Selasa, 21 Juli 2026

📌 Tuan Guru Nor Syahid Ramli, Mutiara dari Al-Falah dan seorang pendidik sejati.✍🏻 Oleh: Ibnu Ghani Al-Martapuri


Tuan Guru Nor Syahid Ramli, atau yang lebih akrab disapa Guru Syahid / Murabbi, merupakan salah seorang ulama dan pendidik yang telah mengabdikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk dunia pendidikan Islam. Selama puluhan tahun beliau berkhidmat sebagai pengajar di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru, membina serta mencetak generasi santri melalui dedikasi yang konsisten dan penuh keikhlasan.

Selain mengajar di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru, beliau juga aktif sebagai tenaga pengajar di Mahad Aly Darussalam Martapura, sebuah lembaga pendidikan tinggi keislaman yang didirikan oleh sahabat beliau, Tuan Guru Hatim Salman.

Dalam kesempatan bersilaturahmi dengan beliau, saya memperoleh kesempatan berharga untuk mendengarkan secara langsung kisah perjalanan intelektual beliau. Beliau menuturkan secara rinci pengalaman menuntut ilmu yang dimulai dari tanah kelahirannya di Banjar, kemudian melanjutkan studi ke Madrasah Shaulatiyah di Makkah, hingga menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. 

Beliau juga mengisahkan para guru yang membimbing perjalanan ilmiahnya, serta para sahabat seperjuangan yang turut mewarnai dinamika kehidupan waktu menuntut ilmu.

Pendidikan agamanya di mulai dari bersekolah di PGA selama 6 tahun atau kata beliau sekarang itu setingkat Tsanawiyah dan Aliyah, setelah lulus beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di UIN Antasari, di Fakultas Ushuluddin jurusan dakwah, waktu masa masa kuliah, ayah beliau mempunyai keinginan yang kuat untuk menyekolahkan beliau ke Kota Mekkah, pada akhirnya beliau tuluskan keinginan ayah beliau tersebut.

Pada tahun 1975 M. beliau ke kota Mekkah, dan melanjutkan pendidikannya di Madrasah Shaulatiyah, waktu di Mekkah kata beliau, beliau di sambut oleh Guru Abror Dahlan, ada juga Haji Zainuri dari Sampit, selain itu beliau juga sempat bergabung dengan alumni pemangkih tang ada di Mekkah padahal kata beliau, beliau bukan alumni Pemangkih.
Waktu di Mekkah juga beliau akrab dengan Tuan Guru Hatim Salman juga kakaknya Tuan Guru Supian Salman, karena keduanya sama sama menuntut ilmu di Madrasah Shaulatiyah, adapun Guru Hatim Sendiri sekelas dengan beliau. Beliau juga sekelas dengan Pimpinan Ibnul Amin sekarang, yaitu Tuan Guru Supian Tsauri, beliau juga akrab dengan dua kakak beradik yaitu Guru Sya'rani Tayyib dan Guru Syaraqowi Tayyib, beliau juga waktu di Shaulatiyah sekelas juga dengan ulama madura yang sekarang terkenal dengan keproduktifan nya dalam menulis kitab, yaitu KH. Barizi, bahkan KH Bariziini juga ada menulis tentang biografi guru beliau Syekh Ismail bin Zain al-Yamani, di di biografi itu Kyai Barizi sebutkan diantara murid murid Syekh Ismail bin Zein al-Yamani yang berasal dari Banjar, diantaranya ada Guru Syahid, selain itu juga beliau sering bertemu dan kenal baik dengan ulama Madura yg dulu waktu masih nyantri di Mekkah yaitu KH Thaifur Ali Wafa, KH. Abul Futuh, Dll.

Adapun waktu di Madrasah Shaulatiyah, waktu itu beliau masuk di tes oleh Syekh Ismail bin Zein al-Yamani, dan waktu itu beliau masuk di kelas satu Tsanawiyah, dan waktu itu dibawah kepemimpinan Syekh Salim Rahmatullah, waktu di Shaulatiyah beliau juga sempat mengkhatamkan Kutubussab'ah, diantara Syekhul Hadis beliau wakti di Madrasah Shaulatiyah adalah :
1). Syekh Ismail bin Zein al-Yamani (Shohih Bukhari)
2). Syekh Muhammad Iwad (Shohih Muslim, Sunan Abi Daud, dan Muwattho Imam Malik)
3). Syekh Abdullah Lahji (Sunan Tirmidzi)
4). Syekh Saifurrahman (Sunan Nasa'i)
5). Syekh Sa'id (Sunan Ibnu Majah).

Adapun guru guru beliau di luar Madrasah Shaulatiyah diantaranya :
1). Syekh Yasin al-Fadani (Ijazah dan beberapa musalsal)
2). Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki (Sunan Abi Daud)
3). Sayyid Hamid al-Kaff
4). Syekh Abdul Karim al-Banjari
5). Syekh Jabir Jubron
6). Syekh Zakaria Billa, Dll.

Pada tahun 1981, beliau berhasil menyelesaikan pendidikan di Madrasah Shaulatiyah setelah menempuh masa belajar selama enam tahun. Pada tahun yang sama, beliau bersama dua orang sahabat sekelasnya, yaitu Tuan Guru Hatim Salman dan Tuan Guru Supian Tsauri, bertekad melanjutkan pendidikan ke Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. 

Dengan izin Allah, pada tahun itu juga mereka berangkat menuju Mesir untuk menuntut ilmu.
Setelah menempuh pendidikan selama enam tahun di Universitas al-Azhar, beliau berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1987. Seusai menyelesaikan pendidikan, beliau kembali ke tanah kelahirannya di Banjar.

Sekembalinya ke Banjar, ayahanda beliau meminta agar beliau turut mengabdikan ilmunya dengan mengajar di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru. Hal ini tidak terlepas dari kedekatan ayahanda beliau dengan Mu'allim Sani, serta keterlibatan beliau dalam membantu proses pembangunan Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru. Sejak saat itulah beliau mulai aktif mengajar dan berkhidmat dalam dunia pendidikan pesantren, mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya di Tanah Suci dan Universitas al-Azhar kepada masyarakat Banjar.

Sebelum pulang, alhamdulillah kami sempatkan membaca Hadis Musalsal bil Awwaliyah dan Mahabbah kepada beliau, setelah itu kami lanjut dengan membaca Athrof (Awal-Akhir) Kutubussab'ah 

Setelah itu beliau beri pesan kepada kami bahwa yang paling terpenting daripada ilmu itu adalah “Mengamalkan”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar