A’udzubillahi minasysyaithanirrajim
Bismillahirrahmanirrahim
Nabi saw, adalah pemimpin yang sempurna. Dikelilingi oleh para sahabat yang juga hebat-hebat luarbiasa, dan taqwa-nya mereka jangan ditanya.
Tapi, masih tuh ada munafikin? Masih tuh ada yang ‘nyinyir’ dan hasad? Bahkan masih ada juga yang “tega” membelot murtad.
Ya, Ar Rajjal bin Unfuwah pada awalnya adalah sahabat Nabi yang juga paham ad dien al islam, yang diutus Nabi untuk mengajar kaum Yamamah akan sesatnya Musailamah al kadzab (nabi palsu). Namun Ar Rajjal malah terpengaruh dan menjadi pembela Musailamah al kadzab.
Pun di sekeliling Nabi saw yang sempurna akhlak dan kebaikannya, tetap ada beberapa orang munafik, sampai-sampai Nabi meminta Hudzaifah Ibnul Yaman untuk mencatat nama-nama munafikin.
Allah swt memberikan ‘kode’ pula kepada kita semua. Allah utus malaikat Raqib dan Atid untuk mencatat semua ‘amal baik atau buruk kita. Setiap kita dikawal oleh sepasang malaikat tersebut.
Jika mau kritis, Allah ta’ala dengan kemampuanNya, pastilah tidak memerlukan malaikat yang tugasnya demikian. Semua takkan ada yang luput dari “catatan”Nya, pandanganNya, dan pengetahuanNya. Namun, hikmah apakah Allah tetap “tugaskan” para malaikat dengan semua uraian tugas masing-masingnya?
Ini yang semestinya menjadi bahan kritis bagi kita. Kita ini bukan Nabi yang sempurna. Apalagi Tuhan.
Maka, kita yang “banyak kurangnya” dan banyak dosa begini, jangan merasa “aman” dengan apa yang kita lakukan.
Apapun yang kita perjuangkan, baik organisasi bisnis maupun dakwah, sosial, pendidikan, sangat mungkin “orang-orang” yang aji mumpung itu ada. Besar kemungkinan bahkan.
Sebab itu, meskipun sebuah gerakan amal shalih, amal sosial nirlaba sekalipun, tetap mesti jagain agar keamanan aset dan hartanya terjaga, dilakukan by system. Maaf, jangan ‘polos’ menganggap, semua yang bergabung di tempat-tempat baik itu otomatis orang baik semua. Yang nempel sama Nabi aja ada yang munafik. Beberapa bahkan.
Apalagi yang nempel sama kita.
Allah saja ngasih “kode” ada yang ditugaskan “mengawasi” dan “mencatat” setiap hamba. Nah, kita sok ngerasa organisasi kita “aman” otomatis, gitu?
Pliis deh..
Coba, ngaku aja. Saya deh. Meski tahu diawasi dan dicatat, kok ya tetap saja melakukan kesalahan bahkan dosa? Hiks...
Gimana kalau tahu, TIDAK DIAWASIN?
Jadi, hal itu memang sunnatullah. Nggak perlu merasa ajaib saat mengetahui di organisasi yang dikenali dipimpin dan berisi orang-orang baikpun, akan ada yang AJI MUMPUNG. Yang ‘tega’ lakukan kecurangan, pencurian, kejahatan.
Selalu ada begitu.
Sunnahnya memang demikian.
Bahkan jika kita membaca sejarah perjuangan dimanapun, dunia maupun indonesia, penghianat itu nyata. Musuh dalam selimut itu ada.
Na’udzubillah min dzalik
Jadi, saat bisnis kita misalnya, seperti kurang uang terus. Atau merasa bagus berjalan namun uang habis, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa bisnis kita kurang modal. Cek dahulu, diagnosa dahulu.
Jangan-jangan, banyak bocor disana-sini?
Jangan-jangan, ada “maling” yang menyedot uang kita?
Jangan-jangan, ....?
Ingat, model nya Allah. Ada malaikat yang ditugasi khusus.
Ingat juga kaidahnya, “Tidak adanya kontrol, awal rusaknya orang baik.”
Allah sebaik-baik pengajar. Sistem Allah dan RasulNya pastilah terbaik. Maka, jika Allah saja ngajarin kita tuk ada sistem kontrol, masak kita sok perfect sendiri ngerasa nggak perlu ada sistem kontrol di organisasi kita?
Wallahu a’lam
Riza Zacharias


Tidak ada komentar:
Posting Komentar