Minggu, 04 Juli 2021

BTS



Menurut Forbes, setidaknya ada 7 (tujuh) perspektif yang paling efektif digunakan untuk jualan.

Salah satunya adalah popularity.

Simple-nya, suatu produk itu efektif dijual ketika ia "terkonfirmasi" populer. Populer berarti banyak orang tahu. Banyak orang melakukan atau mengonsumsi.

Memakai teori herd mentality, manusia paling sering dipengaruhi tindakan manusia lainnya. Artinya, kita memang diciptakan dengan potensi ikut-ikutan.

Nah, agar produk "terkonfirmasi populer," bisa dilakukan dengan dua cara.

Cara pertama, natural popular. Produk laku dimulai dari mulut ke telinga (gak mungkin kan, mulut ke mulut). Jadi bahan omongan lokal, lalu nasional, dan mungkin mendunia. 

Keuntungannya? Untung besar tanpa keluar banyak iklan. Kelemahannya? Waktunya lama dan belum tentu terjadi pada semua produk.

Contohnya? Dagadu, Eiger, Kartika Sari. Produk-produk lokal yang tumbuh dari nol. Dipopulerkan oleh para konsumennya ke konsumen lain.

Cara kedua, instant popular. Produk dipopulerkan lewat iklan yang menggunakan sosok populer. 

Keuntungannya? Produk lebih cepat naik daun, lebih cepat laku. Kelemahannya? Harus punya uang banyak untuk membayar sosok populer dan biaya iklannya.

Contohnya? BTS Meal. 

Yang harus dicatat, McDonald's memahami BTS bukan hanya dari segi kepopulerannya. Tapi potensi word of mouth-nya. 

Word of mouth ini penting karena, dengan begitu, produk akan populer karena dibicarakan. BTS punya fans garis keras yang disebut "Army." Fans inilah yang akan "memastikan" BTS Meal naik daun dan dibicarakan. 

Jadi, sebenarnya McDonalds bukan hanya "membeli" BTS, melainkan juga Army. 

Ini juga alasan kenapa tidak semua artis atau selebriti efektif digunakan untuk mengangkat popularitas produk. Ada artis yang populer tapi tidak punya fans garis keras. Fans yang siap membelanya mati-matian dan mempromosikan tanpa pamrih. 

Ini bisnis berbasis excitement. Produk boleh tampak standar, maka excitement-nya yang dibesar-besarkan. Pembelian akan terjadi bukan karena produk, tapi karena excitement atas siapa yang mengiklankan.

Wajah industri banget. Dikelola oleh orang-orang "pintar" dan berduit. 

Inilah juga sebabnya saya paling malas beli produk dari promo semacam ini. Nol rasa penasaran. Karena sudah tahu ini cuma trik jualan. Cuma rumus marketing jadul.  

Saya lebih percaya produk yang laku secara natural. 

Karena produknya diiklankan langsung oleh konsumen yang tidak punya tendensi apa pun.

Nasi Padang, misalnya. Mau diiklankan gak diklankan, rasanya uwenak. Variasi pilihan. Selalu di hati banyak orang. Nasional maupun internasional.

Iya kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar