Wah, harusnya wastafel ditaruh di situ tuh! Biar flow pembeli lebih enak!”
Dan banyak lagi lainnya.
Kalo kelewatan, sok tahu saya bablas jadi meremehkan. “Duh, jual gitu aja ga laku. Makanya, pake ilmu!”
Kadang, sikap sok tahu ini masih berlanjut. Dan celakanya, jebakan hatinya lebih halus. Karena dikemas seolah rendah hati.
Dengan merasa lebih bijaksana, saya sering membatin. “Inilah pentingnya ilmu. Inilah pentingnya tholabul ‘ilmi. Pentingnya belajar. Kita jadi tahu ilmu-ilmu yang bermanfaat. Kita jadi tahu cara menjemput rezeki yang lebih baik.”
Padahal, itu hanya cara halus untuk berkata,"Makanya, belajar dong! Jangan goblok! Nih, yang pinter kayak gue!"
Seiring berjalannya waktu, saya menyadari.
Pertama, tidak semua penjual, mau diajarin cara jualan. Tidak hanya sekali dua kali saya memberi saran ke mereka. Mengubah copywritingnya. Mengubah intonasinya. Intinya: supaya jualan pake ilmu. Insya Allah, lebih laku.
Nyatanya, tidak semua menerima. Ada yang karena tidak paham. Ada yang paham tapi memang enggan mempraktekkan.
Ada yang sudah ingin praktek, tapi terkendala SOP dan aturan. Atau yang klasik: Dana.
Kedua, ini yang berat saya terima: Ternyata, tidak semua ilmu marketing itu works!
Ini tamparan keras bagi saya yang sempat menganggap ilmu marketing adalah solusi semua masalah.
Saya pernah mencoba eksperimen jualan keliling. Pake ilmu marketing. Ya, zonk juga ternyata. Pernah juga bantu temen jualin produknya, dengan ‘teori’ yang ‘harusnya’ berhasil. Hasilnya? Ga sesuai ekspektasi juga ternyata.
Mungkin, ini rencana Allah menghancurkan berhala di hati saya. Berhala ilmu. Karena bisa jadi, tanpa sadar, saya telah menuhankan ilmu. Dan bukannya Sang Pemilik Ilmu.
Di masa itu, saya lebih sering duduk bersandar dan mendongak. Mencari inspirasi. Lupa untuk bersujud dan tertunduk. Menyerah untuk dialiri inspirasi, langsung dari pemiliknya.
Kembali ke penjaja servis keliling tadi.
Sekarang saya sudah jadi bapak. Cara pandang saya berubah lagi.
Melihat bapak-bapak penjaja keliling, saya tidak lagi sibuk mengomentari caranya jualan. Saya tidak lagi memaksa diri memborong dagangannya karena kasihan. (Karena banyak yang tersinggung kalau diborong, dibeli karena kasihan. Atau sebaliknya-- ada yg 'ngelunjak' mengeksploitasi rasa kasihan saya)
Kini, saya melihatnya sebagai bapak. Yang berjuang keras. Untuk keluarganya di rumah.
Dan untuk itu, saya sangat menghormatinya.
Dan mendoakannya.
Teruntuk bapak, ibu, kakak, adik para penjemput rezeki, teruslah bersemangat. Karena di dunia ini, ada dosa yang tidak bisa diampuni oleh solat, sedekah, bahkan haji sekalipun! Di antara perbuatan dosa, ada yang hanya bisa dihapus oleh keseriusan bekerja.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah.”
Selanjutnya, “Barang siapa yang di waktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya, maka di waktu sore itu pulalah terampuni dosanya.”
Bersyukurlah bila hari ini kita pulang dalam keadaan lelah. Bersyukurlah bila hari ini kita masih diberi kesempatan berkarya.
Semoga semua yang membaca tulisan ini, Allah ampuni dosa-dosanya. Allah lapangkan rezekinya. Amin.
Salam Berkah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar