A’udzubillahi minasysyaithanirrajim
Bismillahirrahmanirrahim
.....................................
Akhir tahun 2021 ini, banyak yang menyiapkan resolusi/goals 2022.
Dari sejak resolusi pribadi, keluarga, hingga organisasi bisnis maupun nirlaba.
Semua (biasanya) sama:
“Bersemangat untuk mencapai cita atau kualitas, hasil yang lebih baik dari sebelumnya.”
Sebelum menyusun rencana capaian 2022, pastikan kita memahami hal berikut ini:
- Kuantitas dan kapasitas capaian tahun 2021 adalah cerminan kualitas proses dan ikhtiar tahun 2020.
- Kualitas dan kapasitas tahun 2022 adalah cerminan kualitas proses dan ikhtiar tahun 2021.
- Semua kondisi eksternal yang memengaruhi capaian 2021 ini, sangat mungkin masih relevan (contoh: kebijakan sebab pandemi or sebab lainnya).
- Maka, jika ingin nanti saat tanggal 1 Januari 2023 membaca hasil 2022 dengan hasil yang jauh lebih baik, pastikan proses dan ikhtiar sejak 1 Januari 2022 juga kita lakukan dengan cara berbeda. Cara berbeda yang lebih baik tentunya.
🕰⏱........
Cara yang berbeda, kualitas yang “naik” skalanya, sangat tergantung pada beberapa hal berikut:
1. Kualitas mentalitas dan integritas.
Meliputi keyakinan, daya dorong, motivasi, kebulatan tekad (tidak ragu), kapasitas besaran goals-nya, serta sejauh mana upaya meningkatkan integritas.
2. Kualitas dan kapasitas keilmuan.
Baik itu hasil belajar maupun hasil tadabbur (belajar dari segala hal dan kemampuan mengambil hikmah).
Tetap, aspek ini juga sangat tergantung poin nomer 1. Kenapa demikian?
Sebab memang, mereka yang memiliki mentalitas dan integritas terbaik saja yang mampu “menyerap” ilmu pengetahuan serta mengambil hikmah dari segala kejadian. Syaratnya, siapapun kita, tidak akan mampu mendapatkan ini jika tidak memiliki kerendahan hati.
3. Guru-guru dan teman-teman terdekatnya.
Guru yang berkualitas akan menghasilkan murid yang berkualitas. Bahkan boleh jadi muridnya kelak malah lebih hebat lagi dari gurunya. Pun, teman-teman terdekatnya yang dipilih untuk menjadi lingkungan terdekatnya, akan memengaruhi karakter seseorang dengan kuat. Maka orang yang berkualitas hanya akan “betah” saat bersama orang-orang yang berkualitas lainnya. Mereka yang senang bercanda akan bertemu dan betah di lingkungan yang sama dengannya. Meski untuk berteman kita tidak boleh pilih-pilih, namun untuk lingkungan terbaik, kita harus pilih dan pilah, sebab ia akan sangat menentukan dimana kita kelak berada. Ingat, seseorang itu bersama teman terdekatnya.
4. Taqdir Allah swt.
Sebab terkadang cara Allah menyayangi hambaNya adalah dengan Dia mencintai si hamba saat terus bergantung bermunajat mendekat padaNya. Atau justru sebab Dia Maha Tahu, jika si hamba mendapat sesuai inginnya, si hamba malah jadi menjauh dariNya. Oleh sebab Dia mencintainya, maka Dia berikan yang terbaik versiNya, agar si hamba tetap “on the track” menjemput kebaikan abadi kelak.
🕰⏱........
Jika resolusi masih meleset padahal rasanya sudah maksimal lakukan semua yang terbaik?
1. Cek, apakah rencana/resolusi yang dibuat tidak realistis?
Hikmah: Berarti kita harus siapkan tahapan-tahapan capaiannya. Atau, perbaiki hingga lebih realistis. Guru saya pernah menyarankan dibuat step-step yang “ringan” agar mudah mencapainya, dan agar muncul rasa syukur yang kuat sebab kita ternyata mampu. Syukur itu sebagai selebrasi atas capaian kita. Tak masalah menurut oranglain itu kecil, jika kita pemula dalam hal itu. Selebrasi syukur atas “keberhasilan” pencapaian, membuat mentalitas seseorang meningkat ke level berani yang lebih tinggi. Maka, tingkatkan step capaian berikutnya dengan lebih berani.
2. Cek, apakah salah program?
Itu artinya Allah kasih kita kesempatan untuk mempelajari kesalahan, menemukan, mengevaluasi, dan memperbaiki untuk berikutnya.
3. Cek, apakah terlalu sulit dicapai? Atau saat menjalani malah dapat masalah?
Itu artinya, Allah ngasih “ujian” untuk kita. Allah hendak naikkan level kita lebih tinggi (jika kita paham dan lulus).
4. Merasa sudah mengikuti petunjuk Allah (Al Quran), namun masih belum sesuai harapan?
Qur’annya sempurna. Sayangnya, kitanya jauh dari sempurna.
Nabi akhlaknya sempurna, dan para sahabat makmum terbaik. Kita? Pendosa dan kualitas iman naik-turun. Maka, teruslah ikhtiar menjadi makmum terbaik dengan ber-imam-kan Al Qur’an.
Tapi mungkin juga Goals tidak tercapai, sebab:
1. Ia bukan cita-cita, tapi lamunan. Hanya dibayangkan, tidak action. Hanya paper work, hiasan dinding saja, atau sekedar ikutan keren sebab oranglain juga bikin.
2. Pemalas, banyak menunda.
3. Banyak excuse, banyak alasan.
4. Banyak blamming, selalu berhasil menemukan oranglain, situasi, kekurangan ini itu sebagai sebab “ketidaktercapaian”nya.
5. Jalan di tempat, mager, baperan. Sibuk bahas capaian oranglain/kompetitor dibandingkan membahas kekurangan diri sendiri.
6. On-off. Tidak konsisten. Angin-anginan, suka-suka.
🕰⏱........
Maka, setelah goals itu ditetapkan dalam bentuk angka atau statement, ubah dan panjatkan jadi do’a. Agar bersyukur saat tercapai (dan tidak sombong), serta bersabar saat belum tercapai (dengan tetap menyempurnakan ikhtiar).
Maka bagi orang beriman, apapun hasilnya harus selalu baik ujungnya.
Kita tidak kecil hati saat ada yang “menyepelekan” kebelum-mampuan pencapaian target idealnya, dan..
Jangan berhenti.
Teruslah membuat resolusi yang terbaik, plus perbaiki cara membuat rencana dan proses mencapainya.
Teruslah istiqomah bersemangat dan ikhtiar, sebab Allah mencintai hambaNya yang tak berputus asa terhadap rahmatNya, dan Allah menilai prosesnya.
🕰⏱........
Maka, pastikan pula keys pencapaian ini kita lakukan:
1. Kepemimpinan menyertakan Allah. Kemampuan berserah pada ketetapanNya, kemampuan mendatangkan bantuan terhebatNya.
2. Kemampuan menjaga kesadaran (awareness) dalam segala situasi, hingga cekatan merespon dan menyiapkan plan A, B atau C-nya.
3. Kemampuan mengendalikan hawa napsu dan menghindari ketergesaan.
4. Keagungan motivasi. Mereka yang melakukan untuk mencari cinta dan ridhoNya, takkan pernah berputus asa dari rahmat pertolonganNya.
5. Fokus pada faktor yang relatif “mampu” kita kendalikan. Contoh: efisiensi, produktivitas, program yang berbasis pada eksisting kapasitas (nggak mimpiin pake, kalau saja, jika..dkk). Faktor ini saja masih tetep kudu kita minta agar Allah bantu. Faktor X diluar kendali langsung, banyak-banyak minta sama Allah.
Ingat, golok yang agak tumpul atau rompal-pun, jika digunakan untuk memotong bambu, lama-kelamaan bambu itu akan putus. Artinya, siapapun dan apapun background kita, inSyaAllah bisa.
Syaratnya:
- Goloknya terbuat dari besi baja, bukan dari kayu.
- Lakukan terus-menerus di tempat yang sama (fokus).
- Ada tenaga untuk melakukannya. 😁
Bismillah, mari sambut tahun 2022, dengan kualitas ikhtiar dan amal shalih yang lebih baik.
Laa haula walaa quwwata illaa billaah..
Wallahu a’lam..
Wal afwu,
Riza Zacharias
Tidak ada komentar:
Posting Komentar