Baik karena alasan diberhentikan, resign atas keinginan sendiri atau hal-hal lain yang menyebabkan dia berhenti, maka dia secara perjanjian, dilarang untuk membuka bisnis yang sama dalam waktu minimal 3 tahun. Setelah 3 tahun? Boleh
.
Mengapa poin ini kami sepakati dalam perjanjian, Ketika pertama kali kami sepakat untuk bekerjasama, dia jadi pegawai di tempat saya, alasan nya sederhana, karena saya tidak ingin mendidik competitor.
Saya tidak ingin, tempat saya Cuma sekedar jadi Lembaga training membuat dimsum, yang Ketika dia sudah pintar, maka dia akan keluar kemudian membuka bisnis yang sama. Buka outlet nge jejerin tempat saya jualan, eaaaaa, lengkap sudah.
.
Kenapa setelah 3 tahun koq boleh? Karena menurut perhitungan kami, setelah 3 tahun ada banyak sekali hal yang berubah. Baik dari sisi marketnya, baik dari sisi teknologi cara kami membuat dimsum.
Baik dari cara penggajian, baik dari menu yang kami hadirkan, dan banyak hal lain, se pengalaman kami, yang kalo dia mencoba untuk masuk ke market yang sama, nanti nya bakalan berbeda.
Bisa jadi tak seindah Ketika dia dulu bekerja di tempat saya atau malah sebaliknya. Karena dunia usaha tak semua sama dengan perhitungan di atas kertas.
.
Dan surat perjanjian ini, saya buat lengkap, setidaknya menurut saya. Mengatur hari libur, mengatur upah pembayaran, mengatur jam kerja, seragam yang dipakai, kompensasi terhadap lembur
Termasuk Ketika ada keluarga yang meninggal, pembayaran THR, tabungan untuk THR berapa besar setiap bulan, aktivitas kunci harian karyawan dan lain sebagainya. Bikin surat perjanjian ini gak nyontek kemana-mana, makanya mungkin nanti gak akan ditemui di tempat lain.
.
Detil? Setidaknya sudah sangat detil menurut kami. Karena kalo gak dibikin aturan detil, maka karyawan akan membuat aturan sendiri.
Pernah ngerasain karyawan bikin aturan sendiri? Atau susah diatur? Barangkali karena kita emang belum atur hal tersebut di surat perjanjian kerja. Atau bahkan belum ada surat perjanjian kerja. Ya sudah kalo begitu.
.
Dan surat perjanjian Kerjasama antara kami sebagai pemilik perusahaan dan karyawan sebagai pegawai, masuk ke dalam salah satu yang kami berikan Ketika ada bapak/ibu, yang mengambil paket pelatihan membangun pabrik dimsum, walau dimulai skala rumahan saja.
Toh, saya juga mulai dengan peralatan nol besar. Cuma modal ember satu dan kukusan satu. Tapi alhamdulillah banyak yang berubah setelah kami jalani bisnis ini.
.
Trus apa takut persaingan? Tentu tidak. Bahkan beberapa alumni karyawan kami, yg mengerti adab dan kode etik, malah hari ini jadi supplier kami. Mereka jadi bagian dari kami.
.
Bukan tidak mau mengajari, tapi kalo emang beneran mau belajar, bukan dg cara mencuri ilmu. Sini, sini, sekalian belajar. 30 SOP membangun bisnis, malah kami ajarkan secara paripurna. Ada keridhoan kami dalam mengajari.
.
Takut di duplikat? Setiap perusahaan, punya aturan ttg rahasia dagang, baik usaha sejenis, formula, bahan baku, resep dll. Klo belum tau hal itu, mgkn belajar dulu aja 😁😁
.
Koq berbayar sih? Lha, itu, untuk pelajaran sekolah dari SD-SMP-SMA-kuliah, yang gak terpakai di kehidupan nyata aja kita bayar koq. Coba, mana diantara kita yang berjualan dimsum, pake pelajaran trigonometri, astronomi, sejarah kerajaan-kerajaan, penjaskes dll?
Lha ini, buat ilmu yang langsung dipake buat kehidupan, koq mau nya gratis. Mungkin main mu kurang jauh, hehehe. Cuma ada beberapa slot saja yah. See you
Mas, bolehkah kalo di tempat saya, karyawan yg keluar bikin bisnis yang sejenis dan jualan nya jejerin tempat saya? Boleh aja. Silakan. Bisnis bisnis anda, bebas. Kebijakan anda yg menentukan
Aditya Nugroho
bit.ly/YukCurhatBisnis
Akademi Pengusaha