Minggu, 31 Juli 2022

HINDARI PENILAIAN KINERJA INDIVIDUHuman Growth (HG) series




Penilaian kinerja INDIVIDU di zaman sekarang dapat menurunkan kualitas INTERAKSI dan KOLABORASI Tim. Evaluasi kinerja berbasis individu ini bahkan berpotensi dapat meningkatkan individualisme maupun egoisme seorang karyawan plus menumbuhkan sifat transaksional.

Bagaimana mungkin ajakan atau himbauan untuk meningkatkan rasa EMPATI bisa berjalan efektif kalau orang-orang yang bekerja lebih mementingkan dirinya sendiri.

__________

PERUSAHAAN MODERN MEMENTINGKAN INTERAKSI

Perusahaan atau korporasi modern saat ini sangat memperhatikan bagaimana meningkatkan hubungan antar individu dalam sebuah Tim. 

Perkembangan dunia yang semakin kompleks seperti saat ini tidak bisa direspon hanya dengan mengandalkan kemampuan individu semata.

Tim harus bekerja layaknya sebuah TIM. Tim terdiri dari kumpulan individu yang saling bekerja sama dan berkolaborasi dalam sebuah ikatan semangat yang sama untuk mencapai GOAL yang telah ditetapkan. 

Dengan jalinan kolaborasi inilah, maka setiap rintangan dan hambatan akan lebih mudah diselesaikan. 

One Team, One Goal. 
Bukan lagi One Team with Different Goal. 

Kalau sebuah GOAL dicapai dengan kerjasama sebuah Tim, lantas mengapa masih melakukan Evaluasi Kinerja berbasis Individu? 

Bukankah evaluasi kinerja individu justru akan merusak nilai-nilai interaksi yang telah terjalin? 

Kalaupun dipaksa untuk mengevaluasi pencapaian hasil kerja individu, lantas siapa yang paling berhak melakukannya? 

Untuk apa hasil penilaian kinerja individu yang dilakukan selama ini? 

Sebagai bahan untuk menjalankan REWARD and PUNISHMENT kah? 



Salam Berkah 


inovasi-inovasi


Robert T Kiyosaki pernah mengatakan “You have to be SMART. The easy days are over."

Tidak ada lagi hari-hari yang mudah......

Untuk itu mau tidak mau, suka ataupun tidak, setiap kita harus keluar dari zona nyaman. 

Keberhasilan yang diraih bulan lalu belum tentu menjamin keberhasilan anda di bulan ini dan bulan-bulan mendatang.

Agar bisa tetap eksis salah satu hal yang harus dilakukan adalah *INOVASI*

Apa itu INOVASI ? INOVASI adalah pembaruan yang bertujuan memberikan NILAI LEBIH pada suatu produk dengan IDE BARU yang berbeda.

Ketika anda terus melakukan INOVASI maka anda akan tetap eksis.

Satu pertanyaan yang perlu dipikirkan pagi ini adalah INOVASI apa yang akan anda lakukan dalam waktu dekat ini?

Selamat berinovasi

Salam Berkah 

Rabu, 27 Juli 2022

"Ternyata gini doang, gua juga udah tahu!"


Bisikan ini sering muncul saat kita menerima ilmu yang sudah pernah kita pelajari. Rasanya seperti membuang waktu saja. Toh saya sudah tahu, sudah pernah belajar, masih paham.

Ken Blanchard dalam bukunya KNOW CAN DO memberi ilustrasi menarik, melihat hal ini. Dalam buku itu, beliau bertanya, "Berapa teknik diet yang kita butuhkan untuk benar-benar menurunkan berat badan?"

Jawabnya adalah: SATU saja cukup. Dengan syarat, satu pendekatan itu dilakukan DENGAN BENAR dan KONSISTEN.

Maka saat kita pernah belajar sesuatu dan ternyata tidak secara kongkret mengubah diri menjadi lebih baik, jangan tergoda nyari ilmu baru dulu. Jangan-jangan yang lebih kita butuhkan adalah MEMPELAJARI ULANG ilmu lama tersebut. Dengan mempelajari ulang, akan ditemukan hal baru, perspektif baru, dan mendorong lahirnya ide baru.

Inilah pentingnya BELAJAR BERULANG atas satu topik yang sama. Inilah pentingnya PENGULANGAN.

Jadi kalau kita merasa, "Ah yang ini sih saya sudah tahu....", maka tetaplah lanjutkan. Karena kita sedang dalam satu fase penting belajar untuk memperdalam dan mempertajam. En... fase ini PENTING untuk benar-benar memberikan perubahan nyata.

Selamat istirahat.
Salam Berkah

Sabtu, 23 Juli 2022

Jangan CARI UANG!!!



Sebagian besar orang berfikir, dengan mencari uang maka dia akan dapat uang dan kehidupan yang lebih mapan..
.
Dulu saya begitu, berfikir mencari uang dan uang dan uang terus.
.
Apa yang terjadi?
Justru jauh dari harapan.. Banyak angan2 sirna, harapan2 hanya sekedar harapan..
.
Perhitungan yg seolah2 matang ternyata mentah sekali..
.
Yaa.. Ternyata ini kesalahan nya..
MENCARI uang.
.
Sejak saya ubah sudut pandang saya. Maka uang mencari saya bahkan mengejar dimanapun saya berada ..
.
Saya serius
Jadi jangan cari uang, jangan mengejarnya juga.
.
Sebagai pengusaha, carilah NEED (kebutuhan orang lain).
.
Jika kita mahir menemukan kebutuhan dan mengolahnya jadi bisnis, maka uang akan mengejar anda .
.
Dimana ada kebutuhan disitu ada aliran uang yg tidak berhenti.
.
Jadi skill utama untuk jadi pengusaha yg dikejar uang adalah, kejarlah kebutuhan orang lain, pelajari detail, kuasai ilmunya dan fokuslah disitu ...
.
Salam Berkah 
.

Jumat, 22 Juli 2022

BRAND-BRAND “OLD SCHOOL” BAKAL TERSINGKIR DARI KOMPETISI JIKA TERUS MELAKUKAN HAL INI




Kenapa “old school” Brand atau Brand-brand besar yang pernah berjaya di madanya, kadang sering keteteran menghadapi serangan-serangan Brand yang masih relatif muda.

Satu alasan yang sangat nyata adalah mereka Brand-brand dengan old mindset ini bertarung di jaman now, jaman digital dengan cara-cara lama.

Mereka masih berpikir cara lama yang mereka gunakan zaman dulu saat menguasai pasar, masih bisa digunakan untuk jaman now.

Jaman marketing jaman old, dimana marketing sangat ditentukan oleh kekuatan advertising.
Ketika Anda memiliki budget promosi yang sangat besar itu sudah menjadi “competitive advantage” tersendiri.

Mampu ngiklan di TV dengan budget puluhan juta per 15 detik slotnya, mampu bayar hingga 500 juta untuk tampil di halaman pertama surat kabar ternama, atau nampang di billboard simpangan paling ramai di kota.

Brand yang mampu melakukan itu dengan mudahnya mampu menyita perhatian dan menancapkam pesan di pikiran bawah sadar audiens.

Meskipun konten Anda mengagung-agungkan Brand sendiri, lemah di story,tidak terlalu jadi masalah. Yang penting Anda mampu bikin pesan yang menancap di benak audiens.

Tapi jika gaya “borju” dan narsistic itu kita pertahankan untuk jaman sekarang jelas tidak bisa.

Ini yang membuat banyak brand besar yg hanya modal uang, kalah bersaing dengan brand-brand yang terbilang masih kemarin sore.

Brand-brand yang lahir dijaman digital tahu bagaimana cara bermain dan bertarung di era seperti.

Jaman digital adalah bukan eranya brand narsis, tapi ini eranya brand yang digerakkan oleh para evangelist.

Brand yang hanya memuja muji dirinya, sempurna tanpa cela bisa ditinggalkan dengan mudah oleh penggemarnya.

Ditinggalkan oleh Brand-brand yang humanis dan memilih membaur dan membumi dengan para pemujanya. Brand tidak harus serba sempurna. Bahkan mereka boleh khilaf dan melakukan kesalahan-kesalahan kecil, asal segera minta maaf dan memperbaikinya.

Brand seperti ini mampu mengundang simpati dari penggunanya. Dan membuka kedekatan dengan mereka. Customer lebih senang menjalin hubungan dengan brand yang bercanda, menangis dan serius sesekali.
Customer menganggap Brand itu manusia sama seperti mereka.

Mereka menjalin kedekatan, mereka membuat pengalaman dan cerita.
Cerita inilah yang disebarkan oleh para evangelist.

Pesan saya buat Brand-brand lama yg sulit bertumbuh di era sekarang.
Berhenilah narsistic dan minta terus diagung-agungkan.
Berhentilah mengagungkan cerita-cerita masa lalu.

Membaurlah dengan customer Anda.
Jadilah bagian dari mereka.
Bikin mereka nyaman dan bangga karena berteman dan membangun cerita dengan Brand Anda.

Sampai mereka dengan senang hati membagikan cerita tentang Brand Anda.
Bahkan tanpa kita minta.

Salam Berkah 

Kamis, 21 Juli 2022

Pentingnya Perceived Value

Kadang kita sibuk mencari high level customer tapi lupa membuat diri kita high level business/coach/owner yang membuat customer senang dan bangga walaupun membayar mahal.

Jangan lupa, walaupun klien punya uang mereka hanya mau membayar mahal produk/service yang dianggap high class seperti Ferrari, Hermes, Bentley, Chanel, etc

Itulah pentingnya kita membangun "Perceived Value" yaitu nilai bisnis/diri kita di mata calon customer. 

Logikanya gini walaupun mobil punya mesin canggih dgn kecepatan 16 tenaga kuda tapi jika casingnya angkot/mikrolet maka orang gak mau bayar mahal. 

Kualitas produk/service dan kemasan harus sama sama "high class" dimata klien supaya mereka bisa bangga dan puas membeli produk/service kita walaupun mahal karena "Perceived Value" yang mereka terima lebih tinggi dari harga yang dibayarkan 😊

Salam berkah

Sabtu, 16 Juli 2022

SYUKUR KETIKA SENANG, SABAR KETIKA SUSAH





Ketahuilah bahwa bersyukur di saat senang dan bersabar di saat susah merupakan sifat  yang menjadi penyempurna keimanan seorang hamba.

Maka hendaknya kita selalu bersyukur dengan karunia dan berbagai macam nikmat dari Allah Ta'ala. Dan selalu bersabar dengan ujian dan musibah yang menimpa kita. Karena semuanya itu baik bagi seorang mukmin.

Hendaknya kitapun selalu mengingat hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini,

عَنْ صُهَيْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ. مُسْلِمٍ

Dari Suhaib radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

"Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu adalah baik baginya, dan apabila mendapat suatu keburukan (musibah) ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya".
(HR. Muslim).

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa apapun yang menimpa seorang mukmin adalah baik. Karena jika mendapat nikmat bersyukur, dan jika mendapat musibah bersabar.  

Allahu  a'lam...

Semoga kita menjadi orang-orang yang pandai bersyukur ketika senang, dan bersabar ketika susah...
Aamiin...

Salam Berkah 

Selasa, 12 Juli 2022


Lain waktu mungkin Anda akan mendengar tentang Pareto. Apa itu Pareto? Pareto adalah hukum atau prinsip sebab akibat. 

Kata Pareto diambil dari nama seorang Ekonom Italia bernama Vilfredo Pareto. Sang ekonom menemukan fakta bahwa 80% tanah di Italia ternyata milik dari 20% dari jumlah populasi di Italia. 

Prinsip Pareto dipopulerkan oleh Josep M. Juran seorang pemikir manajemen bisnis. Alasannya karena prinsip Pareto bisa diterapkan pada semua aspek.

Misal di pabrik sepatu. Jika Anda fokus meningkatkan kualitas sepatu di bagian produksi, maka Anda dapat memacu tim sales marketing utk meningkatkan penjualan. Dgn kata lain, jika kualitas sepatu cukup bagus akan lebih mudah menjualnya. 

Kontribusi tim produksi mungkin hanya 20%, tapi jika tim produksi bisa bekerja optimal maka itu dapat meningkatkan sales hingga 80%. 

Sama aja dgn bidang lainnya, misalnya utk seo jika riset keyword anda sudah cukup baik maka artikel anda lebih mudah utk ranking. Atau utk fb ads, jika copywriting anda cukup menarik maka iklan anda akan bekerja lebih efektif


salam berkah 

Senin, 11 Juli 2022

TIADA HARI TANPA AROFAH



Tiada hari tanpa arofah
Karena arofah berarti mengenal, mengetahui 
Mengenal diri sendiri
Semakin mengetahui diri ini mau kemana.

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik" (Qs. 59 ayat 19).

Tiada hari tanpa arofah
Karena disana tempat wukuf (berhenti)
Berhenti sejenak merenungi apa yang akan diperbuat untuk hari esok (kiamat) 
Diam... menyesali dosa-dosa yang banyak ini.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs. 59 ayat 18).

Tiada hari tanpa arofah
Karena arofah adalah simulasi padang Masyhar
Tempat dimana semua manusia akan dihisab
Bermukim berlama-lama dalam gelisah, akankan diri ini selamat atau tidak.

“Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan” (Qs. 10 ayat 30).

Tiada hari tanpa arofah
Karena disana bertemunya Adam dan Hawa dalam rengkuhan cinta dan rindu
Mengabadikan wujud kasih ilahi robbi
Yang perlu diejawantahkan anak manusia bahwa hidup ini mesti berprinsipkan cinta kasih.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan hati mereka penuh dengan rasa kasih sayang” (Qs. 19 ayat 96).

Tiada hari tanpa arofah
Karena tanpa arofah tak ada haji yang mabrur
Tanpa arofah, tak ada manusia yang ingat akan dirinya dan Tuhannya
Terjebak dalam rutinitas hidup, lupa ujungnya mau kemana.

"Dan kepada mereka dikatakan, 'Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini; dan tempat kembalimu ialah neraka dan sekali-kali tidak akan ada penolong bagimu" (Qs. 49 ayat 34).

Tiada hari tanpa arofah
Maka janganlah bersibuk diri tanpa muhasabah, tanpa introspeksi diri
Di hari-harimu yang semakin habis.

"Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)” (Qs. 39 ayat 53-54).

-------
Selamat Hari Raya Idul Adha 1443 H/2022 M
Barakallahu fiikum...🤲

MANA EMAK?


Emak berdiri di depan pintu. Wajahnya kelihatan resah menunggu si bungsu pulang dari mengaji.

Ayah pulang dari sawah, dan menanyakan si Galang sama Emak: "Si Galang mana?"
Emak jawab, “Ada di dapur sedang menyiapkan makan.” 
 
Ayah tanya Emak lagi, ” Angga mana?” 
Emak jawab, “Angga mandi, baru pulang main bola.”
Ayah tanya Emak lagi, “Atikah mana?” 
Emak jawab, “Atikah, Kiran nonton tv dengan Budi di dalam” 

Ayah tanya lagi, “Andik sudah pulang?” 
Emak jawab, “Belum. Seharusnya sudah pulang. Sepeda Andik rusak. Sebentar lagi kalau nggak pulang juga, kita pergi cari si bungsu ya pak..” 
 
Emak jawab pertanyaan ayah sepenuh hati. 
Tiap hari ayah menanyakan hal yang sama. Emak selalu jawab dengan penuh perhatian. Emak selalu mengetahui bagaimana keadaan anak-anak setiap saat. 
 
20 tahun kemudian...
Jam 16.30 sore....

Ayah pulang ke rumah. Baju ayah basah. Hujan turun sejak siang tadi. Ayah tanya si Galang, “Mana Emak?” Si Galang sedang mematut-matut baju barunya, lalu menjawab, 
“Nggak tahu.” Ayah tanya pada Angga, “Mana Emak?” 
Si Angga sedang nonton TV lalu jawab, “Mana saya tahu.” 
Ayah tanya si Atikah, “Mana Emak?” Ayah menunggu lama jawaban dari Atikah yang asyik membaca main hape. Ayah tanya si Atikah lagi, "Mana Emak?" 
Atikah jawab, “Entah.” Atikah terus bermain hape tanpa menoleh kepada Ayah.

Ayah tanya Budi, “Mana Emak?” Budi enggak jawab, dia hanya menggerakkan bahu tanda tidak tahu.
 
Ayah nggak mau tanya Kiran dan Andik yg sedang asyik ber-instagram. Ayah tahu dia tidak akan mendapatkan jawaban yang diinginkannya. 
 
Anak-anak tidak ada satupun yang tahu di mana Emak. Tidak ada satupun anak-anak yang ingin tahu di mana Emak. 
Mata dan hati anak-anak tak ada pada Emak...

Hanya mata dan hati Ayah yang mencari-cari dimana Emak. Tidak ada anak-anak Emak yang tahu setiap kali ayah bertanya, "Mana Emak?" 
 
Tiba-tiba Andik si bungsu bersuara, “Emak tadi pergi, kini sudah senja....belum pulang juga” 

Tersentak hati Ayah mendengar kata-kata si bungsu Andik.
 
Dulu anak-anak akan berlari mendekap Emak, apabila pulang dari sekolah. Mereka akan tanya "Mana Emak?" apabila Emak tak menunggu mereka di depan pintu.
 
Mereka akan tanya, "Mana Emak." Apabila dapat rangking 1 atau kaki lecet main bola di sekolah. Emak gelisah apabila anak-anaknya lambat pulang. Emak ingin tahu di mana semua anak-anaknya berada setiap saat. 

Sekarang anak-anak sudah besar. Sudah lama mereka tak bertanya "Mana Emak?" Semakin anak-anak besar, pertanyaan "Mana Emak?" semakin hilang dari bibir mereka.
 
Ayah berdiri di depan pintu menunggu Emak. Ayah gelisah menunggunya karena sudah senja begini masih belum pulang. Ayah risau karena akhir-akhir ini Emak selalu mengeluh sakit lutut.
 
Dari jauh kelihatan sosok Emak berjalan memakai payung yang sudah butut. Besi-besi payung tersembul keluar dari kainnya. Hujan masih belum berhenti. Emak menjinjing dua bungkusan plastik. Sudah kebiasaannya, Emak akan bawa sesuatu untuk anak-anaknya bila pulang dari bepergian. 
 
Sampai di halaman rumah Emak berhenti di depan deretan mobil anak-anaknya. Emak buang daun-daun yang mengotori mobil anak-anaknya. Emak usap bagian depan mobil Atikah perlahan-lahan. Dia merasakan seperti mengusap kepala Atikah waktu kecil. Emak tersenyum. Kedua bibirnya ditutup rapat. Senyum tertahan, hanya Ayah yang paham. Sekarang Emak tak dapat lagi mengusap kepala anak-anak seperti ketika mereka kecil dulu. Mereka sudah besar. Emak takut anak-anak akan menepis tangan Emak kalau Emak lakukan.
 
Lima buah mobil milik anak-anaknya berdiri megah. Mobil Atikah paling hebat. Emak tak tahu apa kehebatan mobil Atikah itu. Emak cuma suka warnanya. Mobil warna merah bata, warna kesukaan Emak. Emak belum pernah merasakan naik mobil anak Emak yang ini.
 
Baju Emak basah kena hujan. Ayah menyambut Emak dengan bergegas dan menutup payung Emak. Emak memberi salam. Salam Emak tidak berjawab. Bergetar lutut Emak melangkahi anak tangga. Ayah membimbing Emak masuk ke rumah. Lutut Emak sakit lagi.
 
Emak meletakkan bungkusan di atas meja. Sebungkus ketan dan beberapa pisang goreng pemberian bu Odah untuk anak-anaknya. Emak tahu anak-anak suka makan pisang goreng dengan ketan dan Emak sebenarnya mau minta agar makanan itu bisa dibawa pulang, tapi malu utk memintanya kepada bu Odah. Namun raut wajah Emak sudah cukup membuat bu Odah mengerti. Saat menerima bungkusan goreng pisang dan ketan dari bu Odah tadi, Emak sempat berkata kepada bu Odah: "Wah...pasti berebut nanti anak-anakku jika melihat pisang goreng dan ketan kamu ini." 
 
Sekurang-kurangnya itulah bayangan Emak. Dia bayangkan anak-anaknya sedang gembira menikmati pisang goreng dan ketan sebagaimana waktu mereka kecil dulu. Mereka berebut dan Emak jadi hakim pembuat keputusan. Sering kali Emak memberikan bagian Emak supaya anak-anak puas makannya. Bayangan itu sering singgah di kepala Emak.
 
Ayah menyuruh Emak menukar baju yang basah itu. Sesudah Emak menukar baju, Ayah mengiringi Emak menuju ruang tamu. Emak ajak anak-anak makan pisang goreng dan ketan. Tapi tak seorangpun yang menoleh kepadanya. Mata dan hati anak-anaknya sudah bukan kepada Emak lagi. 
 
Emak hanya tertunduk, menerima keadaan. Ayah tahu Emak sudah tak bisa mengharapkan anak-anak melompat-lompat gembira dan berlari mendekapnya seperti dulu. Ayah menemani Emak makan. Emak menyuap nasi perlahan-lahan, masih mengharapkan anak-anaknya akan makan bersama. Setiap hari Emak berharap begitu. Hanya Ayah yang duduk bersama Emak di meja makan setiap malam. 

Ayah tahu Emak capek sebab berjalan jauh. Siang tadi Emak pergi ke rumah bu Odah saudaranya di kampung sebelah untuk mencari pisang dan beras pulut. Emak hendak membuat pisang goreng dan ketan kesukaan anak-anaknya. 

Ayah tanya Emak kenapa tidak telepon menyuruh anak-anak menjemput. Emak jawab, "Saya sudah suruh bu Odah telepon anak-anak tadi. Tapi katanya semua tak ada yang mengangkat." 
 
Emak minta bu Odah telepon anak-anak karena Emak tidak bisa berjalan pulang karena hujan. Lutut Emak akan sakit kalau kedinginan. Ada sedikit harapan di hati Emak agar salah seorang anaknya akan menjemput dengan mobilnya. Emak ingin kalau Atikah yang datang menjemput dengan mobil barunya. Namun tak ada seorangpun yang datang menjemputnya.
 
Emak tahu anak-anak tidak mendengar telepon berberbunyi. Emak ingat kata-kata ayah, 

“Kita tak usah merepotkan anak-anak. Selagi kita mampu apapun kita kerjakan saja sendiri. Mereka sudah punya kehidupan masing-masing. Tak usah sedih. Maafkan sajalah anak-anak kita. Tak apalah kalau tak merasa menaiki mobil mereka sekarang. Nanti kalau kita mati kita masih bisa merasakan anak-anak akan mengangkat kita di bahu mereka.” 
 
Emak paham buah hati Emak semua sudah besar. Galang dan Angga sudah beristeri. Atikah, Budi, Kiran dan Adik masing-masing sudah punya buah hati sendiri yang sudah mengambil tempat Emak di hati anak-anaknya. Pada suapan terakhir, setitik air mata Emak jatuh ke piring. Pisang goreng dan ketan masih belum diusik oleh anak-anaknya.

Beberapa bulan kemudian....
 
Bu Odah datang dan menanyakan Emak kepada Galang, Angga, Atikah, Budi, Kiran dan Andik: “Mana Emak?” Hanya Andik yang menjawab sambil menangis, “Emak baru saja meninggal.”  

Galang, Angga, Atikah, Budi, Kiran dan Andik tak sempat melihat Emak waktu Emak sakit.
  
Dalam isakan tangis, Galang, Angga, Atikah, Budi, Kiran dan Andik merangkul kuburan Emak. Hanya kayu nisan yang berdiri tegak. Kayu nisan Emak tidak bersuara. Kayu nisan tidak seperti tangan Emak yang selalu memeluk erat anak-anaknya ketika masih kecil dulu.
 
Emak pergi ketika semua anak-anaknya berada jauh di kota. Katanya mereka tidak mendengar handphone berbunyi ketika ayah menelepon yang memberitahukan bahwa Emak sakit keras.
 
Emak paham, mata dan telinga anak-anaknya kini untuk orang lain, bukan lagi untuk Emak. Hati anak-anak bukan milik Emak lagi. Hanya hati Emak yang tak pernah diberikan kepada siapa pun, hanya untuk anak-anaknya. Emak tak sempat merasa diangkat di atas bahu anak-anak ketika di keranda jenazah. Hanya bahu Ayah yang ringkih yang sempat Emak rasakan ketika mengangkat jenazah Emak dalam hujan rintik-rintik.
 
Ayah sedih sebab tak ada lagi suara Emak yang akan menjawab pertanyaan Ayah : 

"Mana Galang?" , "Mana Angga?", "Mana Atikah?", "Mana Budi?", "Mana Kiran?" atau "Mana Andik?"  

Hanya Emak saja yang rajin menjawab pertanyaan ayah tersebut dan jawaban Emak memang tidak pernah salah. Emak selalu yakin dengan jawabannya. Sebab Emak memang tahu di mana anak-anaknya berada pada setiap saat. Anak-anak Emak senantiasa di hati Emak.
 
Ayah sedih. Di tepi kubur Emak, Ayah bermonolog sendiri, 

"Mulai hari ini aku tak akan bertanya lagi kepada Galang, Angga, Atikah, Budi, Kiran dan Andik: "Mana Emak?"
 
Mobil merah Atikah bergerak perlahan membawa Ayah pulang. Galang, Angga, Budi, Kiran dan Andik mengikuti dari belakang dengan mobilnya masing-masing. Hati ayah hancur teringat keinginan Emak untuk naik mobil merah Atikah yang tak kesampaian. Ayah terbayang kata-kata Emak malam itu, 

"Bagus sekali mobil Atikah, ya Yah? Kapan Atikah bawa kita jalan-jalan ke Patenggang ya?.. Emak akan buatkan goreng pisang dan ketan buat bekal." 
 
"Ayah, Ayah....bangun!"  
Suara Atikah meninggi memanggil Ayahnya. Ayah ternyata pingsan sewaktu turun dari mobil Atikah.
 
Terbata-bata ayah bersuara, "Mana Emak?" 

Ayah tak pernah berhenti menanyakan hal itu hingga akhir hayatnya.

"Mana Emak?.."

## Copas, siapapun penulisnya
semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang banyak.

Kamis, 07 Juli 2022

Serangan 4 Penjuru Syaithan Part 2 (Serangan dari Belakang)

Apa yang ada di belakang kita adalah masa lalu kita. Pengalaman masa lalu sedikit banyak mempengaruhi kita. Mempengaruhi cara berpikir dan merasa kita. Syaithan menggunakan masa lalu kita untuk menyerang kita, untuk mengalihkan kita dari jalan yang lurus.

JURUS #1
Dulu kita mungkin orang yang baik dan taat. Namun, satu saat kita terpeleset. Syaithan lalu akan membisiki kita bahwa diri kita yang baik sudah hilang, tidak akan kembali lagi. Seperti inilah diri kita yang sekarang, kita tidak akan bisa kembali lagi menjadi baik seperti dulu. Sehingga kita terus merasa buruk tentang diri kita.

JURUS #2
Syaithan membuat kita berpikir “mengapa hal buruk terjadi pada diri saya?” Saat kita menerima musibah atau hal yang tidak kita inginkan, syaithan akan membisiki kita. Syaithan ingin kita meragukan diri kita sendiri. Ia mengingatkan kita tentang hal buruk yang sudah terjadi lalu membuat kita berpikir kenapa harus saya? Syaithan pada dasarnya berputus asa, dan ia ingin kita putus asa juga. 

JURUS #3
Kita mungkin pernah berbuat dosa akibat hubungan yang kita miliki dengan orang lain. Lalu kita bertaubat. Memutus hubungan dengan orang ini. Namun, syaithan terus menerus mengingatkan kita tentang hubungan ini. Betapa kita dulu menikmatinya. Syaithan ingin kita kembali ke masa lalu.

PS. Catatan dari ceramah ust Nouman Ali Khan