Jumat, 22 Juli 2022

BRAND-BRAND “OLD SCHOOL” BAKAL TERSINGKIR DARI KOMPETISI JIKA TERUS MELAKUKAN HAL INI




Kenapa “old school” Brand atau Brand-brand besar yang pernah berjaya di madanya, kadang sering keteteran menghadapi serangan-serangan Brand yang masih relatif muda.

Satu alasan yang sangat nyata adalah mereka Brand-brand dengan old mindset ini bertarung di jaman now, jaman digital dengan cara-cara lama.

Mereka masih berpikir cara lama yang mereka gunakan zaman dulu saat menguasai pasar, masih bisa digunakan untuk jaman now.

Jaman marketing jaman old, dimana marketing sangat ditentukan oleh kekuatan advertising.
Ketika Anda memiliki budget promosi yang sangat besar itu sudah menjadi “competitive advantage” tersendiri.

Mampu ngiklan di TV dengan budget puluhan juta per 15 detik slotnya, mampu bayar hingga 500 juta untuk tampil di halaman pertama surat kabar ternama, atau nampang di billboard simpangan paling ramai di kota.

Brand yang mampu melakukan itu dengan mudahnya mampu menyita perhatian dan menancapkam pesan di pikiran bawah sadar audiens.

Meskipun konten Anda mengagung-agungkan Brand sendiri, lemah di story,tidak terlalu jadi masalah. Yang penting Anda mampu bikin pesan yang menancap di benak audiens.

Tapi jika gaya “borju” dan narsistic itu kita pertahankan untuk jaman sekarang jelas tidak bisa.

Ini yang membuat banyak brand besar yg hanya modal uang, kalah bersaing dengan brand-brand yang terbilang masih kemarin sore.

Brand-brand yang lahir dijaman digital tahu bagaimana cara bermain dan bertarung di era seperti.

Jaman digital adalah bukan eranya brand narsis, tapi ini eranya brand yang digerakkan oleh para evangelist.

Brand yang hanya memuja muji dirinya, sempurna tanpa cela bisa ditinggalkan dengan mudah oleh penggemarnya.

Ditinggalkan oleh Brand-brand yang humanis dan memilih membaur dan membumi dengan para pemujanya. Brand tidak harus serba sempurna. Bahkan mereka boleh khilaf dan melakukan kesalahan-kesalahan kecil, asal segera minta maaf dan memperbaikinya.

Brand seperti ini mampu mengundang simpati dari penggunanya. Dan membuka kedekatan dengan mereka. Customer lebih senang menjalin hubungan dengan brand yang bercanda, menangis dan serius sesekali.
Customer menganggap Brand itu manusia sama seperti mereka.

Mereka menjalin kedekatan, mereka membuat pengalaman dan cerita.
Cerita inilah yang disebarkan oleh para evangelist.

Pesan saya buat Brand-brand lama yg sulit bertumbuh di era sekarang.
Berhenilah narsistic dan minta terus diagung-agungkan.
Berhentilah mengagungkan cerita-cerita masa lalu.

Membaurlah dengan customer Anda.
Jadilah bagian dari mereka.
Bikin mereka nyaman dan bangga karena berteman dan membangun cerita dengan Brand Anda.

Sampai mereka dengan senang hati membagikan cerita tentang Brand Anda.
Bahkan tanpa kita minta.

Salam Berkah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar