Minggu, 23 Januari 2022

𝐀𝐦𝐚𝐥𝐚𝐧-𝐀𝐦𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐥𝐚𝐢𝐤𝐚𝐭 ...


Amalan malaikat ada yang berhubungan dengan ibadah ,  tugas kepada manusia dan tugas terhadap alam semesta

1. Bertasbih atau memuji Allah
Ucapan yang paling baik dan paling disukai oleh Allah yaitu ucapan subhanallah wabihamdihi
Tasbih artinya menyucikan

2. Mendoakan
 * Orang-orang yang beriman firman Allah di dalam surah al-ahzab 43
* Orang orang yang menunggu sholat di masjid dan duduk setelah salat
* Mendoakan orang-orang Saleh tertentu seperti pengajar agama

3. Mendoakan orang-orang yang shalat di shaf shaf pertama

4. Mendoakan orang-orang yang menyambung shaf dan mengisi shaf shaf yang kosong

5. Mendoakan orang yang bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam

6. Mendoakan orang-orang yang berinfak fisabilillah
Di mana setiap paginya turun 2 orang malaikat ke bumi untuk mendoakan orang-orang yang berinfak dan mendoakan kehancuran bagi orang-orang yang sengaja menahan infaknya

7. Mendoakan orang-orang yang lagi bersahur

8. Mendoakan orang-orang yang menjenguk orang yang sakit , orang yang berdoa di pagi hari maka ia akan didoakan oleh 70.000 malaikat hingga sore harinya dan orang yang berdoa di sore hari akan didoakan oleh 70.000 malaikat hingga keesokan harinya

9. Malaikat akan mengaminkan orang yang yang mendoakan orang yang sakit dan orang yang meninggal dunia

10. Mendoakan saudara sesama Muslim akan mendapat hal yang semisal seperti yang didoakan

𝐓𝐔𝐊𝐀𝐍𝐆 𝐒𝐔𝐍𝐀𝐓, 𝐓𝐔𝐊𝐀𝐍𝐆 𝐂𝐔𝐊𝐔𝐑, 𝐓𝐔𝐊𝐀𝐍𝐆 𝐏𝐈𝐉𝐀𝐓 ... & 𝐊𝐄𝐁𝐈𝐉𝐀𝐊𝐒𝐀𝐍𝐀𝐀𝐍 ...


Tukang sunat, memotong bagian tubuh kita (jika anda pria) ... Di masa teknologi jaman dulu, itu memberikan ada rasa sakit, saat dan sesudahnya ... Tapi, mengapa kita tidak membenci tukang sunat? ... Karena sejak awal, kita tahu persis, itu adalah demi kebaikan kita ... Kita tahu, tujuan baik tukang sunat, melakukan itu semua kepada kita ...

Tukang cukur, memotong rambut kita ... Kita diperintah-perintah suruh gini dan gitu ... Kita nurut aja ... Kita juga gak marah, meskipun rambut kita, bagian diri kita, dipotong, dipangkas, dibuang ... Mengapa? ... Kita tahu persis, di balik itu semua, adalah untuk kebaikan kita ...

Tukang pijat, mengurut tubuh kita ... Kadang sakit banget rasanya ... Apakah kita menghujat tukang pijitnya? ... Tidak, bahkan sesudahnya, kita berterima kasih, dan memberikan bayaran kepada si tukang pijit, yang jelas-jelas memberikan rasa sakit kepada kita ... Mengapa? ... Karena kita tahu persis, itu adalah untuk kebaikan kita, untuk kesehatan kita ...

Nah ... Saat kehidupan, "memotong sesuatu dalam hidup kita" ... Memotong jabatan, memotong penghasilan, memotong kesempatan di depan mata ... Saat kehidupan memberikan rasa sakit ... Di balik itu semua, jelas pelaku secara hakikatnya adalah DIA, Sang Pengatur Kehidupan ... Secara esensi, semua peristiwa adalah, "perbuatan-NYA" ...

Pertanyaannya selanjutnya, sangat sederhana ... Mengapa kadang, kita tidak mampu bersikap menerima, dan berterima kasih, sebagaimana yang kita bisa kita lakukan, atas apa yang diperbuat tukang sunat, tukang cukur dan tukang pijat? ...

Karena kita, seringkali, gagal paham, salah paham, tidak paham, tentang tujuan baik-NYA, dibalik itu semua ... Kita sering terlambat mengambil hikmah ... Kita baru sadar bahwa kita di waktu lampau itu, saat terjadinya sebuah peristiwa tidak enak itu, sebenarnya kita sedang "diselamatkan oleh-NYA", setelah waktu berlalu sekian lama ...

Ya, salah satu keahlian yang sangat sulit dikuasai dalam menjalani hidup adalah, memahami dan berpasangka baik atas rencana-NYA, yang kadang eksekusinya menggunakan kepanjangan tangan "para malaikat berwajah buruk rupa, tidak rupawan, dan tidak bersayap" ...

Salam Berkah 



Senin, 17 Januari 2022

𝐔𝐍𝐁𝐎𝐒𝐒



Di satu kafe di sudut kota Jakarta, saya bertemu seorang teman. Dia berkeluh kesah tentang atasannya. Dia kehilangan semangat untuk bekerja. Atasannya bukan hanya memaksanya untuk “kerja keras bagai kuda”, tapi juga suka menuntut penghormatan. Dia seperti hamba yang melayani majikan.

Di negeri kita, orang melihat ada hierarki dalam pekerjaan. Seorang bos adalah titik paling penting di satu kantor. Dia jadi sentrum. Karyawan lain bertugas sebagai hamba dan menjalankan perintah. Bahkan di luar kantor, pengormatan dan rasa segan itu tetap dipelihara.

Birokrasi kita masih warisan kolonial. Di situ tidak berlaku asas profesionalitas. Yang berlaku adalah feodalisme. Masih seperti zaman kerajaan. Atasan harus ditinggikan, dijunjung tinggi, bahkan dihormati. Bos harus selalu dilayani, baik di kantor maupun di luar kantor.

Seorang karyawan menemui atasan dengan kepala menunduk. Takut salah. Kalimat bos adalah sabda. Berani membantah, maka dituduh tidak loyal. Saya ingat cerita beberapa kawan di daerah. Sering kali atasan bertindak hanya berdasar gosip. Saat ada indikasi seorang anak buah tidak loyal, langsung mutasi ke titik terjauh.

Di luar negeri, di negara-negara yang penduduknya jarang bergelar haji, kita melihat kenyataan berbeda. Seorang kawan pernah menunjukkan foto sedang makan siang bersama bosnya. Dia bekerja sebagai pencuci piring di situ. Namun saat makan siang, semua duduk di meja yang sama. 

Di sana, orang melihat pekerjaan sebagai fungsi. Seorang bos dan karyawan sama-sama punya fungsi . Keduanya penting. Saat bekerja, semua punya tanggung jawab masing-masing. Tak ada hierarki. 

Yang ada adalah kolaborasi. Semua punya peran. Bahkan saat istirahat, tetap tak ada hierarki. Bos dan karyawan bisa saling bercanda “lu-gua,” bisa makan siang bersama, bisa saling santai bersama, bisa dugem sama-sama.

Saya ingat buku berjudul UNBOSS, yang ditulis Lars Kolind & Jacob Botter. Buku ini semacam panduan untuk organisasi di era 4.0. 

Saya suka dengan cerita mengenai Alfred P West yang menjabat sebagai CEO SEI Investment Corporation. Saat ke kantornya, Anda tidak akan menemuinya di satu ruang khusus. Dia duduk di tengah karyawannya. Penampilannya sama dengan yang lain. Tak ada yang menyangka dirinya adalah bos.

Dia mendengar masukan semua orang, lalu membuat banyak keputusan penting, yang dilaksanakan semua karyawannya. Dia tidak peduli jabatan, tapi dia akan fokus pada keahlian dan potensi terbaik semua orang.

Dia tak terlihat oleh orang luar. Tapi semua karyawan adalah mitra yang akan mengenalinya. Dia bukan sosok pemberi perintah. Dia memimpin tim dengan cara menjadi bagian dari tim. Dia punya passion kuat pada kerja, sesuatu yang kemudian menjalar ke semua karyawannya. 

Hal yang sama bisa disaksikan pada bos-bos perusahaan yang jadi titan teknologi. Anda yang terbiasa bekerja dengan bos yang suka pakai jas, akan terkejut berjumpa Mark Zuckerberg yang kelihatan kayak anak kemarin sore dan selalu berbaju kaos oblong. 

Anda yang punya bos dengan rumah seperti istana akan kaget melihat Warren Buffets, sosok miliader yang tinggal di rumah sederhana, yang dibelinya pada tahun 1958 di Omaha, Nebraska. 

Mereka memimpin dengan cara berbeda. Bukan menegakkan kuasa perintah-perintah. Tapi memperkuat visi dan passion, lalu menjadi dirigen yang menggerakkan orkestra satu organisasi.

Kata penulis buku ini, di era digital, pemimpin harus berani meng-UNBOSS dirinya. Jangan jadi bos, tapi jadilah sosok yang punya visi kuat sehingga menggerakkan semua orang. Lihatlah orang lain sebagai mitra sejajar lalu berkolaborasilah untuk menghasilkan banyak hal hebat.

Saya masih memikirkan beberapa bagian dari buku UNBOSS. Tetiba, ponsel kawan saya berdering. Ada suara membentak:

“Di mana ko? Carikan saya kapurung trus antar ke hotel, lantai 12. Kalo ko nda antar, saya nda tanda-tangani ko punya kenaikan pangkat.”

Ada rona panik di wajahnya. Dia bergegas meninggalkan saya yang masih sibuk melinting tembakau lalu mengisapnya. Di sudut sana, ada sosok manis yang sesekali melirik. Hmm. Dia menarik.
.


Minggu, 16 Januari 2022

𝐈𝐝𝐞 𝐢𝐝𝐞 𝐤𝐫𝐞𝐚𝐭𝐢𝐟 ...


Berikut ini tiga saran dari para ahli mengenai teknik-teknik kreatif:

1. Hindari penutupan ide terlalu dini. Jangan berhenti mencari ide setelah kemunculannya pertama kali yang bisa diterapkan. Seringkali ide terbaik datang pada urutan kedua, ketiga, arau bahkan kesepuluh. Jadikan ide-ide yang telah dimiliki sebagai bantu loncatan menuju ide lain, bukan sebagai ide-ide yang menjadi tujuan.

2. Keluarlah dari masalah dan lihatlah ia dari sudut yang berbeda untuk mendapatkan solusinya. Sebagai contoh, bertanya pada anak kecil seperti apa sebuah gedung pameran harus dibuat.

3. Berikan kepada pikiran bawah sadar Anda, kesempatan untuk mengerjakan masalah yang tengah dihadapi. Solusi atas masalah seringkali akan mencuat dalam benak Anda ketika Anda sangat tidak mengharapkannya, seperti ketika di jalan bebas hambatan, di kamar mandi, atau di pantai. Beri dia kesempatan.


Salam Berkah 

Rabu, 12 Januari 2022

~𝐏𝐄𝐍𝐉𝐀𝐑𝐀 𝐏𝐈𝐊𝐈𝐑𝐀𝐍~


Penemu sikat gigi modern adalah orang Inggris bernama William Addis. 

Ia memakai tulang yang dilubanginya kecil-kecil, kemudian mengisinya dengan bulu binatang, serta mengelemnya menjadi satu.

William pun menjadi jutawan setelah idenya dikembangkan menjadi sikat gigi berbulu nilon dan diproduksi oleh perusahaan Amerika bernama ‘Du Pont’ pada tahun 1938.

Tahukah Anda, bahwa saat William Addis menemukan konsep sikat gigi, ia sedang mendekam di penjara ? 

Tubuhnya di penjara, tapi pikirannya tidak terpenjara. Ia malah bisa berkreasi dan berinovasi.

Sementara banyak orang yang tidak di penjara, tetapi seringkali sibuk memenjarakan pikirannya sendiri. 

Penjara itu berupa kata-kata:

“Tidak mungkin”,
“Tidak bisa”,
“Tidak mau”,
“Tidak berani”,
"Tidak akan", dan 
tidak tidak lainnya, 

yang kerap menjadi penghalang kita untuk maju.

Mulai ubah kata-kata negatif yang melemahkan dengan kepercayaan-kepercayaan positif yang memberdayakan.

Kita mempunyai potensi untuk dikembangkan secara positif dan semaksimal mungkin. 

Jadi, jangan mengizinkan keadaan apapun memenjarakan pikiran Anda.

Sabtu, 08 Januari 2022

𝗣𝗶𝗸𝗶𝗿𝗮𝗻 𝗘𝗹𝗲𝗮𝗻𝗼𝗿 𝗥𝗼𝗼𝘀𝗲𝘃𝗲𝗹𝘁

Menarik mengamati perkataan dari Eleanor Roosevelt, mantan Presiden USA yang mengatakan :
“Small Minds discuss people,
Average Minds discuss events,
Great Minds discuss ideas”.
Pikiran Kecil membicarakan orang.
Pikiran Sedang membicarakan peristiwa.
Pikiran Besar membicarakan gagasan”.
Maka sebagai akibatnya…
PIKIRAN KECIL akan menghasilkan GOSIP.
PIKIRAN SEDANG akan menghasilkan PENGETAHUAN.
PIKIRAN BESAR akan menghasilkan SOLUSI.
Ketiga jenis pikiran ini ADA di dalam setiap otak kita.
Pikiran mana yang lebih mendominasi kita, begitulah apa yang dihasilkannya.
Kalo setiap saat otak kita dipenuhi oleh Pikiran Kecil, maka kita akan selalu asyik dengan urusan orang lain, namun tidak mnghasilkan apa2, kecuali perseteruan.
Tetapi bila Pikiran Besar yang mendominasi, maka ia akan aktif menemukan terobosan baru.
PIKIRAN KECIL senang menggunakan kata tanya “SIAPA”,
PIKIRAN SEDANG senang mnggunakan kata: “ADA APA”, sedangkan
PIKIRAN BESAR selalu memanfaatkan kata tanya: “MENGAPA & BAGAIMANA”.
Dalam melihat satu peristiwa yang sama, misalnya jatuhnya buah apel dari pohonnya, akan cenderung ditanggapi berbeda.
PIKIRAN KECIL akan tertarik dengan pertanyaan: “SIAPA SIH YANG KEMARIN KEJATUHAN BUAH APEL?”
Pikiran Sedang akan bertanya: “APAKAH SEKARANG BERARTI SUDAH MULAI MUSIM PANEN BUAH APEL?”
Sedangkan Si PIKIRAN BESAR : “MENGAPA BUAH APEL ITU JATUH KE BAWAH, BUKANNYA KE ATAS?”
Dan..pikiran yang terakhir itulah yang konon menginspirasi SIR ISAAC NEWTON menemukan TEORI GRAVITASI-nya yang sangat terkenal!
Tidak ada satupun prestasi atau karya di dunia ini yang dihasilkan oleh Pikiran Kecil.
Di samping itu, ketiga jenis pikiran ini juga mempunyai ‘MAKANAN’ FAVORIT yang berbeda.
Si PIKIRAN KECIL biasanya senang “melahap” TABLOID, INFOTAINMENT, KORAN MERAH.
Si PIKIRAN SEDANG amat berselera dengan KORAN BERITA.
Si PIKIRAN BESAR memilih BUKU yang membangkitkan INSPIRASI.
Semoga pikiran2 kita didominasi oleh Pikiran Besar (great minds ).....Aamiin

Jumat, 07 Januari 2022

𝗞𝗨𝗔𝗦𝗔𝗜 𝗗𝗨𝗔 𝗦𝗧𝗥𝗔𝗧𝗘𝗚𝗜 𝗜𝗡𝗜 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗠𝗕𝗨𝗔𝗧 𝗕𝗜𝗦𝗡𝗜𝗦 𝗔𝗡𝗗𝗔 𝗧𝗘𝗥𝗨𝗦 𝗕𝗘𝗥𝗧𝗨𝗠𝗕𝗨𝗛



Untuk membuat perusahaan Anda terus bertumbuh, pastikan dua strategi ini sudah terinstal dalam perusahaan Anda.

Yang pertama HORIZONTAL STRATEGY atau strategi untuk menumbuhkan jumlah customer kita.

Rumus omset yang kita pahami bersama itu R = P x Q.
Yuk kita kupas elemen Q atau Quantity yg identik dengan jumlah customer.

Revenue itu adalah hasil kali dari Price atau harga produk dikalikan dengan Quantity atau jumlah produk yang terjual.

Kita bisa gedein omset dengan menambah jumlah customer base kita.

Menambah jumlah customer base tidak boleh gegabah dan tergesa-gesa.

Terutama jika kita masih belum berhasil melewati ZONA HITAM (CHASM).

Sebelum zona hitam artinya kita masih masuk fase Early Market, fase dimana kita belum menemukan Product Market Fit.

Gambaran customer yang ideal buat bisnis kita pun masih belum jelas. Customer ideal disini adalah mereka yang memang menyukai produk kita, dan mampu membayar harga dari produk tersebut.

Ketika kita sudah menemukan pelanggan ideal kita, baru kita bisa "gas" dengan melakukan scale up.

Di fase ini kita akan ditawarkan dengan dua opsi.

Opsi yang pertama DUPLIKASI.

Artinya Anda akan mencari orang yang memiliki ciri dan karakter serupa dengan customer yang Anda punya, kemudian Anda memutuskan untuk mencari customer sesuai kriteria yang Anda cari.

Paling enak menggunakan PAID CHANNEL atau media berbayar seperti Facebook Ads, Instagram Ads, TikTok Ads dan lain-lain.

Karena audiens nya sudah ada. Tinggal jangkauannya menyesuaikan dengan budget yang kita punya. Cara ini identik dengan FUNNEL.

Opsi yang kedua namanya CUSTOMER EMPOWERMENT.

Atau bagaimana melibatkan customer yang kita punya, untuk ikut mencari customer baru untuk kita.

Opsi ini jauh lebih murah dari opsi yang pertama.

Masalahnya kita harus bereksperimen juga stimulus apa yang tepat untuk membuat customer kita menggencarkan word of mouth nya.

Meskipun secara cost jauh lebih murah, tapi waktunya susah diprediksi kapan hasilnya akan terlihat.

Meskipun dengan sabar dan telaten, hasilnya akan terlihat dengan sendirinya.

Opsi kedua ini identik dengan FLYWHEEL.

Meskipun didalam FLYWHEEL sebenarnya ada FUNNEL nya juga, tapi kebanyakan orang masih biasa membedakan keduanya.

Bisa kah kedua opsi ini dikombinasikan?

Bisa banget

Kembali ke rumus R = P X Q tadi.

Jika strategy horizontal atau growing customer base itu bermain di elemen Quantity, maka selanjutnya yang harus kita punya adalah dengan cara meningkatkan P atau Price.

P ini arti lebih luasnya NILAI DARI CUSTOMER.

Sederhananya seperti ini, kelompok pelanggan yang rata-rata belanjanya cuma 100 ribu dengan yang belanjanya 1 juta jelas beda dampaknya terhadap omset.

Makanya strategi yang kedua ini tujuannya adalah meningkatkan AVERAGE BASKET SIZE atau rata-rata belanja pelanggan.

Banyak sekali cara untuk meningkatkan nilai belanja customer ini.

Pertama dan utama, Retention Rate harus dinaikkan dulu.

Menjaga customer tetap nyaman dan terus terhubung sama brand kita itu penting.

Ketika mereka sudah stay, sudah loyal, maka langkah selanjutnya adalah dengan meningkatkan Purchase Frequency, atau membuat mereka membeli lebih sering.

Jangan lupa bangun komunitasnya, dan jadikan pembelian sebagai bagian dari identitas untuk terus bergabung dengan komunitas.

Paralel kita amati apa kebutuhan mereka selain main product yang kita jual.

Siapkan complementary product untuk membuat mereka membeli lebih banyak dari store.

Strategy horizontal dan vertical ini harus kita rancang secara detail sejak awal.

Selain seasonal atau musiman, harus ada program dan alasan yang membuat mereka terus balik secara rutin.

Sudahkah Anda mempunyai strategi lengkap, Horizontal dan Vertical untuk sepanjang tahun 2022?


𝐈𝐊𝐈𝐆𝐀𝐈𝐊𝐎𝐍𝐒𝐄𝐏 𝐉𝐄𝐏𝐀𝐍𝐆 𝐈𝐍𝐈 𝐏𝐄𝐍𝐓𝐈𝐍𝐆, 𝐒𝐎𝐀𝐋 𝐏𝐄𝐊𝐄𝐑𝐉𝐀𝐀𝐍 𝐃𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐒𝐒𝐈𝐎𝐍




Saat seseorang terlalu ngotot hanya mau melakukan yang ia sukai, padahal sama sekali enggak bisa menghasilkan uang yang mencukupi kebutuhan hidupnya, itu sama saja konyol.

Konsep dari Jepang ini bisa membantu kita untuk memahami persoalan itu. Konsep ini dinamakan: *IKIGAI* yang bisa diartikan sebagai: *sebuah alasan untuk hidup.*

Silakan lihat gambar, kita mulai dari 2 irisan dulu ...

Kalau yang kita lakukan itu kita cintai dan kita menguasainya, itu dinamakan *passion.*

Kalau yang kita lakukan itu kita cintai dan sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang, itu dinamakan *mission.*

Kalau yang kita lakukan itu kita menguasainya dan kita mendapatkan bayaran karenanya, itu dinamakan *profesi.*

Kalau yang kita lakukan itu kita mendapatkan bayaran karenanya dan sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang, itu dinamakan *pekerjaan (vocation).*

Lalu 3 irisan ...

Kalau yang kita lakukan itu kita cintai, kita menguasainya, dan kita mendapatkan bayaran karenanya, maka kita akan merasa puas, tapi juga ada perasaan enggak bergunanya. Karena yang kita lakukan enggak sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang.

Kalau yang kita lakukan itu kita cintai, kita menguasainya, dan sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang, maka kita akan puas, senang merasa berguna. Tapi enggak bisa menghasilkan uang yang mencukupi kebutuhan hidup kita.

Kalau yang kita lakukan itu kita cintai, sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang, dan kita mendapatkan bayaran karenanya, maka kita akan senang, bersemangat. Tapi selalu was-was, karena kita enggak menguasai yang kita lakukan.

Kalau yang kita lakukan itu sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang, kita mendapatkan bayaran karenanya, dan kita menguasainya, maka kita akan merasa nyaman. Namun juga merasa hampa, ada yang kurang, karena kita enggak mencintai yang kita lakukan.

Dan kalau semuanya beririsan, yaitu kalau yang kita lakukan itu kita cintai, sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang, kita menguasainya, dan kita mendapatkan bayaran karenanya ... itulah yang disebut *IKIGAI.*

Untuk menemukan ikigai, kita butuh *menengok dan melakukan perjalanan yang jauh ke dalam diri sendiri.*

Ketika kita menjalani hidup ini sesuai dengan ikigai kita masing-masing, kita akan hidup sehat, waras, bahagia.

Apakah pekerjaanmu sudah sesuai dengan ikigai mu?

Atau, sebenarnya pekerjaanmu selama ini hanya sebatas kamu mendapatkan bayaran, padahal kamu enggak mencintai yang kamu kerjakan, kamu enggak menguasainya, dan enggak sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang?_

𝐄𝐦𝐨𝐭𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥 𝐈𝐧𝐭𝐞𝐥𝐥𝐢𝐠𝐞𝐧𝐜𝐞

Riset menunjukkan bahwa kemampuan Emotional jauh lebih banyak memberikan kontribusi pada sukses atau tidaknya sebuah kepemimpinan. Kemampuan teknis dan analitikal harus dimiliki seorang pemimpin, tetapi kemampuan emotional jauh lebih penting dan kritikal dalam sukses tidaknya kepemimpinan perusahaan tersebut.

Emotional Intelligence merupakan hasil campuran antara bakat lahir, lingkungan dan pendidikan pelatihan yang dialami seseorang. Pencarian calon pemimpin yang baik, haruslah difokuskan pertama pada karyawan yang memiliki kekayaan emotional intelligence yang baik disertai dengan kemampuan teknis dan analisa yang cukup.

Kemampuan Emotional ini dapat di pelajari, kembangkan dan diperbaiki dalam setiap orang, walaupun tidak mudah. Ada 5 kelompok EI yang dibutuhkan dalam kepemimpinan.
Self Awareness, kesadaran akan diri sendiri, yang merupakan kemampuan untuk mengetahui diri sendiri secara realistik: kelebihan, kekurangan, mood dan value yang dianut, apa yang memotivasi dirinya, dan bagaimana emosi2nya. 

Kesadaran secara jujur akan kelemahan dan pemahaman akan kelebihan diri sendiri, harus dicocokkan dengan pendapat orang lain tentang dirinya, karena bisa saja kita salah menilai diri sendiri. Berani mengaku tidak bisa untuk hal2 yang memang tidak terlalu dipahaminya dan berkeras untuk hal2 yang dia sadari menjadi kelebihannya.

Salam Berkah 

Rabu, 05 Januari 2022

# 𝟏𝟎 𝐑𝐚𝐡𝐚𝐬𝐢𝐚 𝐒𝐮𝐤𝐬𝐞𝐬 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐉𝐞𝐩𝐚𝐧𝐠 (𝐒𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐀𝐝𝐚 𝐃𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐣𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐈𝐬𝐥𝐚𝐦 𝐓𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐃𝐢𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧)



Telah kita ketahui dan saksikan Negara Jepang adalah negara maju yang sangat hebat dan berjaya. Namun gempa dan tsunami yang melanda negeri matahari itu menghancurkan sebagian besar wilayah jepang yang berdampak pada perekonomiannya. Akan tetapi sepertinya tidak perlu lama bagi jepang agar bisa kembali menguasai perekonomian dunia, karena Jepang dikenal memiliki rakyat yang sangat luar biasa ulet. Banyak orang-orang sukses berasal dari Jepang.

Akan tetapi ternyata penyebab majunya mereka sudah diajarkan dalam agama Islam jauh sebelum negara Jepang ada. Kita bisa berkaca kepada sejarah, di mana belum ada dalam sejarah dunia, yang bisa menguasai sepertiga dunia hanya dalam waktu 30 tahun. Itulah masa para Khalifah Rasyidin. Kaum muslimin sendiri yang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga inilah yang diberitakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegangi ekor-ekor sapi [sibuk berternak, pent], dan menyenangi pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan pada kalian kehinaan, tidak akan mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”.[1]

Berikut kita bahas, bahwa apa yang menjadi penyebab majunya mereka ternyata ada dalam ajaran Islam sejak dahulu.[2]

 

1.Malu

#“Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pemimpin yang terlibat korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.”#

Malu yang terpuji jelas adalah ajaran Islam. Bahkan jelas dan tegas dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.”[3]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.”[4]

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.

“Malu itu kebaikan seluruhnya.”[5]]

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemalu. Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِـيْ خِدْرِهَا.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.”[6]

 

2.Mandiri

#“Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Bahkan seorang anak TK sudah harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Biasanya mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang nantinya akan mereka kembalikan di bulan berikutnya.”#

Anjuran untuk berusaha sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain adalah ajaran agama Islam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يَأْخُذَ اََحَدُكُمْ اَحْبُلَهُ ثُمَّ يَاْتِى الْجَبَلَ فَيَاْتِىَ بِحُزْمَةٍ مِنْ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِخِ فَيَبِيْعَهَا فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ اَعْطَوْهُ اَوْ مَنَعُوْهُ.

“Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak”.[7]

Demikian juga nabi Dawud, seorang Raja besar, tetapi ia tetap makan dari hasil kerjanya yaitu mengolah besi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا اَكَلَ اَحَدٌطَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ اَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِْهِ, وَاِنَّ نَبِيَّّ اللهِ دَاوُدُ عَلَيْهِ السَّلامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِْهِ.

“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedang Nabi Daud Alaihissalam juga makan dari hasil usahanya sendiri”.[8]

 

3. Pantang menyerah

#“Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambah dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo, ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).

Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).”#

Semangat dan pantang menyerah!! Ini adalah ajaran Islam.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجزن، وإن أصابك شيء فلا تقل لو أني فعلت لكان كذا وكذا؛ ولكن قل: قدر الله وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان

“Bersemangatlah kamu terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi kamu, dan mohonlah pertolongan pada Allah dan jangan merasa lemah (pantang menyerah). Dan jika meminpamu sesuatu maka jangan katakan andaikata dulu saya melakukan begini pasti akan begini dan begini, tetapi katakanlah semua adalah takdir dari Allah dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi.”[9]

Ada tawakkal dalam ajaran Islam, lihat bagaimana motivasi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita mencontoh burung dalam berusaha, burung tidak tahu pasti di mana ia akan mendapat makanan, akan tetapi yang terpenting bagi burung adalah ia berusaha keluar dan terbang mencari.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”[10]

“selalu ada Jalan”. ya, ini juga adalah ajaran Islam. Jika kita berusaha dan tawakkal, maka kita akan medapat jalan keluar dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

Allah Ta’ala berfirman,

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (At-Thalaq: 3)

 

4.Loyalitas

#”Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan.”#

Dalam ajaran Islam seorang muslim diajarkan agar mematuhi persyaratan yang telah mereka sepakati. Jika dalam suatu perusahan mereka bekerja, maka mereka harus mematuhi persyaratan perusahaan yaitu harus mencurahkan yang terbaik serta loyal dengan perusahaan teresebut selama tidak melanggar batas syariat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

المُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوطِهِمْ

 “Umat Islam berkewajiban untuk senantiasa memenuhi persyaratan mereka.“[11]

 

5.Inovasi

#”Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.’#

Islam juga mengajarkan agar kita mengembangkan Ilmu dan belajar (bukan inovasi dalam urusan agama = bid’ah). Bahkan kedudukan orang yang berilmu tinggi baik. Baik Ilmu dunia maupun akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)

 

6. Kerja keras

#“Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.”#

Kerja keras juga Ajaran Islam. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam mengajarkan kita berlindung kepada Allah dari sifat malas,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).”[12]

Bahkan kita harus bersegera dalam kebaikan untuk diri kita.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan”. (Al-Baqarah: 148)

 

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Al-Imran:133)

 

 

7.Jaga tradisi, menghormati orang tua dan Ibu Rumah Tangga

#“Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari Anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.”#

Tentu saja tradisi yang baik yang dilestarikan. Tradisi yang sesuai dengan nilai luhur dan ajaran Islam. Ajaran Islam juga melertarikan tradisi yang baik. Sebagaimana tradisi orang Arab Jahiliyah yang memuliakan tamu, menepati janji dan sumpah walaupun sumpah itu berat sekali. Bahkan adat/tradisi bisa dijadikan patokan hukum dalam ajaran Islam. Sebagaimana kaidah fiqhiyah.

العادة مجكمة

“Adat/tradisi dapat dijadikan patokan hukum”

Syaikh Doktor Muhammad Al-Burnu Hafizahullah menjelaskan makna kaidah ini, “Bahwasanya adat manusia jika tidak menyelisihi syari’at adalah hujjah dan dalil, wajib beramal dengan konsekuensinya karena adat dapat dijadikan hukum”.[13]

Mengenai perempuan yang sudah menikah dan tidak bekerja (IRT), ini juga ajaran utama agama Islam (Ibu rumah tangga bukan pekerjaan yang sepele dan hina, akan tetapi adalah sebuah kehormatan dan butuh pengorbanan yang akan melahirkan dan mendidik generasi terbaik).

لا تمنعوا نساءكم المساجد وبيوتهن خير لهن

“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian pergi ke masjid-masjid, dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”[14]

Mengenai menghormati orang tua. Jelas ini ajaran Islam. Bahkan digandengkan dengan ridha Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Israa’ : 23-24)

 

8.Budaya baca

#“Jangan kaget kalau Anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran.Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca”#

Ayat yang pertama kali turun adalah perintah membaca. Ini adalah ajaran Islam.

Alla Ta’ala berfirman,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (Al-Alaq: 1)

Begitupula jika kita membaca teladan para ulama, misalnya syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah yang membaca setiap hari 12 jam. Begitu juga ulama yang lain, ada yang membaca sambil berjalan, hingga ia terperosok dalam lubang. Ada yang membaca sampai ia tertidur dengan buku di atas wajahnya.

 

9 Hidup hemat

#“Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, mungkin kita sedikit heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30, dan ternyata sebelum tutup itu pihak supermarket memotong harga hingga setengahnya.”#

jelas ini ajaran islam, hemat dan berusaha qona’ah. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (hartanya), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan: 67)

 

10.Kerjasama kelompok

#”Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut.

Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, namun 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”.”#

Anjuran untuk bekerja sama adalah ajaran Islam. Saling membantu dalam kebaikan dan pahala.

Allah Ta’ala berfirman,

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ} [المائدة: 2]

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Qs. Al Maidah: 2.)

Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah menafsirkan,

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى} أي: ليعن بعضكم بعضا على البر. وهو: اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه، من الأعمال الظاهرة والباطنة، من حقوق الله وحقوق الآدميين.

“Hendaknya sebagian kalian menolong sebagian yang lain dalam al birr, dan ia adalah sebuah kata yang mencakup setiap apa yang dicintai oleh Allah dan diridha-Nya berupa amalan-amalan yang lahir dan batin dari hak-hak Allah dan manusia.“[1]

Dan Allah memerintah kita agar bersatu dan bekerja sama,

Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ

“Dan berpeganglah kalian dengan tali Allah seluruhnya, dan jangan bercerai-berai” (Ali ’Imran : 103)

 

Demikian, semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

Selasa, 04 Januari 2022

𝐆𝐄𝐍𝐄𝐑𝐀𝐋𝐈𝐒 𝐀𝐓𝐀𝐔 𝐒𝐏𝐄𝐒𝐈𝐀𝐋𝐈𝐒? 𝐀𝐭𝐚𝐮 𝐓 𝐒𝐡𝐚𝐩𝐞𝐝 𝐏𝐞𝐫𝐬𝐨𝐧



Banyak yang bertanya, sebaiknya kita jadi generalis atau spesialis?

Ada satu keyakinan yang beredar di masyarakat. Menariknya, kedua keyakinan ini sepertinya bertentangan satu sama lain. Pertanyaannya, mana yang benar?

Keyakinan pertama, generalis nggak akan sukses dimanapun. Pasar membutuhkan ahli yang spesialis. Generalis akan menjadi orang rata-rata dengan bayaran rata-rata pula. Kalau mau dibayar mahal, jadilah spesialis yang menguasai satu keahlian secara mendalam.

Di samping keyakinan tersebut, ada keyakinan kedua, spesialis tidak bisa menjadi leader atau entrepreneur yang sukses. Seorang entrepreneur perlu menguasai banyak hal, namun tidak perlu mendalam. Jika kamu spesialis, kamu hanya akan bisa jadi teknisi bukan business-owner. Business-owner perlu bekerja “pada” bisnisnya bukan “di dalam” bisnisnya. Maka, ia perlu memiliki helicopter view. Wawasannya perlu luas, bukan sempit, meskipun mendalam.

Jadi mana yang benar?
Meluas - memahami banyak hal meskipun tidak ahli di sana; atau
Mendalam - menguasai dan ahli hanya pada satu bidang?

Jawaban saya: kenapa nggak keduanya? David Guest pada tahun 1991 menciptakan istilah baru: T-Shaped Person - seseorang yang menguasai satu bidang keahlian secara mendalam namun juga punya kemampuan untuk meluaskan pemahaman di bidang-bidang lainnya. Dengan kata lain, ia punya keahlian yang mendalam dalam satu bidang namun tetap “nyambung” saat ngobrol tentang bidang-bidang lainnya. Istilah lain dari orang seperti ini adalah “generalizing specialist.”

Seseorang dengan keahlian “T-Shaped” ini lebih bernilai dibandingkan menjadi generalis atau spesialis saja. Mengapa demikian? 

Pertama, pasar masih tidak menghargai seorang generalis (baca keyakinan pertama di atas). Pasar menganggap spesialis jauh lebih bernilai. 

Kedua, spesialis dengan kacamata kuda akan sulit berkolaborasi dengan pihak lain. Karena wawasannya sangat terbatas. Ia pun cenderung akan kesulitan memasarkan dirinya sendiri. Kadang kala, bahasa mereka terlalu teknis sehingga pihak lain (klien, tim, dsb) kesulitan memahami maksudnya.

Pertanyaannya, bagaimana cara menjadi seorang “T-Shaped”?

1. Pertimbangkan bidang spesialisasi yang ingin Anda dalami. Luangkan 10.000 jam untuk menguasai bidang ini.
2. Sambil Anda mendalami bidang Anda, perluas wawasan Anda di bidang lain. Setidaknya, bacalah buku dari beragam bidang.
3. Bila belum yakin dengan bidang spesialisasi Anda, lakukan proses magang atau kerjakan sebagai sebuah proyek sementara. Perbanyak pengalaman, lalu barulah pilih spesialisasi Anda dengan tiga kriteria: Anda suka, Anda yakin bisa jadi ahli di sana, pasar membutuhkan keahlian Anda ini.

https://darmawanaji.com/t-shaped-person-solusi-dilema-antara-generalis-vs-spesialis/

Sabtu, 01 Januari 2022

𝑻𝑨𝑲𝑫𝑰𝑹, 𝑵𝑨𝑺𝑰𝑩 𝑫𝑨𝑵 𝑰𝑲𝑯𝑻𝑰𝒀𝑨𝑹 ...


Tahun sudah berganti. Ada yang tetap, ada pula yang berubah. Kita masih hidup, menghirup oksigen dengan lega, tetap seperti sedia kala. Namun, kita juga berubah, menua entah sampai kapan, hingga ajal tiba. 

Dalam dunia yang fana ini, kita takkan bisa menghindar dari takdir, nasib dan ikhtiyar. Takdir adalah hukum alam yang diciptakan Tuhan, dalam mengatur tertib kehidupan. Nasib adalah jatah segala nikmat dan musibah yang harus kita jalani. Ikhtiyar adalah pilihan moral, antara baik dan buruk, benar dan salah, yang harus kita pertanggungjawabkan.

Dengan penuh syukur, kita masuki tahun 2022. Dengan penuh harap, kita bisa menjalaninya dengan iman dan amal kebaikan. Dengan penuh kesadaran akan ketidaksempurnaan diri, kita siap untuk saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran. Sebab, yang benar kadangkala tertutupi oleh kepalsuan, dan yang baik kadangkala memancing kedengkian dan permusuhan. Yang benar dan baik itu menuntut kesabaran. Padahal, sabar itu tidaklah mudah...


𝐒𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐭𝐮𝐥𝐢𝐬𝐚𝐧 𝐫𝐞𝐟𝐥𝐞𝐤𝐬𝐢 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 & 𝐚𝐰𝐚𝐥 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐏𝐫𝐨𝐟 𝐌𝐮𝐣𝐢𝐛𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 ( 𝐑𝐞𝐤𝐭𝐨𝐫 𝐔𝐈𝐍 𝐀𝐧𝐭𝐚𝐬𝐚𝐫𝐢 𝐁𝐚𝐧𝐣𝐚𝐫𝐦𝐚𝐬𝐢𝐧 )




𝐆𝐎𝐀𝐋𝐒 𝟐𝟎𝟐𝟐 𝐯𝐬 𝐊𝐄𝐍𝐘𝐀𝐓𝐀𝐀𝐍



A’udzubillahi minasysyaithanirrajim
Bismillahirrahmanirrahim
.....................................

Akhir tahun 2021 ini, banyak yang menyiapkan resolusi/goals 2022. 
Dari sejak resolusi pribadi, keluarga, hingga organisasi bisnis maupun nirlaba.

Semua (biasanya) sama: 
“Bersemangat untuk mencapai cita atau kualitas, hasil yang lebih baik dari sebelumnya.”

Sebelum menyusun rencana capaian 2022, pastikan kita memahami hal berikut ini:

- Kuantitas dan kapasitas capaian tahun 2021 adalah cerminan kualitas proses dan ikhtiar tahun 2020. 

- Kualitas dan kapasitas tahun 2022 adalah cerminan kualitas proses dan ikhtiar tahun 2021.

- Semua kondisi eksternal yang memengaruhi capaian 2021 ini, sangat mungkin masih relevan (contoh: kebijakan sebab pandemi or sebab lainnya).

- Maka, jika ingin nanti saat tanggal 1 Januari 2023 membaca hasil 2022 dengan hasil yang jauh lebih baik, pastikan proses dan ikhtiar sejak 1 Januari 2022 juga kita lakukan dengan cara berbeda. Cara berbeda yang lebih baik tentunya.

🕰⏱........

Cara yang berbeda, kualitas yang “naik” skalanya, sangat tergantung pada beberapa hal berikut:

1. Kualitas mentalitas dan integritas. 
Meliputi keyakinan, daya dorong, motivasi, kebulatan tekad (tidak ragu), kapasitas besaran goals-nya, serta sejauh mana upaya meningkatkan integritas. 

2. Kualitas dan kapasitas keilmuan.  
Baik itu hasil belajar maupun hasil tadabbur (belajar dari segala hal dan kemampuan mengambil hikmah). 
Tetap, aspek ini juga sangat tergantung poin nomer 1. Kenapa demikian? 
Sebab memang, mereka yang memiliki mentalitas dan integritas terbaik saja yang mampu “menyerap” ilmu pengetahuan serta mengambil hikmah dari segala kejadian. Syaratnya, siapapun kita, tidak akan mampu mendapatkan ini jika tidak memiliki kerendahan hati. 

3. Guru-guru dan teman-teman terdekatnya.
Guru yang berkualitas akan menghasilkan murid yang berkualitas. Bahkan boleh jadi muridnya kelak malah lebih hebat lagi dari gurunya. Pun, teman-teman terdekatnya yang dipilih untuk menjadi lingkungan terdekatnya, akan memengaruhi karakter seseorang dengan kuat. Maka orang yang berkualitas hanya akan “betah” saat bersama orang-orang yang berkualitas lainnya. Mereka yang senang bercanda akan bertemu dan betah di lingkungan yang sama dengannya. Meski untuk berteman kita tidak boleh pilih-pilih, namun untuk lingkungan terbaik, kita harus pilih dan pilah, sebab ia akan sangat menentukan dimana kita kelak berada. Ingat, seseorang itu bersama teman terdekatnya. 

4. Taqdir Allah swt. 
Sebab terkadang cara Allah menyayangi hambaNya adalah dengan Dia mencintai si hamba saat terus bergantung bermunajat mendekat padaNya. Atau justru sebab Dia Maha Tahu, jika si hamba mendapat sesuai inginnya, si hamba malah jadi menjauh dariNya. Oleh sebab Dia mencintainya, maka Dia berikan yang terbaik versiNya, agar si hamba tetap “on the track” menjemput kebaikan abadi kelak. 

🕰⏱........

Jika resolusi masih meleset padahal rasanya sudah maksimal lakukan semua yang terbaik?

1. Cek, apakah rencana/resolusi yang dibuat tidak realistis? 
Hikmah: Berarti kita harus siapkan tahapan-tahapan capaiannya. Atau, perbaiki hingga lebih realistis. Guru saya pernah menyarankan dibuat step-step yang “ringan” agar mudah mencapainya, dan agar muncul rasa syukur yang kuat sebab kita ternyata mampu. Syukur itu sebagai selebrasi atas capaian kita. Tak masalah menurut oranglain itu kecil, jika kita pemula dalam hal itu. Selebrasi syukur atas “keberhasilan” pencapaian, membuat mentalitas seseorang meningkat ke level berani yang lebih tinggi. Maka, tingkatkan step capaian berikutnya dengan lebih berani.

2. Cek, apakah salah program? 
Itu artinya Allah kasih kita kesempatan untuk mempelajari kesalahan, menemukan, mengevaluasi, dan memperbaiki untuk berikutnya. 

3. Cek, apakah terlalu sulit dicapai? Atau saat menjalani malah dapat masalah? 
Itu artinya, Allah ngasih “ujian” untuk kita. Allah hendak naikkan level kita lebih tinggi (jika kita paham dan lulus).

4. Merasa sudah mengikuti petunjuk Allah (Al Quran), namun masih belum sesuai harapan?
Qur’annya sempurna. Sayangnya, kitanya jauh dari sempurna.
Nabi akhlaknya sempurna, dan para sahabat makmum terbaik. Kita? Pendosa dan kualitas iman naik-turun. Maka, teruslah ikhtiar menjadi makmum terbaik dengan ber-imam-kan Al Qur’an.

Tapi mungkin juga Goals tidak tercapai, sebab:

1. Ia bukan cita-cita, tapi lamunan. Hanya dibayangkan, tidak action. Hanya paper work, hiasan dinding saja, atau sekedar ikutan keren sebab oranglain juga bikin.

2. Pemalas, banyak menunda. 

3. Banyak excuse, banyak alasan. 

4. Banyak blamming, selalu berhasil menemukan oranglain, situasi, kekurangan ini itu sebagai sebab “ketidaktercapaian”nya. 

5. Jalan di tempat, mager, baperan. Sibuk bahas capaian oranglain/kompetitor dibandingkan membahas kekurangan diri sendiri.

6. On-off. Tidak konsisten. Angin-anginan, suka-suka.

🕰⏱........

Maka, setelah goals itu ditetapkan dalam bentuk angka atau statement, ubah dan panjatkan jadi do’a. Agar bersyukur saat tercapai (dan tidak sombong), serta bersabar saat belum tercapai (dengan tetap menyempurnakan ikhtiar). 

Maka bagi orang beriman, apapun hasilnya harus selalu baik ujungnya. 
Kita tidak kecil hati saat ada yang “menyepelekan” kebelum-mampuan pencapaian target idealnya, dan..
Jangan berhenti. 

Teruslah membuat resolusi yang terbaik, plus perbaiki cara membuat rencana dan proses mencapainya. 
Teruslah istiqomah bersemangat dan ikhtiar, sebab Allah mencintai hambaNya yang tak berputus asa terhadap rahmatNya, dan Allah menilai prosesnya. 

🕰⏱........

Maka, pastikan pula keys pencapaian ini kita lakukan:

1. Kepemimpinan menyertakan Allah. Kemampuan berserah pada ketetapanNya, kemampuan mendatangkan bantuan terhebatNya.

2. Kemampuan menjaga kesadaran (awareness) dalam segala situasi, hingga cekatan merespon dan menyiapkan plan A, B atau C-nya.

3. Kemampuan mengendalikan hawa napsu dan menghindari ketergesaan. 

4. Keagungan motivasi. Mereka yang melakukan untuk mencari cinta dan ridhoNya, takkan pernah berputus asa dari rahmat pertolonganNya.

5. Fokus pada faktor yang relatif “mampu” kita kendalikan. Contoh: efisiensi, produktivitas, program yang berbasis pada eksisting kapasitas (nggak mimpiin pake, kalau saja, jika..dkk). Faktor ini saja masih tetep kudu kita minta agar Allah bantu. Faktor X diluar kendali langsung, banyak-banyak minta sama Allah. 

Ingat, golok yang agak tumpul atau rompal-pun, jika digunakan untuk memotong bambu, lama-kelamaan bambu itu akan putus. Artinya, siapapun dan apapun background kita, inSyaAllah bisa. 

Syaratnya: 

- Goloknya terbuat dari besi baja, bukan dari kayu.
- Lakukan terus-menerus di tempat yang sama (fokus).
- Ada tenaga untuk melakukannya. 😁

Bismillah, mari sambut tahun 2022, dengan kualitas ikhtiar dan amal shalih yang lebih baik. 
Laa haula walaa quwwata illaa billaah..

Wallahu a’lam..

Wal afwu, 

Riza Zacharias