Rabu, 08 Desember 2021

Mentalitas Kaya..


Ini tulisan berbobot dari seorang prakitisi Quran.. Alquran bukan hanya sekedar informasi dan teori.. tapi sebagai sebuah petunjuk untuk dipraktekkan

Oleh guru saya Riza Zacharias owner syamil Quran..  jangan lupa follow akun beliau.. yak

MEMILIH CARA KAYA

Tulisan2
(dari 3 bagian)

A’udzubillahiminasysyaithaanirrajiim..
Bismillahirrahmaanirrahiim..

Alhamdulillah, tulisan ke-2 tentang ‘Cara Menjadi Kaya’, kelar juga. 
πŸ˜…πŸ˜πŸ™

Saya mulai dengan langkah yang ke-1. Pondasi (lagi). 

1. Mentality dan Mindset

Sebelum menjadi kaya dalam bentuk berkecukupannya harta, maka yang pertama harus ‘selesai’ adalah, MILIKILAH MENTAL KAYA.

Kalau dah kaya dari lahir? Atau terlanjur kaya, gimana? 
Sama. Cek ulang! Apakah itu seiring dengan sudah dimilikinya mental kaya? Atau belum?

Kalau bicara istilah mental kaya, berarti ada kebalikannya. Ya! Betul banget! Jangan sampai kita malah sebaliknya, memiliki mental miskin. 

Eeee...bentar-bentar. Memangnya bisa, kondisi riil saat ini masih miskin, tapi punya mental kaya? 
Atau sebaliknya, kaya (harta) namun mentalitas miskin.

Ada bangeeet. 

Contohnya:

- Orang yang miskin harta, namun dia kaya hati. Tidak pernah menganggap atau menyimpulkan, bahwa “kemiskinan dalam bentuk harta”, adalah ketetapan ‘harga mati’ dariNYA. Ia tetap husnudzan dan yakin, bahwa DIA adalah sang Maha Pemberi Rezeki terbaik, dan bahwa rezeki terbaiknya tidak harus dalam bentuk harta melimpah. Jikapun sudah maksimal ikhtiar dan belum dapat yang dirasa ‘pantas’, maka mereka punya karakter tetap husnudzan pada Allah.

- Mereka di setiap ada kesempatan memberi atau membantu oranglain, selalu digunakan. Tidak dia sia-siakan. Bahkan jikapun sulit kesempatan itu muncul, dia menjadikan “memberi dan membantu” sebagai bagian dari ‘passion’nya. 

Naaah....
Sebagai muslim, sangat banyak pesanNYA dan pesan RasulNYA, bahwa seorang muslim itu, ‘hakikat’nya mesti “kaya”. Bahkan bukan hanya kaya hati, tapi juga kaya harta.

Allah Swt berfirman: 

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.” 
(QS. Al-Hijr [15]:19-20).

‎Ω…َΨ§ Ψ£َΩ†ْΨ²َΩ„ْΩ†َΨ§ ΨΉَΩ„َيْΩƒَ Ψ§Ω„ْΩ‚ُΨ±ْΨ’Ω†َ Ω„ِΨͺَΨ΄ْΩ‚َΩ‰ٰ
“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.”
(QS. Thaha: 2)

Di ayat lain, Allah swt berfirman: 
‎Ω‡ُوَ Ψ§Ω„َّΨ°ِي Ψ¬َΨΉَΩ„َ Ω„َΩƒُΩ…ُ Ψ§Ω„ْΨ£َΨ±ْΨΆَ Ψ°َΩ„ُΩˆΩ„ًΨ§ فَΨ§Ω…ْΨ΄ُوا فِي Ω…َΩ†َΨ§ΩƒِΨ¨ِΩ‡َΨ§ وَΩƒُΩ„ُوا Ω…ِΩ†ْ Ψ±ِΨ²ْΩ‚ِΩ‡ِ 
“Dialah yang menjadikan bumi itu MUDAH bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya”. 
(QS. Al-Mulk:15)
Tentang ayat ini, Ibnu Katsir mengatakan: ” Menyebarlah kemanapun kalian inginkan di penjuru-penjuru-Nya, dan berkelilinglah di sudut-sudut, tepian dan wilayah-wilayah-Nya untuk menjalankan usaha dan perniagaan". 

Jika kita memaknai dan yakin akan mutlaknya kebenaran Al Quran, maka kita akan yakin juga bahwa islam sebagaimana karakteristik ajarannya, diturunkan untuk “memudahkan” urusan ummatnya, pengikutnya. 

Jadi inSyaAllah, urusan “Cara Menjadi Kaya” pun jika merujuk panduan Islam (harusnya) tetap kita jalani prosesnya dengan bahagia. 

Ini bukan ngegampangin?
Bukan!
Bukan ngegampangin ataupun prosesnya menjadi gampang. 
Tapii...
inSyaAllah jika memahami panduannya (al Quran, al Islam), mudah-mudahan menjadi jauh lebih mudah. 

Trus, gimana? 
Gini, tetep. 
Mulai dari mentality dan mindset harus benar dulu. 
Bahwa kadar rezeki setiap orang sudah ditetapkanNYA, iya.
Bahwa kita dibikin tidak tahu jatah maksimal rezeki kekayaan kita berapa besar? Iya. 

Sebab:
- Allah suka hambaNya lakukan ikhtiar terbaik.
- Allah cinta dan senang jika hambaNya menghiba memohon, selalu mendekat bergantung padaNya.
- Allah jadikan itu jalan ujian yang mesti dilalui prosesnya, sebagai pembeda mana hambaNya yang mengejar ridhaNya, mana yang tidak berputus asa atas rahmatNya, mana yang berputus asa terhadap rahmatNya. 

Pun, bagaimana sikap hamba saat mudah mendapat harta, atau saat ‘sulit’ mendapatkannya, 
- apakah yang mudah dapat dan atau banyak dapat tetap pandai bersyukur? 
Atau jadi lupa diri merasa karena kepandaian dan kerja hebatnya sajalah maka dia merasa pantas dapat harta banyak? 
- apakah yang sulit dapat atau kurang, tetap husnudzan padaNya dan bersabar? 
Atau malah merasa Allah tidak menyayanginya?

Coba lihat, bagaimana Allah dan RasulNYA, menjadikan Rukun Islam sebagai Pilar ‘sempurna’ nya seseorang menjadi muslim/ah:

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata: 

“Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: 
Islam dibangun diatas lima perkara; 
- bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, 
- menegakkan shalat, 
- menunaikan zakat, 
- melaksanakan haji dan 
- puasa Ramadhan.”
(Riwayat Turmuzi dan Muslim)

Lihat kalimatnya, kadar tekanannya sama. Bagaimana bahwa perintah zakat, perintah haji, amat sangat terkait dengan “kekayaan” (relatif).
Tapi, kongkritnya dua pilar islam itu bisa kita tunaikan, jika kita punya harta. Tidak tergolong mustahik, dan punya harta untuk berzakat dan naik haji.

Apakah kita berani mengatakan, bahwa Allah tidak Maha Mengetahui? Betapa akan ada penganut agamanya yang tinggal di sebuah negara kepulauan yang bernama Indonesia, yang ratusan juta jumlahnya dan mayoritasnya miskin? 

Apakah kita berani menyimpulkan bahwa Allah seolah tidak ‘adil? Membuat aturan yang “sulit sekali” ditunaikan oleh semua penganutnya??

Tidak mungkin kaan? 
Kita yakin Allah Maha Mengetahui, dst..
Tidak mungkin Allah tidak Maha Mengetahui, tidak mungkin Allah tidak ‘adil. 
Itu sebab pengertian mendasar ini mesti kita luruskan! 
Kita luruskan fundamental mentalitas kita, fundamental pemahaman atau mindset kita.

Maka, jika yang boleh tidak zakat dan tidak berhaji adalah mereka muslim yang tidak mampu, bisa kita katakan, bahwa semua rukun islam itu WAJIB ditunaikan, KECUALI bagi yang tidak mampu.

Shalat, wajib berdiri bagi yang mampu, duduk jika sakit. Jika masih ngga bisa maka berbaring. Ngga bisa melafadzkan, maka pakai isyarat. Masih ngga bisa? 
Maka di shalatkan.
πŸ˜…

Shaum, begitu pula. Zakat, sama. Haji? Pun demikian.

Okay. Kita selesai yaa.. di point ini. 
Maka, sebagai muslim, mestinya mentality dan mindset yang kita miliki adalah:

JANGAN MAU JADI MUSLIM YANG KECUALI!

InSyaAllah, menjadi muslim, harus sangat yakin dan bersemangat, oleh sebab (ternyata) dari ‘sononya’ sudah mengemban “misi kaya”. 

Asyiiiik...

Lantas, apalagi?

Di titik ini baru kita pilih lagi. 
KAYA yang BAGAIMANA?

Ini yang kita harus pagari dengan pemahaman, agar kayanya seorang muslim, adalah kaya yang mengundang RidhaNYA.

Iya sih, yang paling utama dan penting adalah Allah ridha sama kita. Semoga, RidhoNya dapat, dan rezeki melimpah untuk kemaslahatan ummat yang besar juga dapat, sebagaimana do’a sakti sejak kecil, 

Robbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar...

Bukan sekedar menjadi kaya harta. Sebab kebutuhan kita segitu-gitunya. Namun harus berpikir, bahwa jika kita kaya untuk diri sendiri, pastilah ada mentoknya. Jika kita kaya untuk bisa membantu sebanyak-banyaknya sesama? Maka visi besar ini akan mengantarkan kita pada upaya membangun kebaikan, membangun peradaban. 

Never ending ikhtiar, never ending ‘semangat’, dan menjadi ibadah inSyaaAllah...

Daaan...kabar baiknya... ada beberapa jalan menuju Kaya. Kita pilh yang mana? 

Tulisan ke-3 inSyaAllah..

Wallahu a’lam

Riza Zacharias

#SyaamilQuran
#MuhammadTeladanku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar