Pada suatu hari, sekian tahun yang lalu, seorang teman yang tajir melintir dengan bisnisnya yang semakin meroket datang ke kampus Klatak. Dia bilang...
"Aku sepertinya butuh tantangan baru. Bisnis yang ini sepertinya sudah nggak perlu mikir. Sudah jalan dengan sendirinya. Aku rebahan saja duit ratusan juta tiap hari mengalir mudah. Aku mau nyoba jadi kontraktor. Mumpung bandara baru lagi mau dibangun. Ini pasti lebih menantang... "
Belum lama berselang, setelah badai covid mereda, Tiba-tiba ia datang lagi. Dan bilang...
"Aku wis entek-entekan. Gak dowe opo-opo. Wis kadol kabeh. Omah wis gak duwe. Duweku mung pit motor butut iki. Utang juga masih banyak. Ancur hidupku sekarang... "
Hemmmm...
Apa yang telah terjadi?
Dunia kontraktor ternyata telah melahap hidupnya habis-habisan. Tak kurang dari tiga puluh miliar duitnya amblas tak berbekas. Proyek memang selesai dan semua tanggung jawabnya sudah dituntaskan. Tapi, tak serupiah pun ia pegang uang. Uangnya masih tertahan di pemilik proyek. Bertahun-tahun. Tak ada jawaban pasti. Akan bisa cair apa tidak. Penanggung jawab perusahaan itu juga gonta-ganti sehingga semakin rumit saja urusannya. Seperti dipingpong sana sini. Sementara dia harus membayar tunai semua gaji tukangnya, truk yang di sewanya, material yang dibelinya dari warga, dan pelicin sana sini...
Kabarnya perusahaan itu juga lagi sakit parah. Dan bukan tidak mungkin akan dipailitkan seperti perusahaan yang lagi jadi headline koran pagi ini. Terowongan bypass sudah selesai dibangun kontraktor tapi kontraktor nya belum terima duit dari pembangunannya. Bahkan perusahaan yang bertanggung membuat kontraktor ini malah dipailitkan. Lah terus mau menagih kemana kalau perusahaan itu sudah tidak ada lagi?
Cerita ini Anda bisa verifikasi ke Pembantu Rektor Klatak University Davied Hermansah kalau ada yang nggak percaya alias menganggap cerita ini fiktif. Kalau perlu Anda bisa ketemu orangnya.
.
Sekitar tahun 2013 silam saya ketemu anak muda di sebuah pelatihan public speaking di Bogor. Akademi Trainer TBNC 6. Namanya Dewa Eka Prayoga . Wajahnya kuyu, ruwet, pandangannya gelap. Apa pasal? Secara umur mungkin paling muda dari semua peserta pelatihan itu. Tapi mungkin tanggungan nya paling berat. Menanggung utang 7,7 M yang sebetulnya bukan karena kesalahannya. Istilahnya, ketiban sampur. Orang nggak mau tau, karena yang di depan adalah wajahnya maka dialah yang harus bertanggung jawab. Sementara pemilik perusahaan yang aseli malah kabur entah kemana. Tapi, saya salut dengan kata-katanya...
"Pokoknya nanti semua utang itu harus saya kembalikan. Entah bagaimana caranya. Meskipun itu bukan tanggung jawab saya seharusnya. Tapi secara moral saya ikut bertanggung jawab. Saya belum tau bagaimana caranya. Tapi saya akan kembalikan sampai lunas kepada semua yang menuntut saya.... "
Sama dengan kisah pertama, sekitar lima tahun kemudian. Dewa sudah mengorbit dengan tampilan yang baru. Wajahnya sudah cerah, pandangannya optimis, dan penampilannya sangat percaya diri. Utang yang 7,7 M pun sudah diselesaikannya. Tuntas. Dia mengambil alih tanggung jawab yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya. Kini Dewa adalah sosok yang didewakan oleh para fansnya, punya bisnis puluhan, dan omset yang konon ratusan kali lipat dari utang yang dilunasinya...
Saya memang tidak bisa membantu apa-apa saat terpuruk itu. Kecuali mengajaknya untuk selalu tertawa dan menertawakan hidup. Karena hanya itu keahlian saya. Bahkan saat diminta mengisi salah satu workshopnya di UPi langsung saya iyakan saja. Honornya gimana Cak? Udah nggak usah dipikir, terserah aja. Dan nggak usah dijemput. Nanti aku datang dan pulang dengan sendirinya. Minta satu aja: waktunya jangan dibatasi. Karena aku mau ajak peserta ngakak sampai pagi. Isinya apa nggak penting yang penting vibrasi kegembiraannya dirasakan peserta. Dan benar adanya, saat saya mengisinya sehabis isyak itu baru berakhir ketika azan Subuh. Kemudian saya pergi begitu saja meninggalkan gelanggang...
Sungguh berbalik dengan kisah Dewa. Teman yang ini justru lagi nyungsep sedalam-dalamnya. Bandara baru di Yogyakarta itu memang mentereng. Terbangun begitu megah dan indah. Tapi bagaimana dengan nasib kontraktor yang ikut membangunnya? Ya itu tadi, luluh lantak tak berbentuk. Ya wajahnya kini sangat muram, kuyu, suntuk, tak percaya diri, dan kadang untuk mengisi bensin motornya saja masih harus minta belas kasihan teman. Lain dulu lain sekarang. Lain bandara, lain nasib yang membangunnya...
. . . . . . .
Apa yang perlu menjadi pelajaran dari kedua kasus itu?
Pertama, jangan pernah main-main dengan kata-kata. Ingat kata-kata adalah doa. Dan setiap doa akan di proses semesta. Akan dikabulkan. Tinggal soal waktu saja. Persis dengan kata-kata yang pernah diucapkan. Makanya orang tua sering bilang kalau ada salah ucap minta segera diralat. Mengucap astaghfirullah seraya mencabut kata-kata buruk tadi. Agar semesta juga segera meng-cancel-nya. Agar tidak terjadi beneran di kemudian hari. Agar tak ada yang menjadi terkutuk kayak si Malin Kundang lagi.
Perhatikan apa perbedaannya...
Yang satu dalam kondisi bergelimang harta, berucap: aku ingin Tantangan Baru... Nah itulah yang kemudian diberikan semesta kepadanya. Inginnya tantangan hidup ya yang dia dapatkan sekarang benar-benar tantangan hidup. Memulai hidup dari nol. Bahkan minus karena beberapa tagihan warga belum selesai seratus persen. Selama ia belum meng-cancel kata-kata itu maka semesta akan terus memprosesnya, membentur-benturkannya dengan banyak masalah yang itu bentuk dari tantangan baru yang diharapkan dalam doanya tanpa sadar.
Yang satunya, dalam kondisi terpuruk berucap: pokoknya utang 7,7 M itu akan saya selesaikan bagaimana pun caranya... Dan itulah yang akhirnya direspon semesta. Hanya dalam tempo sekitar lima tahun saja utang tujuh M itu benar-benar bisa diselesaikannya. Dia dipertemukan orang-orang baru, cara-cara baru, ilmu-ilmu baru, peluang-puang bisnis baru yang kebetulan membawanya pada keberuntungan. Semuanya langsung meroket. Yang hasilnya mampu untuk melunasi semua hutang-hutang yang dia ambil alih tanggung jawabnya. .
Makanya dalam Islam itu kedudukan niat itu paling penting sebelum melakukan sesuatu. Mau makan ada doanya. Mau masuk WC ada doanya. Mau apa saja ada niatnya. Karena, jangan sampai ketika melakukan sesuatu itu niatnya jadi melenceng. Mau sedekah malah menyimpang jadi pamer. Mau umroh malah pengennya sekedar selfi. Maka niat harus lurus dahulu baru sesuatu yang baik dilakukan. Kadang kita melupakan itu, niatnya malah ingin sombong dan unjuk gigi saja. Padahal, harusnya pakai bismillah. Biar jalannya tetap bener dan tidak oleng. Mau diucapkan atau ditanam di dalam hati terserah. Yang penting niatnya kudu bener dulu biar ketika terucap juga jadi doa yang bener dan memberi nasib yang bener nantinya.
Kedua, jangan terjun ke bisnis yang kamu sama sekali tidak paham lika-likunya. Apalagi langsung dalam skala besar yang mempertaruhkan modal milyaran. Yang ada malah akan masuk dalam permainan mafia lama, dilempar kesana kemari, tidak tahu langkah taktis yang harus diambil dan akhirnya zonk semua.
Masuklah sedikit demi sedikit. Sambil mempelajari likulekuknya. Yang serba mulus di mulut orang tentang bisnis itu belum tentu seperti itu yang senyatanya. Pasti ada banyak lubang yang tak diceritakan dengan gamblang. Karena lubang-lubang itu rasanya menyakitkan dan berdarah-darah penuh nanah. Tau sendiri pelan-pelan akan membuat kita belajar. Tahu mana lubang tau mana kerikil dan tahu bagaimana mengantisipasinya sejak dini.
Ketiga, hidup itu ya begitu. Orang bisa tiba-tiba di atas, tapi tiba-tiba jatuh ke bawah. Dan sebaliknya. Yang kadang itu terjadi karena sebuah ucapan saja. Kata-kata. Tapi dampaknya sungguh luar biasa. Bisa bikin hidup orang hancur lebur, bisa bikin yang teepuruk tiba-tiba mendapatkan momentum untuk meroket seketika.
Makanya jalani hidup dengan biasa saja. Baik saat terpuruk maupun saat berjaya. Karena semua itu bisa berubah sekejap tanpa disangka-sangka dan oleh sebab yang sepele saja. Bahkan oleh kata-kata. Jangan pernah jumawa ketika di atas dan jangan terlalu playingfictim seolah paling menderita ketika sedang terpuruk di bawah. Semuanya itu ada saatnya, ada waktunya. Yang penting jaga kata-kata. Selalu mulai dengan niat yang baik. Niat yang positif. Agar semuanya nanti berjalan serba positif, apapun tantangan dan problematika yang ada di depan....
Sebuah tulisan yang sangat bagus dari seorang kawan di dinding fb , yang isinya makjleb dan nembus ke hati.Terima kasih Insight nya Among Kurnia
Salam berkah
Happy closing