Senin, 27 Februari 2023

Cara Hunting Rumah di Bawah Harga Pasar



Misalnya kita ke sebuah komplek perumahan, trus kita pengen tau rumah mana aja yg dijual. Kalo cuma menyusuri jalan satu persatu nyari rumah yang ada tulisan dijual, kurang efektif.

Soalnya nggak semua rumah yg dijual itu masang spanduk atau tulisan dijual. Selain itu, rumah yg jual butuh atau di bawah harga pasar, justru biasanya malah cuma ditawari dari mulut ke mulut. Trus gimana caranya dong?

1. Kalo komplek perumahan tsb ada satpamnya, tanya satpam. Mula2 basa basi dulu tanya kalo ada rumah yg dijual. Setelah itu baru lanjutkan pembicaraan mendalam, tanya mana rumah yg jual butuh. Jawabannya biasanya nggak bisa sekaligus hari itu juga. Jadi, beliin rokok aja buat bukti keseriusan. Lalu tinggalin nomer telepon, jangan lupa janjikan kasih komisi. 

2. Cari warung, awali dgn jajan di sana. Misal beli ciki atau teh botol, baru tanya2. Setelah itu tinggalin nomer telepon, jangan lupa janji kasih komisi. 

3. Coba survey dalam bbrp hari ke situ, dateng pagi2. Kalo ada tukang sayur yg biasa keliling, boleh ditanya juga. Karena tukang sayur biasanya jadi tempat curhat ibu2 😁 tinggalin nomer telepon ke si tukang sayur, jangan lupa janji kasih komisi.

4. Penjual jamu keliling dan tukang pijat juga boleh dititipi. 

Dari situ tinggal nunggu info aja. Kalo ada rumah dijual, pasti dikabarin

Minggu, 26 Februari 2023

REset dan REboot

Tulisan saya sebelumnya adalah tentang "Reset", melupakan semuanya sejenak, dan membersihkan memory kita dari semua kejenuhan yang ada. Berdamai dengan hati sendiri, dan menyanyikan lagu syukur. Sekarang bagaimana seharusnya kita memulai kembali semuanya dengan lebih baik?
Reboot, boot ulang operating system kita, lalu mau memakai program apa? Nah kebutuhan untuk memahami situasi sebelum menentukan sesuatu jadi hal yang penting. Satu upaya yang bisa dilakukan adalah bagaimana kita melakukan meeting dengan diri sendiri.
Siapkan satu waktu, mungkin Rabu ini, mungkin Jumat, mungkin hari kerja lainnya, mungkin 3 jam, atau sehari, tutup ruang kerja anda, tulis didepan: Sedang sibuk. Matikan atau silent gatget anda. Ambil kertas, bolpen atau spidol, mulai kita coret2 dengan serius, tentang diri kita sendiri.
Buat SWOT analisis, apa saja kelebihan anda, apa kelemahan anda, apa kesempatan yang ada, apa bahaya yang mengintai. Atau kalau anda tidak biasa dengan SWOT / TOWS, coret2 saja apa kelebihan anda sebenarnya, dan apa kelemahan anda dalam pekerjaan anda?
Coba buka mata hati kita dalam heningnya ruang, dan lihat sebenarnya apa perubahan yang terjadi sekarang, ada kesempatan apa dan ada bahaya apa. Apa trend yang sedang jalan, bagaimana masuk dalam trend itu supaya menguntungkan bisnis kita?
Coba cari “kuda tunggangan” apa yang bisa anda pakai untuk lebih mengembangkan diri dan bisnis anda. Adakah perusahaan anda, teman anda, almamater anda, network anda, keterkenalan anda, produk yang anda jual, kakak, ayah, paman, family ataupun istri atau suami anda.
Bisakah kita sinergikan, kesempatan yang ada sekarang, kemampuan kita yang lebih dari orang lain, dan kuda tunggangan yang menjadi asset kita? Tidak mudah menemukan jawabnya, mungkin 3 jam atau sehari anda tidak cukup untuk menemukan yang pas. Tetapi setidaknya anda telah mulai, untuk mulai dengan serius “rebooting” diri anda sendiri.
Meeting selesai, bisa anda buat summary ringkasan yang telah anda dapatkan dalam meeting ini, dan dapat disambung Minggu depan dengan waktu meeting yang lebih pendek. 30 menit atau sejam juga akan berguna kalau kita gunakan dengan serius. Dan membuat kita menjadi lebih paham akan diri dan bisnis kita dan apa yang layak kita prioritaskan dalam hidup kita ini. Selamat mencoba.

Salam sukses selalu
Tanadi Santoso

Senin, 06 Februari 2023

KALAU BISA DISERAHKAN KE ORANG LAIN, GAK PERLU SAYA KERJAKAN SENDIRI


Pola pikir Teknisi adalah, "Kalo bisa saya kerjakan sendiri, gak perlu diserahkan ke orang lain."

Pola pikir Pebisnis justru sebaliknya, "Kalo bisa diserahkan ke orang lain, gak perlu saya kerjakan sendiri."

Tapi apakah ini cukup?

Salah satu mbahnya ilmu manajemen, George Terry, merumuskan framework manajemen yang dirujuk dan dikembangkan, yaitu P-O-A-C. "C" pada bagian akhir adalah Control alias Kendali.

Banyak Pebisnis punya ide besar, rencana indah, persiapan eksekusi matang, bahkan sudah mendelegasikan berbagai pekerjaan ke banyak orang ahli, tapi semua kacau karena lemah di aspek C alias Control ini.

"Kalo bisa diserahkan ke orang lain, gak perlu saya kerjakan sendiri."

Ini benar, dan bahkan sebagai Pebisnis perlu berpikir seperti demikian. Tapi setelahnya gak boleh santai, menganggap selama sudah mendelegasikan, dan sudah memberikan honor sesuai, semua akan baik2 saja.

Pebisnis perlu menjalankan Kepemimpinan dengan proses Manajemen secara ketat. Memastikan segala prosesnya berjalan, pada tiap step-by-step-nya (bukan hanya cek di akhir). Termasuk selalu mengecek apakah orang yang didelegasikan sebuah pekerjaan, melakukan dengan baik atau tidak.

Sangat mungkin orang yang didelegasikan pekerjaan, menemui kendala sehingga butuh support. Bisa jadi saat mengeksekusi, menghadapi berbagai masalah dengan tingkat kesulitan di luar kemampuan.

Lantas, sampai kapan proses Control dilakukan?

Sebenarnya proses Control gak boleh berhenti. Perlu selalu ada. Hanya saja, intensitasnya bisa disesuaikan.

Selama melihat potensi penyimpangan masih besar, intensitas Control perlu tinggi. Perlahan tapi pasti saat semua elemen sudah bisa membiasakan bekerja dengan kualitas baik, maka intensitas Control bisa dikurangi, karena potensi penyimpangan sudah tidak sebesar sebelumnya.

Karenanya, jangan mudah terbuai dengan kalimat, "Kalo bisa diserahkan ke orang lain, gak perlu saya kerjakan sendiri." Seakan menjalankannya mudah karena gak pakai tenaga sendiri.

Tetap stay fokus pada pencapaian target, dan waspada terhadap berbagai situasi tak terduga.


Salam Berkah 





Rabu, 01 Februari 2023

story telling for marketing

Seorang sales person bisa masuk dari pendekatan Job Tobe Done untuk bisa memahami kebutuhan terdalam customer sehingga efektif untuk mentrigger pembelian.

Sebelumnya sudah saya jelaskan Teknik sederhana menemukam job tobe done dari customer dengan 3 panduan berikut.

When….
I want to…
So I can…

Pertanyaan panduan ini kita gali dari perspektif dan POV dari customer. Saya contohkan secara sederhana. Anggap saja di kereta api ada sales nya, atau bisa dirupakan jadi konten Marketing juga.

When; ketika saya naik kereta api

I Want to; saya ingin perjalanan yang tepat waktu, santai, bisa mondar mandir sehingga tidak bosan.

So I can; jadi saya bisa mengerjakan tugas dan menyelesaikan pekerjaan saya. Saya bisa refreshing dan healing melihat pemandangan. Saya bisa belajar dengan tenang dan menyusun materi. Saya bisa ….bla bla bla.

Dengan memahami ini, anda akan sangat mudah untuk bisa membuat pendekatan dan pembicaraan yang menarik. 

Karena bagi customer yang sudah kena sisi kebutuhan terdalamnya, dengan mudah kita bisa menggerakkan kepada pembelian. 

Di dalam kajian psikologi, itu adalah bagian dari hot buttom -nya. Kalau dah dipencet tombolnya, akan tergerak dengan sendirinya. 

#Storyselling #crm #customerexperience