Minggu, 26 Januari 2025

TAKSONOMI BLOOM


MENGHAFAL ADALAH LEVEL BERPIKIR YANG PALING RENDAH

Setiap kali mengajar, saya selalu menemukan bahwa orang Indonesia malas sekali menggunakan otaknya. Mereka hanya mau berpikir ketika ada komando. Artinya, kalo nggak ada perintah dari luar, otomatis otaknya beristirahat. Mungkin itu sebabnya, kenapa saya kesulitan setiap kali mengajar creative attitude.

Akan tetapi saya nggak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Sistem pendidikan di negeri kita sejak jaman dulu kala, penekanannya hanya berbasis hafalan. Padahal hafalan adalah level berpikir yang paling rendah. Jadi ini adalah tanggung jawab kita semua, dari murid, ortu, guru, sekolah, kementerian sampai pemerintah,

Saya mau cerita sedikit. Ada seorang psikolog pendidikan asal Amerika, namanya Benjamin Samuel Bloom. Dia melakukan penelitian yang berfokus pada teori pembelajaran dan pengembangan kurikulum. 

Bersama timnya, dia membagi level berpikir menjadi 6 bagian. Sesuai dengan namanya, penemuan ini disebut dengan Taksonomi Bloom. Sebuah metode untuk membantu guru mengukur dan memahami kemampuan berpikir siswa.

Taksonomi Bloom adalah kerangka kerja yang digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat berpikir seseorang. Level-levelnya menggambarkan bagaimana seseorang memproses dan menerapkan informasi, dari yang paling rendah (menghafal) sampai yang paling kompleks (menciptakan).

Yuk, kita bahas satu per satu!

1. Hafalan (Remembering)
Menghafal fakta dasar tentang kopi.

Contoh pertanyaan: Apa jenis-jenis kopi yang terkenal?
Jawaban: Arabica, Robusta, Liberica.

2. Pemahaman (Understanding)
Menunjukkan pemahaman tentang kopi.

Contoh pertanyaan: Jelaskan proses pembuatan kopi dari biji hingga siap diminum.
Jawaban: Biji kopi dipetik, dikeringkan, disangrai, digiling, lalu diseduh dengan air panas.

3. Penerapan (Applying)
Menggunakan pengetahuan tentang kopi dalam situasi nyata.

Contoh pertanyaan: Bagaimana cara menyeduh kopi dengan metode French Press?
Jawaban: Masukkan kopi bubuk ke French Press, tambahkan air panas, diamkan 4 menit, lalu tekan plunger-nya.

4. Analisis (Analyzing)
Membongkar informasi tentang kopi untuk memahami lebih dalam.

Contoh pertanyaan: Mengapa kopi Arabica lebih mahal dibandingkan kopi Robusta?
Jawaban: Karena kopi Arabica membutuhkan kondisi tumbuh yang lebih spesifik, lebih rentan terhadap penyakit, dan memiliki rasa yang lebih kompleks.

5. Mengevaluasi (Evaluating)
Menilai sesuatu tentang kopi berdasarkan kriteria tertentu.

Contoh pertanyaan: Mana yang lebih baik, kopi tubruk atau espresso? Jelaskan alasannya.
Jawaban: Espresso lebih baik untuk pecinta kopi pekat karena konsentrasinya tinggi, sementara kopi tubruk lebih cocok untuk mereka yang suka menikmati rasa kopi secara perlahan.

6. Menciptakan (Creating)
Menciptakan sesuatu yang baru atau orisinal terkait kopi.

Contoh pertanyaan: Buatlah resep minuman kopi unik yang belum pernah ada sebelumnya.
Jawaban: Kopi pandan kelapa: espresso dicampur santan kelapa, sirup pandan, dan es batu, lalu dihias daun pandan.

Melalui pembahasan ini saya bisa menilai seberapa tinggi level berpikir seseorang dalam sebuah kelas. Namun di beberapa perguruan tinggi, saya juga menemukan banyak dosen yang sudah mengajarkan cara berpikir dari level terendah dan menuntun mahasiswanya ke level tertinggi, yaitu berkreasi. Semoga pemahaman ini semakin merata. Insya Allah. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar