Minggu, 07 November 2021

LEMBAH KEHAMBAAN


Sudah lama saya diajarkan Kiyai Luqmanulhakim, bahwa hanya pada Lembah Kehambaan lah semua yang baik-baik itu terhimpun, tapi saya susah mudeng. Dan baru akhir-akhir ini saya mulai mengerti. Dan semoga ini ngerti beneran, faham beneran.

Manusia itu diciptakan untuk jadi Hamba Allah, budaknya Allah, Hamba Sahaya, gak merdeka sama sekali. Diurus Allah siang malam, diberi rizky terus menerus, maka dari itu terikat syariat dan harus taat. Wajar.

Posisi Hamba Allah ini ya rendah, harus merendah dihadapan Allah, harus menghinakan diri dihadapan Allah. Maka di surah Al Furqon ayat 63, Allah menyebut Ibadurrahman itu berjalan diatas muka bumi dengan "haunan". Dengan rendah hati. Gak petantang petenteng.

***

Mereka yang rendah hati di muka bumi ini, secara alami akan jadi orang yang menyenangkan, karena sombong itu memuakkan, muji-muji diri itu bikin eneg, ngomongin kehebatan diri juga bikin mual.

Maka mereka yang menyetel batinnya rendah hati, menghargai orang lain, mendengarkan orang lain, selalu menganggap orang lain bisa jadi lebih mulia dari dirinya, akan jadi sosok yang menyenangkan.

Begitulah Kiyai Luqman, sosoknya menyenangkan, setiap ada orang yang menyampaikan sesuatu, beliau dengarkan seksama, bahkan tokoh-tokoh yang bisa jadi gak lebih populer dari dirinya, beliau resume ceramahnya.

Sikap rendah hati begini bikin mereka banyak teman, akhirnya banyak sahabat, akhirnya banyak daya dukung, akhirnya banyak hadir kekuatan. Aneh, tapi inilah Operating System Ilahi (OSI) makin merendah, makin ditinggikan Allah. Makin kuat.

***

Mereka yang merasa bahwa ilmunya terbatas akan sangat serius mendengarkan orang lain. Berbeda dengan yang sok pintar, sok sarjana, sok master, sok doktor. Merasa sudah kuliah lama, merasa pintar, sehingga gak mau mendengarkan dan gak mau belajar lagi.

Saya banyak menemukan rekan Doktor yang humble. Pintarnya luar biasa, tapi kalo kita lagi sampaikan sesuatu, dia mendengarkan seperti anak kecil polos yang gak ngerti apa-apa.

Melihat teman doktor semangat mendengar seperti ini, apa yang ada di fikiran kita jadi keluar semua. Hasil skor akhirnya, malah Pak Doktor ini yang akhirnya dapat pengetahuan baru. Buah dari kerendah hatian.

Maka wajar saja, yang merasa pintar dan sok tahu, kadang hidupnya gam kemana-mana, karena yang dipelajari adalah buku cetakan tahun 70an yang gak update sama sekali. Sudah menyimak pengetahuan dan wawasan baru.

Berbeda dengan yang melembahkan diri dalam perasaan merasa bodoh, merasa terbatas, merasa untuk terus menerus butuh ilmu, pastilah lebih mudah menghimpun pengetahuan.

Keanehan terjadi lagi, tapi inilah sistem operasi ilahi robbiy, yang merasa bodoh, Allah akan ajarkan ilmu nya. Wattaqullaha, wayu'allimukumullah.

***

Mereka yang merasa kaya, lalu mempertunjukkan kekayaan, mendendangkan aroma kehebatan, pasti membuat orang lain menyangka bahwa orang-orang begini gak butuh apa-apa. Jadinya bawaannya malas aja kalo deket-deket. Capek juga jadi peserta presentasi kehebatan ini itu. Capek juga dengerinnya.

Berbeda dengan mereka yang walaupun kaya raya, tapi masih humble, masih membuka ruang untuk sinergi, karena segmen golongan ini, sadar betul bahwa keterampilannya terbatas, waktunya terbatas, jadi bekerjasama berjamaah lebih baik.

Kang Dewa Eka Prayoga itu kurang miliarder apa? Tapi yang beliau hadirkan adalah pergaulan yang sangat terbuka akan sinergi. Dewa sadar betul bahwa keterampilannya harus dilengkapi oleh kompetensi orang lain.

Lagi-lagi mereka yang melembah merendah, akan menghimpun sumber daya yang berlimpah. Sementara yang bertahan di puncak bukit, akan selalu kekeringan dan kedinginan. Kekurangan oksigen pula.

***

Lembah itu rendah, dan air selalu mengalir ke tempat yang rendah. Setinggi apapun air itu berada, ia akan turun ke lembah juga. Maka sungai-sungai itu selalu berada ditempat rendah.

Ada nya air di tempat yang rendah mengundang kebaikan yang lain. Binatang datang ke sungai, manusia bermukim dekat sungai, mereka bercocok tanam pun dekat sumber air.

Maka pada lembah kehambaan, semua sumber daya terhimpun sempurna. Semua datang, semua hadir, semua mengalir deras.

Berbeda dengan puncak bukit yang tinggi. Di puncak gunung ribuan mdpl, mana ada sumur, Mana ada binatang ternak, mana ada oksigen yang cukup. Para pendaki gunung juga paling sebentar saja di atas puncak, habis itu turun lagi, gak ada yang bermukim.

Jadi sangat aneh jika kita diajarkan untuk menuju puncak, karir itu di puncak, on the top. Karena setelah memuncak itu ya turun, yang bener itu ya bermukim di lembah, lestari, kontinu, awet, dan penuh sumber daya.

Maka yang benar itu, mari kita menuju karir terbaik, rendahnya lembah kehambaan. Mari turun ke lembah, bukan naik ke puncak.

Di puncak gak ada apa-apa, dan di lembah ini banyak apa-apa.

Inilah kodifikasi arahan Al Quran kepada kita manusia, jadilah Hamba, jadilah Hamba Allah. Maka ketika Allah benar-benar jadi satu-satunya majikan, wajarlah jika kita yang sukses jadi budaknya Allah ini, akan Allah urus bulat-bulat.

Maka ketika melihat sebuah entitas dakwah yang seperti magnet, berhasil menarik banyak sumber daya kebaikan, saya komentarnya sederhana :

"Kiyainya sudah lama jadi Hamba, Pengasuh Masjidnya sudah lama berhasil jadi Hamba Allah, wajar Allah urus lahir batin."

Pertanyaannya akhir jadi sangat jelas,

Sudahkah kita serius menjadi Hamba Allah? sudahkah kita memposisikan Allah sebagai satu-satunya majikan? Atau bisa jadi kita memposisikan Allah seperti supplier atau vendor?

Hanya hati kita yang bisa menjawab.

URS - Serial Kehambaan

#QuranicManagement - Memanage hidup agar sesuai dengan tuntunan Al Quran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar