A’udzubillahi minasysyaithanirrajim
Bismillahirrahmanirrahim
Seringkali kita terpukau dengan capaian oranglain.
Ada yang sudah Milyuner di usia 30 tahunan, ada yang sudah trilyuner di usia 40-50 tahunan, dll.
Belum lagi membandingkan keberuntungan hidup, bisnis, dll. Melihat kayaknya enak jadi si fulan. Bisnisnya gampang banget menghasilkan uang. Ngga kayak punya sendiri misalnya, susah banget mau naikin omset juga.
Yang lebih serem jika sudah bandingan keberuntungan lain. Misal;
“hmm…enak banget ya kalau jadi istrinya si fulan?” Atau sebaliknya: “beruntungnya si fulan punya istri kayak si fulanah..”
Belum lagi bentuk penyesalan;
“cobaa aja dulu aku ngga lakukan kesalahan fatal ini. Pastinya sekarang aku sudah melejit hebat bisnisnya.”
Temans,
Para sahabat Nabi SAW itu beda-beda. Ada yang masuk Islam usia belia, namun banyak juga yang masuk Islam saat sudah usia “senior”. Mereka mayoritasnya pun bisnis, dagang. Tapi tetep nasibnya beda-beda. Ada yang trilyuner, ada yang milyuner, ada yang jutawan aja.
Namun sila baca sejarah; mereka fokus dengan prestasinya masing-masing:
- Ada yang menjadi seorang fakih seperti Ibnu Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, dll.
- Ada yang dikenali sebagai pebisnis hebat seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dll.
- Ada yang dikenali sebagai panglima perang hebat seperti Khalid bin Walid, Zubair bin Awwam, Usamah bin Zaid dll
- Dan seterusnya..
Mereka tidak saling silau dengan kesuksesan masing-masing.
Mereka sibuk dengan “menjadi dirinya sendiri”, dan berusaha memikat ridha Allah dan RasulNya melalui apa yang mereka miliki dan bisa kontribusikan, sebagai khidmat terbaik.
Mereka sibuk dengan memikirkan kekurangan sendiri, dan sibuk mencetak prestasi demi prestasi..
Kita sebaiknya pun demikian.
Biarin aja ada orang yang suka nyetatus keberhasilannya di medsos. Mungkin niatnya agar oranglain ikut semangat dan terinspirasi.
Biarin aja oranglain menceritakan betapa beruntungnya dirinya punya ini itu, berhasil ini itu. Mungkin demikian caranya bersyukur dan ungkapkan bahagianya, agar yang lain ikut bahagia..
Yang penting, kita jangan niatin nyetatus dalam rangka pengumuman, agar oranglain tahu betapa hebatnya kita, betapa suksesnya kita, dkk.
Yang penting, nggak perlu kita ngepoin cari kekurangan dan atau “menilai” status oranglain, nge-judge oranglain.
Ngga ada urusan dengan apapun niat oranglain.
Sederhanakan saja dengan ber-positif thinking, meski ada yang terus-terusan nyetatus kesuksesan sehingga kesannya (seperti) pamer, ngga perlu kita asumsikan demikian.
Mungkin dulu hidupnya amat sangat pahit dan banyak yang merendahkan dia, hingga saat dia sudah berhasil, dia perlu “memastikan” banyak orang tahu dia sudah “berhasil”.
Atau mungkin itu caranya memotivasi oranglain agar bangkit dan berhasil sebagaimana dirinya.
Temans,
Dalam situasi saat nggak jelas sekarang ini, ada sangat banyak pebisnis yang terkena dampak, meski sudah berupaya sehebat mungkin dan terus berupaya dengan segala daya.
Mereka ada yang “berhasil” (baca: beruntung) dan baik-baik saja. Bagi yang berhasil dan baik-baik saja,
baiknya tutup syahwat “ingin ngumumin atau ngajarin” oranglain akan hebatnya diri. Ganti aja dengan menyemangati dan berempati, doakan dan bantu oranglain. {kecuali sharing “how to” berhasil survive, berbagi pengalaman yang siapa tahu berguna bagi banyak orang}.
Kenapa mendingan kuatkan empati dan banyakin doa?
Sebab, situasi kayak sekarang ini, masih jauuuuuh lebih banyak mereka yang jadi korban, dibandingkan mereka yang berhasil bertahan apalagi bertumbuh. L
Jangan kira, mereka tidak ingin berhasil. Sangat ingin. Sangat keras upayanya. Namun memang pandemi ini kekecualian, beda jauh dengan krisis 97-98 lalu. Sangat beda. Sangat unik.
Sebaliknya, bagi yang terdampak kuat, saat membaca status mereka yang “umumkan” bahagianya, “umumkan” suksesnya, jadikan sebagai proses belajar. Belajar untuk dalam hati tetap lapang dan prasangka baik. Lantas angkat kedua tangan dan doakan, ikut bahagia dengan kebahagiaan mereka.
Semoga dengan itu, malaikat yang kemudian angka do’a, untuk keberhasilan dan kebahagiaan kita.
Balik ke cerita sahabat di atas, maka Fokuslah kita pada prestasi terbaik apa yang dengannya kita “merayu” turunnya ridha Allah dan rasulNya.
Banyak kok yang bisa dilakukan.
Misal;
- mendawamkan Istighfar tiap hari, sebanyak-banyaknya
- mendawamkan Shalawat tiap hari sebanyak-banyaknya
- mendawamkan infak tiap hari, dengan yang terbaik (sesuai kemampuan masing-masing)
- mendawamkan mendoakan keluarga, saudara tiap hari
- mendawamkan memuliakan orangtua
- mendawamkan memuliakan keluarga
- mendawamkan tilawah Al Quran
- dsb
InSyaAllah, meski “capaian” prestasi dunia kita beda-beda, semoga capaian akhirat kita sebagaimana para sahabat rahimahullah: dapetin ridhaNya dan “berhasil menebus” surga dengan rahmatNya..
InSyaaAllah
Riza Zacharias
#TulisanPertamaSetelahIsoman3Pekan
#Alhamdulillah