Sabtu, 24 Juli 2021

MAKE YOUR DREAM COME TRUE


Berawal dari impian kemudian selalu dipikirkan lama lama jadi tujuan , tujuan menghasilkan tindakan. Kemudian konsisten membuahkan kesuksesan. 

Semangat kerja bukan karena punya cicilan
Tapi semangat lah bekerja karena mempunyai impian, dan pastikan impian kita yang bermanfaat untuk orang lain bukan hanya untuk diri sendiri

#BukanMotivator

Kamis, 08 Juli 2021

Nggak perlu bandingin capaian saat ini



A’udzubillahi minasysyaithanirrajim 
Bismillahirrahmanirrahim 

Seringkali kita terpukau dengan capaian oranglain. 
Ada yang sudah Milyuner di usia 30 tahunan, ada yang sudah trilyuner di usia 40-50 tahunan, dll.

Belum lagi membandingkan keberuntungan hidup, bisnis, dll. Melihat kayaknya enak jadi si fulan. Bisnisnya gampang banget menghasilkan uang. Ngga kayak punya sendiri misalnya, susah banget mau naikin omset juga. 

Yang lebih serem jika sudah bandingan keberuntungan lain. Misal;
“hmm…enak banget ya kalau jadi istrinya si fulan?” Atau sebaliknya: “beruntungnya si fulan punya istri kayak si fulanah..”

Belum lagi bentuk penyesalan; 
“cobaa aja dulu aku ngga lakukan kesalahan fatal ini. Pastinya sekarang aku sudah melejit hebat bisnisnya.”

Temans, 
Para sahabat Nabi SAW itu beda-beda. Ada yang masuk Islam usia belia, namun banyak juga yang masuk Islam saat sudah usia “senior”. Mereka mayoritasnya pun bisnis, dagang. Tapi tetep nasibnya beda-beda. Ada yang trilyuner, ada yang milyuner, ada yang jutawan aja. 

Namun sila baca sejarah; mereka fokus dengan prestasinya masing-masing:

- Ada yang menjadi seorang fakih seperti Ibnu Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, dll.
- Ada yang dikenali sebagai pebisnis hebat seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dll.
- Ada yang dikenali sebagai panglima perang hebat seperti Khalid bin Walid, Zubair bin Awwam, Usamah bin Zaid dll
- Dan seterusnya..

Mereka tidak saling silau dengan kesuksesan masing-masing. 
Mereka sibuk dengan “menjadi dirinya sendiri”, dan berusaha memikat ridha Allah dan RasulNya melalui apa yang mereka miliki dan bisa kontribusikan, sebagai khidmat terbaik.

Mereka sibuk dengan memikirkan kekurangan sendiri, dan sibuk mencetak prestasi demi prestasi..

Kita sebaiknya pun demikian. 

Biarin aja ada orang yang suka nyetatus keberhasilannya di medsos. Mungkin niatnya agar oranglain ikut semangat dan terinspirasi. 
Biarin aja oranglain menceritakan betapa beruntungnya dirinya punya ini itu, berhasil ini itu. Mungkin demikian caranya bersyukur dan ungkapkan bahagianya, agar yang lain ikut bahagia..

Yang penting, kita jangan niatin nyetatus dalam rangka pengumuman, agar oranglain tahu betapa hebatnya kita, betapa suksesnya kita, dkk.

Yang penting, nggak perlu kita ngepoin cari kekurangan dan atau “menilai” status oranglain, nge-judge oranglain.

Ngga ada urusan dengan apapun niat oranglain. 
Sederhanakan saja dengan ber-positif thinking, meski ada yang terus-terusan nyetatus kesuksesan sehingga kesannya (seperti) pamer, ngga perlu kita asumsikan demikian. 
Mungkin dulu hidupnya amat sangat pahit dan banyak yang merendahkan dia, hingga saat dia sudah berhasil, dia perlu “memastikan” banyak orang tahu dia sudah “berhasil”. 
Atau mungkin itu caranya memotivasi oranglain agar bangkit dan berhasil sebagaimana dirinya.

Temans,
Dalam situasi saat nggak jelas sekarang ini, ada sangat banyak pebisnis yang terkena dampak, meski sudah berupaya sehebat mungkin dan terus berupaya dengan segala daya.

Mereka ada yang “berhasil” (baca: beruntung) dan baik-baik saja. Bagi yang berhasil dan baik-baik saja, 
baiknya tutup syahwat “ingin ngumumin atau ngajarin” oranglain akan hebatnya diri. Ganti aja dengan menyemangati dan berempati, doakan dan bantu oranglain. {kecuali sharing “how to” berhasil survive, berbagi pengalaman yang siapa tahu berguna bagi banyak orang}.

Kenapa mendingan kuatkan empati dan banyakin doa? 
Sebab, situasi kayak sekarang ini, masih jauuuuuh lebih banyak mereka yang jadi korban, dibandingkan mereka yang berhasil bertahan apalagi bertumbuh. L
Jangan kira, mereka tidak ingin berhasil. Sangat ingin. Sangat keras upayanya. Namun memang pandemi ini kekecualian, beda jauh dengan krisis 97-98 lalu. Sangat beda. Sangat unik. 

Sebaliknya, bagi yang terdampak kuat, saat membaca status mereka yang “umumkan” bahagianya, “umumkan” suksesnya, jadikan sebagai proses belajar. Belajar untuk dalam hati tetap lapang dan prasangka baik. Lantas angkat kedua tangan dan doakan, ikut bahagia dengan kebahagiaan mereka. 
Semoga dengan itu, malaikat yang kemudian angka do’a, untuk keberhasilan dan kebahagiaan kita. 

Balik ke cerita sahabat di atas, maka Fokuslah kita pada prestasi terbaik apa yang dengannya kita “merayu” turunnya ridha Allah dan rasulNya. 
Banyak kok yang bisa dilakukan.
Misal;

- mendawamkan Istighfar tiap hari, sebanyak-banyaknya
- mendawamkan Shalawat tiap hari sebanyak-banyaknya
- mendawamkan infak tiap hari, dengan yang terbaik (sesuai kemampuan masing-masing)
- mendawamkan mendoakan keluarga, saudara tiap hari
- mendawamkan memuliakan orangtua
- mendawamkan memuliakan keluarga
- mendawamkan tilawah Al Quran
- dsb

InSyaAllah, meski “capaian” prestasi dunia kita beda-beda, semoga capaian akhirat kita sebagaimana para sahabat rahimahullah: dapetin ridhaNya dan “berhasil menebus” surga dengan rahmatNya..

InSyaaAllah

Riza Zacharias

#TulisanPertamaSetelahIsoman3Pekan
#Alhamdulillah

Minggu, 04 Juli 2021

BTS



Menurut Forbes, setidaknya ada 7 (tujuh) perspektif yang paling efektif digunakan untuk jualan.

Salah satunya adalah popularity.

Simple-nya, suatu produk itu efektif dijual ketika ia "terkonfirmasi" populer. Populer berarti banyak orang tahu. Banyak orang melakukan atau mengonsumsi.

Memakai teori herd mentality, manusia paling sering dipengaruhi tindakan manusia lainnya. Artinya, kita memang diciptakan dengan potensi ikut-ikutan.

Nah, agar produk "terkonfirmasi populer," bisa dilakukan dengan dua cara.

Cara pertama, natural popular. Produk laku dimulai dari mulut ke telinga (gak mungkin kan, mulut ke mulut). Jadi bahan omongan lokal, lalu nasional, dan mungkin mendunia. 

Keuntungannya? Untung besar tanpa keluar banyak iklan. Kelemahannya? Waktunya lama dan belum tentu terjadi pada semua produk.

Contohnya? Dagadu, Eiger, Kartika Sari. Produk-produk lokal yang tumbuh dari nol. Dipopulerkan oleh para konsumennya ke konsumen lain.

Cara kedua, instant popular. Produk dipopulerkan lewat iklan yang menggunakan sosok populer. 

Keuntungannya? Produk lebih cepat naik daun, lebih cepat laku. Kelemahannya? Harus punya uang banyak untuk membayar sosok populer dan biaya iklannya.

Contohnya? BTS Meal. 

Yang harus dicatat, McDonald's memahami BTS bukan hanya dari segi kepopulerannya. Tapi potensi word of mouth-nya. 

Word of mouth ini penting karena, dengan begitu, produk akan populer karena dibicarakan. BTS punya fans garis keras yang disebut "Army." Fans inilah yang akan "memastikan" BTS Meal naik daun dan dibicarakan. 

Jadi, sebenarnya McDonalds bukan hanya "membeli" BTS, melainkan juga Army. 

Ini juga alasan kenapa tidak semua artis atau selebriti efektif digunakan untuk mengangkat popularitas produk. Ada artis yang populer tapi tidak punya fans garis keras. Fans yang siap membelanya mati-matian dan mempromosikan tanpa pamrih. 

Ini bisnis berbasis excitement. Produk boleh tampak standar, maka excitement-nya yang dibesar-besarkan. Pembelian akan terjadi bukan karena produk, tapi karena excitement atas siapa yang mengiklankan.

Wajah industri banget. Dikelola oleh orang-orang "pintar" dan berduit. 

Inilah juga sebabnya saya paling malas beli produk dari promo semacam ini. Nol rasa penasaran. Karena sudah tahu ini cuma trik jualan. Cuma rumus marketing jadul.  

Saya lebih percaya produk yang laku secara natural. 

Karena produknya diiklankan langsung oleh konsumen yang tidak punya tendensi apa pun.

Nasi Padang, misalnya. Mau diiklankan gak diklankan, rasanya uwenak. Variasi pilihan. Selalu di hati banyak orang. Nasional maupun internasional.

Iya kan?

Sabtu, 03 Juli 2021

Persiapkan Team


.
Saya melakukan perjalanan rutin ke daerah Kalimantan Timur. Alhamdulillah, di beberapa Kota pernah singgah, mulai Samarinda, Penajam Paser Utara, Tenggarong, Bontang, Sangatta, Hingga Melak, jauh sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai ibu kota negara yang baru. Pada zamannya, mengakses Kaltim, artinya mendarat dulu di Balikpapan, lalu menempuh perjalanan darat ke Samarinda. Melintasi Bukit Soeharto, dalam satu momen, Saya ingat penyedia travelnya menyediakan nonton bareng selama perjalanan, dan film yang diputar saat itu adalah : Black Panther, buatan Marvel Cinematic Universe, yang dibintangi oleh : Chadwick Boseman. Apa hubungan antara Black Panther dengan tim? Ada lho, karena bicara marketing development program, tanpa mau menginstall tim, itu layak mendapat label : Wakanda Forever, alias wacana semata tanpa realita. 
.
Quote favorit
Dari Doktor Imam Elfahmi, di salah satu kelas Beliau, Saya mendapat quote epic : "There Will Be Always More Ideas Than Capacity To Execute", muncul saat pembahasan mengenai 4DX nya trio Chris McChesney, Sean Covey, dan Jim Huling. Kalau pakai ilmu cara belajar quantum learning, ya memang bener, merem semenit saja, kita akan mendapatkan banjir-ide yang melimpah, tapi mengeksekusinya akan jadi tantangan yang nyata. Aneka ide yahud itu bisa terwujud saat secara sadar kita bersedia menginstall tim untuk merancang, mengatur, melaksana, dan mengevaluasinya. 
.
Empat sumber daya
Keterbatasan yang umum Kita miliki dalam mneyeberangi jurang antara tahap idea dan tahap laksana adalah : keterbatasan sumber daya. Ada empat sumberdaya yang membuat Kita perlu menyadari bahwa sehebat apapun seorang manusia, tangan tetap dua, kaki sama dua, kepala juga satu. Sumberdaya yang dimaksud adalah empat sumber daya, yakni : waktu, pikiran, tenaga, dan biaya. Jangan salah, sumber daya yang pertama adalah yang paling mahal, karena kalau bicara waktu, Saya, Anda, Kita dan Mereka, punya jatah yang sama. Kalau uang gampang, biaya bisa dicari agar tersedia, kalau waktu, siapa yang bisa kembalikan waktu yang berlalu? Aku dan kamu pun setelah sekian bersama, yang tersisa hanya gerimis dan kenangan yang membentuk memori kebahagiaan dan kesedihan dalam dangkal dalamnya kubangan genangan seiring derasnya air hujan. Ea ea ea 🤭🤭
.
Kesadaran
Satu hal yang perlu dimunculkan adalah kesadaran, bahwa memang Kita perlu tim untuk membantu mengeksekusi apa yang kita perlukan. Dasarnya ya kudu punya why yang kuat. Start with why kalau katanya Simon Sinek. Kita perlu sadar, kalau memang impiannya besar, maka Kita memerlukan setiap sumber daya yang tersedia untuk bantu meraih apa yang kita cita-citakan. Jalan sendiri memang lebih cepat, tapi kalau mau jalan jauh, berangkat bersama adalah sebuah kondisi yang niscaya. 
.
Kesediaan
Setelah sadar, kemudian ditanya, apakah bersedia? Dibantu oleh orang atau beberapa orang lain, melakukan apa yang selama ini dan sebelumnya Kita lakukan sendirian. Enak lho kalau dibantu, enak lho kalau ada yang mau dibagi melaksana pekerjaan yang selama ini kita lakukan sendiri. Masa masih suka nyanyi lagunya Caca Handika? Masak masak sendiri, makan makan sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri, owalah Mblo Jomblo 🤭🤭. Karena, yang siap bantuin Kita, apapaun itu bentuknya, ada dan banyak! Ego Kita aja, yang sok keminter dan keblinger, atau ketidaktahuan dan ketidakmampuan kita, sehingga tidak muncul kesediaan untuk dibantu. Familiar dengan kata kolaborasi kan? Sudah menerapkan? Atau baru sekedar pernah baca? 😇 
.
Legowo
Langkah berikutnya, punya ilmu jowo yang disebut : legowo. Kok bisa mengarah ke legowo? Jangan salah, ini fase penting pakai banget. Ilmu legowo diperlukan, karena saat berinteraksi dengan tim, besar peluangnya, apa yang dikerjakan oleh tim ini tidak langsung sebaik jika kita mengerjakan sendiri seperti selama ini. Pilihannya kemudian dua : pertama, membiarkan kesalahan terjadi, sebagai pembelajaran agar tim ini kemudian mendapat pengalaman nyata dan mengambil pembelajaran, atau kedua, gak tahan dengan rasa khawatir, dan tak sabar dengan proses, untuk kemudian mengintervensi dan mengambil alih situasi. Pilihan pertama dampaknya apa ya? Kalau pilihan kedua dampaknya apa? Ilmu legowo itu pakai yang mana? Ciyee, yang sering mengalami...., gak usah baper 🤗🤗
.
Ciyus punya tim?
Itu pertanyaan yang guyonan sekaligus seriusan. Karena klien iMARKS yang biasanya dengan bangganya ngaku sudah punya tim, ketika dicek ternyata ngglethek. Tim yang dimaksud, kalau dalam bahasa inggris disebut TEAM : Together Everyone Achieve More, ternyata tak lebih dari kumpulan orang yang lebih tepat disebut : asisten. Kok bisa begitu? Lha iya, karena meskipun ada orangnya, tidak ada otoritas, tidak memiliki kemampuan manajerial, tidak kompeten dalam decision making, dan diajak mikir malah ngajak pusing. Ada yang begini? Banyak! 🤭
.
Kotak P3K nya beda
Guyonan Saya, kalau mau nengok, ini tim apa asisten, lihat saja isi Kotak P3K nya. Itu tuh, kotak pertolongan pertama pada kecelakaan. Apakah isi kotaknya kebanyakan obat sakit kepala, atau krim pereda nyeri. Gini maksudnya, kalau memang orang-orang yang dimiliki, level tim, maka Kotak P3K nya banyak berisi obat sakit kepala, macam Aspirin, Panadol, Paramex, atau Puyer Bintang Tujuh lah, karena kerjaannya banyak mikir, dan gejala yang sering dialami adalah pusing. Kalau kotak P3K nya banyak isinya : balsem, counterpain, koyo tempel, maka, ya gitu deh, tau kan maksudnya? 😅😅
.
Besar, kuat, tahan lama
Ya! Itu tujuannya. If you want to go fast, go alone! If you want to go far, go in a group of team. Kita bicara tentang membangun pondasi bisnis yang besar, kuat, dan tahan lama. Besar hasilnya, kuat organisasinya, tahan lama dampak dan kemanfaatannya. Ah, Sam, kalau mau kuat, besar, dan tahan lama, bawa aja ke Mak Erot, beres, diurat diurut, jadi sudah itu. Kalau memang itu fantasi dan analogi yang lebih mudah dicerna, ya sudahlah, anggap saja begitu, cerna dan artikan saja bahwa iMARKS adalah Mak Erot untuk bisnis kuliner. Ayo sini, Emak urut uratnya. 😉
.
Salam Pertumbuhan!

Faizal Alfa
PT Fortuna iMARKS Trans

Perusahaan Pemasaran Yang Membanggakan Kota Malang

Di foto, itu Team Kehidupan Saya....

Kedinginan Kami kena hujan laut di sekitaran Pulau Batu Garuda di Tanjung Kelayang. 

Boso Jowone : Kluncum

Momen balik ke Pantai setelah island hopping di beberapa spot di Pulau Belitong

Kamis, 01 Juli 2021

Situasi perekonomian retail di Indonesia sedang gonjang ganjing akibat pandemi yang tidak kunjung selesai. Akibatnya akan ada banyak PHK dimana mana. 

Sekarang ada PPKM tanggal 3-20 juli dimana semua restoran 100% take away, tidak boleh makan ditempat. Dan PPKM ini pasti akan berdampak untuk para pengusaha. 

Disatu sisi harus memperkuat penjualan, di satu sisi harus menghemat cost. Mungkin akan mengurangi karyawan lagi. 

Bener bener Dilema untuk para pengusaha. 

So, jalan satu satunya di situasi seperti sekarang adalah mengonline kan bisnisnya. Agar bisa menyesuaikan dengan perubahan zaman. 

Dan buat temen2 yang hari ini terkena PHK. Fyi, kata kemnaker saat ini ada 29,4 juta PHK sepanjang pandemi. Dan akan bertambah lagi. Menyusul situasi pandemi yang belum kunjung menunjukkan perbaikan. 

Nah buat temen2 yang hari ini terkena PHK dan terpaksa dirumah, jangan bersedih. Yuk putar otak untuk terus bergerak. Mungkin jalan PHK ini adalah jalanmu untuk menjadi pengusaha. Dimulai dari bisnis kecil kecilan dulu tanpa modal. 

Gunakan media sosial kita untuk aktif memasarkan produk. Gag perlu malu dan gengsi. Jualan adalah cara cepat untuk menambah penghasilan dan melunasi hutang. 

Belajar bisnis online bisa dari komunitas, google, orang orang yang bahas bisnis, dll. InshaAllah semua ilmu sudah tersedia dimana mana. Tinggal kita mau bergerak atau enggak. 

Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalahmu. Lebih baik terus bergerak saja. Siapa tau rezki kamu di bisnis online. 

Semangatttttt……

STRATEGI MENDESAIN KONTEN YANG PERSUASIF ALA INBOUND




The Persuasion Slide ini adalah model teknik bagaimana mempengaruhi market secara efektif yang didesain oleh pakar Neuroscience Marketing, Roger Dooley.

Dalam Inbound Marketing model ini sangat membantu dalam menyusun inbound marketing strategy.

Menurut Dooley, persuasi yang efektif itu persis seperti analogi slide atau permainan perosotan.

Agar si objek bisa kita luncurkan dengan mulus dari atas perosotan sampai ke bawah, paling tidak ada 4 elemen yang harus kita perhatikan.

1. GRAVITY atau gaya gravitasi bumi

Tanpa gaya gravitasi, tak mungkin perosotan bisa bekerja.

Gravitasi itu tidak kita ciptakan. Ada diluar kendali kita. Tapi keberadaannya bisa kita maksimalkan dengan baik.

Dalam persuasi, gravitasi itu menggambarkan sifat dasar atau bawaan objek yang akan kita pengaruhi. Bukan kita yang membentuk.

Pahami kebutuhan (needs), keinginan (wants) dan hasrat (desires) dari objek kita. Dengan memahami 3 hal tersebut, kita bisa mendesain value produk yang paling tepat untuk target market kita serta pendekatan seperti apa untuk mengedukasi mereka.

2. NUDGE, atau dorongan awal

Nudge ini adalah trigger atau pemicu saat objek mau bergerak.

Dorongan awal ini penting karena membuat orang bisa meluncur.

Kekuatan dorongan awal ini harus pas. Jika terlalu pelan objek akan bergeming. Tetapi jika terlalu kuat objek bisa terjatuh bukan meluncur.

Persuasi efektif juga dimulai dengan menarik perhatian dari objek, dengan menggunakan pengetahuan tentang objek yg kita riset sebelumnya (gravity).

Beda orang tentu saja beda ketertarikannya.
Gunakan umpan yang tepat untuk target market yang ingin kita sasar.

3. ANGLE, Sudut kemiringan perosotan

Setelah diberikan dorongan (nudge), selanjutnya yang bisa membuat objek bisa meluncur adalah sudut kemiringan dari slide atau perosotan itu sendiri.

Tidak boleh terlalu landai, akan membuat objek meluncur lambat.

Tidak juga terlalu curam karena bisa mencelakai si objek jika jatuh terlalu deras. Tidak smooth landingnya.

Dalam konsep The Persuation Slide ala Dooley, angle ini identik dengan motivasi target untuk membeli produk kita.

Motivasi ini ada dua, Conscious Motivation atau motivasi sadar dan rasional.

Contohnya fitur-fitur produk, keuntungan atau bonus-bonus saat melakukan pembelian, harga produk dan lain-lain. Bisa dikatakan sebagai Value Fungsionalnya.

Jenis motivasi berikutnya adalah Unconscious motivation.

Motivasi ini erat kaitannya dengan pikiran bawah sadar dari target market.

Contohnya karena terinspirasi dengan kisah foundernya, tergerak dengan purpose atau tujuan mulia dari perusahaannya, menjadikan dirinya orang yang ia impikan saat mengkonsumsi value produk dan sebagainya.

4. FRICTION atau gaya gesek

Gaya gesek ini tentu saja berlawanan arah, memperlambat dan bahkan menghambat laju si obyek.

Dalam ilmu persuasi dan marketing, friction ini segala sesuatu yang melemahkan proses persuasi ini.

Penghambat ini bisa dipicu dua faktor.

Pertama faktor internal. Ketika value produk yang kita sampaikan tidak sesuai dengan yang kita janjikan.

Tampilan produk yang buruk, pemilihan lokasi jualan yang tidak tepat, bad salesman, pemilihan target tidak tepat, timing tidak tepat, serta penggunaan media yang tidak tepat.

Kedua faktor ekternal yang membuat persuasi tidak efektif.

Kompetitor yang agresif dan lebih intens mendekati target market. Testimoni dan review produk yang buruk, serta perubahan perilaku dan selera pasar.

Next kita bahas lebih detail ya masing-masing dari tiap elemen di atas.

Pantengin terus instagram @si.samipoel ya

Salam Nginbound
Sam Ipoel