Kamis, 30 Desember 2021

๐Œ๐„๐๐˜๐ˆ๐€๐๐Š๐€๐ ๐Œ๐€๐‘๐Š๐„๐“๐ˆ๐๐† ๐’๐“๐‘๐€๐“๐„๐†๐˜ ๐’๐„๐“๐€๐‡๐”๐ ๐๐„๐๐”๐‡


Semua diawali dengan strategi.
Begitu juga dengan marketing sebuah perusahaan.

Kalau perusahaan awal banget, seperti perusahaan rintisan, atau launching product baru di awali dengan Go To Market strategy biasa kita sebut sebagai GTM.

Goal utama dari GTM adalah memastikan produk kita ketemu dengan customer idealnya.
Ideal customer ini bukan hanya suka dengan produk kita, tapi juga punya cukup buying power untuk membayar harga dari value produk kita.
Ini artinya Product Market Fit stage 1 sudah ditangan.

Kalau product sudah ketemu market, sudah kawin dengan customer idealnya strategi marketing berkembang menjadi Growth Strategy.
Bagaimana menumbuhkan market dalam dua arah, Horisontal dan Vertikal.
Secara horisontal ada dua tahapan.
Pertama dengan menambah jumlah pelanggan yang memiliki karakter sama dengan pelanggan ideal kita.
Kedua, menemukan segmen pelanggan ideal yg lain yg belum tergarap di proses pencarian Product Market Fit yang pertama.

Secara vertikal ada dua tahapan yang harus dilakukan adalah
1. Meningkatkan retention rate, membuat pelanggan stay lebih lama
2. Meningkatkan buying frequency, membuat mereka membeli lebih sering, memperpendek siklus pembelian
3. Meningkatkan basket size, baik dengan upselling, membuat pelanggan membeli lebih banyak, atau cross selling membuat pelanggan membeli varian produk yang lain.


#digitalmarketing2022

๐—ข๐—บ๐˜€๐—ฒ๐˜ ๐—ฃ๐—ฟ๐—ผ๐—ณ๐—ถ๐˜ ๐—”๐˜€๐˜€๐—ฒ๐˜


“Ashbahna wa ashbahal mulku lillฤhi wal hamdu lillahi, la ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai‘in qadir. 

Rabbi, as’aluka khaira ma fi hadzihil lailata wa khaira ma ba‘daha, wa a‘udzu bika min syarri ma fi hadzihil lailata wa khaira ma ba‘daha. 

Rabbi, a‘udzu bika minal kasli wa sลซ’il kibari. A‘ลซdzu bika min ‘azabi fin nari wa ‘adzฤbin dil qabri.”

Artinya: "Kami dan kuasa Allah berpagi hari. Segala puji bagi Allah. Tiada tuhan selain Allah yang maha esa, tiada sekutu bagi-Nya. 

Bagi-Nya segala kuasa dan puji. Dia kuasa atas segala sesuatu. Tuhanku, aku memohon kepada-Mu kebaikan malam ini dan malam sesudahnya. 

Aku memohon perlindungan-Mu kejahatan malam ini dan malam sesudahnya. Tuhanku, aku memohon perlindungan-Mu dari kemalasan dan keburukan masa tua. 

Aku memohon perlindungan-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur."

Selasa, 28 Desember 2021

๐Š๐”๐๐‚๐ˆ ๐๐„๐‘๐“๐€๐Œ๐€ ๐Š๐„๐€๐Œ๐€๐๐€๐ ๐…๐ˆ๐๐€๐๐’๐ˆ๐€๐‹



Kalau ditanya, apa kunci pertama agar kita aman secara finansial, jawabannya adalah: cash flow yang positif. Cash flow yang positif artinya jumlah pengeluaran lebih kecil dari jumlah pemasukan. Lalu, bagaimana mencapai cash flow yang positif ini? Hanya dua cara:

1. Menyederhanakan pengeluaran;
2. Meningkatkan penghasilan.

Untuk menyederhanakan pengeluaran:
- Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Bedakan pula kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.
- Bila penghasilan terbatas, fokus pada kebutuhan primer saja dulu. Hitung, berapa minimal uang yang perlu dimiliki untuk menutupi kebutuhan primer.
- Hidup berdasar anggaran yang sudah direncanakan. Caranya banyak, bisa dengan sistem amplop harian atau buat aturan hanya boleh ke ATM seminggu sekali.
- Hati-hati dengan belanja online. Uang digital seringkali nggak terasa berat dalam mengeluarkannya.
- Usahakan belanja dengan uang tunai, bukan kartu. Meski memudahkan, uang non tunai nggak terlihat besar saat kita keluarkan.
- Hindari utang berbunga (kartu kredit, pinjol, paylater, dll). Bagaimana dengan utang tanpa bunga? (Misal: pinjam teman) Boleh, asal siap bayar. Namun, ingat prinsip ini: Jangan membeli sesuatu dengan uang yang belum ada di tangan. 
- Jangan tergoda dengan peluang investasi atau peluang bisnis yang tidak jelas. Pegang erat-erat dompet Anda. Di luar sana banyak orang menginginkan isi dompet Anda dengan memberikan iming-iming.
- Sadari dua penyebab uang hilang yang utama: kerakusan dan kebodohan.

Untuk meningkatkan penghasilan:
- Pastikan punya kran penghasilan utama. Meskipun wiraswasta, pikirkan sumber penghasilan tetapnya dari mana.
- Pikirkan cara memberbesar kran penghasilan utama ini. Apakah dengan minta naik posisi, naikkan harga, atau memperbanyak jumlah pelanggan.
- Bila tidak memungkinkan memperbesar kran penghasilan utama, pikirkan untuk menghasilkan sumber penghasilan tambahan. Bisa dengan bekerja sampingan, jual jasa, jual produk, jadi reseller atau apapun. Meski sampingan, kelola dengan “serius.” Luangkan waktu khusus untuk mengurusnya.
- Jangan terlalu banyak punya pekerjaan sampingan jika pekerjaan utama belum punya. Fokus saja dulu membentuk sumber penghasilan utama. Tekuni satu bidang yang paling potensial. Kesalahan pemula adalah berusaha menghasilkan multiple streams of income sementara main streams of incomenya belum ada.
- Jangan bermimpi dapat penghasilan dari investasi. Investasi membutuhkan waktu untuk menghasilkan. Mulai berinvestasi boleh, tapi jangan bermimpi langsung dapat penghasilan dari sini.
- Lupakan passive income bila kita tidak paham cara kerja sebuah bisnis.


#cerdasfinansial

Senin, 13 Desember 2021

HAWNAN LEADERSHIP



14 abad yang lalu dunia dikejutkan oleh kepemimpinan Nabiullah Muhammad shalallahu'alaihi wassalam. Dalam kurun waktu 20 tahunan lebih sedikit, Beliau berhasil membangun komunitas kaum muslimin yang nantinya efektif memimpin dunia.

Tak berselang kurang dari 10 tahun sepeninggalan Nabi, peradaban Islam membebaskan puluhan juta kilometer persegi di area Romawi dan Persia. Sebuah kejutan besar, karena peradaban bersinar ini dimulai dari area gurun, tak bersumber daya, tertinggal dan tidak diperhitungkan.

Bangsa Romawi dan Persia itu terhentak kaget. Mereka kira pembebasan yang dilakukan oleh kaum muslimin itu dikomandoi oleh istana megah dan penuh persenjataan, ternyata berawal dari sebuah masjid yang sederhana. Bahkan tanpa atap, tanpa kubah, tanpa ornamen apa-apa.

Mereka kira kaum muslimin dipimpin oleh seorang Raja yang bersinggasana emas, berjubahkan sutra, duduk diatas permadani. Ternyata kaum Muslimin sedari awal dipimpin oleh Nabiullah Muhammad shallallahu'alaihiwassalam. Sosok yang bisa ditemui siapa saja, sosok yang tak bersinggasana, sosok yang hidup bersama orang lemah.

Pun setelah khalifah kedua Umar bin Khattab RA, Umar Radhiyallahu'anhu juga tetap sederhana, memberi komando ke seluruh kaum muslimin dari bawah pelepah kurma atap Masjid Nabawi. Sesederhana itu para pembebas dunia ini.

Inilah Hawnan Leadership, adalah manifestasi dari karakter seorang Hamba,

ูˆَุนِุจَุงุฏُ ุงู„ุฑَّุญْู…ٰู†ِ ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ูŠَู…ْุดُูˆْู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุงَุฑْุถِ ู‡َูˆْู†ًุง ูˆَّุงِุฐَุง ุฎَุงุทَุจَู‡ُู…ُ ุงู„ْุฌٰู‡ِู„ُูˆْู†َ ู‚َุงู„ُูˆْุง ุณَู„ٰู…ًุง

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. --- Q.S Al-Furqan [25] : 63

Mari kita berfokus ke kalimat ini : 

ูŠَู…ْุดُูˆْู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุงَุฑْุถِ ู‡َูˆْู†ًุง

Mereka berjalan diatas muka bumi ini dengan rendah hati. Hawnan. Ha wa na. Tenang, anteng, gak petantang petenteng.

Inilah refleksi kepemimpinan yang kemudian dijalankan Nabiullah Muhammad Shallallahu'alaihi wassalam, dan diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin setelahnya.

Seorang pemimpin yang bersedia memberikan orang buta. Seorang pemimpin yang memikul gandum untuk ummatnya. Seorang pemimpin yang selalu hadir di Masjid Nabawi, mendengarkan keluh kesah warganya. Seorang pemimpin yang gemar bermusyawarah, merendah, berkenan menyimak pendapat saudaranya.

Pada kepemimpinan merendah inilah, terhimpun berbagai kemuliaan. Berhimpunnya dukungan, berhimpunnya sumber daya, berhimpunya keberkahan.

14 abad yang lalu, kepemimpinan merendah ini terbukti berhasil memimpin dunia, menjadi sinar kepemimpinan peradaban, yang akhirnya menarik Romawi Timur dan Persia untuk masuk dalam ruang pelayanan kaum muslimin.

***

Hari ini jargon leadership terkadang mendewa-dewakan ketinggian. Bos yang serba bisa, bos yang mulia, bos yang tidak ada salahnya, bos yang harus dituruti. Kepemimpinan dengan basis ego tinggi ini sebenarnya biang dari segala masalah.

Owner bisnis yang sok tahu, sulit mendapatkan masukan. Dunia yang sudah berubah pun terus disangkal. Imajinasinya masih berkutat di masa lalu. Dikasih masukan gak bisa.

Pemimpin bisnis yang meninggi susah dijangkau. Terkadang gak menjejak ke bumi. Tim dibawah sudah babak belur, imajinasinya masih saja melayang-layang gak menjejak, akibat jarang turun ke bawah, merasa spesial, merasa istimewa, sehingga hidup dalam penjara eksklusifitas. Kehilangan data valid.

Pengusaha yang merasa tinggi akan kehilangan kerendah hatian. Suasana hubungan yang humble akan sulit terasa. Ini yang akan membuat sumber daya menjauh, dukungan menjauh, karena aroma arogan dan dominan ketinggian egonya tercium keras di para mitra.

Pemimpin yang memutuskan hidup di puncak gunung memang akan tidak punya apa-apa dan kesepian. Di puncak gunung memang tidak ada apa-apa. Oksigen kurang, tumbuhan jarang, apalagi pemukiman. Pemimpin ego puncak akan nestapa.

Berbeda dengan Pemimpin Hawnan, pemimpin yang memutuskan hidup di lembah rendah. Pemimpin seperti ini akan penuh sumber daya, penuh saya dukung, penuh pertemanan. Karena di lembahlah semuanya terhimpun.

Dalam lembah yang rendah itu, air di gunung pun jatuh ke bawah, binatang gemuk pun hadir ke lembah, minum ke sungai. Tanaman pun subur-subur, penuh biji-bijian dan buah-buahan. 

Inilah kunci rahasia Hawnan Leadership. Sudah saatnya kita dengungkan kembali konsep kepemimpinan Nabi yang melembah, bukan memuncak.

***

Masjid Kapal Munzalan bisa jadi salah satu masjid modeling terbaik di negeri ini. Dengan raihan ziswaf 10M lebih per bulan, dan memiliki jaringan Baitul Maal serta gerakan di lebih dari 100 kota, saya insyaAllah gak berlebihan jika menobatkan masjid ini sebagai masjid terdepan di negeri ini.

Masjid yang kemudian memotori hadirnya 850 beras bagi ribuan pondok penerima manfaat dari Infaq Beras. Gerakannya ya dimulai dari Masjid ini.

Dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun, Masjid Kapal Munzalan menjelma menjadi "Masjid Franchise" pertama yang ada di negeri ini. Tiba-tiba ada puluhan titik Masjid Kapal Munzalan di negeri ini. Jakarta, Bogor, Jogja, Balikpapan, Bone, Pinrang, Pare-pare, dan menyusul di berbagai kota lainnya.

Jika kita mencoba untuk bermukim di Masjid Kapal Munzalan Pontianak dalam dua pekan saja, setidaknya hampir setiap pekan hadir wakaf tanah dan wakaf kendaraan. Non stop. Silih berganti.

Maka cobalah lihat bagaimana Kepemimpinan Masjid Kapal Munzalan ini dijalankan. Silakan disimak bagaimana rendah hatinya sang Founder Masjid, Tok Ya, Abangda Muhammad Nur Hasan . Yang saking rendah hatinya menyerahkan pengasuhan masjid yang beliau wakafkan ke Kiyai Luqman

Dan lihatlah Kiyai Luqmanulhakim, yang dengan kerendah hatiannya meleburkan gerakan infaq berasnya ke Masjid Munzalan. Meleburkan gerakannya, meleburkan dirinya, bahkan ridho menurunkan nama Ashabul Yamin sebagai gerakan awal beliau.

Melihat kepemimpinan Masjid Munzalan, Anda hanya menemukan kerendah hatian dari para pemimpinnya, itu yang membuat mereka besar. Mereka adalah pemimpin yang memutuskan melembah, mendengarkan, menghargai, memuliakan orang lain. Jauh dari tabiat meninggi.

***

Tulisan oleh ustad Rendy Saputra

Rabu, 08 Desember 2021

MARKETING ADALAH KONTES CARI PERHATIAN


All companies do marketing. Yes, semua perusahaan punya kegiatan marketing. Ada yang berhasil. Banyak juga yang buang-buang uang mubazir. Jadinya GG. Dan ada juga yang “clueless” ndak faham mau ngapain. The latest one is pathetic. 

So guys, 
what does marketing really means?

Well, intinya menurut Tn. Godin (Marketing Guru) Apapun kegiatan marketingnya, yang dilakukan tujuannya satu aja: BUYING ATTENTION. Yah, beliau bilangnya “marketing is a contest for people’s attention”. 

Marketing itu seperti sebuah perlombaan mencari perhatian. Itu saja katanya. Setelah dapet perhatian, then sales will comes naturally. 

Siapa sih marketers yang akan jadi pemenang dari lomba mencari perhatian ini. Kalau kata Tn. Godin, ada beberapa kriteria pemenangnya (4 types):

— Mereka yang menjual experiences. Yah trend hari ini seperti yang saya tuliskan juga adalah “Do not sell the product, but sell the experiences”. Artinya tujuan utama adalah pengalaman, behasil menjual produk itu sebenernya impact.

— Marketers yang punya prinsip “be a friend to get a friend”. Well yeah, authentic natural to the bone. Ndak pura-pura. Ndak ngasih ekspektasi berlebih. Yes, jika kamu temen saya, saya ndak akan ragu beli dari kamu.

— Marketers yang faham customer centric itu apa. Yes, marketers yang faham apapun produknya dan bagaimanapun tipe pelanggannya yang harus dilakukan adalah “mendengarkan”. It is kinda the important meet the urgent. Wajib dan mendesak.

— Marketers yang selalu faham target market selalu berubah, apalagi hari ini market as you know it udah usang. Artinya wajib update, wajib faham kerumunannya berada dimana. Shifting kemana wajib tahu. Rule of the games harus difahami dengan baik.

Yeah, bisa dipastikan kawan-kawan pasti faham. Hari ini, dilautan pasar yang penuh dengan derau (noise), mau ndak mau para marketers wajib membuat breakthough atau ide-ide segar untuk memenangkan “attention” market. Untuk bisa berdiri megang diatas kerumunan.

Sebenernya intinya sama sih dengan literatur2 yang lain. Fahami pelanggannya dulu, kemudian lakukan engage dengan mereka. Setelah engage they will soon LISTEN YOU. Yes, for sure, then they WILL BUY from you. Gitu sih sikliknya.


Mentalitas Kaya..


Ini tulisan berbobot dari seorang prakitisi Quran.. Alquran bukan hanya sekedar informasi dan teori.. tapi sebagai sebuah petunjuk untuk dipraktekkan

Oleh guru saya Riza Zacharias owner syamil Quran..  jangan lupa follow akun beliau.. yak

MEMILIH CARA KAYA

Tulisan2
(dari 3 bagian)

A’udzubillahiminasysyaithaanirrajiim..
Bismillahirrahmaanirrahiim..

Alhamdulillah, tulisan ke-2 tentang ‘Cara Menjadi Kaya’, kelar juga. 
๐Ÿ˜…๐Ÿ˜๐Ÿ™

Saya mulai dengan langkah yang ke-1. Pondasi (lagi). 

1. Mentality dan Mindset

Sebelum menjadi kaya dalam bentuk berkecukupannya harta, maka yang pertama harus ‘selesai’ adalah, MILIKILAH MENTAL KAYA.

Kalau dah kaya dari lahir? Atau terlanjur kaya, gimana? 
Sama. Cek ulang! Apakah itu seiring dengan sudah dimilikinya mental kaya? Atau belum?

Kalau bicara istilah mental kaya, berarti ada kebalikannya. Ya! Betul banget! Jangan sampai kita malah sebaliknya, memiliki mental miskin. 

Eeee...bentar-bentar. Memangnya bisa, kondisi riil saat ini masih miskin, tapi punya mental kaya? 
Atau sebaliknya, kaya (harta) namun mentalitas miskin.

Ada bangeeet. 

Contohnya:

- Orang yang miskin harta, namun dia kaya hati. Tidak pernah menganggap atau menyimpulkan, bahwa “kemiskinan dalam bentuk harta”, adalah ketetapan ‘harga mati’ dariNYA. Ia tetap husnudzan dan yakin, bahwa DIA adalah sang Maha Pemberi Rezeki terbaik, dan bahwa rezeki terbaiknya tidak harus dalam bentuk harta melimpah. Jikapun sudah maksimal ikhtiar dan belum dapat yang dirasa ‘pantas’, maka mereka punya karakter tetap husnudzan pada Allah.

- Mereka di setiap ada kesempatan memberi atau membantu oranglain, selalu digunakan. Tidak dia sia-siakan. Bahkan jikapun sulit kesempatan itu muncul, dia menjadikan “memberi dan membantu” sebagai bagian dari ‘passion’nya. 

Naaah....
Sebagai muslim, sangat banyak pesanNYA dan pesan RasulNYA, bahwa seorang muslim itu, ‘hakikat’nya mesti “kaya”. Bahkan bukan hanya kaya hati, tapi juga kaya harta.

Allah Swt berfirman: 

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.” 
(QS. Al-Hijr [15]:19-20).

‎ู…َุง ุฃَู†ْุฒَู„ْู†َุง ุนَู„َูŠْูƒَ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ู„ِุชَุดْู‚َู‰ٰ
“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.”
(QS. Thaha: 2)

Di ayat lain, Allah swt berfirman: 
‎ู‡ُูˆَ ุงู„َّุฐِูŠ ุฌَุนَู„َ ู„َูƒُู…ُ ุงู„ْุฃَุฑْุถَ ุฐَู„ُูˆู„ًุง ูَุงู…ْุดُูˆุง ูِูŠ ู…َู†َุงูƒِุจِู‡َุง ูˆَูƒُู„ُูˆุง ู…ِู†ْ ุฑِุฒْู‚ِู‡ِ 
“Dialah yang menjadikan bumi itu MUDAH bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya”. 
(QS. Al-Mulk:15)
Tentang ayat ini, Ibnu Katsir mengatakan: ” Menyebarlah kemanapun kalian inginkan di penjuru-penjuru-Nya, dan berkelilinglah di sudut-sudut, tepian dan wilayah-wilayah-Nya untuk menjalankan usaha dan perniagaan". 

Jika kita memaknai dan yakin akan mutlaknya kebenaran Al Quran, maka kita akan yakin juga bahwa islam sebagaimana karakteristik ajarannya, diturunkan untuk “memudahkan” urusan ummatnya, pengikutnya. 

Jadi inSyaAllah, urusan “Cara Menjadi Kaya” pun jika merujuk panduan Islam (harusnya) tetap kita jalani prosesnya dengan bahagia. 

Ini bukan ngegampangin?
Bukan!
Bukan ngegampangin ataupun prosesnya menjadi gampang. 
Tapii...
inSyaAllah jika memahami panduannya (al Quran, al Islam), mudah-mudahan menjadi jauh lebih mudah. 

Trus, gimana? 
Gini, tetep. 
Mulai dari mentality dan mindset harus benar dulu. 
Bahwa kadar rezeki setiap orang sudah ditetapkanNYA, iya.
Bahwa kita dibikin tidak tahu jatah maksimal rezeki kekayaan kita berapa besar? Iya. 

Sebab:
- Allah suka hambaNya lakukan ikhtiar terbaik.
- Allah cinta dan senang jika hambaNya menghiba memohon, selalu mendekat bergantung padaNya.
- Allah jadikan itu jalan ujian yang mesti dilalui prosesnya, sebagai pembeda mana hambaNya yang mengejar ridhaNya, mana yang tidak berputus asa atas rahmatNya, mana yang berputus asa terhadap rahmatNya. 

Pun, bagaimana sikap hamba saat mudah mendapat harta, atau saat ‘sulit’ mendapatkannya, 
- apakah yang mudah dapat dan atau banyak dapat tetap pandai bersyukur? 
Atau jadi lupa diri merasa karena kepandaian dan kerja hebatnya sajalah maka dia merasa pantas dapat harta banyak? 
- apakah yang sulit dapat atau kurang, tetap husnudzan padaNya dan bersabar? 
Atau malah merasa Allah tidak menyayanginya?

Coba lihat, bagaimana Allah dan RasulNYA, menjadikan Rukun Islam sebagai Pilar ‘sempurna’ nya seseorang menjadi muslim/ah:

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata: 

“Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: 
Islam dibangun diatas lima perkara; 
- bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, 
- menegakkan shalat, 
- menunaikan zakat, 
- melaksanakan haji dan 
- puasa Ramadhan.”
(Riwayat Turmuzi dan Muslim)

Lihat kalimatnya, kadar tekanannya sama. Bagaimana bahwa perintah zakat, perintah haji, amat sangat terkait dengan “kekayaan” (relatif).
Tapi, kongkritnya dua pilar islam itu bisa kita tunaikan, jika kita punya harta. Tidak tergolong mustahik, dan punya harta untuk berzakat dan naik haji.

Apakah kita berani mengatakan, bahwa Allah tidak Maha Mengetahui? Betapa akan ada penganut agamanya yang tinggal di sebuah negara kepulauan yang bernama Indonesia, yang ratusan juta jumlahnya dan mayoritasnya miskin? 

Apakah kita berani menyimpulkan bahwa Allah seolah tidak ‘adil? Membuat aturan yang “sulit sekali” ditunaikan oleh semua penganutnya??

Tidak mungkin kaan? 
Kita yakin Allah Maha Mengetahui, dst..
Tidak mungkin Allah tidak Maha Mengetahui, tidak mungkin Allah tidak ‘adil. 
Itu sebab pengertian mendasar ini mesti kita luruskan! 
Kita luruskan fundamental mentalitas kita, fundamental pemahaman atau mindset kita.

Maka, jika yang boleh tidak zakat dan tidak berhaji adalah mereka muslim yang tidak mampu, bisa kita katakan, bahwa semua rukun islam itu WAJIB ditunaikan, KECUALI bagi yang tidak mampu.

Shalat, wajib berdiri bagi yang mampu, duduk jika sakit. Jika masih ngga bisa maka berbaring. Ngga bisa melafadzkan, maka pakai isyarat. Masih ngga bisa? 
Maka di shalatkan.
๐Ÿ˜…

Shaum, begitu pula. Zakat, sama. Haji? Pun demikian.

Okay. Kita selesai yaa.. di point ini. 
Maka, sebagai muslim, mestinya mentality dan mindset yang kita miliki adalah:

JANGAN MAU JADI MUSLIM YANG KECUALI!

InSyaAllah, menjadi muslim, harus sangat yakin dan bersemangat, oleh sebab (ternyata) dari ‘sononya’ sudah mengemban “misi kaya”. 

Asyiiiik...

Lantas, apalagi?

Di titik ini baru kita pilih lagi. 
KAYA yang BAGAIMANA?

Ini yang kita harus pagari dengan pemahaman, agar kayanya seorang muslim, adalah kaya yang mengundang RidhaNYA.

Iya sih, yang paling utama dan penting adalah Allah ridha sama kita. Semoga, RidhoNya dapat, dan rezeki melimpah untuk kemaslahatan ummat yang besar juga dapat, sebagaimana do’a sakti sejak kecil, 

Robbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar...

Bukan sekedar menjadi kaya harta. Sebab kebutuhan kita segitu-gitunya. Namun harus berpikir, bahwa jika kita kaya untuk diri sendiri, pastilah ada mentoknya. Jika kita kaya untuk bisa membantu sebanyak-banyaknya sesama? Maka visi besar ini akan mengantarkan kita pada upaya membangun kebaikan, membangun peradaban. 

Never ending ikhtiar, never ending ‘semangat’, dan menjadi ibadah inSyaaAllah...

Daaan...kabar baiknya... ada beberapa jalan menuju Kaya. Kita pilh yang mana? 

Tulisan ke-3 inSyaAllah..

Wallahu a’lam

Riza Zacharias

#SyaamilQuran
#MuhammadTeladanku