Minggu, 20 Desember 2020

auto kaya

#AUTOKAYA apa mungkin? Gimana caranya?

Coba tarik nafas panjang dan simak baik-baik tulisan ini.

Kalau kita rutin dan rajin sedekah, itu namanya autokaya. Betul apa betul?

Kalau kita selalu bersyukur dan merasa cukup, itu namanya autokaya.

Kalau kita sholat 2 rakaat sebelum subuh, itu namanya autokaya.

Kalau teman dapat karunia dan kita ikut bahagia, itu namanya autokaya.

Kalau uang kita tidak dibayar orang dan kita memilih untuk merelakan, itu namanya autokaya.

Uangnya mungkin dalam proses. Lagi otw. Tapi yang jelas, kita sudah merancang #MentalKaya dan tengah mengundang keberkahan. Bukankah itu semua lebih berharga daripada uang? Dan percayalah, uangnya akan hadir sebentar lagi.

Saya yakin, banyak yang sependapat dengan saya. Coba ngacung ya...
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Selasa, 08 Desember 2020

MARKETING IS ...

MARKETING ADALAH KONTES CARI PERHATIAN

All companies do marketing. Yes, semua perusahaan punya kegiatan marketing. Ada yang berhasil. Banyak juga yang buang-buang uang mubazir. Jadinya GG. Dan ada juga yang “clueless” ndak faham mau ngapain. The latest one is pathetic. 

So guys, 
what does marketing really means?

Well, intinya menurut Tn. Godin (Marketing Guru) Apapun kegiatan marketingnya, yang dilakukan tujuannya satu aja: BUYING ATTENTION. Yah, beliau bilangnya “marketing is a contest for people’s attention”. 

Marketing itu seperti sebuah perlombaan mencari perhatian. Itu saja katanya. Setelah dapet perhatian, then sales will comes naturally. 

Siapa sih marketers yang akan jadi pemenang dari lomba mencari perhatian ini. Kalau kata Tn. Godin, ada beberapa kriteria pemenangnya (4 types):

—  Mereka yang menjual experiences. Yah trend hari ini seperti yang saya tuliskan juga adalah “Do not sell the product, but sell the experiences”. Artinya tujuan utama adalah pengalaman, behasil menjual produk itu sebenernya impact.

— Marketers yang punya prinsip “be a friend to get a friend”. Well yeah, authentic natural to the bone. Ndak pura-pura. Ndak ngasih ekspektasi berlebih. Yes, jika kamu temen saya, saya ndak akan ragu beli dari kamu.

— Marketers yang faham customer centric itu apa. Yes, marketers yang faham apapun produknya dan bagaimanapun tipe pelanggannya yang harus dilakukan adalah “mendengarkan”. It is kinda the important meet the urgent. Wajib dan mendesak.

— Marketers yang selalu faham target market selalu berubah, apalagi hari ini market as you know it udah usang. Artinya wajib update, wajib faham kerumunannya berada dimana. Shifting kemana wajib tahu. Rule of the games harus difahami dengan baik.

Yeah, bisa dipastikan kawan-kawan pasti faham. Hari ini, dilautan pasar yang penuh dengan derau (noise), mau ndak mau para marketers wajib membuat breakthough atau ide-ide segar untuk memenangkan “attention” market. Untuk bisa berdiri megang diatas kerumunan.

Sebenernya intinya sama sih dengan literatur2 yang lain. Fahami pelanggannya dulu, kemudian lakukan engage dengan mereka. Setelah engage they will soon LISTEN YOU. Yes, for sure, then they WILL BUY from you. 

Copas By 
Abie — Marketers sendok & garpu!

Kamis, 26 November 2020

HOW DEMOCRACIES DIE



By. Yudha Pedyanto

Ketika saya bertanya apakah ada buku menarik yang akan diulas di komunitas KluBuku, salah seorang sahabat Midgardian mengusulkan sebuah buku dengan judul: "How Democracies Die", yang ditulis oleh Steven Levitsky and Daniel Ziblatt, dua orang ilmuwan politik dari Harvard University.

Seperti biasa jagad KluBuku sontak menjadi ramai, dan saling bertanya di mana bisa mendapatkan bukunya. Sayang bukunya tersedia dalam format digital, dengan harga cukup mahal, hampir seratus ribu rupiah. Tiba-tiba ada seorang dermawan menyahut; saya belikan membership premium (unlimited digital book download) bagi sepuluh orang selama sebulan. 

Lalu kami ramai-ramai mengunduh dan membaca buku tersebut. Melihat animo member sedemikian antusias, dan masih ada yang tidak kebagian, mungkin sang dermawan tadi tidak tega lalu berkata; saya buka lagi kesempatan bagi sepuluh orang lagi. Kami member KluBuku hanya bisa mendoakan; jazaakillah khairan. Tulisan ini saya dedikasikan buat sang dermawan tadi.

Sebagai penulis yang sudah menerbitkan buku yang mengkritik habis demokrasi, terus terang saya agak under estimate dengan buku tersebut. Apa masih ada bobrok demokrasi yang belum saya singkap? Tanya saya sedikit congkak. Ternyata saya salah. Buku tersebut membeberkan bobrok demokrasi yang luput dari sonar saya. 

Tanpa basa-basi Steven Levitsky and Daniel Ziblatt di bab pendahuluan langsung to the point menceritakan bagaimana demokrasi bisa mati. Dan pembunuhnya bukan para tiran, diktator, apalagi khilafah. Pembunuhnya adalah penguasa yang terpilih dalam sistem demokrasi itu sendiri. It is less dramatic but equally destructive, kata penulisnya. 

Mereka membeberkan banyak contoh; mulai dari Chávez di Venezuela, pemimpin terpilih di Georgia, Hungaria, Nicaragua, Peru, Filipina, Polandia, Russia, Sri Lanka, Turki, Ukraina, dan tentu saja AS sendiri, semuanya para pemimpin tadi membunuh demokrasi secara perlahan. Apakah penguasa di Indonesia saat ini termasuk? Mari kita lihat.

Steven dan Daniel mengatakan tidak semua pemimpin terpilih tadi memiliki track record represif dan otoriter. Memang ada yang sejak awal tampak otoriter seperti Hitler dan Chávez. Tapi banyak juga yang awalnya berwajah polos dan lugu, lalu menjadi-jadi setelah memimpin. Steven dan Daniel memberikan semacam litmus test yang bisa kita pakai agar tidak tertipu para pemimpin serigala berbulu domba ini.

Mereka menyebutnya: Four Key Indicators of Authoritarian Behavior. Pertama: Penolakan (atau lemah komitmen) terhadap sendi-sendi demokrasi. Parameternya diantaranya: Apakah mereka suka mengubah-ubah UU? Apakah mereka melarang organisasi tertentu? Apakah mereka membatasi hak-hak politik warga negara? Do they banning certain organizations, or restricting basic civil or political rights? Tiba-tiba saya teringat HTI dan para aktivisnya yang dipersekusi.

Kedua: Penolakan terhadap legitimasi oposisi. Parameternya diantaranya: Apakah mereka menyematkan lawan politik mereka dengan sebutan-sebutan subversif? Mengancam asas dan ideologi negara? Apakah mereka mengkriminalisasi lawan-lawan politik mereka dengan berbagai tuduhan yang mengada-ada? Tiba-tiba saya teringat mereka yang teriak-teriak makar, anti Pancasila dan anti NKRI, serta para ustadz dan ulama yang dikriminalisasi. 

Ketiga: Toleransi atau mendorong aksi kekerasan. Parameternya diantaranya: Apakah mereka memiliki hubungan dengan semacam organisasi paramiliter yang cenderung menggunakan kekerasan dan main hakim sendiri? Tiba-tiba saya teringat dengan Banser yang suka mempersekusi, membubarkan pengajian, serta bertindak sebagai polisi, jaksa dan hakim sekaligus. Dan penguasa hanya diam seribu bahasa seolah mengamini semuanya tadi.

Keempat: Kesiagaan untuk membungkam kebebasan sipil. Parameternya diantaranya: Apakah mereka mendukung (atau membuat) UU yang membatasi kebebasan sipil, terutama hak-hak politik dan menyampaikan pendapat? Apakah mereka melarang tema-tema tertentu? Tiba-tiba saya teringat UU Ormas, RUU HIP, serta berbagai kebijakan penguasa yang melarang pembahasan dan penyebaran khilafah ajaran Islam.

Jika jawaban dari semua test litmus di atas adalah ya, maka fixed rezim saat ini termasuk otoriter dan represif. Lalu apa dampaknya? Menurut Steven dan Daniel, tindakan represif mereka tidak hanya membunuh demokrasi, tapi juga mengakibatkan polarisasi sedemikian parah di tengah masyarakat, dan kemungkinan terburuknya bisa terjadi perang sipil. 

Steven dan Daniel lalu mengungkapkan kegelisahannya. Sekalipun dulu negara-negara demokrasi khususnya AS terbukti bisa bertahan menghadapi Perang Sipil, The Great Depression, Perang Dingin, dan Watergate, mereka sangsi kali ini AS masih bisa bertahan menghadapi ancaman polarisasi yang sedemikian ekstrim di tengah masyarakat.

Tiba-tiba saya teringat ucapan Tim Kendall (mantan direktur monetisasi Facebook) dalam film dokumenter The Social Dilemma; bahwa polarisasi akibat provokasi konten-konten hoax dan hate yang di-generate AI social media, bisa mengakibatkan perang sipil. Subhanallah, sudah sedemikian parahnya kah peradaban kapitalis hari ini? Sampai semua sisi saling bahu-membahu menghantarkan umat manusia ke dalam jurang kehancuran? 

Akar masalah dari semua ini menurut Steven dan Daniel adalah; masyarakat khususnya politisi tidak lagi memegang norma dan prinsip dengan kuat. Mereka menjelaskan, demokrasi hanyalah seperangkat aturan, tapi jika riil di lapangan aturan tadi dilanggar, maka sama saja aturan tadi tidak ada. Akhirnya para politisi dan konstituennya saling serang, saling menjatuhkan, dan nyaris menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan.

Nah yang paling menarik dari statement Steven dan Daniel adalah; pada akhirnya sistem demokrasi meniscayakan para pemimpinnya teguh memegang prinsip, seperti halnya sistem monarki dahulu meniscayakan para rajanya teguh memegang prinsip. Tanpanya, sistem demokrasi ataupun monarki sama-sama gagal menciptakan kedamaian, keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Saya jadi bertanya-tanya; jangan-jangan masalahnya bukan keteguhan memegang prinsip. Tapi memang sejak awal prinsip yang dipegang sudah rapuh? Di mana prinsip tersebut mengizinkan penganutnya untuk saling memangsa atas nama profit? Tiba-tiba saya teringat dengan ajaran Islam. Bukankah Islam mengajarkan teguh memegang prinsip halal dan haram, perintah dan larangan? Dan bukankah prinsip tersebut tak tergoyahkan karena dilandasi penghambaan kepada Allah SWT, bukan kepada materi?

Tiba-tiba saya teringat sirah Rasulullah SAW ketika berdakwah di Makkah, kemudian beliau ditawari kekuasaan, lalu beliau dengan tegas menolaknya. Bukankah penolakan beliau ini karena prinsip Islam belum diterima dan mengakar kuat di Makkah? Lain halnya ketika prinsip Islam sudah diterima dan mengakar kuat di Madinah, akhirnya beliau jadi kepala negara Islam di sana.

Akhirnya saya jadi bertanya-tanya; jika seruan dakwah penegakkan Islam kaffah dalam bingkai khilafah saat ini terus mendapat dukungan umat; mungkinkah hal ini menjadi jalan keluar atas ancaman demokrasi yang destruktif tadi? Dan mungkinkah dalam waktu yang tidak terlalu lama, narasi-narasi “How Democracies Die” akan segera digantikan dengan narasi-narasi “How Khilafah Rise”?


Jumat, 11 September 2020

Buku "Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us" karya Daniel Pink

Selama ini, cara yang sering dipakai untuk memotivasi tim adalah "Reward and Punishment" alias memberikan penghargaan dan hukuman. 

Kalau tim bekerja dengan baik maka dikasih penghargaan yang bisa berupa bonus. Dan kalau tim sering telat, maka dihukum dengan SP, misalnya. 

Betul ini bisa memotivasi tim untuk bekerja lebih rajin. Tapi apakah ini akan mendorong mereka untuk memberikan yang terbaik? 

Buku "Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us" karya Daniel Pink membongkar 3 rahasia motivasi yang jauh lebih efektif.

Dengan 3 cara ini, siapa pun, termasuk juga tim Anda, akan termotivasi untuk memberikan hasil kerja terbaik mereka.

Penasaran? Berikut ringkasan singkat 3 cara memotivasi tim dari buku "Drive". 

1️⃣ Otonomi

Otonomi berarti kita memberikan kebebasan & kepercayaan kepada tim dalam mengerjakan tugas-tugasnya. 

Kurangi seminimalisir mungkin untuk mendikte mereka apa yang harus dilakukan, terlebih menyangkut hal-hal teknis. 

Biarkan mereka menemukan cara sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

Dorong mereka untuk berani berpendapat, memberikan ide, mengambil keputusan, bahkan melakukan kesalahan. 

2️⃣ Mastery

Semakin menguasai skill maka semakin semangat dalam bekerja. Ini karena skill memudahkan kita dalam mengerjakan tugas-tugas yang ada. 

Oleh karena itu, sangat penting untuk mendorong tim terus meningkatkan kemampuan mereka. 

Kalau perlu, bekali mereka dengan berbagai pelatihan, buku, dst. 

Dan yang tak kalah penting adalah, membekali mereka dengan skill belajar (skill how to learn) agar mereka semakin mudah menyerap buku-buku yang mereka pelajari. 

3️⃣ Tujuan

Bekerja tanpa tujuan yang jelas akan membuat kita mudah kehilangan makna. Dan, kalau sudah kehilangan makna, maka kita akan bekerja ogah-ogahan. 

Untuk itu, penting sekali mendorong tim untuk menemukan tujuan mereka. 

--------

Nah demikianlah insight dari buku "Drive" karya Daniel Pink



SALAM BERKAH

ILMU UANG

Jauh lebih sulit menguasai
“ilmu menggunakan uang”
daripada “ilmu mendapatkan uang"

🌻Kekayaan atau kemiskinan bukan ditentukan oleh kemampuan menghasilkan uang atau cara menghasilkan uang (sebagai karyawan maupun pebisnis), melainkan kemampuan mengatur penggunaan uang dengan cerdas. 

💡Jika mampu terus memperbesar selisih antara pemasukan dan pengeluaran, kemudian dinvestasikan, menebarkan kebaikan dengan sedekah, maka seorang akan menjadi semakin kaya. 

Sebaliknya,
jika abai dalam mengatur penggunaan uang, selalu lebih besar “pasak dari pada tiang", berapapun pendapatan yang diterima tetap saja seseorang akan terus menjadi semakin miskin.

SALAM BERKAH

Rabu, 09 September 2020

belief system


"KONSEP REZEKI"

Suatu ketika, saya pernah datang kepada seorang guru dan bertanya ...

"Guru, sebenarnya bagaimanakah konsep rejeki itu? Kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rejekinya segitu-gitu aja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak."

Sang guru pun menjawab ...

Pada dasarnya rejeki itu ibarat hujan yang turun dari langit. Begitu nyata dan jelas. Manusia hanya perlu menjemputnya saja. 

Kenapa rejeki manusia itu berbeda?
Karena wadah mereka untuk menampung rejeki juga berbeda. Ada yang kecil, ada yang sedang, dan ada yang besar. Bahkan ada yang sangat besar.

Wadah rejeki mereka itu ibaratkan sebuah kotak dan rejeki itu ibaratkan hujan yang turun dari langit. Semakin besar kotak untuk menampung air hujan maka air hujan yang kita dapatkan pun juga akan semakin besar.

Nah, kotak itu ada 3 dimensi, yaitu PANJANG, LEBAR, dan TINGGI. Untuk memperbesar ukuran wadah tadi, maka ketiga dimensi itu juga harus dibesarkan, tidak hanya ditambah salah satunya saja.

PANJANG Kotak itu melambangkan USAHA/IKHTIAR dalam menjemput rejeki.

LEBAR Kotak itu melambangkan ILMU yang dimiliki oleh seseorang.

Sedangkan TINGGI melambangkan IBADAH dan RASA SYUKUR yang dimiliki seseorang.

Setelah tahu 3 dimensi itu, tentu Anda pun tahu bahwa kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rejekinya segitu-gitu aja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak.

Mereka mungkin saja punya uang banyak meski bekerjanya tidak terlalu berat karena mereka memiliki ILMU dan RASA SYUKUR serta IBADAH yang besar.

Semoga bermanfaat 

Repost mas Fajar Ali Imron Rosyidi

Selasa, 08 September 2020

Karena saya gak boleh ngomong covid lagi, karena bukan dokter, bukan virolog, bukan ahlinya, gak sekolah... Heehehe...

Jadi saya copaste aja tulisan Kokoh Septian Hartono , sahabat mas Ainun Najib, Profile nya cek sendiri, core of the core.. Ahlinya ahli..

Tulisannya bijak.. senada dengan pendapat saya... 

BAHWA YANG BAHAY DARI INDONESIA INI ADALAH ANAK MUDANYA BANYAK... DAN BANYAK YANG SUDAH POSITIF..  TAPI TANPA GEJALA... 

DAN MEREJA MASIH JALAN JALAN ...

DAN BERPOTENSI NULARIN KE GENERASI ELDER KITA YANG JUMLAHNYA 50 JUTAAN SE INDONESIA.

Rapid test pake sample darah....
Bukan swab cairan pernafasan...
Akurasinya 30%..

Akan tetjadi false negative... Harusnya positif tapi divonis negatif...

Kecepatan kematian dan kesembuhan lebih cepat kematian.. Fasilitas kesehatannya gak nunjang...

Jabodetabek gak bisa di lockdown.. Padahal sudah jadi Wuhannya Indonesia... Milannya Italia...

Indonesia terancam korban jutaan...

TV masih dangdut.
Anak2 Indonesia masih tik tok an...

Lihat aja... Kita ukur aja tahun depan kalo ada umur..

Tingkat kematian di Indonesia 1,6 juta jiwa per tahun..

Kita cek nanti di 2021... Berapa statistik kematiannya...

Tulisan kami hari ini ngibul atau ngingetin serius.

sila dibaca aja.... 

*****

COVID-19 di Indonesia: Masih Puncak dari Gunung Es (23 Mar)

Untuk menghadapi suatu persoalan, sangatlah penting memiliki perspektif yang tepat terhadapnya. Dalam hal ini, perspektif yang tepat adalah perang. Kita sedang berada dalam perang sekarang.

Siapa musuh kita dalam perang ini?

Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19.

Bagaimana karakter musuh ini?

Tidak terlihat dan sangat, sangat mudah menular lewat cairan pernapasan. Penyakit akibat virus ini secara umum gejalanya tidak berat bagi orang muda (walau tentunya ada pengecualiannya!), namun mematikan bagi orang tua atau orang dengan imunitas yang compromised.

Summary dalam 4 kata: “Muda menulari, tua mati.” (Ainun Najib)

Dengan kata lain, hayati bahwa perang ini adalah untuk melindungi orang-orang yang tua dan lemah. Camkan hal ini baik-baik.

Apa masalah utama dari perang melawan musuh ini di Indonesia?

Masalahnya adalah virus ini dibiarkan tidak terdeteksi selama lebih dari sebulan di Indonesia, dengan keyakinan bahwa COVID-19 adalah penyakit yang akan sembuh sendiri dan karena itu yang terpenting adalah menjaga imunitas tubuh.

Pemahaman ini sangat menyesatkan karena yang berbahaya dari wabah ini bukan hanya soal tingkat kesembuhan / kematiannya tapi penularannya. Kenyataan bahwa 20% dari pasien akan mengalami gejala serius dan butuh dirawat di RS menunjukkan kalau penyakit ini tidak bisa diremehkan, belum lagi bahwa 5% dari seluruh pasien perlu dirawat di ICU. Jika terlalu banyak orang yang tertular virus ini pada waktu yang bersamaan, sistem kesehatan publik akan kolaps dengan begitu banyaknya orang yang membutuhkan perawatan di RS.

Awalnya mungkin wabah ini masih bisa dianggap tidak ada karena yang terkena masih sedikit, namun lama-kelamaan strategi seperti ini akan runtuh juga, simply karena pertumbuhan kasusnya sifatnya eksponensial dan akan segera memenuhi RS-RS, seperti yang sudah terjadi di Indonesia sekarang dimana RS-RS di berbagai kota sudah kewalahan menghadapi membludaknya pasien dengan gejala COVID-19.

Apa akibatnya?

Per 23 Maret, Indonesia memiliki tingkat kematian akibat COVID-19 yang sangat tinggi, yaitu 49 kematian / 579 kasus = 8,46%. Situasi Indonesia sekarang bahkan lebih parah dari Iran di akhir bulan Februari (43 kematian / 593 kasus per 29 Feb). Tidak sulit untuk membayangkan kondisi Indonesia dalam 3 minggu ke depan jika belum ada perubahan kebijakan yang signifikan: Lihat saja Italia saat ini (5.476 kematian / 59.138 kasus = 9,26%).

Tingkat kematian yang sangat tinggi di Indonesia tidak berarti bahwa virus ini tiba-tiba menjadi jauh lebih ganas di Indonesia. Hal ini menandai bahwa masih ada jauh lebih banyak kasus-kasus dengan gejala ringan yang tidak terdeteksi.

Jumlah kasus COVID-19 yang sudah terkonfirmasi di Indonesia masih hanyalah puncak dari gunung es. COVID-19 di Indonesia masih severely underdetected, undertested, underdiagnosed and underreported.

Namun, kasus-kasus yang belum terdeteksi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja berkeliaran dimana-mana, karena, lagi-lagi, yang paling berbahaya dari wabah ini adalah penularannya. Jika kasus-kasus ini tidak ditemukan dan diisolasi, maka mereka akan terus menularkan kepada orang-orang di sekitar mereka dan wabah ini akan terus berlipat ganda.

Bagaimana menemukan kasus-kasus ini? 

Jadi begini. Kalau Indonesia masih berada dalam fase dimana sebagian besar kasus yang ada sekarang masih bisa ditelusuri jalur penularannya ke kasus-kasus sebelumnya, maka caranya adalah contact tracing yang sangat agresif seperti yang dilakukan oleh Singapura.

Namun Indonesia tidak berada dalam fase ini lagi. Sebagian besar dari kasus-kasus ini sudah merupakan kasus independen yang tidak terhubung dengan kasus-kasus lainnya. Sudah ada penularan lokal dengan skala yang luas di Jabodetabek dan skala yang lebih kecil namun cukup signifikan di kota-kota besar lainnya di pulau Jawa (Bandung, Solo, Surabaya, Malang).

Karena itu, contact tracing sudah tidak cukup lagi dalam konteks Indonesia (bukan tidak perlu, tapi tidak cukup). Perlu ada usaha yang jauh lebih agresif lagi untuk menemukan kasus-kasus yang tidak terdeteksi ini, yang terkait dengan faktor kedua: undertested. 

Jumlah sampel yang dites oleh Kemenkes dan sudah ada hasilnya sampai tanggal 23 Maret adalah sebanyak 2.483 sampel. Dengan demikian, rasio antara jumlah kasus positif dibanding jumlah sampel yang dites adalah 579/2.483 = 23,32%. Rasio ini sangat tinggi, yaitu 1 dari 4 sampel itu positif, yang menandai bahwa kriteria testingnya terlalu sempit / kapasitas testingnya terlalu kecil / keduanya.

Sebagai perbandingan, gold standard nya adalah Korsel. Rasio antara jumlah kasus positif dibanding jumlah sampel yang dites oleh Korsel dan sudah ada hasilnya sampai tanggal 23 Maret adalah sebanyak 8.961/324.408 = 2,76% ! Hanya 1 dari 36 sampel di Korsel yang positif, yang menunjukkan bagaimana agresifnya Korsel di dalam melakukan testing.

Hanya dengan testing yang sangat agresif seperti inilah kita dapat menemukan dan mengisolasi kasus-kasus yang tidak terdeteksi selama ini. Dengan cara itulah Korsel berhasil membengkokkan kurva wabah mereka dari fase eksponensial kembali menjadi fase linear (eksponensial: tidak terkendali, linear: terkendali).

Namun kenyataan yang kita hadapi adalah jumlah tes hariannya masih sangat sedikit (rata-rata hanya sekitar 200 sampel/hari selama 6 hari terakhir; rasio positive ratenya bahkan lebih tinggi lagi dalam periode ini: 407/1.228 = 33,14%, i.e., 1 dari 3 sampel itu positif!) dan waktu pemeriksaannya masih terlalu lama, yang dapat dilihat dari banyaknya pasien-pasien yang masih berstatus PDP dan sudah meninggal dunia terlebih dahulu bahkan sebelum mengetahui hasil tes mereka.

Apa masalahnya jika kapasitas testing kita terbatas?

Masalahnya adalah jumlah kasus yang belum terdeteksi ini terus bertumbuh secara eksponensial, bukan linear. Bedanya begini. 

Linear itu, jika dari 1 kasus menjadi 2 kasus membutuhkan waktu 1 hari, maka dari 1.000 kasus menjadi 2.000 kasus membutuhkan waktu 1.000 hari. 

Sementara eksponensial itu, jika dari 1 kasus menjadi 2 kasus membutuhkan waktu 1 hari, maka dari 1.000 kasus menjadi 2.000 kasus juga membutuhkan waktu 1 hari saja. 

Dengan kata lain, sekarang saja kita itu masih mengejar ketinggalan akibat tidak mendeteksi wabah ini selama lebih dari 1 bulan. Karena itu, jika kapasitas testingnya juga terbatas, semakin lama malah semakin jauh ketinggalannya!

Seperti apa?

Anggaplah sekarang jumlah kasus sebenarnya itu 5.000 (skala jumlah kasus sebenarnya di Indonesia sekarang definitely sudah ribuan - model lain bahkan memprediksikan bahwa skalanya bisa mencapai puluhan ribu sekarang seperti tautan berikut).

Dari 5.000 kasus ini, sudah 579 yang terisolasi, jadi sisanya 4.400an yang masih belum terdeteksi.

Dari 4.400 ini, jika kita hanya bisa menemukan dan mengisolasi 100 kasus per hari, maka ada 4.300 yang berpotensi menularkan hari itu. Dengan asumsi tingkat pertumbuhan harian kasusnya itu 20% (yaitu, doubling time-nya tiap 4 hari), maka dari 4.300 ini akan menjadi 5.160 kasus besoknya (+860).

Dengan kata lain, jumlah pertumbuhan harian kasusnya (860) jauh melampaui jumlah kasus yang dapat kita temukan hari itu (100). Hari ini kita memiliki 4.400 kasus yang belum terdeteksi, besok jumlahnya sudah menjadi 5.160, dan begitu seterusnya. Alih-alih berkurang, jumlah kasus yang belum terdeteksinya justru semakin bertambah!

Bagaimana dengan rencana tes masif?

Ini sudah kemajuan dan cukup membantu, tapi tidak ideal, karena tes masifnya menggunakan rapid test yang berbasis antibodi dan rentan terhadap hasil false negative (seharusnya positif tapi hasilnya negatif), dimana setiap orang yang diperiksa dan hasilnya negatif perlu diperiksa ulang kembali beberapa hari kemudian untuk mendapatkan hasil yang definitif. Jadi, untuk sebagian kasus memang akan lebih cepat hasilnya, tapi untuk sebagian lainnya tetap membutuhkan waktu berhari-hari.

Idealnya memang seperti Korsel, yang melakukan tes masif dengan PCR. Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa Indonesia tidak memiliki infrastruktur yang cukup untuk melakukan hal ini, baik itu labnya maupun sumber daya manusianya. Mungkin kita tidak bisa melakukan tes PCR sebanyak 10.000-15.000 sampel/hari seperti Korsel, namun menurut saya Kemenkes masih bisa push kapasitas testing PCR-nya lebih lagi sampai batasnya sebisa mungkin. 200 sampel/hari itu sangat, sangat kecil.

Selain itu, cara lain untuk mempercepat proses diagnosanya adalah dengan menggunakan kriteria klinis + imaging (CT/X-ray), seperti yang sempat digunakan di Wuhan/Hubei ketika mereka juga sedang back log proses testing parah-parahnya. Dalam situasi genting seperti ini, lebih baik false positive (seharusnya negatif tapi dinyatakan positif) daripada terlalu ketat memastikan yang positif yang mana. Speed really matters here. Semakin lama proses konfirmasi diagnosanya, semakin panjang pula waktu yang terbuang yang seharusnya bisa digunakan untuk menghubungi dan mengisolasi kontak erat kasus-kasus ini.

Dengan segala keterbatasan ini, apakah Indonesia basically hanya bisa pasrah saja dan menerima kenyataan bahwa jutaan penduduknya akan meninggal dunia akibat wabah ini? Apa yang kita bisa lakukan sebagai warga?

Di sinilah pentingnya social/physical distancing, mengingat karakter lain dari wabah ini yaitu penularannya dari orang ke orang lewat cairan pernapasannya, baik itu secara langsung ketika misalnya kita bercakap-cakap dengan orang yang sudah terinfeksi atau ketika kita menyentuh permukaan dengan cairan tersebut.

Dengan kata lain, jika semua orang diam di rumah saja, maka pertumbuhan wabah ini akan langsung melambat drastis, karena semua kasus-kasus yang belum terdeteksi ini menjadi tidak bisa menularkan ke orang lain (kecuali di rumah sendiri). Selain itu, kasus-kasus dengan gejala ringan juga bisa memulihkan dirinya sendiri di rumah.

Inilah yang dimaksud dengan flatten the curve / melandaikan kurva, yaitu usaha untuk memperlambat pertumbuhan wabah ini sebisa mungkin supaya tenaga medis kita bisa menangani pasien-pasien yang ada dengan lebih baik dan pihak yang berwenang juga bisa mengejar ketertinggalan mereka dalam menemukan dan mengisolasi begitu banyak kasus-kasus lainnya yang belum terdeteksi ini.

Masalahnya adalah, social distancing sukarela dan diam di rumah sebisa mungkin seperti ini sangat sulit untuk direalisasikan, karena masih banyak orang yang perlu pergi keluar rumah untuk mencari nafkah dsb, yang sangat dapat dimengerti. Jumlah orang yang masih perlu keluar rumah jauh lebih tinggi dari orang yang sudah diam di rumah. Misalnya, alih-alih bertumbuh 20% per hari, berkurangnya hanya menjadi 15% per hari. Sudah berkurang, memang, namun masih belum cukup rendah untuk pihak berwenang supaya dapat mengejar ketertinggalannya.

Di sinilah perlunya kebijakan yang lebih drastis. Dari sebaran kasus sekarang, sebenarnya kita sudah tahu dimana pusat penyebaran wabah COVID-19 di Indonesia: Jakarta. Anggap saja Jakarta itu adalah Wuhan-nya dan Jabodetabek sebagai Hubei-nya. Karantina wilayah Jabodetabek dulu saja, tidak perlu lock down seluruh Indonesia. Setelah itu, bisa diikuti oleh karantina wilayah kota-kota lain yang juga sudah menjadi pusat penularan sekunder seperti Bandung, Solo, Surabaya dan Malang jika penyebaran di sana juga semakin tidak terkendali.

Karantina wilayah/lock down memastikan apa yang ingin dicapai oleh social distancing: memberikan waktu bagi pihak yang bewenang untuk bisa melakukan testing, isolasi kasus dan contact tracing yang agresif sementara semua orang tidak bisa kemana-mana di rumah saja sampai wabahnya sudah lebih terkendali.

Karantina wilayah itu adalah sebuah keniscayaan jika outbreaknya sudah terjadi dan kita tidak bisa melakukan tes masif dengan PCR seperti Korsel sejumlah puluhan ribu sampel/hari. Jadi pertanyaannya bukan soal perlu karantina wilayah atau tidak, namun soal kapannya. Lebih cepat, lebih baik.

Sementara itu, saya memohon kepada Anda sekalian terutama yang tinggal di Jabodetabek, diam di rumah dulu saja sebisa mungkin, terutama Anda yang memang memiliki privilese untuk diam di rumah, supaya orang-orang yang keluar rumah memang hanyalah mereka yang perlu keluar rumah demi penghidupan mereka.

Jika Anda adalah seorang pengusaha yang berkecukupan, please, liburkan usaha Anda untuk sementara, namun tetap berikan nafkah kepada karyawan-karyawan Anda. Merugilah untuk sementara sebisa Anda. 

Jika Anda adalah pemimpin gereja, tutup gereja Anda dan hentikan segala kegiatan untuk sementara. Tidak ada pengecualian. Sudah banyak kasus yang terkena di atau lewat acara gereja, sama seperti pengalaman di Singapura.

Selain itu, mari kita berupaya bagaimana dapat mendukung tenaga medis kita dengan berbagai kebutuhan seperti alat pelindung diri (APD), masker, ventilator, dsb. Mereka adalah prajurit-prajurit kita di lini depan. Jangan biarkan mereka bertempur tanpa alat yang memadai layaknya misi bunuh diri. Sudah ada beberapa tenaga medis yang meninggal dunia akibat terinfeksi dari pasiennya sendiri. Jangan biarkan jumlah ini bertambah lagi. Cukup sampai di sini saja

Pada dasarnya, bagaimana kita meresponi wabah ini merefleksikan tanggung jawab sosial kita sebagai anggota masyarakat, yaitu bagaimana kita melindungi orang-orang yang lebih rentan di antara kita. Sekian.

Singapura, 23 Maret 2020
Jumlah kasus: 509
Sembuh: 152
Aktif: 355 (kritis: 15)
Meninggal dunia: 2

SADAR KAYA

Pertanyaan Kaya 

Satu titik balik dalam hidup saya terjadi pada saat berumur 20an awal, ketika saya melihat sekitar dan ada banyak orang sebaya yang tampak nya jauh lebih baik dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan daripada saya saat itu. 

Mereka mengenakan baju yang lebih bagus, punya pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar dan punya mobil terbaru. Yg ini masih inget nih, ada temen yg posting doi sm mobil putih barunya. Dalam hati gw "Wah enak juga ya kerja di perminyakan, gajinya gede bgt pasti"

Sementara, gw masih pake motor butut yg langganan tambel ban, memakai baju usang yg dibeli di pasar tumpah atau pasar malem, bekerja sebagai pengusaha serabutan, memikirkan terus berapa pengeluaran bulanan, nyampe nih ga duit buat sebulan, serba mencemaskan uang sepanjang waktu. Bukan cara hidup yang baik.. 

Mungkin masih ada kawan2 disini yang mengalami nya. Santai ajah, roda pasti berputar. Kadang kita di bawah, kadang orang lain yang di atas 🤣

Dan titik balik saya adalah ketika saya mulai mempertanyakan:

"Mengapa Sebagian orang lebih sukses daripada sebagian yang lain?"

Pertanyaan ini mengubah hidup saya. Ini membuat saya mulai melakukan pencarian intens untuk menemukan jawaban pertanyaan itu. Mulai baca-baca buku, bersilaturahim ketemu guru-guru yang sudah terlebih dahulu melewati kondisi itu, ikut seminar-seminar gratis, memaksakan diri sekali kali ikut yg berbayar, karena kendala dana. Bahkan sampe pernah ngutang2 buat ikut workshop berbayar yg saya yakini akan menemukan jawaban atas pertanyaan itu dan jalan untuk mencapai nya. 

Mengapa Sebagian orang lebih sukses daripada sebagian yang lain?
Jawaban nya sederhana, simpel dan jelas: Produktifitas.

Orang yang dibayar tinggi adalah orang yang paling produktif. Mereka menggunakan waktu dengan lebih baik dibanding dengan rata-rata orang. Mereka meraih hasil yang lebih banyak dan lebih baik sehingga orang bersedia membayar mereka. Mereka menggunakan lebih banyak waktu untuk melakukan lebih banyak hal yang bernilai lebih besar.

Apa aset finansial kita yang paling berharga?
Tanah? Rumah? Tabungan? Emas?

Kemampuan kita untuk menghasilkan uang adalah ASET FINANSIAL kita yang paling berharga.

Kita bisa saja kehilangan pekerjaan, rumah, mobil, uang Miliaran karena ditipu temen, ditipu investasi, sehingga bangkrut dan ga punya apa-apa lagi. Namun, selama kita masih memiliki kemampuan menghasilkan uang, kita bisa meraih semuanya kembali dan bahkan lebih banyak lagi. Sering  bsnget dah kita denger orang2 yang bangkit dari keterpurukan, melawan kemustahilan, ditipu sm temen atau partnet bisnisnya tapi bisa bangkit, udah banyak ceritanya. Ini menunjukkan bahwa ASET FINANSIAL ini PROVEN. 

Kemampuan menghasilkan Uang adalah kemampuan untuk produktif dalam meraih hasil yang membuat orang bersedia membayar kita. Ini bukan kemampuan kita untuk bekerja, menghabiskan waktu dan bermain dengan temen2 kerja sekantor. Kemampuan yang dimaksud disini adalah kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan dapat diandalkan, tepat waktu dan sesuai budget. 

Semua kesuksesan di dunia kerja dan bisnis pada intinya adalah penyelesaian tugas. Kemampuan kita untuk menyelesaikan tugas secara konsisten dan dapat diandalkan adalah salah satu hal yang menjadikan Kita sumber daya yang berharga dan sangat diperlukan, baik bagi perusahaan, partner  bisnis, atau masyarakat kita.

Ujungnya, kita akan menjadi "orang yang selalu bisa diandalkan"

Orang-orang akan mengatakan,
Jika kamu mau hasilnya baik dan cepat, beri pekerjaan itu padanya.
Jika produk mu mau laku, kerjasama ajah sama dia.
Jika butuh produk2 berkualitas, kontak ajah dia. 
Jika mau belajar kemampuan menghasilkan uang, tau kan harus kontak siapa?
yang jelas bukan ke gw.. Hehe.. 

Copas dr Maha Guru 
-Papagon-

Sabtu, 05 September 2020

lIMA USAHA BERTAHAN DIMASA PANDEMI



Banyak teman relasi kenalan bertanya, untuk bertahan sebaiknya saya usaha apa? Nah menarik ini untuk obrolan omong kosong kita sambil sarapan..

Sejauh ini sy berusaha menelusuri usaha apa yang probabilitas survive saat krisisnya tinggi dan berikut hasilnya, tapi sebelum kesana, bagi anda yang harus beralih bisnis, ada baiknya bukan seperti orang pindah rumah. Tp hanya seperti nginap di hotel untuk sementara. Untuk bertahan aja dulu sampai badai berlalu. Setelah itu kita bisa kembali ke rumah (siapa tau anda sukses, hotelnya besok dibeli jugaa.. 😆 kenapa tidak).. Ok langsung aja...

1. Dagang kebutuhan pokok.
Sembako itu barang yang ga ada cerita orang berhenti beli, walau perang dunia ke-tiga sekalipun. InsyaAllah bisnis kebutuhan pokok paling cerah.

2. Kesehatan.
Ini kebutuhan yang tak bisa ditunda, orang sakit pasti akan berobat ke klinik/rs dan beli obat entah bagaimana caranya. InsyaAllah cerah usaha kesehatan.

3. Pertanian dan usaha turunannya
Ini juga bisnis yang takkan berhenti walau perang dunia. Bertani dan usaha penyuport pertanian juga insyaAllah aman.

4. Jasa dasar.
Dari logistik, kurir, dst.. Sampai jasa jasa yang dibutuhkan sehari hari ini masih aman. Jasa keuangan yang segmen bawah bukan korporasi besar juga insyaAllah masih aman. Apalagi jasa yang mensupport 3 sektor diatas ini.

5. Usaha lainnya dengan karakteristik:
- fast moving, dibutuhkan terus dan cepat oleh masyarakat
- bukan kemewahan, bukan kelas tersier banget
- trending, bisa dicermati yang sedang hits dan membuka peluang baru.
- sasar pasar dalam.

Demikian obrolan omong kosong kita pagi ini, semoga bermanfaat. Jika tdk ada manfaatnya, anggap saja hiburan.

Semangat pagi ...

Musibah atau Anugerah

Setidaknya.. ada 5 pelajaran dari setiap musibah yang terjadi.
.
1. Pengingat bahwa kita tak punya daya apa-apa jika Alloh sudah berkehendak. Maka tawakal adalah pilihan terbaik.
.
2. Kita semua bisa saja ada di posisi yang mendapatkan musibah. Maka belajar empati dengan ikut mendoakan, lebih-lebih bisa ikut meringankan beban.
.
3. Sehebat apapun harta, ada kalanya ia tak mampu jadi penyelamat kita. Di dunia saja tak bisa jadi penolong, apalagi di akhirat. Maka gunakan harta dengan bijak.
.
4. Pada akhirnya.. semua manusia saling membutuhkan. Budaya baik kepada orang lain, menghormati orang lain adalah tabungan kebaikan yang akan kita tuai jika kelak kitalah yang butuh pertolongan.
.
5. Selalu ada harapan kebaikan setelah datangnya musibah. Bahwa apa yang hilang akan Alloh ganti dengan yang lebih baik. Ini mengajarkan punya harapan, sekaligus menguatkan iman. Insyaallah.. ada takdir yang lebih baik bagi mereka yang bersabar.


Salam Berkah 
Jakarta, the green Inn aeropolis 03 Januari 2019 

Cukup Ayah ( Saja ) ...


CUKUP JADI RAHASIA AYAH
(Oleh Bayugawtama)

Tidak semua Ayah pandai menceritakan kejadian di tempatnya bekerja. Perihnya dampratan atasan, keributan yang terjadi dengan rekan kerja, fitnah dari koleganya, atau sekadar gesekan kecil antar mitra kerja yang kadang menimbulkan percikan emosi.

Tidak sedikit Ayah yang gagap untuk memulai kata, memilih bahasa untuk bisa menyampaikannya dengan tenang. Masalah yang dialaminya di jalan, tentang motornya yang bersenggolan dengan kendaraan lain, panasnya terik yang menyengat sampai ke ubun-ubun, riuhnya macet jalan raya hingga mengeringkan tenggorokan. Belum lagi soal kereta mogok berjam-jam.

Sehingga menunda waktu tiba di rumah, hingga pupus rencana bermain bersama anak-anak yang sudah terlelap, martabak bawaan tak lagi hangat, bahkan semua kejadian di kantor, di jalan, di kereta, di bis, ikutan dingin untuk diceritakan.

Ayah, tak jarang ia simpan sendiri semua kisah. Sebagian Ayah memang berniat menceritakannya ke istri sesampainya di rumah. Sebagian yang lain baru sempat kirim pesan singkat, “bu, Ayah mau cerita...” namun lama sang istri membalasnya. Kelamaan, jadi lupa, dan tak lagi semangat bercerita. Boleh jadi, istrinya pun sedang sibuk dengan tumpukan setrikaan.

Sebagian Ayah, justru memang sengaja tak berniat sedikit pun menceritakan seburuk apa pun kejadian yang dialaminya di kantor, di jalan atau di mana saja. Bukan, bukan karena ia tak percaya istrinya, tetapi karena ia hanya ingin selalu membawa kabar positif pulang ke rumah. Tak jarang ia mampir dulu ke kedai kopi sebelum di rumah, sebagian lain memilih menumpahkan keluh kesahnya di masjid dekat rumah, atau menghisap dalam2 sebatang rokok yang mulai kembali dinikmati, bukan untuk menunda pulang, tetapi untuk menenangkan batinnya, agar tak meluap emosi di rumah. Oya, beberapa Ayah sering kali mengusap-usap atau merapikan struktur wajahnya sebelum mengetuk pintu, agar hanya wajah ceria yang disambut istri dan anak-anaknya.

Ada yang istrinya sanggup menangkap rahasia yang dibalik senyum suaminya, “Abang kok murung, cerita dong...” berkelebat segala baku hantam di jalan akibat senggolan motor, juga makian atasan di kantor, tetapi justru dijawab dengan senyum yang kadang dipaksakan, “nggak kok, nggak ada apa-apa...” sambil bergumam, biarlah jadi rahasia Ayah.

Ada pula yang istrinya justru tidak peka. Mulai dari pesan singkat yang lupa dijawab, sampai suaminya harus telepon, “sudah baca WA ayah?” Pastinya belum, “Ya sudahlah, nggak apa-apa...” lagi-lagi, akhirnya tetap jadi rahasia Ayah. Padahal, si Ayah mau cerita soal kerlingan perempuan lain yang baru saja bikin deg-degan. Sengaja mau cerita agar tak jadi rahasia, agar istrinya terus membentenginya.

Beberapa Ayah cukup sadar untuk menahan diri, sedikit sabar untuk menunggu gilirannya bercerita. Sebab, begitu di rumah ia sudah diberondong dengan berbagai kisah yang tak kalah serunya. Tentang uang belanja yang menipis, pulsa listrik yang sudah nut nut nut, bayaran sekolah anak yang harus dilunasi, cicilan rumah yang tertunggak, hutang ke warung di ujung gang, atau pun cerita-cerita seru anak-anak di sekolah mereka... kapan giliran Ayah?

Ayah yang lain, begitu bersemangat untuk segera sampai di rumah karena ia tahu istrinya selalu senang diajak diskusi tentang apa pun, sampai soal remeh temeh macam sendal jepitnya yang kerap berpindah ke kolong meja rekan kerjanya. Eh, setibanya di rumah, istri cantiknya sudah terlelap di depan televisi, nggak tega untuk membangunkannya dari mimpi selepas nonton drama Korea. Diambilnya selimut dari kamar lalu didekap sang istri dengannya.

Sebagian istri, mungkin tak cukup pandai menyediakan hati dan telinganya untuk menampung semua cerita sang suami. Sebagian lainnya, mungkin juga tak siap bekal untuk mengimbangi dan memberi saran, masukan atas semua persoalan suaminya. Syukur, masih ada kalimat pamungkas, “Sabar ya yah...” sambil usap-usap pundak, atau kecup-kecup mesra. Memang, sebagian masalah sepertinya bisa selesai -setidaknya lupa- kalau istri sudah terlihat manja di pembaringan. Aih...

Harus dibatasi bahasan ini, sama sekali tak ingin menyinggung sesuatu yang negatif dari semua yang masuk dalam rahasia Ayah. Mari kita bicara yang positif, yang negatif urusan di lapak sebelah saja.

Lebih dari itu, sebagian Ayah tetap merahasiakan segala yang tak perlu menjadi beban pikiran istrinya. Ia tahu betul, peran istri di rumah tak kalah rumitnya. Tak ingin ia menambahnya, meski sang istri ikhlas. Semua tagihan yang harus dibayar, yang perlu dibeli, yang harus diselesaikan terjawab dengan satu kalimat, “Tenang, Ayah akan bereskan semuanya...”

“Everything is OK!”, “Insya Allah akan ada jalan” adalah kalimat sakti peneguh jiwa, meskipun otaknya berputar untuk mencari pinjaman ke siapa lagi, padahal hutang yang kemarin pun belum lunas. Ini juga kerap jadi rahasia Ayah.

Sayangnya, sebagian Ayah ada yang memilih jalan pintas, mengambil hak orang lain, merekayasa anggaran kantor, demi menuntaskan semua masalahnya. Nyatanya, tak pernah selesai masalahnya, justru bertambah.

Di tengah malam, ada sebagian Ayah yang mengadukan segala keluhnya, semua masalah yang tak pernah menjadi rahasia bagi Sang Pemilik Semesta. Baginya, langit tempat terbaik menyimpan rahasia. Air wudhu bercampur air mata adalah versi ketika hatinya semakin dekat denganNya. Yakin akan pertolongan ... aamiin.

Ayah, kerap dianggap sosok misterius, tak terduga. Ia menyimpan banyak misteri dalam hidupnya, tak sedikit hal yang justru istri dan anak-anaknya belum tahu. Beberapa rahasia Ayah bahkan baru terbuka di hari ia menutup mata selamanya, sebagian rahasia lainnya ikut terkubur bersama jasadnya.

Dan tetap menjadi rahasia Ayah.

Ayah adalah Ayah.., it's always like that.

Jumat, 04 September 2020

4E ... REZEKI IS SIMPLY AN EXCHANGE OF ENERGI



ENJOY, mencintai apa yang kita kerjakan  membuat segalanya menjadi  mudah, bahkan yang berat sekalipun menjadi ringan karena kecintaan kita padanya.

EASY , saat semuanya dilandasi cinta maka perasaan mudah menyeruak. Neurologis kita bekerja dalam keadaan rileks dan tidak merasa tertekan, menjadikan otak dan otot bekerja secara optimal.

EXPERT, adalah hasil dari kombinasi memory otak dan memory otot yang telah menjelma menjadi kemampuan dan kapasitas diri dalam menghandel pekerjaan itu.

EARN, adalah hasil akhir yang pada dasarnya adalah ikutan yang pasti, karena mekanisme semesta tidak pernah mau berhutang kontribusi pada orang yang ahli. Semesta menghargai keahlian, keahlian diganjar dengan pendapatan dan kesempatan.

ENJOY, EASY, EXPERT, EARN ...... energinya tinggi...vibrasinya lembut. Cintai pekerjaan anda dan pendapatan akan mencintai anda :-)

Tetap semangat keep moving sahabat ...

Sabtu, 29 Agustus 2020

Dunia atau Akhirat

Nasihat ini khusus untukmu wahai diriku...

Ibadahmu hanya untuk akhiratmu

Saat Mizan atau timbangan amal di tegakkan, ketika kita menyangka akan mengunduh pahala dari shalat Dhuha, tahajud dan sedekah untuk ditukar tiket masuk ke Jannah.

Tiba tiba semuanya berubah jadi zonk, hangus, dan saat kita komplain kepada Allah, " Ya Allah, mana pahala shalat Dhuha, Sedekah dan tahajud saya? "

Kemudian Allah menjawab, " Lha, kamu shalat Dhuha kan untuk dunia. Supaya hidup kaya. Kan sudah aku berikan kekayaan buatmu ketika di dunia ".

Shalat tahajud kan niatnya agar urusan beres. Bisnismu meroket.

Sedekah, kau niatkan agar uang yang kamu bagikan kembali lagi dengan jumlah berlipat ganda.

Semuanya sudah tunai KU berikan. Aku berikan balasan sesuai niatmu! 

Dunia kita sudah dijamin oleh Allah!
Ibadah tidak ibadah, jika jatahnya 2 M, ya pasti datang!

Karena Allah tidak pernah membagikan dunia berdasarkan ibadah.
Semua sesuai takaran NYA.

Jika Allah membagikan dunia berdasarkan ibadah, harusnya mereka yang rajin maksiat hidupnya miskin papa.

Tetapi kan tidak. Mereka yang hobby maksiat hidupnya malah kaya raya!  Hapenya lebih mahal, rumahnya lebih mewah, makannya lebih enak, uangnya lebih banyak dari mereka yang taat.

Demi apa coba??
Demi Allah, yang lapang tidak lebih mulia. Dan yang sempit tidak lebih hina. 

Ibadahmu hanya untuk Akhirat mu.

Kenapa kita shalat Dhuha? Karena ada 360 ruas tulang yang perlu kita tunaikan sedekahnya. Dengan begitu, tulang tulang ini membantu kita untuk taat dan menjadi berkat manfaat.

Kenapa kita shalat tahajud? Karena ada sebuah apartemen di Surga yang tidak bisa kita beli kecuali dengan cara merutinkan shalat Tahajud. Berduan bersama Allah ketika sebagian besar rakyat bumi sedang tertidur pulas.

Kenapa kita sedekah? Karena itu adalah tanda terima kasih kita atas nikmat berupa rezeki harta benda. 

Jangan dibalik, semua ibadah untuk Akhirat kita konversikan untuk pernak pernik dunia yang ingin kita punya.

Sungguh nikmat dunia itu cuma setetes dari samudera kenikmatan di Akhirat.

Kalo dapat jangan bangga berlebihan, lha wong cuma setetes!
Kalo Ndak dapat ya biasa saja, gak perlu sedih apalagi frustasi. Kan cuma setetes.

Sekarang ini, Kita hidup pada zaman dimana banyak orang yang ingin menaikkan gaya hidup dengan cara menurunkan harga diri. 

Mitos atau fakta? 

Udaaaah, gak usah mbayangin orang lain. Nasehat Ini khusus untukmu wahai diriku!!

#SelfRemainder
#Copas

Minggu, 23 Agustus 2020

Orang yang tidak tersentuh api Neraka



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
4 CIRI ORANG YANG TIDAK AKAN TERSENTUH API NERAKA

1. SAHL
"Orang yang tidak mempersulit sesuatu, selalu ada solusi bagi setiap permasalahan. Tidak suka berbelit-belit, tidak menyusahkan dan tidak membuat orang lain susah

2. QORIB
"Akrab, ramah diajak bicara, menyenagkan bagi orang yang diajak bicara. wajahnya selalu berseri-seri dan murah senyum jika bertemu orang serta selalu menebar salam.

3. LAYYIN
"Orang yang lembut dan santun baik bertutur-kata atau bersikap. Tidak kasar, tidak semaunya sendiri, tidak galak, tidak suka memarahi orang yang berbeda pendapat denganya. Tidak suka melakukan pemaksaan. Lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk orang lain.

4. HAYYIN
"Orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin. Tidak labil dan gampang marah, penuh pertimbangan. Tidak mudah memaki, melaknat serta teduh jiwanya.

Nabi Muhammad Bersabda, "Maukah kalian aku tunjukan orang yang haram baginya tersentuh api neraka?" para sahabat berkata "mau, wahai rasulullah!" beliau menjawab "yang haram tersentuh api neraka adalah orang yang Hayyin, Layyin, Qorib, Sahl." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Semoga kita berada di salah satunya...

Senin, 17 Agustus 2020

BER ( INFAQ ) LAH

Berinfaklah dan jangan menghitung-hitungnya,sehingga Allah juga akan menghitung-hitung rezeki-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu tahan hartamu (enggan bersedekah) sehingga Allah juga akan menahan rezeki-Nya kepadamu. -HR Bukhari

Mari sahabat, kita jadikan sedekah sebagai kebiasaan baik dan rutin. Sebagai wujud keimanan kita kepada Allah.

Awali harimu dengan sedekah subuh, agar para malaikat mendo'akan kebaikan untuk kita,

"Tidak ada satu subuhpun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salahsatu diantara keduanya berdo'a; Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak. Sedangkan yang satu lagi berdo'a; Ya Allah berilah kerusakan bagi yang (menahan) hartanya. -HR Bukhari


Minggu, 16 Agustus 2020

GELISAH ( LAH ) ...



Tahukan Anda Bahwa Generasi Pemenang adalah Generasi yang Hidupnya Selalu Penuh Kegelisahan.!!!

Seperti Muhammad Alfatih Selalu Gelisah Sebelum Meruntuhkan Kesombongan Tembok Konstantinopel

Shalahuddin Gelisah Sebelum Merebut Kembali Al Quds Palestina

Thariq Bin Ziyad Gelis sebelum meratakan Spanyol dengan Islam

dan banyak tokoh pemenang Islam yang hidupnya selalu GELISAH BILA Amanahnya belum Tertunaikan..

dan Amanah Itu akan terus bertambah setelah 1 amanah terselesaikan...

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,.. [Surat Al-Insyirah Ayat 7]

Hidup Penuh Kegelisahan inilah yang membuat hatinya terus berkobar, lelahnya tak terasa, energinya selalu full dan membuat ide-ide gila diluar nalar manusia pada umumnya.
□□□■■□□□

Pergerekan Generasi Pemenang Tidak Bisa Dihentikan Kecuali Allah memerintahkannya untuk istirahat dari Dunia fana ini. seperti halnya Muhammad Al Fatih yang terus menembus benteng-benteng kekufuran hingga Allah memanggilnya ditengah Pasukan menuju Ke Medan Jihad.

lalu, apa hal yang membuat kita gelisah saat ini..??

ELMU MARKETING : KUDA DULU SEBELUM PEDATI

HORSE BEFORE THE CART PRINCIPLE

Prinsip dari product launch yang sukses itu adalah..
Always put the horse before the cart.
Selalu letakkan kuda di depan kereta.
Yupp.. selalu letakkan KUDA didepan KERETANYA. Lohh.. gimana sih Mas... ya jelaslah pasti kuda nya duluan baru kereta. Kan kuda yang narik kereta. Dari anak-anak PAUD sampai profesor juga paham lah kalo cuman beginian maah.

Okay.. Saya yakin semua orang paham kalo kuda selalu mendahului kereta. Namun kenapa prakteknya selalu keretanya selalu ditaruh di depan dulu baru kudanya datang belakangan. Malah banyak yg gak pake kuda.. ditarik sendiri keretanya.

Kalo ini kitanya yang ndak paham Mas. Kenapa sampean bisa ngomong seperti itu. Begini maksud Saya..

Meskipun semua orang paham kalo kuda yang narik kereta, kenyataannya didalam dunia bisnis orang sama sekali lupa menjalankan prinsip sederhana ini. Mereka sukanya numpuk kereta duluan tapi gak pernah mau nyiapin kudanya. Bahkan gak kepikiran malah.

Berapa persentase barang Anda yg masih ngendon di gudang atau didisplay rak Anda yg belum terjual? Diatas 25% kah? 50% kah? Atau bahkan 90% lebih?
Berapa lama barang tersebut ngendon di gudang? Sebulan kah? 6 bulan? Atau lebih dari setahun?

Dalam teori bisnis, sebelum kita benar-benar melaunching produk ke market, kita harus siap dan sudah pikirkan jauh-jauh hari, bagaimana dengan marketing produk tersebut. Dan bahkan marketing itu sendiri sudah harus dimulai jauh-jauh hari sebelum kita launch produknya.
Ingat katanya Seth Godin.. "Marketing begins before the product is launched."

Kalo kita mikir marketing setelah barang di launching itu namanya marketing kesiangan. Dan wajar kalo hasil akhirnya kita keteteran jualannya. Kenapa? Karena market tidak siap. Market tidak aware dengan product kita dan market tidak peduli dengan kita.

Jangan sampai kejadian kita overconfidence ngebet produksi sampe numpuk barang kita di gudang, tapi habis itu bengong mau ngapain.

Masih jauuuuuuhhhhhh lebih baik, Anda marketing Anda jalan duluan, engage dulu customers, edukasi market, create moment of anticipation, jadi pas launch duaarrr produk langsung meledak di pasaran. Bahkan Anda gak sempat nyetok barang di gudang, habis produksi udah selalu banyak yg nungguin.

Ini sama dengan analogi yang saya sampaikan didepan tadi.. kereta dulu baru kudanya. Udah keretanya segede gaban.. tapi kudanya kecil, kurus, imut lagi.. kuda poni..ya jelas gak bisa jalan itu kereta kuda.

Marketing itu memang ibarat sebuah kuda yang akan menarik 'kereta' produk yg kita siapkan.
Semakin kuat kuda yang kita punya, makin kuat juga tarikan ke keretanya. Tapi kuda yang besar, kuat dan gagah sudah pasti beli dan merawatnya juga mahal.

Sama juga, sebuah strategi marketing solid, pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Perlu perawatan khusus yang gak murah juga.
Ada SEO, Inbound Marketing, A/B Testing, Social Media Marketing, Paid Promote, Train Reseller, Influencer dll.
Gak semua harus dipake sih, tapi memang harus observasi dulu mana yg paling sesuai dengan Brand Anda.

APA AKIBATNYA JIKA ANDA PUNYA KUDA BELAKANGAN?

Anda akan kerepotan jualan produk Anda. Bisa jadi Anda akan fokus barang keluar aja, sudah tidak sempat lagi memikirkan marketing dengan benar. Cemas, gelisah, gundah gulana melihat barang yang menumpuk di gudang. Sampai putus asa, akhirnya pake jurus mabuk, udah deh dijual berapa aja, margin tipis gak apa-apa yg penting duit muter duluan. Saking tipisnya ternyata setelah di total-total ternyata profitnya nyaris nol. Nah kerja bakti dong. Masih untung ndak tekor.

Punya kuda duluan dibanding kereta itu sebenarnya menunjukkan ia punya strategi yang sangat matang.
Tidak asal bikin produk dan jualan. Marketing end to end dipikirkan dengan sangat matang.

Tak heran kalo kontribusi biaya terbesar bukan di 'kereta' kuda atau produksinya tapi di kudanya. Yup marketing nya yg biasanya lebih besar.
Iphone 7 bisa jadi kalo dirinci dari komponen2nya.. ditotal-total gak lebih dari 3-4 jutaan. Tapi kenapa dijual pas launching awal bisa 19 juta.
Marketingnya kakak yang mahal.

Brand besar seperti Apple, Samsung memulai gerilya marketing mereka bahkan bisa 1 tahun sebelum produk mereka benar-benar di launch.
Mulai menyebarkan rumor-rumor fitur unggulan apa yang akan diusung di rilis berikutnya, apa keunggulannya dibanding versi sebelumnya, apa keunggulan dari kompetitor dan sebagainya.
Digoreng terus rumor-rumor itu sama buzzer, influencer sampai banyak orang tertarik mendiskusikannya.

Bahkan beberapa bulan menjelang rumor muncul rilis resmi dari perusahaan kapan produk akan di launch, sambil kasih intip-intip sneak peak fitur apa sebenarnya yg mau mereka bawa.

Akhirnya pas hari H... duaaarrr semua media sibuk meliput launching mereka sekaligus klarifikasi rumor.
Kenapa penjualan meledak? Karena market siap, market aware dan bahkan sudah mengantisipasi jauh-jauh hari.

Presentasi jualannya aja diliput ribuan media dan disaksikan ratusan juta orang di seluruh dunia.

Belum lagi pas barang datang di store para fanboys sudah mengular antriannya. Ada yang camping bahkan biar jadi pembeli pertamanya

Jadi pas launch mereka lebih sibuk distribusi produk, ngelayani penjualan, bukan ngecap-ngecap lagi jualan produknya.

Perusahaan developer game, menganggarkan budget membuat game mungkin hanya 1 M, namun budget marketingnya sendiri bisa memakan 2-3 M. Karena mereka sangat percaya bahwa marketing sangat menentukan

Namun yang perlu kita ingat, di dalam bisnis tidak ada investasi besar atau kecil biaya yang dikeluarkan. Namun nilailah pada Return on Investment nya. Jika dengan investasi lebih tinggi Anda bisa menghasilkan keuntungan yang jauuuuh lebih tinggi, Why Not?

Misal dengan biaya marketing 10 juta Anda bisa datengin omset 30 jt/bulan, tapi dengan biaya marketing 200 juta Anda bisa datengin omset 1 M lebih per bulan. Mana yang Anda pilih?

Tapi mindset entrepreneur awal biasanya beda. Biaya marketing sudah dipatok gak mungkin melebihi biaya produksi barang. Ini sebenarnya kita menciptakan jebakan kita sendiri. Jadi marketing kita juga akan apa adanya. Dengan budget marketing apa adanya, ya jangan berharap growth omset yang Apalah..Apalah... maksudnya WOW.

Kabar baiknya adalah, ketika sebuah sistem Marketing sudah terbentuk, kedepannya Anda cuma butuh maintenance aja. Ketika puluhan ribu bahkan ratusan ribu database pelanggan sudah kepegang, Anda cukup keep in touch teratur dengan mereka aja. Tidak perlu mulai dari awal lagi.

Bahkan kedepannya budget untuk maintenance kuda Anda jauh lebih murah 2-3 kalinya dibanding promosi konvensional, maksud saya yang promo ala Marketing Kesiangan tadi. Karena sistem yang sudah Anda bentuk akan menjual dengan sendirinya.

BAGAIMANA JIKA ANDA PUNYA BUDGET TERBATAS UNTUK MARKETING

Ada 2 solusi sebenarnya. Pertama, Anda bisa berkolaborasi dengan pihak yang punya marketing sistem yg sudah mature. Cuma ya gitu, tidak semua orang mau kudanya di tumpangi orang lain. Tidak semua pihak rela, sistem marketing yang mereka perjuangkan berdarah-darah di manfaatkan orang lain. Kecuali Anda punya sesuatu yg Anda rasa bisa mengangkat Brand nya dia.

Solusi kedua, mainkan INBOUND MARKETING. Yah ini adalah solusi untuk mengatasi keterbatasan budget marketing Anda. Sejujurnya impact Inbound Marketing itu lebih powerful dibanding dengan Outbound menggunakan media berbayar. Memang butuh proses untuk implementasinya. Tapi begitu jadi, biaya marketing Anda bisa hemat sampai 60%. Bahkan pada strategi yang saya implementasikan dengan klien bisa sampai 80%.
Dengan hasil yang lebih besar.

Kata Guy Kawasaki, Digital Marketing Guru, pakar Inbound Marketing dunia:

"If you have more money than brains, you should focus on outbound marketing. If you have more brains than money, you should focus on inbound marketing."
-- Guy Kawasaki

Setelah membaca tulisan harapannya mindset teman-teman semua sudah berbeda. Bahwa marketing itu harus dimulai sebelum produk Anda di luncurkan. Jadi biar Anda tidak pernah punya kesempatan lagi numpuk barang di gudang. Amiin

Semoga apa yang saya share pagi ini bermanfaat

Salam Nginbound
Saiful Islam

Kamis, 13 Agustus 2020

Paku lurus paku bengkok

PAKU LURUS

By. Satria hadi lubis

Mereka yang berada di jalan yang lurus akan lebih banyak mendapat cobaan dan ujian. Persis seperti paku yang lurus akan dipukul berkali-kali dibanding paku yang bengkok. 

Jalan "paku yang lurus" adalah jalan para nabi, shiddiqin, para syuhada dan orang-orang sholih. Merekalah yang hidupnya akan happy ending (berakhir bahagia) sebagaimana firman-Nya:
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
masuklah ke dalam surga-Ku" (Qs. 89 ayat 27-30).

Itu juga doa mereka dalam sholat: "Ihdinasshorothol mustaqim" (tunjukkan kami ya Allah jalan yang lurus).

Sebaliknya, mereka yang tidak punya prinsip, plin plan, sok netral padahal pengecut dalam menegakkan kebaikan (kebenaran), seperti paku bengkok yang tidak lagi dipukul. Orang yang pengecut biasanya suka menyalahkan orang lain dan lingkungan. 


Hidup para "paku bengkok" itu akan lebih nyaman, minim ujian dan bullyan karena motifnya ingin menyelamatkan diri sendiri. Tapi ujung hidup mereka adalah sad ending (berakhir nestapa) sebagaimana firman-Nya:  "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa" (Qs. 6 ayat 44).

Target Market atau Target Audience

BRAND BUTUH "TARGET MARKET" atau "TARGET AUDIENCE" ???

"Pah, pulang kantor nitip belikan lipstik L'Or*al ya", kata seorang istri kepada suaminya. "Siap mah", jawab suaminya singkat padat merayap eh, jelas.

Ketika pulang kantor istrinya menerima barang titipannya tersebut dan berkata pada suaminya, "yaaah, kok merek ini sih Pah?, kan Mamah sudah bilang mereknya L'Or*al ini kok Ward*h?". Suaminya menjawab,"Pake Ward*h aja Mah, ya itulah kalo Mamah nitipnya ke Papah ya pasti Papah belikannya Ward*h bukan yang lain karena A I U E O Bla Bla Bla ", jawab Suaminya dengan senyum. Istrinya menjawab, "Ooo oke lah Pah". 

Ilustrasi di atas, jelas produknya berupa lipstik, targetnya jelas perempuan dan pemakainya jelas perempuan. Tapi mengapa kok suaminya yang notabene seorang laki-laki bisa loyal terhadap brand produk yang dia sendiri bukan pemakainya dan mempengaruhi pemakainya ???

Menurut Pak Subiakto, Branding itu ditargetkan kepada TARGET AUDIENCE.

Siapakan Target Audience?
Target Audience adalah Target Market plus Influencing Spheres.

Apa itu Influencing Spheres?
Influencing Spheres adalah kelompok-kelompok di sekitar Target Market yang memberi pengaruh terhadap pemilihan Brand dan pembelian produk.

Siapa saja Influencing Spheres?
Mereka adalah keluarga, tetangga, panutan, komunitas, daerah dan kultur nasionalnya.

Ada yang berinisiatif, ada yang mempengaruhi, ada yang mengambil keputusan, ada yang mengkonsumsi, dan ada yang membeli.

#BrandInsight

#Brand

Rabu, 12 Agustus 2020

Customer support

Macam-macam cara bisnis dapetin customers

1. Ground Fruit: Nemu customers, tinggal pungut aja. Sebabnya bisa macem-macem:

- Karena customers dikecewakan oleh kompetitor dan menjadikan bisnis kita sebagai pelarian
- Karena bisnis yg biasanya dia mendapatkan produk tidak mampu lagi bertahan dan melanjutkan bisnisnya. Collapse misalnya, seperti banyak kasus pada pandemi ini

2. Low Hanging Fruit
Customers yang kita dapatkan dengan minimum effort. Contohnya dengan men-DELIGHT customers, kemudian customers tadi yg mendatangkan customers baru untuk bisnis kita.

3. Bulk Fruit
Customers yg kita dapatkan dengan medium effort. Umumnya di tahapan saat customers mempertimbangkan banyak pilihan produk yg ada di market.
Cara mudah memenangkan customers di kompetisi ini jika kita unggul di ENGAGE the audiences.
Bikin audiens se nyaman mungkin, sampai TRUST itu muncul dengan sendirinya
Manjakan mereka dengan konten-konten valuable dan mengedukasi mereka

4. Sweet Fruit
Buah yg kita dapatkan dengan effort yg paling maksimal.
Kita yang ATTRACT atau narik traffic nya.
Kita yang ENGAGE dan nurturing leads nya sampai mereka beli dengan sendirinya.
Kita juga yang melindungi mereka dari jarahan kompetitor

Percaya atau tidak banyak pebisnis yang terobsesi dengan Sweet Fruit.
Mendapatkan customers dengan selalu mendatangkan traffic baru.
Entah itu ngiklan, pakai endorser, dan paid traffic yg lain.

Bukan dengan merawat customers yg sdh ada sampai mereka menjadi promoters.

Padahal biaya untuk mendapatkan Sweet Fruit ini 5x lebih mahal dari Low Hanging Fruit loh.

Kenapa Inbound Marketing Flywheels (IMF) biaya marketing konvensional?
Karena kita selalu memaksimalkan DELIGHT atau mendatangkan customers dengan memberdayakan customers eksisting kita


Bisnis Anda suka ambil buah atau fruit yg mana?

Kamis, 06 Agustus 2020

Stop kecanduan Internet



Apakah Anda selalu merasa tidak nyaman kalau tidak mengecek internet?
Selalu ada dorongan besar yang tak bisa dielakkan untuk scrolling media sosial?
Jika ya, itu tanda-tanda Anda sudah kecanduan internet.

Beberapa hari yang lalu kita sudah bahas dampak negatif kecanduan ini. Yakni turunnya fokus dan daya ingat.

Nah sekarang mari kita bahas cara menghilangkan/men-stop kecanduan internet.

Bicara tentang kecanduan internet, penyebab kencanduan ini adalah karena sudah terbangun kebiasaan untuk mengecek dan men-scroll website atau media sosial kita.

Nah pertanyaannya, apa yang menyebabkan kebiasaan ini bisa terbentuk?

Dalam buku “The Power of Habit,” karya Charles Duhigg, dijelaskan bahwa terbentuknya sebuah kebiasaan (yang otomatis) diawali dengan adanya siklus CUE – CRAVING – ROUTINE – REWARD yang terjadi berulang-ulang.

CUE adalah pemicu yang memicu kita untuk melakukan ROUTINE agar mendapatkan REWARD. Nah jika siklus ini terus kita lakukan, maka lama-lama ROUTINE-nya akan menjadi kebiasaan.
-------
Contohnya adalah kebiasaan menggosok gigi. Umumnya kebiasaan ini terjadi saat kita masih kecil, di mana kita diajarkan untuk menggosok gigi setiap bangun tidur.

Kebiasaan gosok gigi ini terbangun karena siklus CUE – CRAVING – ROUTINE – REWARD sebagai berikut:

1. Setiap bangun tidur, gigi kita terasa berlendir. Ini adalah CUE yang membangkitkan…

2. Hasrat untuk membersihkan gigi kita. Hasrat ini tak lain adalah CRAVING-nya….

3. Dengan HASRAT ini, maka kita pun menggosok gigi. Nah kegiatan menggosok gigi ini tak lain adalah ROUTINE-nya.

4. Selanjutnya dengan gosok gigi, gigi kita pun jadi bersih, kesat, dan terasa segar. Bersih, kesat, dan segar ini tak lain adalah REWARD-nya.

Nah karena setiap pagi kita diajarkan untuk membersihkan gigi kita, maka lama-lama siklus ini menjadi kebiasaan.

Saat siklus ini menjadi kebiasaan, maka setiap kali gigi Anda terasa berlendir, maka otomatis muncul CRAVING untuk menggosok gigi (ROUTINE) agar gigi Anda kesat & segar (REWARD).

------

Kebiasaan mengecek internet pun juga sama. Ada siklus CUE – CRAVING – ROUTINE – REWARD yang menyebabkan kebiasaan ini terbangun.

Umumnya, CUE-nya adalah rasa bosan, atau takut, atau berjumpa tantangan yang berat.

Saat kita bosan, atau takut menghadapi tugas/pekerjaan, atau saat kita mengerjakan tugas yang berat, kita sangat mudah sekali tergoda pada internet.

Sebaliknya, saat tugas/pekerjaan kita menyenangkan, maka kita akan sangat mudah mengabaikan godaan internet. Betul?

Inilah kenapa, membaca buku adalah saat-saat yang sangat rentan membuat kita scrolling media sosial alih-alih membaca buku kita. Karena, bagi banyak orang kegiatan membaca sangatlah membosankan atau sangat berat.

Kabar baiknya, kita bisa menghentikan kebiasaan buruk ini dengan MEMANIPULASI siklus kecanduan kita. Caranya adalah, ganti ROUTINE kita dari membuka internet ke aktivitas lain yang bisa memberikan kita REWARD yang sama.
-------
Jadi anggaplah CUE yang memicu kita membuka internet adalah karena kita BOSAN. Dan REWARD-nya adalah, RASA BOSAN kita HILANG. Maka untuk menghentikan kebiasaan membuka internet, setiap Anda bosan dan timbul dorongan untuk membuka internet, lakukanlah aktivitas lain yang bisa membuat rasa bosan Anda hilang.

Mungkin Anda bisa mendengarkan musik, bermeditasi, ngemil, atau jalan-jalan. Tapi ingat, aktivitasnya harus sama, tak boleh berubah-ubah agar bisa menjadi kebiasaan yang otomatis.

“Pak gimana kalau situasinya pas kerja? Masa setiap bosan harus dengerin musik?”

Yes, mendengarkan musik masih lebih baik daripada mengecek internet. Karena musik membuat pikiran kita rileks.

PENTING!

Kalau CUE-nya adalah rasa takut atau Anda menghadapi tantangan yang sulit, maka Anda perlu membuat tugas/pekerjaan Anda menjadi lebih ringan/mudah dikerjakan.

Kita takut atau berhenti mengerjakan tugas adalah karena kita merasa tugas itu berat. So, buatlah tugas itu tampak & terasa ringan. Anda bisa mem-breakdown-nya jadi tugas-tugas kecil dan menyelesaikannya satu per satu.

Rabu, 05 Agustus 2020

Beginners Mind

Saat mempelajari sesuatu, seringkali tanpa sadar kita melakukan hal-hal yang justru menghambat keberhasilan belajar kita.

Nah agar proses belajar membuahkan hasil yang memuaskan, kita perlu menerapkan sikap-sikap yang mendukung kesuksesan belajar.

Berikut 5 di antaranya.

1️⃣ Niat

Banyak orang yang belajar hal baru tanpa niat yang jelas. Akibatnya, di tengah proses belajar malah banyak mengkritik, tak suka dengan materi yang dipelajari, dst.

Idealnya, niat/tujuan kita belajar bukanlah untuk mencari kekurangan dari apa yang kita pelajari, melainkan mendapatkan pengetahuan/skill yang berguna untuk diri kita.

So pertama, perjelas niat Anda dalam belajar. Pastikan niat Anda bukan untuk mencari kekurangan melainkan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar yang bisa Anda gunakan dalam hidup Anda.

Sikap-sikap selanjutnya sangat bergantung pada niat ini. Kalau niatnya negatif, maka attitude/sikap selanjutnya pun akan negatif.

2️⃣ Percaya dulu, baru kritik

Kita tidak akan pernah tau seperti apa isi sebuah buku atau bagaimana cara kerja sebuah skill KALAU belum mempelajarinya kita sudah banyak mengkritik.

Baru juga baca sinopsisnya sudah bilang, "Ah, buku jelek nih."

Dalam buku "Asking the Right Questions: A Guide to Critical Thinking," M. Neil Browne menjelaskan bahwa idealnya saat kita belajar sesuatu pertama-tama kita harus PERCAYA dulu.

Singkirkan sejenak keyakinan, pemikiran, pola pikir, dan paradigma kita. Kosongkan sejenak "isi gelas" kita. Biarkan gelas kita diisi penuh dengan pengetahuan yang sedang kita pelajari.

Barulah setelah Anda paham betul pengetahuan itu, Anda bisa mengkritiknya.

3️⃣ Kritik/penerimaan yang berdasar

Setelah mempelajarinya secara penuh, kita perlu menilai apakah apa yang kita pelajari itu benar atau salah, mendukung atau tidak untuk mencapai goal kita.

Dan penilaian kita harus berdasarkan pada alasan/rasionalisasi yang tepat.

Dalam buku "How to Read a Book," Mortimer J. Adler menjelaskan setidaknya ada 3 alasan kenapa sebuah materi/pengetahuan keliru:

a. Penulis/penggagas materi "uninformed" alias tidak tau adanya informasi tertentu yang membuat argumennya menjadi salah.

b. Penulis/penggagas materi "misinformed" alias salah memahami informasi tertentu yang membuat argumennya salah.

c. Apa yang disampaikan penulis/penggagas materi tidak logis.

4️⃣ Mengakui kesalahan/kebenaran

Setelah menganalisa materi yang kita pelajari dengan argumen yang rasional, maka kita wajib mengakui kebenaran atau kesalahan materi itu.

Kalau benar akui benar dan terapkan. Kalau salah akui salah. Dan, kalau belum bisa menyimpulkan benar/salahnya, tunda untuk menilai.

Sering kita jumpai orang yang bersikeras pada argumennya meskipun sudah disodorkan bukti dan alasan kenapa argumennya salah. Tentu ini sikap yang keliru karena malah bisa menjerumuskannya pada keputusan yang keliru.

5️⃣ Beginner's Mind

Belajarlah seperti anak kecil. Kita tau anak kecil umumnya memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ini karena mereka belum tau banyak tentang dunia.

Nah kita pun bisa mengadopsi sikap anak kecil ini untuk membangkitkan rasa ingin tau kita. Akui bahwa pengetahuan Anda masih minim. Maka Anda akan terus terdorong untuk menggali pengetahuan baru.

Berbagi hal hal sepele

Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah...barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akherat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia...barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba' ta' kepada anak2 mu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu..yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

JIKA ENGKAU TIDAK BISA BERBUAT KEBAIKAN SAMA SEKALI, MAKA TAHANLAH TANGAN DAN LISANMU DARI MENYAKITI....SETIDAKNYA ITU MENJADI SEDEKAH UNTUK DIRIMU.

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya”

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda

Rasulullah bersabda:

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya)bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum".(HR. Muslim)

Mari Awali hari ini dg Pikiran dan prilaku positif, semangat meraih hasil terbaik serta saling mendoakan akan keberkahan.. Aamiin...

Salam Berkah

Brand Generosity


KEKUATAN BRAND GENEROSITY

Mau cerita nih.. gaes

Jadi dua hari yang lalu ada yang sempat curhat di grup sebelah

Awal pandemi kemarin benar-benar menjadi ujian bagi banyak pengusaha

Disini mental dan agility mereka diuji

Ada yg pasrah dan nyerah, cepat-cepat banting setir karena melihat usahanya sudah gak prospek lagi

Ada juga yang pasrah tapi gak langsung banting setir

Salah satunya Mas Rochmat ini

Beliau ini pengusaha bakery, produknya roti solo floss roll

Sudah mendatangkan banyak banget bahan baku menjelang puasa dan lebaran, eh.. pandemi datang

Orderan langsung drop

Hanya menyisakan 10% saja kapasitas produksi yang teroptimalkan

Karyawan udah siap dirumahkan

Bahan baku yang menumpuk di gudang tinggal tunggu waktu aja untuk rusak jika tidak segera digunakan

Dalam kebuntuan dan kepasrahan itu terbesitlah ide karena keibaan melihat penjuang di garda garis depan, dokter dan perawat di rumah-rumah sakit

Daripada bahan akan rusak dan berakhir sia-sia, akan lebih baik jika bahan-bahan tadi menjadi roti dan memberi manfaat buat pejuang garis depan tadi

Beliau juga berpikir mungkin inilah amal yg bisa dipersembahkan ditengah kepasrahan.

Akhirnya beliau memberanikan diri menyurati pihak Rumah Sakit

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

"Bagian IGD atau posko Corona
berharap diperkenankan, dan mohon cp untuk pengiriman
GRATIS Untuk 3 shift pengiriman setidaknya sampai 14 hari kedepan

kami dari soloflossroll, mengajukan permohonan untuk memberikan support tenaga medis dalam klb corona, berujud roti yang insya Allah akan kami kirim tiap hari

Dari keamanan pangan dan ke halalalan kami sudah tersertifikasi"

(Dilampirkan juga serifikat mutu internasional)

Ternyata pengajuan penawaran donasi ke bagian IGD ini dishare juga ke pimpinan dan group Rumah Sakit

Sebenarnya kegiatan donasi produk ke penjuang garda depan Covid-19 itu banyak juga dilakukan oleh pebisnis

Terus apa yang membedakan yg ini dengan yang umum dilakukan

Personalisasinya

Pak Rochmat dan team sengaja mendesain kemasan khusus yang didedikasikan untuk menyemangati para pahlawan di garis depan ini

"THANKFUL YOU FOR BEST HERO LIKE YOU"

You Never Walk Alone

Kami bersyukur punya pahlawan terbaik sepertimu
Anda tidak berjuang sendirian

Tulisan ini ada disetiap keping roti solo floss roll yang diberikan

Bukan ada di acara seremonial atau plakat atau spanduk seremonial penyerahan donasi

Singkatnya ia bikin special packaging demi mengapresiasi perjuangan pahlawan kita ini

Niat banget

Ini yang membedakan gerakan ini dengan gerakan pada umumnya

Special design, special thankful packaging ini ternyata mampu menyentuh secara emosional

Membuat relevansi atau kesesuaian antara produk dengan marketnya

Simple action but make a difference

Nilai donasi dari project ini selama 14 hari sangat lumayan

Kalau dirupiahkan setara 100 juta rupiah

Itu donasi yg lumayan gede banget jika dipikul satu orang

Dan ternyata dampak project sosial ini sangat positif

Dokter, perawat dan pegawai RS ini mulai "ketagihan" dengan roti tersebut

Orderan pun gantian berdatangan masuk dari RS dan jaringannya

Usaha yang awalnya hanya membidik end user tersebut menemukan persona baru tanpa sengaja.. instansi

Dari murni B2C jadi merambah ke B2B

Penemuan buyer persona baru ini menjadi penyelamat bisnis ini dari keterpurukan

Kan sebenarnya bisa aja masuk nawarin proposal ke RS, tanpa melalui donasi juga bisa

Tidak semudah itu ferguso

Mendatangkan dan menyeleksi makanan baru dari luar? Tidak semua RS punya waktu untuk itu

Apalagi mencari makanan yg enak dan gak enak

Nggak mungkin sempet lah..

Tapi project donasi itu membuka jalan ke market baru dan melangkah dengan mulus di project-project berikutnya

Tanpa mekanisme tender yg berbelit

Karena productnya sudah teruji

Teruji mutunya, dan teruji disukai

Ini yang dinamakan "blessing in disguise"

Berkah dibalik musibah

Tidak semua pemilik bisnis memiliki hati yang cukup besar melakukan hal ini

Hanya yang tulus dan memiliki hati yg besar saja yg mampu melakukan

Sincerity and Generosity

Ketulusan dan kemurahan hati

Praktek Brand Generosity seperti ini sebenarnya sudah banyak dipraktekkan oleh Brand-brand Global

Mereka seolah paham ilmu "sedekah" atau giving itu memberi dampak luar biasa ke bisnis

Tidak perlu menunggu pandemi juga untuk melakukan aksi Brand Generosity

Domino's Pizza gatel ketika melihat banyak lubang-lubang dijalanan di amrik sono yang gak kunjung diperbaiki

Akhirnya Brand ini mempunyai inisiatif untuk memperbaiki sendiri jalan-jalan yang bolong-bolong itu

Setelah di perbaiki, ia sematkan Brand Identity Domino's disana sambil bilang.. OH YES WE DID

Dan sambutan masyarakat tentu saja baik banget

Dan aksi Brand Generosity ini juga jadi salah satu yg banyak menjadi bahan diseluruh dunia

Sekaligus jadi Guerilla Marketing
Brand Generosity itu beyond Guerilla Marketing.

Karena niatnya bukan sekedar mencari Buzz atau viralitas
Tapi memang memberikan dampak social dan value yang nyata

Brand Generosity juga mampu membangkitakan positive story buat sebuah Brand
Story yang mengekspresikan kebaikan dan kemurahatian dari si Brand

Secara tidak langsung ini akan membangun persepsi bahwa Brand ini adalah Brand baik.
Market lebih cepat menaruh kepercayaan atau TRUST pada Brand yang mereka persepsikan baik.
Dan TRUST itu sendiri adalah dasar pengambilan keputusan pembelian terpenting.

Semakin kuat TRUST itu terbentuk, maka secara tidak langsung ini akan berdampak juga ke penjualan.

Makanya penting bagi sebuah bisnis untuk memiliki tujuan mulia (PURPOSE) yang menjadi WHY nya mereka. WHY itu katanya Simon Sinek adalah alasan mulia, kenapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan.
Alasan mulia kenapa mereka mendirikan bisnis.

WHY ini juga menjadi alasan kenapa banyak brand-brand besar berumur panjang
Niat tulus menciptakan kebaikan untuk customers

Semoga bisnis kita menjadi salah satunya ya

Copas Tulisan 
Sam Ipoel

Brand Generosity

KEKUATAN BRAND GENEROSITY

Mau cerita nih.. gaes

Jadi dua hari yang lalu ada yang sempat curhat di grup sebelah

Awal pandemi kemarin benar-benar menjadi ujian bagi banyak pengusaha

Disini mental dan agility mereka diuji

Ada yg pasrah dan nyerah, cepat-cepat banting setir karena melihat usahanya sudah gak prospek lagi

Ada juga yang pasrah tapi gak langsung banting setir

Salah satunya Mas Rochmat ini

Beliau ini pengusaha bakery, produknya roti solo floss roll

Sudah mendatangkan banyak banget bahan baku menjelang puasa dan lebaran, eh.. pandemi datang

Orderan langsung drop

Hanya menyisakan 10% saja kapasitas produksi yang teroptimalkan

Karyawan udah siap dirumahkan

Bahan baku yang menumpuk di gudang tinggal tunggu waktu aja untuk rusak jika tidak segera digunakan

Dalam kebuntuan dan kepasrahan itu terbesitlah ide karena keibaan melihat penjuang di garda garis depan, dokter dan perawat di rumah-rumah sakit

Daripada bahan akan rusak dan berakhir sia-sia, akan lebih baik jika bahan-bahan tadi menjadi roti dan memberi manfaat buat pejuang garis depan tadi

Beliau juga berpikir mungkin inilah amal yg bisa dipersembahkan ditengah kepasrahan.

Akhirnya beliau memberanikan diri menyurati pihak Rumah Sakit

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

"Bagian IGD atau posko Corona
berharap diperkenankan, dan mohon cp untuk pengiriman
GRATIS Untuk 3 shift pengiriman setidaknya sampai 14 hari kedepan

kami dari soloflossroll, mengajukan permohonan untuk memberikan support tenaga medis dalam klb corona, berujud roti yang insya Allah akan kami kirim tiap hari

Dari keamanan pangan dan ke halalalan kami sudah tersertifikasi"

(Dilampirkan juga serifikat mutu internasional)

Ternyata pengajuan penawaran donasi ke bagian IGD ini dishare juga ke pimpinan dan group Rumah Sakit

Sebenarnya kegiatan donasi produk ke penjuang garda depan Covid-19 itu banyak juga dilakukan oleh pebisnis

Terus apa yang membedakan yg ini dengan yang umum dilakukan

Personalisasinya

Pak Rochmat dan team sengaja mendesain kemasan khusus yang didedikasikan untuk menyemangati para pahlawan di garis depan ini

"THANKFUL YOU FOR BEST HERO LIKE YOU"

You Never Walk Alone

Kami bersyukur punya pahlawan terbaik sepertimu
Anda tidak berjuang sendirian

Tulisan ini ada disetiap keping roti solo floss roll yang diberikan

Bukan ada di acara seremonial atau plakat atau spanduk seremonial penyerahan donasi

Singkatnya ia bikin special packaging demi mengapresiasi perjuangan pahlawan kita ini

Niat banget

Ini yang membedakan gerakan ini dengan gerakan pada umumnya

Special design, special thankful packaging ini ternyata mampu menyentuh secara emosional

Membuat relevansi atau kesesuaian antara produk dengan marketnya

Simple action but make a difference

Nilai donasi dari project ini selama 14 hari sangat lumayan

Kalau dirupiahkan setara 100 juta rupiah

Itu donasi yg lumayan gede banget jika dipikul satu orang

Dan ternyata dampak project sosial ini sangat positif

Dokter, perawat dan pegawai RS ini mulai "ketagihan" dengan roti tersebut

Orderan pun gantian berdatangan masuk dari RS dan jaringannya

Usaha yang awalnya hanya membidik end user tersebut menemukan persona baru tanpa sengaja.. instansi

Dari murni B2C jadi merambah ke B2B

Penemuan buyer persona baru ini menjadi penyelamat bisnis ini dari keterpurukan

Kan sebenarnya bisa aja masuk nawarin proposal ke RS, tanpa melalui donasi juga bisa

Tidak semudah itu ferguso

Mendatangkan dan menyeleksi makanan baru dari luar? Tidak semua RS punya waktu untuk itu

Apalagi mencari makanan yg enak dan gak enak

Nggak mungkin sempet lah..

Tapi project donasi itu membuka jalan ke market baru dan melangkah dengan mulus di project-project berikutnya

Tanpa mekanisme tender yg berbelit

Karena productnya sudah teruji

Teruji mutunya, dan teruji disukai

Ini yang dinamakan "blessing in disguise"

Berkah dibalik musibah

Tidak semua pemilik bisnis memiliki hati yang cukup besar melakukan hal ini

Hanya yang tulus dan memiliki hati yg besar saja yg mampu melakukan

Sincerity and Generosity

Ketulusan dan kemurahan hati

Praktek Brand Generosity seperti ini sebenarnya sudah banyak dipraktekkan oleh Brand-brand Global

Mereka seolah paham ilmu "sedekah" atau giving itu memberi dampak luar biasa ke bisnis

Tidak perlu menunggu pandemi juga untuk melakukan aksi Brand Generosity

Domino's Pizza gatel ketika melihat banyak lubang-lubang dijalanan di amrik sono yang gak kunjung diperbaiki

Akhirnya Brand ini mempunyai inisiatif untuk memperbaiki sendiri jalan-jalan yang bolong-bolong itu

Setelah di perbaiki, ia sematkan Brand Identity Domino's disana sambil bilang.. OH YES WE DID

Dan sambutan masyarakat tentu saja baik banget

Dan aksi Brand Generosity ini juga jadi salah satu yg banyak menjadi bahan diseluruh dunia

Sekaligus jadi Guerilla Marketing
Brand Generosity itu beyond Guerilla Marketing.

Karena niatnya bukan sekedar mencari Buzz atau viralitas
Tapi memang memberikan dampak social dan value yang nyata

Brand Generosity juga mampu membangkitakan positive story buat sebuah Brand
Story yang mengekspresikan kebaikan dan kemurahatian dari si Brand

Secara tidak langsung ini akan membangun persepsi bahwa Brand ini adalah Brand baik.
Market lebih cepat menaruh kepercayaan atau TRUST pada Brand yang mereka persepsikan baik.
Dan TRUST itu sendiri adalah dasar pengambilan keputusan pembelian terpenting.

Semakin kuat TRUST itu terbentuk, maka secara tidak langsung ini akan berdampak juga ke penjualan.

Makanya penting bagi sebuah bisnis untuk memiliki tujuan mulia (PURPOSE) yang menjadi WHY nya mereka. WHY itu katanya Simon Sinek adalah alasan mulia, kenapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan.
Alasan mulia kenapa mereka mendirikan bisnis.

WHY ini juga menjadi alasan kenapa banyak brand-brand besar berumur panjang
Niat tulus menciptakan kebaikan untuk customers

Semoga bisnis kita menjadi salah satunya ya

Copas Tulisan 
Sam Ipoel