Senin, 17 Januari 2022

𝐔𝐍𝐁𝐎𝐒𝐒



Di satu kafe di sudut kota Jakarta, saya bertemu seorang teman. Dia berkeluh kesah tentang atasannya. Dia kehilangan semangat untuk bekerja. Atasannya bukan hanya memaksanya untuk “kerja keras bagai kuda”, tapi juga suka menuntut penghormatan. Dia seperti hamba yang melayani majikan.

Di negeri kita, orang melihat ada hierarki dalam pekerjaan. Seorang bos adalah titik paling penting di satu kantor. Dia jadi sentrum. Karyawan lain bertugas sebagai hamba dan menjalankan perintah. Bahkan di luar kantor, pengormatan dan rasa segan itu tetap dipelihara.

Birokrasi kita masih warisan kolonial. Di situ tidak berlaku asas profesionalitas. Yang berlaku adalah feodalisme. Masih seperti zaman kerajaan. Atasan harus ditinggikan, dijunjung tinggi, bahkan dihormati. Bos harus selalu dilayani, baik di kantor maupun di luar kantor.

Seorang karyawan menemui atasan dengan kepala menunduk. Takut salah. Kalimat bos adalah sabda. Berani membantah, maka dituduh tidak loyal. Saya ingat cerita beberapa kawan di daerah. Sering kali atasan bertindak hanya berdasar gosip. Saat ada indikasi seorang anak buah tidak loyal, langsung mutasi ke titik terjauh.

Di luar negeri, di negara-negara yang penduduknya jarang bergelar haji, kita melihat kenyataan berbeda. Seorang kawan pernah menunjukkan foto sedang makan siang bersama bosnya. Dia bekerja sebagai pencuci piring di situ. Namun saat makan siang, semua duduk di meja yang sama. 

Di sana, orang melihat pekerjaan sebagai fungsi. Seorang bos dan karyawan sama-sama punya fungsi . Keduanya penting. Saat bekerja, semua punya tanggung jawab masing-masing. Tak ada hierarki. 

Yang ada adalah kolaborasi. Semua punya peran. Bahkan saat istirahat, tetap tak ada hierarki. Bos dan karyawan bisa saling bercanda “lu-gua,” bisa makan siang bersama, bisa saling santai bersama, bisa dugem sama-sama.

Saya ingat buku berjudul UNBOSS, yang ditulis Lars Kolind & Jacob Botter. Buku ini semacam panduan untuk organisasi di era 4.0. 

Saya suka dengan cerita mengenai Alfred P West yang menjabat sebagai CEO SEI Investment Corporation. Saat ke kantornya, Anda tidak akan menemuinya di satu ruang khusus. Dia duduk di tengah karyawannya. Penampilannya sama dengan yang lain. Tak ada yang menyangka dirinya adalah bos.

Dia mendengar masukan semua orang, lalu membuat banyak keputusan penting, yang dilaksanakan semua karyawannya. Dia tidak peduli jabatan, tapi dia akan fokus pada keahlian dan potensi terbaik semua orang.

Dia tak terlihat oleh orang luar. Tapi semua karyawan adalah mitra yang akan mengenalinya. Dia bukan sosok pemberi perintah. Dia memimpin tim dengan cara menjadi bagian dari tim. Dia punya passion kuat pada kerja, sesuatu yang kemudian menjalar ke semua karyawannya. 

Hal yang sama bisa disaksikan pada bos-bos perusahaan yang jadi titan teknologi. Anda yang terbiasa bekerja dengan bos yang suka pakai jas, akan terkejut berjumpa Mark Zuckerberg yang kelihatan kayak anak kemarin sore dan selalu berbaju kaos oblong. 

Anda yang punya bos dengan rumah seperti istana akan kaget melihat Warren Buffets, sosok miliader yang tinggal di rumah sederhana, yang dibelinya pada tahun 1958 di Omaha, Nebraska. 

Mereka memimpin dengan cara berbeda. Bukan menegakkan kuasa perintah-perintah. Tapi memperkuat visi dan passion, lalu menjadi dirigen yang menggerakkan orkestra satu organisasi.

Kata penulis buku ini, di era digital, pemimpin harus berani meng-UNBOSS dirinya. Jangan jadi bos, tapi jadilah sosok yang punya visi kuat sehingga menggerakkan semua orang. Lihatlah orang lain sebagai mitra sejajar lalu berkolaborasilah untuk menghasilkan banyak hal hebat.

Saya masih memikirkan beberapa bagian dari buku UNBOSS. Tetiba, ponsel kawan saya berdering. Ada suara membentak:

“Di mana ko? Carikan saya kapurung trus antar ke hotel, lantai 12. Kalo ko nda antar, saya nda tanda-tangani ko punya kenaikan pangkat.”

Ada rona panik di wajahnya. Dia bergegas meninggalkan saya yang masih sibuk melinting tembakau lalu mengisapnya. Di sudut sana, ada sosok manis yang sesekali melirik. Hmm. Dia menarik.
.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar