Jumat, 24 Juli 2026

Rejeki dari Allah

Mengapa Al-Qur’an Menghubungkan Rezeki dengan Langit, Padahal Kita Mengambilnya dari Bumi? Sebuah Keajaiban Tauhid yang Mengubah Cara Pandang terhadap Rezeki

Bayangkan sebuah pohon mangga.

Setiap musim, orang datang memetik buahnya. Mereka melihat buah itu tumbuh di dahan, lalu berkata, “Inilah sumber rezekinya.”

Padahal, benarkah buah itu berasal dari dahan?

Akarnya tidak pernah terlihat.
Air yang menghidupkannya tidak tampak.
Sinar matahari tidak bisa disentuh.
Dan hujan datang dari langit.

Yang terlihat hanyalah hasilnya.
Yang bekerja justru banyak hal yang tidak terlihat.

Pernahkah Anda memperhatikan satu hal yang sangat menarik?

Kita mengambil padi dari sawah.
Kita memanen ikan dari laut.
Kita menggali emas dari perut bumi.
Kita memerah susu dari hewan.

Namun ketika berbicara tentang rezeki, Al-Qur’an berkali-kali mengarahkan pandangan kita ke langit.

Mengapa?

Allah berfirman,

“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”

(QS. Adz-Dzariyat: 22)

Allah juga berfirman,

“Tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”

(QS. Hud: 6)

Mengapa Allah tidak mengatakan, “Di bumi terdapat rezekimu”?

Padahal hampir semua makanan kita berasal dari bumi. Di sinilah letak salah satu keajaiban cara Al-Qur’an mendidik cara berpikir manusia.

[Rezeki dan Sebab Tidak Pernah Sama]

Manusia sering tertukar antara tempat mengambil dan asal pemberi.

Petani melihat sawah.
Pedagang melihat pelanggan.
Karyawan melihat perusahaan.
Nelayan melihat laut.

Padahal semuanya hanyalah sebab, bukan pemberi.

Al-Qur’an mengangkat pandangan kita lebih tinggi.

Rezeki boleh datang melalui bumi, tetapi keputusan rezeki berasal dari Allah yang di atas langit.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mengingatkan manusia agar tidak menggantungkan hati kepada makhluk. Sebab seluruh sebab hanya bekerja karena Allah mengizinkannya.

[Sains Justru Menguatkan Ayat Ini]

Coba renungkan.

Apa yang membuat sebutir benih tumbuh?

Tanah memang menjadi tempatnya. Tetapi tanah tidak mampu menciptakan hujan.

Tanah tidak mengatur sinar matahari.
Tanah tidak menentukan komposisi udara.
Tanah tidak menggerakkan siklus air.

Tanpa hujan dari langit, tanpa cahaya matahari, tanpa keseimbangan atmosfer, bumi yang subur sekalipun tidak mampu menghasilkan panen.

Sains menyebutnya sebagai siklus hidrologi, fotosintesis, dan keseimbangan ekosistem.

Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang lebih dalam.

Seluruh sistem itu berada dalam pengaturan Allah.

[Kesalahan yang Sering Terjadi Hari Ini]

Banyak orang berkata,

“Bos saya memberi saya gaji.”

“Klien saya memberi saya keuntungan.”

“Pembeli saya memberi saya penghasilan.”

Kalimat itu tampak biasa.

Namun jika hati benar-benar meyakininya, di situlah tauhid mulai bergeser.

Bos hanyalah perantara.
Pembeli hanyalah jalan.

Perusahaan hanyalah sebab.
Pemberi rezeki tetap Allah.

Karena itu, ketika satu pintu tertutup, seorang mukmin tidak kehilangan harapan.

Ia tahu bahwa yang menutup pintu bukanlah akhir dari rezekinya.

Allah mampu membuka pintu lain yang bahkan belum pernah ia bayangkan.

[Ekonomi Mengajarkan Distribusi, Al-Qur’an Mengajarkan Sumber]

Ilmu ekonomi membahas bagaimana rezeki diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi.

Itu penting.

Islam tidak menolaknya.

Namun Al-Qur’an melengkapi sesuatu yang tidak dibahas oleh teori ekonomi.

Siapa yang menetapkan kadar rezeki?

Ada orang bekerja siang malam tetapi hasilnya sedikit. Ada orang lain memperoleh peluang yang tidak pernah direncanakan.

Bukan berarti ikhtiar tidak penting. Justru Islam memerintahkan bekerja, berdagang, bertani, dan berusaha.

Namun setelah semua ikhtiar dilakukan, seorang mukmin sadar bahwa hasil akhirnya tetap berada dalam keputusan Allah.

Ikhtiar adalah kewajiban. Rezeki adalah pemberian. Jangan pernah menukar keduanya.

[Mengapa Ayat Ini Menenangkan Hati?]

Psikologi modern menjelaskan bahwa kecemasan sering muncul ketika seseorang merasa seluruh hidupnya bergantung pada sesuatu yang tidak ia kuasai.

Al-Qur’an mengubah titik sandaran itu.

Jika rezeki hanya bergantung pada manusia, kita akan terus hidup dalam ketakutan.

Takut kehilangan pekerjaan.
Takut kehilangan pelanggan.
Takut kehilangan jabatan.

Tetapi ketika hati yakin bahwa rezeki berada di tangan Allah, usaha tetap maksimal, namun kecemasan tidak lagi menguasai jiwa.

Inilah yang disebut para ulama sebagai tawakal.

Bukan berhenti bekerja.

Tetapi berhenti menyembah sebab.

[Renungkan Sejenak]

Seekor burung keluar dari sarangnya setiap pagi.

Ia tidak membawa bekal.
Ia tidak memiliki rekening.

Ia tidak menyimpan persediaan makanan berbulan-bulan.

Namun Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”

(HR. At-Tirmidzi)

Perhatikan.

Burung itu pergi.
Ia tidak diam.
Ia berikhtiar.

Tetapi ia juga tidak pernah membawa kegelisahan pulang ke sarangnya.

Mungkin itulah rahasia mengapa Al-Qur’an menghubungkan rezeki dengan langit.

Agar setiap kali kita memanen hasil dari bumi, kita tidak lupa mengangkat kepala ke langit.

Karena sawah bukan pemberi.
Pasar bukan pemberi.
Perusahaan bukan pemberi.
Bahkan kekuatan tubuh kita pun bukan pemberi.

Semua hanyalah jalan yang Allah bentangkan. Pemberi rezeki yang sesungguhnya adalah Allah. Ketika keyakinan itu hidup di dalam hati, manusia akan bekerja sekuat tenaga tanpa diperbudak oleh pekerjaannya, berusaha sepenuh kemampuan tanpa diperbudak oleh hasilnya, dan hidup dengan hati yang tenang karena ia tahu: rezekinya tidak pernah salah alamat.

#AlQuran #KeajaibanAlQuran

Selasa, 21 Juli 2026

📌 Tuan Guru Nor Syahid Ramli, Mutiara dari Al-Falah dan seorang pendidik sejati.✍🏻 Oleh: Ibnu Ghani Al-Martapuri


Tuan Guru Nor Syahid Ramli, atau yang lebih akrab disapa Guru Syahid / Murabbi, merupakan salah seorang ulama dan pendidik yang telah mengabdikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk dunia pendidikan Islam. Selama puluhan tahun beliau berkhidmat sebagai pengajar di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru, membina serta mencetak generasi santri melalui dedikasi yang konsisten dan penuh keikhlasan.

Selain mengajar di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru, beliau juga aktif sebagai tenaga pengajar di Mahad Aly Darussalam Martapura, sebuah lembaga pendidikan tinggi keislaman yang didirikan oleh sahabat beliau, Tuan Guru Hatim Salman.

Dalam kesempatan bersilaturahmi dengan beliau, saya memperoleh kesempatan berharga untuk mendengarkan secara langsung kisah perjalanan intelektual beliau. Beliau menuturkan secara rinci pengalaman menuntut ilmu yang dimulai dari tanah kelahirannya di Banjar, kemudian melanjutkan studi ke Madrasah Shaulatiyah di Makkah, hingga menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. 

Beliau juga mengisahkan para guru yang membimbing perjalanan ilmiahnya, serta para sahabat seperjuangan yang turut mewarnai dinamika kehidupan waktu menuntut ilmu.

Pendidikan agamanya di mulai dari bersekolah di PGA selama 6 tahun atau kata beliau sekarang itu setingkat Tsanawiyah dan Aliyah, setelah lulus beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di UIN Antasari, di Fakultas Ushuluddin jurusan dakwah, waktu masa masa kuliah, ayah beliau mempunyai keinginan yang kuat untuk menyekolahkan beliau ke Kota Mekkah, pada akhirnya beliau tuluskan keinginan ayah beliau tersebut.

Pada tahun 1975 M. beliau ke kota Mekkah, dan melanjutkan pendidikannya di Madrasah Shaulatiyah, waktu di Mekkah kata beliau, beliau di sambut oleh Guru Abror Dahlan, ada juga Haji Zainuri dari Sampit, selain itu beliau juga sempat bergabung dengan alumni pemangkih tang ada di Mekkah padahal kata beliau, beliau bukan alumni Pemangkih.
Waktu di Mekkah juga beliau akrab dengan Tuan Guru Hatim Salman juga kakaknya Tuan Guru Supian Salman, karena keduanya sama sama menuntut ilmu di Madrasah Shaulatiyah, adapun Guru Hatim Sendiri sekelas dengan beliau. Beliau juga sekelas dengan Pimpinan Ibnul Amin sekarang, yaitu Tuan Guru Supian Tsauri, beliau juga akrab dengan dua kakak beradik yaitu Guru Sya'rani Tayyib dan Guru Syaraqowi Tayyib, beliau juga waktu di Shaulatiyah sekelas juga dengan ulama madura yang sekarang terkenal dengan keproduktifan nya dalam menulis kitab, yaitu KH. Barizi, bahkan KH Bariziini juga ada menulis tentang biografi guru beliau Syekh Ismail bin Zain al-Yamani, di di biografi itu Kyai Barizi sebutkan diantara murid murid Syekh Ismail bin Zein al-Yamani yang berasal dari Banjar, diantaranya ada Guru Syahid, selain itu juga beliau sering bertemu dan kenal baik dengan ulama Madura yg dulu waktu masih nyantri di Mekkah yaitu KH Thaifur Ali Wafa, KH. Abul Futuh, Dll.

Adapun waktu di Madrasah Shaulatiyah, waktu itu beliau masuk di tes oleh Syekh Ismail bin Zein al-Yamani, dan waktu itu beliau masuk di kelas satu Tsanawiyah, dan waktu itu dibawah kepemimpinan Syekh Salim Rahmatullah, waktu di Shaulatiyah beliau juga sempat mengkhatamkan Kutubussab'ah, diantara Syekhul Hadis beliau wakti di Madrasah Shaulatiyah adalah :
1). Syekh Ismail bin Zein al-Yamani (Shohih Bukhari)
2). Syekh Muhammad Iwad (Shohih Muslim, Sunan Abi Daud, dan Muwattho Imam Malik)
3). Syekh Abdullah Lahji (Sunan Tirmidzi)
4). Syekh Saifurrahman (Sunan Nasa'i)
5). Syekh Sa'id (Sunan Ibnu Majah).

Adapun guru guru beliau di luar Madrasah Shaulatiyah diantaranya :
1). Syekh Yasin al-Fadani (Ijazah dan beberapa musalsal)
2). Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki (Sunan Abi Daud)
3). Sayyid Hamid al-Kaff
4). Syekh Abdul Karim al-Banjari
5). Syekh Jabir Jubron
6). Syekh Zakaria Billa, Dll.

Pada tahun 1981, beliau berhasil menyelesaikan pendidikan di Madrasah Shaulatiyah setelah menempuh masa belajar selama enam tahun. Pada tahun yang sama, beliau bersama dua orang sahabat sekelasnya, yaitu Tuan Guru Hatim Salman dan Tuan Guru Supian Tsauri, bertekad melanjutkan pendidikan ke Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. 

Dengan izin Allah, pada tahun itu juga mereka berangkat menuju Mesir untuk menuntut ilmu.
Setelah menempuh pendidikan selama enam tahun di Universitas al-Azhar, beliau berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1987. Seusai menyelesaikan pendidikan, beliau kembali ke tanah kelahirannya di Banjar.

Sekembalinya ke Banjar, ayahanda beliau meminta agar beliau turut mengabdikan ilmunya dengan mengajar di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru. Hal ini tidak terlepas dari kedekatan ayahanda beliau dengan Mu'allim Sani, serta keterlibatan beliau dalam membantu proses pembangunan Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru. Sejak saat itulah beliau mulai aktif mengajar dan berkhidmat dalam dunia pendidikan pesantren, mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya di Tanah Suci dan Universitas al-Azhar kepada masyarakat Banjar.

Sebelum pulang, alhamdulillah kami sempatkan membaca Hadis Musalsal bil Awwaliyah dan Mahabbah kepada beliau, setelah itu kami lanjut dengan membaca Athrof (Awal-Akhir) Kutubussab'ah 

Setelah itu beliau beri pesan kepada kami bahwa yang paling terpenting daripada ilmu itu adalah “Mengamalkan”.