14 abad yang lalu dunia dikejutkan oleh kepemimpinan Nabiullah Muhammad shalallahu'alaihi wassalam. Dalam kurun waktu 20 tahunan lebih sedikit, Beliau berhasil membangun komunitas kaum muslimin yang nantinya efektif memimpin dunia.
Tak berselang kurang dari 10 tahun sepeninggalan Nabi, peradaban Islam membebaskan puluhan juta kilometer persegi di area Romawi dan Persia. Sebuah kejutan besar, karena peradaban bersinar ini dimulai dari area gurun, tak bersumber daya, tertinggal dan tidak diperhitungkan.
Bangsa Romawi dan Persia itu terhentak kaget. Mereka kira pembebasan yang dilakukan oleh kaum muslimin itu dikomandoi oleh istana megah dan penuh persenjataan, ternyata berawal dari sebuah masjid yang sederhana. Bahkan tanpa atap, tanpa kubah, tanpa ornamen apa-apa.
Mereka kira kaum muslimin dipimpin oleh seorang Raja yang bersinggasana emas, berjubahkan sutra, duduk diatas permadani. Ternyata kaum Muslimin sedari awal dipimpin oleh Nabiullah Muhammad shallallahu'alaihiwassalam. Sosok yang bisa ditemui siapa saja, sosok yang tak bersinggasana, sosok yang hidup bersama orang lemah.
Pun setelah khalifah kedua Umar bin Khattab RA, Umar Radhiyallahu'anhu juga tetap sederhana, memberi komando ke seluruh kaum muslimin dari bawah pelepah kurma atap Masjid Nabawi. Sesederhana itu para pembebas dunia ini.
Inilah Hawnan Leadership, adalah manifestasi dari karakter seorang Hamba,
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. --- Q.S Al-Furqan [25] : 63
Mari kita berfokus ke kalimat ini :
يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا
Mereka berjalan diatas muka bumi ini dengan rendah hati. Hawnan. Ha wa na. Tenang, anteng, gak petantang petenteng.
Inilah refleksi kepemimpinan yang kemudian dijalankan Nabiullah Muhammad Shallallahu'alaihi wassalam, dan diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin setelahnya.
Seorang pemimpin yang bersedia memberikan orang buta. Seorang pemimpin yang memikul gandum untuk ummatnya. Seorang pemimpin yang selalu hadir di Masjid Nabawi, mendengarkan keluh kesah warganya. Seorang pemimpin yang gemar bermusyawarah, merendah, berkenan menyimak pendapat saudaranya.
Pada kepemimpinan merendah inilah, terhimpun berbagai kemuliaan. Berhimpunnya dukungan, berhimpunnya sumber daya, berhimpunya keberkahan.
14 abad yang lalu, kepemimpinan merendah ini terbukti berhasil memimpin dunia, menjadi sinar kepemimpinan peradaban, yang akhirnya menarik Romawi Timur dan Persia untuk masuk dalam ruang pelayanan kaum muslimin.
***
Hari ini jargon leadership terkadang mendewa-dewakan ketinggian. Bos yang serba bisa, bos yang mulia, bos yang tidak ada salahnya, bos yang harus dituruti. Kepemimpinan dengan basis ego tinggi ini sebenarnya biang dari segala masalah.
Owner bisnis yang sok tahu, sulit mendapatkan masukan. Dunia yang sudah berubah pun terus disangkal. Imajinasinya masih berkutat di masa lalu. Dikasih masukan gak bisa.
Pemimpin bisnis yang meninggi susah dijangkau. Terkadang gak menjejak ke bumi. Tim dibawah sudah babak belur, imajinasinya masih saja melayang-layang gak menjejak, akibat jarang turun ke bawah, merasa spesial, merasa istimewa, sehingga hidup dalam penjara eksklusifitas. Kehilangan data valid.
Pengusaha yang merasa tinggi akan kehilangan kerendah hatian. Suasana hubungan yang humble akan sulit terasa. Ini yang akan membuat sumber daya menjauh, dukungan menjauh, karena aroma arogan dan dominan ketinggian egonya tercium keras di para mitra.
Pemimpin yang memutuskan hidup di puncak gunung memang akan tidak punya apa-apa dan kesepian. Di puncak gunung memang tidak ada apa-apa. Oksigen kurang, tumbuhan jarang, apalagi pemukiman. Pemimpin ego puncak akan nestapa.
Berbeda dengan Pemimpin Hawnan, pemimpin yang memutuskan hidup di lembah rendah. Pemimpin seperti ini akan penuh sumber daya, penuh saya dukung, penuh pertemanan. Karena di lembahlah semuanya terhimpun.
Dalam lembah yang rendah itu, air di gunung pun jatuh ke bawah, binatang gemuk pun hadir ke lembah, minum ke sungai. Tanaman pun subur-subur, penuh biji-bijian dan buah-buahan.
Inilah kunci rahasia Hawnan Leadership. Sudah saatnya kita dengungkan kembali konsep kepemimpinan Nabi yang melembah, bukan memuncak.
***
Masjid Kapal Munzalan bisa jadi salah satu masjid modeling terbaik di negeri ini. Dengan raihan ziswaf 10M lebih per bulan, dan memiliki jaringan Baitul Maal serta gerakan di lebih dari 100 kota, saya insyaAllah gak berlebihan jika menobatkan masjid ini sebagai masjid terdepan di negeri ini.
Masjid yang kemudian memotori hadirnya 850 beras bagi ribuan pondok penerima manfaat dari Infaq Beras. Gerakannya ya dimulai dari Masjid ini.
Dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun, Masjid Kapal Munzalan menjelma menjadi "Masjid Franchise" pertama yang ada di negeri ini. Tiba-tiba ada puluhan titik Masjid Kapal Munzalan di negeri ini. Jakarta, Bogor, Jogja, Balikpapan, Bone, Pinrang, Pare-pare, dan menyusul di berbagai kota lainnya.
Jika kita mencoba untuk bermukim di Masjid Kapal Munzalan Pontianak dalam dua pekan saja, setidaknya hampir setiap pekan hadir wakaf tanah dan wakaf kendaraan. Non stop. Silih berganti.
Maka cobalah lihat bagaimana Kepemimpinan Masjid Kapal Munzalan ini dijalankan. Silakan disimak bagaimana rendah hatinya sang Founder Masjid, Tok Ya, Abangda Muhammad Nur Hasan . Yang saking rendah hatinya menyerahkan pengasuhan masjid yang beliau wakafkan ke Kiyai Luqman
Dan lihatlah Kiyai Luqmanulhakim, yang dengan kerendah hatiannya meleburkan gerakan infaq berasnya ke Masjid Munzalan. Meleburkan gerakannya, meleburkan dirinya, bahkan ridho menurunkan nama Ashabul Yamin sebagai gerakan awal beliau.
Melihat kepemimpinan Masjid Munzalan, Anda hanya menemukan kerendah hatian dari para pemimpinnya, itu yang membuat mereka besar. Mereka adalah pemimpin yang memutuskan melembah, mendengarkan, menghargai, memuliakan orang lain. Jauh dari tabiat meninggi.
***
Tulisan oleh ustad Rendy Saputra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar