Selasa, 28 Januari 2025

REBAHAN PRODUKTIF


Salah satu contoh Rebahan Produktif :

Ketika banyak orang macet macetan pagi dan sore, saya fokus rebahan

Mendoakan supaya orang orang yang sedang berjuang di jalanan berangkat dan pulang kerja diberikan kesehatan kekuatan kesabaran dan keberkahan

Allah memberikan kesempatan mencari nafkah tidak nya di kuadran 1 2 3 4 dan milih salah satu... Tapi bisa pilih 4 4 nya, bahkan milih 2 atau 3 juga boleh, bahkan nambah lagi juga boleh

wong kehidupan itu bukan kayak pelajaran sekolah yang milih bener salah diantara 4 pilihan

Karena semua orang pada hakekatnya tidak akan menjalani seumur hidup jadi orang Gajian

Karena Allah menetapkan kalau ada usia pensiun di saat itu tidak terima gaji

Tapi jangan worry karena rejeki bukan cuma dari Gajian

Iktiar secukupnya

Perbanyak rebahan produktif

Biarkan semesta yang bekerja... Menuntaskan semua rejeki yang akan disampaikan ke kita

Mulailah pikirin masa tuamu , masa pensiunmu...

jangan sampai salah fokus dan prioritas

Kerja di perusahaan ada pensiunnya kalau udah pensiun ya dilupain aja ama perusahaan , kita bukan orang penting buat mereka seperti pikiran kita mereka mudah cari ganti

Jangan overthinking bahwa perusahaan akan membutuhkanmu sampai kamu tua dan mati

Tapi tubuh kita ikut kita sampai mati

Minggu, 26 Januari 2025

TAKSONOMI BLOOM


MENGHAFAL ADALAH LEVEL BERPIKIR YANG PALING RENDAH

Setiap kali mengajar, saya selalu menemukan bahwa orang Indonesia malas sekali menggunakan otaknya. Mereka hanya mau berpikir ketika ada komando. Artinya, kalo nggak ada perintah dari luar, otomatis otaknya beristirahat. Mungkin itu sebabnya, kenapa saya kesulitan setiap kali mengajar creative attitude.

Akan tetapi saya nggak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Sistem pendidikan di negeri kita sejak jaman dulu kala, penekanannya hanya berbasis hafalan. Padahal hafalan adalah level berpikir yang paling rendah. Jadi ini adalah tanggung jawab kita semua, dari murid, ortu, guru, sekolah, kementerian sampai pemerintah,

Saya mau cerita sedikit. Ada seorang psikolog pendidikan asal Amerika, namanya Benjamin Samuel Bloom. Dia melakukan penelitian yang berfokus pada teori pembelajaran dan pengembangan kurikulum. 

Bersama timnya, dia membagi level berpikir menjadi 6 bagian. Sesuai dengan namanya, penemuan ini disebut dengan Taksonomi Bloom. Sebuah metode untuk membantu guru mengukur dan memahami kemampuan berpikir siswa.

Taksonomi Bloom adalah kerangka kerja yang digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat berpikir seseorang. Level-levelnya menggambarkan bagaimana seseorang memproses dan menerapkan informasi, dari yang paling rendah (menghafal) sampai yang paling kompleks (menciptakan).

Yuk, kita bahas satu per satu!

1. Hafalan (Remembering)
Menghafal fakta dasar tentang kopi.

Contoh pertanyaan: Apa jenis-jenis kopi yang terkenal?
Jawaban: Arabica, Robusta, Liberica.

2. Pemahaman (Understanding)
Menunjukkan pemahaman tentang kopi.

Contoh pertanyaan: Jelaskan proses pembuatan kopi dari biji hingga siap diminum.
Jawaban: Biji kopi dipetik, dikeringkan, disangrai, digiling, lalu diseduh dengan air panas.

3. Penerapan (Applying)
Menggunakan pengetahuan tentang kopi dalam situasi nyata.

Contoh pertanyaan: Bagaimana cara menyeduh kopi dengan metode French Press?
Jawaban: Masukkan kopi bubuk ke French Press, tambahkan air panas, diamkan 4 menit, lalu tekan plunger-nya.

4. Analisis (Analyzing)
Membongkar informasi tentang kopi untuk memahami lebih dalam.

Contoh pertanyaan: Mengapa kopi Arabica lebih mahal dibandingkan kopi Robusta?
Jawaban: Karena kopi Arabica membutuhkan kondisi tumbuh yang lebih spesifik, lebih rentan terhadap penyakit, dan memiliki rasa yang lebih kompleks.

5. Mengevaluasi (Evaluating)
Menilai sesuatu tentang kopi berdasarkan kriteria tertentu.

Contoh pertanyaan: Mana yang lebih baik, kopi tubruk atau espresso? Jelaskan alasannya.
Jawaban: Espresso lebih baik untuk pecinta kopi pekat karena konsentrasinya tinggi, sementara kopi tubruk lebih cocok untuk mereka yang suka menikmati rasa kopi secara perlahan.

6. Menciptakan (Creating)
Menciptakan sesuatu yang baru atau orisinal terkait kopi.

Contoh pertanyaan: Buatlah resep minuman kopi unik yang belum pernah ada sebelumnya.
Jawaban: Kopi pandan kelapa: espresso dicampur santan kelapa, sirup pandan, dan es batu, lalu dihias daun pandan.

Melalui pembahasan ini saya bisa menilai seberapa tinggi level berpikir seseorang dalam sebuah kelas. Namun di beberapa perguruan tinggi, saya juga menemukan banyak dosen yang sudah mengajarkan cara berpikir dari level terendah dan menuntun mahasiswanya ke level tertinggi, yaitu berkreasi. Semoga pemahaman ini semakin merata. Insya Allah. Aamiin.
MENGHAFAL ADALAH LEVEL BERPIKIR YANG PALING RENDAH

Setiap kali mengajar, saya selalu menemukan bahwa orang Indonesia malas sekali menggunakan otaknya. Mereka hanya mau berpikir ketika ada komando. Artinya, kalo nggak ada perintah dari luar, otomatis otaknya beristirahat. Mungkin itu sebabnya, kenapa saya kesulitan setiap kali mengajar creative attitude.

Akan tetapi saya nggak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Sistem pendidikan di negeri kita sejak jaman dulu kala, penekanannya hanya berbasis hafalan. Padahal hafalan adalah level berpikir yang paling rendah. Jadi ini adalah tanggung jawab kita semua, dari murid, ortu, guru, sekolah, kementerian sampai pemerintah,

Saya mau cerita sedikit. Ada seorang psikolog pendidikan asal Amerika, namanya Benjamin Samuel Bloom. Dia melakukan penelitian yang berfokus pada teori pembelajaran dan pengembangan kurikulum. 

Bersama timnya, dia membagi level berpikir menjadi 6 bagian. Sesuai dengan namanya, penemuan ini disebut dengan Taksonomi Bloom. Sebuah metode untuk membantu guru mengukur dan memahami kemampuan berpikir siswa.

Taksonomi Bloom adalah kerangka kerja yang digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat berpikir seseorang. Level-levelnya menggambarkan bagaimana seseorang memproses dan menerapkan informasi, dari yang paling rendah (menghafal) sampai yang paling kompleks (menciptakan).

Yuk, kita bahas satu per satu!

1. Hafalan (Remembering)
Menghafal fakta dasar tentang kopi.

Contoh pertanyaan: Apa jenis-jenis kopi yang terkenal?
Jawaban: Arabica, Robusta, Liberica.

2. Pemahaman (Understanding)
Menunjukkan pemahaman tentang kopi.

Contoh pertanyaan: Jelaskan proses pembuatan kopi dari biji hingga siap diminum.
Jawaban: Biji kopi dipetik, dikeringkan, disangrai, digiling, lalu diseduh dengan air panas.

3. Penerapan (Applying)
Menggunakan pengetahuan tentang kopi dalam situasi nyata.

Contoh pertanyaan: Bagaimana cara menyeduh kopi dengan metode French Press?
Jawaban: Masukkan kopi bubuk ke French Press, tambahkan air panas, diamkan 4 menit, lalu tekan plunger-nya.

4. Analisis (Analyzing)
Membongkar informasi tentang kopi untuk memahami lebih dalam.

Contoh pertanyaan: Mengapa kopi Arabica lebih mahal dibandingkan kopi Robusta?
Jawaban: Karena kopi Arabica membutuhkan kondisi tumbuh yang lebih spesifik, lebih rentan terhadap penyakit, dan memiliki rasa yang lebih kompleks.

5. Mengevaluasi (Evaluating)
Menilai sesuatu tentang kopi berdasarkan kriteria tertentu.

Contoh pertanyaan: Mana yang lebih baik, kopi tubruk atau espresso? Jelaskan alasannya.
Jawaban: Espresso lebih baik untuk pecinta kopi pekat karena konsentrasinya tinggi, sementara kopi tubruk lebih cocok untuk mereka yang suka menikmati rasa kopi secara perlahan.

6. Menciptakan (Creating)
Menciptakan sesuatu yang baru atau orisinal terkait kopi.

Contoh pertanyaan: Buatlah resep minuman kopi unik yang belum pernah ada sebelumnya.
Jawaban: Kopi pandan kelapa: espresso dicampur santan kelapa, sirup pandan, dan es batu, lalu dihias daun pandan.

Melalui pembahasan ini saya bisa menilai seberapa tinggi level berpikir seseorang dalam sebuah kelas. Namun di beberapa perguruan tinggi, saya juga menemukan banyak dosen yang sudah mengajarkan cara berpikir dari level terendah dan menuntun mahasiswanya ke level tertinggi, yaitu berkreasi. Semoga pemahaman ini semakin merata. Insya Allah. Aamiin.

Sabtu, 11 Januari 2025

PERLUKAH MEMBACA BUKU?


Berikut adalah 10 alasan mengapa membaca buku harus menjadi bagian dari hidup Anda:

1. Meningkatkan Pengetahuan: Buku adalah sumber informasi yang bagus, apakah itu tentang sejarah, sains, atau pengembangan pribadi. Mereka memperluas pemahaman Anda tentang dunia dan memperkenalkan Anda pada ide-ide baru.

2. Meningkatkan Kosakata: Pembacaan secara teratur membuat Anda terpapar kata-kata, frase, dan ekspresi baru, yang membantu meningkatkan keterampilan bahasa dan kemampuan komunikasi Anda.

3. Meningkatkan Stimulasi Mental:

Membaca membuat otak Anda aktif, meningkatkan fungsi kognitif dan memori. Ini seperti latihan untuk pikiran Anda!

4. Mengurangi Stres: Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus bisa menjadi cara yang bagus untuk melarikan diri dari stres sehari-hari, memungkinkan pikiran Anda untuk rileks dan mengisi ulang.

5. Meningkatkan Fokus dan Konsentrasi: Di dunia yang serba cepat saat ini, membaca membantu meningkatkan rentang perhatian Anda dan melatih Anda untuk fokus pada satu tugas untuk waktu yang lebih lama.

6. Menciptakan Empati: Buku, terutama novel, memungkinkan Anda untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda, yang membantu menumbuhkan empati dan pemahaman terhadap orang lain.

7. Menginspirasi Kreativitas: Membaca

merangsang imajinasi Anda, mendorong Anda untuk berpikir kreatif dan melihat masalah atau situasi dengan cara baru.

8. Meningkatkan Keterampilan Menulis: Dengan mengamati berbagai gaya penulisan, struktur kalimat, dan teknik dongeng, membaca dapat meningkatkan kemampuan menulis Anda sendiri.

9. Memberikan Hiburan: Buku menawarkan dunia hiburan yang luas, dari petualangan mendebarkan hingga cerita yang memicu pemikiran. Mereka adalah alternatif yang bagus untuk waktu layar.

10. Promosikan Pembelajaran Sepanjang Hayat:

Membaca membuat Anda penasaran dan terbuka untuk belajar sepanjang hidup, membantu Anda tumbuh secara pribadi dan profesional.

Manfaat ini menunjukkan bagaimana membaca dapat memperkaya berbagai aspek kehidupan Anda, dari kesehatan mental hingga pertumbuhan pribadi.

Catatan yang Terserak kehidupan

SEMANGAT PAGI 
Sabtu , 11 Januari 2025

Selasa, 07 Januari 2025

BERHENTILAH PERCAYA APA YANG KAMU LIHAT!





Di bawah pohon beringin yang rimbun di tengah alun-alun Kutoarjo, duduklah seorang lelaki tua bijak bestari. Lelaki itu, sebut saja namanya Robert Kiyosaki, memandang anak-anak muda yang duduk melingkar di depannya. 

Anak-anak muda itu adalah generasi muda yang haus akan petuah, berharap mendapatkan jawaban tentang dunia yang sering membingungkan mereka.

"Ceritakan tentang hidup, Guru!" pinta salah satu anak muda bernama Enje.

Lelaki tua menghela napas panjang, lalu memulai kisahnya.

"Anak-anakku," katanya, suaranya lembut namun sarat makna, "dunia ini penuh dengan hal-hal yang tampaknya nyata, tetapi sesungguhnya palsu. Dan inilah yang membuat banyak orang kehilangan arah. Dengarkanlah kisah ini baik-baik."

Uang Palsu: Ilusi Kekayaan

"Zaman dulu," katanya, "uang dibuat dari emas dan perak, sesuatu yang nyata, sesuatu yang memiliki nilai sejati. Tapi suatu hari, para raja dan penguasa berpikir, 'Mengapa kita harus repot-repot menggunakan emas? Bukankah kita bisa mencetak kertas saja dan menyebutnya uang?' Maka lahirlah uang kertas, anak-anakku. 

Awalnya, orang percaya uang itu berharga. Namun, setiap kali para penguasa mencetak lebih banyak uang, nilainya berkurang. Orang-orang biasa yang bekerja keras dan menabung uang mereka akhirnya hanya memiliki tumpukan kertas yang nilainya terus menyusut."

Lelaki tua itu menatap mereka dengan sabar. "Janganlah kalian terjebak oleh uang palsu. Carilah emas, perak, atau tanah—sesuatu yang nyata dan tidak bisa dibuat hanya dengan tinta."

Guru Palsu: Penjaga Penjara Pikiran

"Dan kini, anak-anak muda," lanjutnya, "marilah kita berbicara tentang guru. Di zaman modern, kalian diajari untuk pergi ke sekolah, mendapatkan nilai baik, lalu mencari pekerjaan. Guru-guru kalian berkata bahwa itu adalah jalan menuju kesuksesan. Tapi pikirkanlah, anak-anakku, berapa banyak dari mereka yang benar-benar tahu tentang kesuksesan? Berapa banyak dari mereka yang pernah menciptakan sesuatu atau memimpin usaha mereka sendiri?"

Ia tersenyum tipis. "Guru sejati adalah mereka yang telah berjalan di jalan yang mereka ajarkan, bukan mereka yang hanya membaca buku dan menghafal teori. Jadi, carilah kebijaksanaan dari pengalaman, bukan hanya dari ruang kelas."

Aset Palsu: Keindahan yang Menipu

Kemudian lelaki tua itu mengangkat tangannya, menunjuk ke kejauhan. "Kalian melihat rumah besar di bukit itu? Orang kaya yang tinggal di sana sering berkata bahwa rumahnya adalah aset. Tetapi pikirkanlah, rumah itu sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa. Sebaliknya, ia memakan uang untuk perbaikan, pajak, dan bunga utang."

Anak-anak muda itu terdiam, mencoba memahami. "Aset sejati," lanjut si lelaki tua, "adalah sesuatu yang memberikan kalian kebebasan. Sebuah tanah yang menghasilkan panen, emas yang nilainya bertambah, atau bisnis yang memberikan kalian penghasilan tanpa harus bekerja sepanjang waktu."

Kebenaran yang Harus Kalian Pegang

Lelaki tua itu menghela napas lagi, lalu bersandar pada tongkatnya. "Anak-anakku, dunia ini akan mencoba membingungkan kalian dengan hal-hal yang terlihat nyata tetapi sesungguhnya palsu. Mereka akan memberi kalian uang palsu, guru palsu, dan aset palsu. Tetapi jika kalian belajar memahami apa yang benar-benar berharga, kalian akan menemukan kebebasan. Kalian akan menemukan kekayaan sejati."

Anak-anak muda itu terdiam, merenungi kata-katanya. Mereka tahu bahwa lelaki tua itu berbicara dari pengalaman panjang hidupnya, dari luka dan pelajaran yang ia alami sendiri.

Sebelum pergi, lelaki tua itu memberikan nasihat terakhir. "Jangan pernah takut untuk mempertanyakan dunia ini. Jangan percaya begitu saja pada apa yang terlihat. Gunakan akal dan hati kalian untuk mencari kebenaran. Karena di situlah, anak-anakku, kalian akan menemukan kekuatan sejati."

Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, ia bangkit perlahan, meninggalkan Enje dan anak-anak muda yang kini mulai melihat dunia dengan mata yang berbeda.

SALAM BERKAH 

Jumat, 03 Januari 2025

PINTAR VS BIJAKSANA



Pintar belum tentu bijaksana, tetapi BIJAKSANA PASTI PINTAR.

Ada seorang jenderal yang menyukai permainan catur dan dia adalah master catur, tidak ada pecatur lain yang mampu mengalahkannya.

Suatu hari, Jenderal dalam perjalanan dinasnya, melihat sebuah gubuk yang pada dindingnya tergantung papan bertuliskan "Pecatur Terbaik Dunia", tentu saja hal ini membuat Jenderal penasaran dan segera menghampiri gubuk tersebut untuk menantang pemilik gubuk bermain catur, dan ternyata sang Jendral dapat memenangkan seluruh tiga set yang mereka mainkan. 

Karena itu, Jenderal dengan penuh kepercayaan diri mengatakan : "Anda harus segera mencopot papan ini ", dan ia segera melanjutkan perjalanannya dengan penuh kegembiraan. 

Setelah menyelesaikan tugasnya, dalam perjalanan pulang, Jenderal melewati gubuk itu lagi dan ia melihat bahwa papan "Pecatur Terbaik Dunia" belum juga dicopot.

Dengan penasaran, masuklah dia dan menantang pemilik gubuk itu untuk bermain catur lagi. 
Namun kali ini hasilnya sangat mengejutkan karena Jenderal, kalah telak tiga kali berturut-turut.

Jenderal sangat terkejut, dan bertanya mengapa bisa terjadi demikian. 

Pemilik gubuk menjawab dengan Bijak : 

"Pada waktu yang lalu, saya tahu jenderal sedang dalam perjalanan untuk melaksanakan tugas negara, maka saya tidak mau mengalahkan jenderal, untuk menjaga semangat juang Anda. Namun sekarang jenderal telah kembali dan sukses melaksanakan tugas, tentu saja saya melayani tantangan jenderal sesuai dengan kemampuan saya yang sebenarnya.
Saya tidak akan mengalah lagi".

Pemenang Sejati, mampu menang, tetapi belum tentu harus menang dan mampu mengalah dengan bijaksana. 

Bisa Menang, dan tidak harus menang, menunjukkan kepribadian yang mulia.

Ingat .... 
Pintar belum tentu Bijaksana, tetapi bijaksana pasti pintar ! 

Orang Pintar mengutamakan untung rugi.
Orang Bijaksana IKHLAS BERKORBAN dan MAU BERBAGI.

Selamat pagi 
Semangat lagi 💪💪💪

SALAM BERKAH

#inspirasi #motivasi

BELAJAR BIASA DI DUA PERKARA ..



Jika tidak bisa menjadi hamba yang luar biasa dalam beribadah kepada Alloh.. setidaknya jadilah hamba yang ahli dalam 2 perkara.
.
✅️ Pertama..
Pandailah berterimakasih atas apapun yang Alloh berikan. Sekecil apapun itu..
Kita ini tidak punya kemampuan menciptakan. Tak punya kemampuan mengatur. Bahkan untuk sekedar tertawa dan menangis pun, itu semua dari Alloh ï·».
.
Ùˆَاَ Ù†َّÙ‡ٗ Ù‡ُÙˆَ اَضْØ­َÙƒَ Ùˆَاَ بْÙƒٰÙ‰ 

"dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis," (QS. An-Najm: 43)
.
Maka..
Belajarlah untuk senantiasa berterimakasih kepada Alloh mulai dari hal yang paling dekat dan paling sederhana.
.
Dari situlah kita akan menjadi hamba yang pandai bersyukur. Insyaallah..
.
✅️ Kedua..
Jadilah hamba yang paling sering meminta maaf kepada Alloh.
Karena sejatinya.. kita hamba yang masih belum banyak baiknya. Lebih banyak salahnya.
.
Setidaknya.. kita jelas-jelas hamba yang terkadang masih sering lupa mengingat Alloh. Bahkan di dalam sholat kita sekalipun.
.
ÙˆَÙ„َا ÙŠَذْÙƒُرُÙˆْÙ†َ اللّٰÙ‡َ اِÙ„َّا Ù‚َÙ„ِÙŠْÙ„ًا 

"Dan mereka tidak mengingat Alloh kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisa': 142)
.
Maka terbiasalah meminta, bahkan jika perlu ampunan. Agar Alloh mencintaimu.
.
Bukan karena ahlimu dalam beribadah.. tapi karena sikap santunmu dalam perihal TAHU DIRI, sebab sadar bahwa kita adalah hamba yang masih banyak kurang dan buruknya.

Sebuah catatan catatan dr Ustadz Andre Raditya