Rabu, 30 Juni 2021

WELCOME"MULTIPLE WAVES"ECONOMY


.

Studi Harvard menyimpulkan "intermittent social distancing" adl strategi paling efektif penanganan pandemi guna merespons gelombang kasus COVID-19 yg datang berulang-ulang. 

Skrg kita memasuki gelombang kedua, berikutnya ketiga, keempat, dst, hingga akhirnya tercipta herd immunity. 

Welcome "MULTIPLE WAVES ECONOMY". 

Sebuah ekonomi baru dmn mobilitas pelaku ekonomi dan akitivitas perekonomian mengalami "BUKA-TUTUP" sbg respons thd gelombang demi gelombang (MULTIPLE WAVES) lonjakan kasus COVID-19. 

Ekonomi baru ini bakal ditandai 4 hal berikut: 

#1. Sustained RECESSIONS
Serangan MULTIPLE WAVES secara terus-menerus n bertubi-tubi menyebabkan pemulihan ekonomi tak kunjung terwujud. Dampaknya: resesi berkepanjangan 

Contohnya skrg. Dgn dtgnya vaksin, optimisme pemulihan ekonomi muncul di awal tahun 2021. Namun begitu SECOND WAVE menghempas saat ini, mk harapan pemulihan pun ambyar berkeping2. 

#2. Govt MIS-MANAGE + MIS-LEAD
Kondisinya makin runyam gegara blunder pemerintah dlm menangani pandemi. MIS-MANAGEMENT dan MIS-LEADERSHIP membuat lingkungan bisnis semakin volatile n uncertain. 

Pemerintah tak berdaya menghadapi "UNKNOWN-UNKNOWN" situation sprti diakui Gubernur DKI: "We don't know what we don't know" 

#3. Constant SHOCKS
Kebijakan pemerintah yg tanpa arah, berubah2, n eksperimental menciptakan CONSTANT SHOCKS bagi pelaku bisnis. 

Pelaku bisnis yg bergerak di bidang resto, mal, hotel, airlines, travel, merasakan betul sakitnya hantaman MULTIPLE SHOCKS ini. Bali adl contoh nyata ekonomi yg babak-belur krn constant SHOCKS. 

#2. 3U = UNPRECEDENTED,
UNPREDICTABLE UNANTICIPATED
Blunder pemerintah n constant shock ujung2-nya mghasilkan situasi yg tak jelas juntrungannya krn belum pernah terjadi sblumnya, tak terperkirakan, n sgt sulit diantisipasi. 

Pelaku bisnis semakin sulit merencanakan langkah ke dpn. 

PLANNING becomes irrelevant. 
SENSE-RESPOND-EXPERIMENT matter more. 

In the multiple waves economy, ENTREPRENEURSHIP matters more. 

The comeback of "JURUS MABUK". 


Jumat, 25 Juni 2021

SKILL KNOWLEDGE ATTITUDE


•••


Gabungan ketiganya yang dijalankan selaras adalah kunci keberhasilan menjalankan tuntutan jabatan. 

S + K + A = COMPETENT

Skill dan Knowledge, yang didapatkan dari proses belajar dan pengalaman, akan membuka kesempatan untuk menggali potensi terbaik dalam diri karyawan untuk menyelesaikan tuntutan pekerjaannya. 

Sementara Attitude lah yang akan menentukan setinggi, sebaik dan sebagus apa kualitas karyawan dalam mencapai target kinerjanya. 

Membangun Skill dan Knowledge ini adalah  tanggungjawab organisasi dan Leaders dalam memfasilitasi proses belajar.

Mengasah Attitude adalah tugas Leader untuk menginspirasi dan membangun awareness anggota team-nya. 

 "The future belongs to the competent.
Get good, get better, be the best!"
- Brian Tracy

BOTTOM LINE PENJUALAN




Saat bisnis sudah berjalan lancar, sistem sudah dibangun sedemikian rupa untuk mensupport dan menghadirkan mekanisme proses bisnis, maka tentu saja langkah selanjutnya adalah melakukan ekspansi atau scale up.

Setidaknya ada 2 syarat utama bisnis dapat di-scale up.

Pertama, bisnisnya sendiri dapat di-scale up. Manajemennya, sumber dayanya, mesin-mesinnya, permodalanya, dan mekanismenya.
Kedua, marketnya dapat di-scale up. Sudah merupakan syarat mutlak terjadinya jual beli. Yaitu ada yang membutuhkan produk bisnis, baik berupa barang dan jasa. Ada yang menjual, maka ada yang membeli. Market yang siap menyerap produk bisnis harus ada. Jika tidak ada, maka harus diadakan.

Nah, adakalanya proses scale up ini memerlukan persiapan dan keteraturan pada bisnis. Karena jika tidak, maka scale up yang dilakukan hanya akan menemui kendala, kerumitan, atau bahkan akan menyeret kepada kesulitan yg dapat berujung pada bubarnya bisnis. BANGKRUT!!!

Selain mempersiapkan tentang sistem, maka salah satu hal penting yang juga harus diperhatikan adalah kemampuan untuk merasionalkan target yang telah ditentukan. Sudah menjadi keharusan, proses scale up dimulai dari keberanian Sang Leader untuk BERPIKIR BESAR. Memikirkan hingga di atas batas kemampuannya membayangkan. Siap gagal, perseverance, persistence. Berorientasi pada hasil. Selalu belajar dari kegagalan yang dialami sendiri, juga belajar dari kegagalan yang dialami oleh orang lain.

Ingin scale up, tentu tidak dapat dilakukan jika cara yang dilakukan adalah membatasi diri untuk selalu beroperasi di zona nyaman, di zona aman. Memang potensi jatuh menjadi lebih kecil, tapi sekaligus juga membatasi diri dari kesempatan untuk mencapai potensi tertinggi yang dapat diraih.

Dalam proses BERPIKIR BESAR, perlu ada GOAL yang jelas dan terukur, yang disetting sedemikian rupa agar senantiasa memotivasi dan terus bergerak ketika rintangan, hambatan, dan tantangan berupaya untuk menggagalkan dan menjatuhkan semangat juang. Ini tentu saja menjadi bahan bakar yang terus memotivasi proses pencapaian agar menjadi semakin bergairah dan terus menggelora. Jika diperkuat dengan keyakinan yang kuat, bukan tidak mungkin GOAL yang ditetapkan dapat dicapai bahkan lebih cepat daripada yang dicanangkan.

Ketika GOAL yang kita pancangkan adalah terkait OMZET, maka kita perlu menyusun BOTTOM LINE PENJUALAN. Apakah itu ?

BOTTOM LINE adalah sebuah idiom yang biasa digunakan untuk menentukan THE ULTIMATE RESULT. Hasil akhirnya. Atau dapat juga diartikan sebagai point utama atau faktor krusial. Atau jika diartikan secara bebas:
"Apapun tindakan dan kegiatan yang harus dilakukan, yang penting hasil akhirnya akan seperti itu"

Di dalam dunia akuntansi, BOTTOM LINE adalah merupakan istilah yang digunakan dan mengacu pada jumlah nilai akhir dari laporan keuangan. Ada 3 bottom line akuntansi yang lazim digunakan : Net Profit (NP), Operating Cashflow (OCF), dan Return On Asset (ROA).

Lantas bagaimana jika istilah BOTTOM LINE tersebut digunakan pada GOAL yang berbentuk target OMZET ?
Maka dapat digunakan faktor-faktor sebagai berikut :

01. Berapa Jumlah Uang Yang Masuk
    Dalam aktivitas penjualan, ada kalanya terjadi kegiatan yang tidak selalu sama antara pengakuan penjualan dan uang yang masuk ke bisnis kita. Hal ini disebabkan karena adanya proses transaksi yang tidak tunai, yang menyebabkan terjadinya hutang dan piutang. Maka perlu kita perhatikan berapa uang yang masuk dari proses penjualan yang terjadi di bisnis kita. Sebagai salah satu faktor penting performa penjualan itu sendiri.

02. Berapa Jumlah Unit Terjual
    Mendefinisikan target jumlah unit terjual sangat membantu banyak hal. Ke sisi hulu, kita menjadi tahu berapa bahan baku yang harus disiapkan, berapa suplier yang harus dihadirkan, berapa lama dan rumit proses produksi yang harus dijalankan, berapa banyak ruang gudang penyimpanan yang harus disediakan, berapa banyak armada distribusi yang harus dipersiapkan. Dan hal lain terkait jumlah unit terjual.
    Sementara ke sisi hilir, kita menjadi mampu mendefinisikan berapa lead market yang harus dikumpulkan, berapa conversion rate yang harus dicapai, berapa agen dan distributor yang harus direkrut, berapa toko yang harus dibuka, berapa outlet yang harus dibangun, berapa cabang yang harus diaktifkan, berapa marketer yang harus digerakkan, berapa area geografi yang harus ditangani, dan lain sebagainya.

03. Berapa Jumlah Transaksi
    Definisikan Jumlah Transaksi, secara total, maupun secara rata2 per customer. Dan pahami berapa average sales yang harus mampu didapatkan. Ini tentu penting untuk mengarahkan divisi sales and marketing untuk merumuskan strategi terbaik mereka. Merancang strategi upselling, membangun relationalship, menjalin interaksi dengan customer.
    Untuk  meningkatkan jumlah transaksinya cara yang dapat dilakukan adalah membuat customer bertransaksi lebih banyak, dan atau menambah jumlah customer yang bertransaksi. Misalnya mereka yang biasanya bertransaksi hanya 1 minggu sekali, maka didorong agar bertransaksi 1 minggu 2 kali. Sementara meningkatkan average sales dapat dilakukan dengan cara memperbesar nilai pembelian sekali transaksi. Biasanya belanja 50 ribu, didorong agar menjadi 100 ribu dalam sekali belanja.

04. Berapa Jumlah Customer
    Hitung berapa data customer yang pernah bertransaksi dengan bisnis kita. Periksa kapan mereka terakhir kali bertransaksi. Definisikan berapa orang yang tertarik/tahu terhadap produk bisnis kita, namun masih belum juga melakukan transaksi. Hitung berapa market size, hitung berapa market share. Eksplorasi market, lakukan penetrasi, himpun database customer baru. Selanjutnya rumuskan conversion rate. Presentasi dari leads yang dapat dijadikan pelanggan. Customer yang bersedia bertransaksi dengan bisnis kita.

Memang strategi apa saja dapat dilakukan oleh bisnis kita. Yang penting ujung-ujungnya mampu mencapai GOAL OMZET yang telah ditetapkan. Menghadirkan pula BOTTOM LINE PENJUALAN di atas tentu sangat membantu mempermudah bisnis untuk menentukan target-target turunan yang dipecah-pecah bahkan hingga dalam satuan hari.

Artikel ini ditulis berdasar pada BOTTOM LINE PENJUALAN yang telah dirumuskan oleh Grand Master G-Coach Dr. Imam Elfahmi.

Semoga bermanfaat.

SALAM GROUNDED !!!

KLIK : https://linktr.ee/salimsuharis

Senin, 21 Juni 2021

MEMAKSIMALKAN REPEAT ORDER 

‌Begini, 
Jualan gak mesti mencari pelanggan baru terus-terusan. 

Jika produk kawan kawan adalah produk yang konsumtif, atau bisa juga kawan kawan  memiliki produk lebih dari 1 macam. Maka repeat order atau pembelian ulang wajib ada dalam target penjualan Anda. 

‌Sebelum masuk ke materi, Saya ingin kawan kawan  membayangkan enaknya ada aktivitas repeat order. 

‌Orang yg membeli 1 kali Sebutannya adalah buyer. Orang yang membeli lebih dari 1 kali adalah customer. Orang yg membeli berkali kali sebutannya Fans. 

‌Bayangkan jika Anda memiliki banyak customer?

Kawan kawan  dijamin tidak paceklik pendapatan. Apalagi jika ada fans yang loyal terhadap produk kawan kawab . Jangan ditanya, setiap ada produk terbaru mereka siap membeli. 

Bukan kawan kawan  lagi yang mengejar pembeli. Tapi pembeli mengejar kawan kawan . 

‌Faktanya, 
membuat pembeli membeli ulang, itu usahanya 6x lebih mudah dari mencari pembeli baru lho :D 

Jadi, selain fokus mencari pelanggan baru, fokuslah pada aktifitas repeat order juga ya. 

‌Nah, Bagaimana caranya? 

Pertama, 
pastikan buyer Anda mendapat pengalaman memuaskan saat belanja. 

Orang hanya puas jika mendapatkan lebih dari ekspetasinya. 

Lalu, sebisa mungkin kawan kawan . 
- Fast respon 
- Ramah 
- memberikan bonus jika bisa 
- memanggil namanya 
- meminta maaf jika ada komplain 
- mengatakan terimakasih 
- memberikan emot senyum dalam percakapan 

Pastikan materi yang pertama kawan kawan  lakukan, jika tidak teknik-teknik berikutnya tidak akan berguna. 

‌Kedua, 
berikan voucher dengan tengat waktu. 

Potong keuntungan yang Anda dapatkan. Misal Anda untung 50ribu. Potong setengahnya. 

Kebiasaan orang-orang terutama wanita, tidak akan menyianyiakan voucher yang mreka dapatkan. Walaupun untung berkurang. Anda tetap untung juga, hehe. 

‌Ketiga, 
sapa dengan tujuan Follow Up 

Jangan jadi penjual hit dan run. Setelah jual langsung cuek. Simpan database pembeli kawan kawan. Sapa mereka apalagi dihari raya, berikan edukasi rutin, kabari jika ada diskon 

intinya bangun hubungan. 

‌Paham? 
Sip! Praktek ya. :)

Jumat, 18 Juni 2021

B T S

BTS

Menurut Forbes, setidaknya ada 7 (tujuh) perspektif yang paling efektif digunakan untuk jualan.

Salah satunya adalah popularity.

Simple-nya, suatu produk itu efektif dijual ketika ia "terkonfirmasi" populer. Menurut perspektif herd mentality, manusia paling sering dipengaruhi tindakan manusia lainnya. Artinya, kita memang diciptakan dengan potensi ikut-ikutan.

Terkonfirmasi populer bisa dilakukan dengan dua cara.

Cara pertama, natural popular. Produk laku dimulai dari mulut ke telinga (gak mungkin kan, mulut ke mulut). Jadi bahan omongan lokal, lalu nasional, dan mungkin mendunia. 

Keuntungannya? Untung besar tanpa keluar banyak iklan. Kelemahannya? Waktunya lama dan belum tentu terjadi pada semua produk.

Contohnya? DAGADU, Eiger, Kartika Sari. Produk-produk lokal yang tumbuh dari nol. Dipopulerkan oleh para konsumennya ke konsumen lain.

Cara kedua, instant popular. Produk dipopulerkan lewat iklan yang menggunakan sosok populer. 

Keuntungannya? Produk lebih cepat naik daun, lebih cepat laku. Kelemahannya? Harus punya uang banyak untuk membayar sosok populer dan biaya iklannya.

Contohnya? BTS Meal. 

Yang harus dicatat, McDonald's memahami BTS bukan hanya dari segi kepopulerannya. Tapi potensi word of mouth-nya. 

Word of mouth ini penting karena, dengan begitu, produk akan populer karena dibicarakan. BTS punya fans garis keras yang disebut "Army." Fans inilah yang akan "memastikan" BTS Meal naik dan dibicarakan. 

Jadi, sebenarnya McDonalds bukan hanya "membeli" BTS, melainkan juga Army. 

Ini juga alasan kenapa tidak semua artis atau selebriti efektif digunakan untuk mengangkat popularitas produk. Ada artis yang populer tapi tidak punya fans garis keras. Fans yang siap membelanya mati-matian dan mempromosikan tanpa pamrih. 

Ini bisnis berbasis excitement. Produk boleh tampak standar, maka excitement-nya yang dibesar-besarkan. Pembelian akan terjadi bukan karena produk, tapi karena excitement atas siapa yang mengiklankan.

Wajah industri ya begini. Dikelola oleh orang-orang "pintar" dan berduit. Inilah juga sebabnya saya paling malas ikut tren beginian. Nol rasa penasaran. Karena sudah tahu ini cuma trik jualan. Ini cuma rumus marketing jadul.  

Saya lebih percaya produk yang laku secara natural. 

Karena produknya diiklankan langsung oleh konsumen yang tidak punya tendensi apa pun.

Nasi Padang, misalnya. Mau diiklankan gak diklankan, rasanya uwenak. Variasi pilihan. Selalu di hati banyak orang. Nasional maupun internasional.

Iya kan?

Kamis, 17 Juni 2021

SUDAH SEMPURNA KAH KITA


Ideal kehidupan manusia adalah kesempurnaan Tuhan, artinya dalam menjalani hidup ini kita berpatokan pada kesempurnaan itu sendiri. Namun kesempurnaan hanya milik Tuhan, oleh karena itu untuk mendekati kesempurnaan kita perlu etos yang konsisten supaya tetap bigger, higher, better! Kita perlu bekerja dengan tekun dan serius, kita perlu terus melakukan inovasi, terus belajar, supaya mendekati kesempurnaan. Karena sekali lagi, kesempurnaan hanya milik Tuhan, sedangkan manusia perlu kemajuan yang sifatnya berkelanjutan.

BMW seri 7 misalnya, kesempurnaan yang kita lihat pada mobil tersebut tidak lahir dengan dua-tiga langkah pengembangan saja. Butuh sekian dekade untuk mencapai level kesempurnaan tersebut. Soekarno, Bapak Proklamator kita pun mencapai level kesempurnaanya sebagai Presiden RI dengan kemajuan berkelanjutan sedari kecil. Sekolah, belajar pidato, membaca buku, dan lainnya itu. Ethosian tentu pernah dengar istilah “in search of perfection”, dan itu adalah bukti bahwa manusia memiliki kerinduan untuk mendekat kesempurnaan.

Maka, apabila tujuan Ethosian dalam membangun sebuah bisnis atau karir belum berhasil luar biasa dan belum mencapai level kesempurnaan idaman, janganlah terlalu diambil pusing, karena semua akan indah pada waktunya asalkan kita tetap bersemangat melakukan kemajuan yang berkelanjutan, dengan Etos 7 tentunya: Kerja adalah Kehormatan; Aku Bekerja Tekun Penuh Keunggulan.

Kamis, 10 Juni 2021

BAGAIMANA KAMU MENETAPKAN HARGA JUAL


Ada beberapa cara pengembang menetapkan harga jual tanah/m2.
Ada yg berdasarkan:
* Kompetitor disekitar
* Ada yg mentapkan harga perolehan tanah dikali 3 atau dikali 5 dll.
* Ada yang sekedar berdasarkan quick count

Sejatinya menetapkan harga jual, dalam bisnis apapun, termasuk pricing tanah, yang aman adalah setelah kita dpt menghitung HPP sebuah product.

Setelah mengetahui HPP, selanjutnya menentukan harga jual, tentu harga jualnya diatas HPP/m2.

Namun perhitungan HPP akan benar, jika seorg estimator project bisa menghitung semua item komponen cash out.
Di dalam perhitungan HPP ada 3 hal yg harus benar perhitungannya:
* Di pastikan semua item cash out sdh masuk.
* Di pastikan perhitungan volumenya benar.
* Di pastikan harga satuannya benar.

Maka menghitung HPP dlm pembuatan cashflow adalah salah satu kunci keberhasilan proyek..
Ingat yah hanya SALAH SATU keberhasilan..
Masih byk faktor yg lain..

Bagi yg blm memiliki hitungan cashflow, segera evaluasi, semoga sj pricingnya tdk salah..
Jika salah, segera evaluasi harga, agar cashout project bisa di backup oleh omzet/cashin..

Allahumma yassir wala tu'assir...

Senin, 07 Juni 2021

HYPE SEPEDATELAH LEWAT



Sepeda adl "ANAK KANDUNG" pandemi, dibesarkan di masa pandemi. 

Ketika byk bisnis berguguran di masa pandemi, bisnis sepeda justru BOOMING: 

+ Bersepeda mjd sesuatu yg COOL n mjd ajang pamer gaya hidup 

+ Harganya melejit nggak masuk akal krn "DIGORENG" habis2an tp pembeli ngantri. 

+ Brand2 lokal sprti Element, Polygon, or Pacific RIDING THE WAVE n menikmati upnormal profit. 

Surprise jg membaca berita di atas, bhw era kejayaan n masa bulan madu sepeda telah lewat. 

Inilah yg disebut product lifecycle (PLC). Bentuk kurvanya berupa lonceng (BELL CURVE): dr produk lahir, balita, dewasa, mjd "mainstream market" dan akhirnya menua n sirna. 

Tapi dlm kasus "boom sepeda" (dan bisnis2 heboh lainnya) bentuknya bukan "kurva lonceng" tp "kurva sirip hiu" (SHARK-FIN CURVE). Dmn kurva lonjong ke kiri, melonjak secara eksponensial, habis itu turun secara terjun bebas, n akhirnya sirna. 

Di dunia teknologi, boom produk baru dg pola "Kurva Sirip Hiu" ini dialami oleh MySpace, Blacberry, Pokemon Go, n terakhir Clubhouse. Awalnya heboh luar biasa, lalu meroket eksponensial, tp kmd terjun bebas n lenyap. 

Pola bisnis "boom sepeda" ini mirip. Awalnya di-trigger pandemi, kmd digerakan FOMO (Fear Of Missing Out), diamplifikasi via VIRAL di socmed, shg begitu mudah BUBBLE. Dan ketika buble memuncak, maka "BOOM!!!" balonnya meletus n marketnya terjun bebas. 

50 tahun lalu Andy Warhol bilang, "In the future, everyone will be world-famous for 15 minutes." 

Pertanyannya, akankah bisnis sepeda senasib dgn Pokemon Go or Clubhouse, hanya menikmati "sukses 15 menit" sprti dibilang Warhol n habis itu tiarap? 

Monggo kita diskusikan. 

Follow @yuswohady 

Kamis, 03 Juni 2021

Masih hitung-hitungan dalam bekerja?


Kalau saja dulu saya menolak ditempatkan di bagian yang tidak saya sukai, mungkin saya tidak akan pernah menjadi manajer produksi.

Seandainya saja dulu saya menolak membenahi mesin-mesin dan utilitas yang tidak ada dalam job description, mungkin saya tidak akan pernah dipromosikan menjadi factory manager.

Seandainya saja dulu saya menolak merangkap jabatan untuk juga memimpin tim penjualan yang ditinggalkan expatriate, karena alasan tidak punya passion di bidang sales, saya mungkin tidak akan pernah mendapatkan kursi General Manager.

Seandainya saja dulu saya menolak ketika diminta membenahi perusahaan yang sedang "sakaratul maut", mungkin saya tidak akan pernah menikmati enaknya duduk sebagai direktur.

Seandainya saya dulu menolak mengajar karena alasan tidak punya pengalaman mengajar, mungkin saya tidak akan pernah menjadi trainer profesional.

Seandainya saya dulu menolak diexport untuk mengajar di luar negeri dengan alasan bahasa Inggris nya belepotan, mungkin saya tidak akan pernah merasakan nikmatnya jalan ke berbagai belahan negara di dunia

Seandainya......... ahhh gak habis2 nanti ceritanya.

Pokoknya Jangan pernah menolak melakukan tugas apapun yang diberikan oleh atasan!
Karena kita tidak tahu apa yang sedang direncanakannya untuk kita.

repost (24/01/2017)