Kamis, 30 Desember 2021

๐Œ๐„๐๐˜๐ˆ๐€๐๐Š๐€๐ ๐Œ๐€๐‘๐Š๐„๐“๐ˆ๐๐† ๐’๐“๐‘๐€๐“๐„๐†๐˜ ๐’๐„๐“๐€๐‡๐”๐ ๐๐„๐๐”๐‡


Semua diawali dengan strategi.
Begitu juga dengan marketing sebuah perusahaan.

Kalau perusahaan awal banget, seperti perusahaan rintisan, atau launching product baru di awali dengan Go To Market strategy biasa kita sebut sebagai GTM.

Goal utama dari GTM adalah memastikan produk kita ketemu dengan customer idealnya.
Ideal customer ini bukan hanya suka dengan produk kita, tapi juga punya cukup buying power untuk membayar harga dari value produk kita.
Ini artinya Product Market Fit stage 1 sudah ditangan.

Kalau product sudah ketemu market, sudah kawin dengan customer idealnya strategi marketing berkembang menjadi Growth Strategy.
Bagaimana menumbuhkan market dalam dua arah, Horisontal dan Vertikal.
Secara horisontal ada dua tahapan.
Pertama dengan menambah jumlah pelanggan yang memiliki karakter sama dengan pelanggan ideal kita.
Kedua, menemukan segmen pelanggan ideal yg lain yg belum tergarap di proses pencarian Product Market Fit yang pertama.

Secara vertikal ada dua tahapan yang harus dilakukan adalah
1. Meningkatkan retention rate, membuat pelanggan stay lebih lama
2. Meningkatkan buying frequency, membuat mereka membeli lebih sering, memperpendek siklus pembelian
3. Meningkatkan basket size, baik dengan upselling, membuat pelanggan membeli lebih banyak, atau cross selling membuat pelanggan membeli varian produk yang lain.


#digitalmarketing2022

๐—ข๐—บ๐˜€๐—ฒ๐˜ ๐—ฃ๐—ฟ๐—ผ๐—ณ๐—ถ๐˜ ๐—”๐˜€๐˜€๐—ฒ๐˜


“Ashbahna wa ashbahal mulku lillฤhi wal hamdu lillahi, la ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai‘in qadir. 

Rabbi, as’aluka khaira ma fi hadzihil lailata wa khaira ma ba‘daha, wa a‘udzu bika min syarri ma fi hadzihil lailata wa khaira ma ba‘daha. 

Rabbi, a‘udzu bika minal kasli wa sลซ’il kibari. A‘ลซdzu bika min ‘azabi fin nari wa ‘adzฤbin dil qabri.”

Artinya: "Kami dan kuasa Allah berpagi hari. Segala puji bagi Allah. Tiada tuhan selain Allah yang maha esa, tiada sekutu bagi-Nya. 

Bagi-Nya segala kuasa dan puji. Dia kuasa atas segala sesuatu. Tuhanku, aku memohon kepada-Mu kebaikan malam ini dan malam sesudahnya. 

Aku memohon perlindungan-Mu kejahatan malam ini dan malam sesudahnya. Tuhanku, aku memohon perlindungan-Mu dari kemalasan dan keburukan masa tua. 

Aku memohon perlindungan-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur."

Selasa, 28 Desember 2021

๐Š๐”๐๐‚๐ˆ ๐๐„๐‘๐“๐€๐Œ๐€ ๐Š๐„๐€๐Œ๐€๐๐€๐ ๐…๐ˆ๐๐€๐๐’๐ˆ๐€๐‹



Kalau ditanya, apa kunci pertama agar kita aman secara finansial, jawabannya adalah: cash flow yang positif. Cash flow yang positif artinya jumlah pengeluaran lebih kecil dari jumlah pemasukan. Lalu, bagaimana mencapai cash flow yang positif ini? Hanya dua cara:

1. Menyederhanakan pengeluaran;
2. Meningkatkan penghasilan.

Untuk menyederhanakan pengeluaran:
- Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Bedakan pula kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.
- Bila penghasilan terbatas, fokus pada kebutuhan primer saja dulu. Hitung, berapa minimal uang yang perlu dimiliki untuk menutupi kebutuhan primer.
- Hidup berdasar anggaran yang sudah direncanakan. Caranya banyak, bisa dengan sistem amplop harian atau buat aturan hanya boleh ke ATM seminggu sekali.
- Hati-hati dengan belanja online. Uang digital seringkali nggak terasa berat dalam mengeluarkannya.
- Usahakan belanja dengan uang tunai, bukan kartu. Meski memudahkan, uang non tunai nggak terlihat besar saat kita keluarkan.
- Hindari utang berbunga (kartu kredit, pinjol, paylater, dll). Bagaimana dengan utang tanpa bunga? (Misal: pinjam teman) Boleh, asal siap bayar. Namun, ingat prinsip ini: Jangan membeli sesuatu dengan uang yang belum ada di tangan. 
- Jangan tergoda dengan peluang investasi atau peluang bisnis yang tidak jelas. Pegang erat-erat dompet Anda. Di luar sana banyak orang menginginkan isi dompet Anda dengan memberikan iming-iming.
- Sadari dua penyebab uang hilang yang utama: kerakusan dan kebodohan.

Untuk meningkatkan penghasilan:
- Pastikan punya kran penghasilan utama. Meskipun wiraswasta, pikirkan sumber penghasilan tetapnya dari mana.
- Pikirkan cara memberbesar kran penghasilan utama ini. Apakah dengan minta naik posisi, naikkan harga, atau memperbanyak jumlah pelanggan.
- Bila tidak memungkinkan memperbesar kran penghasilan utama, pikirkan untuk menghasilkan sumber penghasilan tambahan. Bisa dengan bekerja sampingan, jual jasa, jual produk, jadi reseller atau apapun. Meski sampingan, kelola dengan “serius.” Luangkan waktu khusus untuk mengurusnya.
- Jangan terlalu banyak punya pekerjaan sampingan jika pekerjaan utama belum punya. Fokus saja dulu membentuk sumber penghasilan utama. Tekuni satu bidang yang paling potensial. Kesalahan pemula adalah berusaha menghasilkan multiple streams of income sementara main streams of incomenya belum ada.
- Jangan bermimpi dapat penghasilan dari investasi. Investasi membutuhkan waktu untuk menghasilkan. Mulai berinvestasi boleh, tapi jangan bermimpi langsung dapat penghasilan dari sini.
- Lupakan passive income bila kita tidak paham cara kerja sebuah bisnis.


#cerdasfinansial

Senin, 13 Desember 2021

HAWNAN LEADERSHIP



14 abad yang lalu dunia dikejutkan oleh kepemimpinan Nabiullah Muhammad shalallahu'alaihi wassalam. Dalam kurun waktu 20 tahunan lebih sedikit, Beliau berhasil membangun komunitas kaum muslimin yang nantinya efektif memimpin dunia.

Tak berselang kurang dari 10 tahun sepeninggalan Nabi, peradaban Islam membebaskan puluhan juta kilometer persegi di area Romawi dan Persia. Sebuah kejutan besar, karena peradaban bersinar ini dimulai dari area gurun, tak bersumber daya, tertinggal dan tidak diperhitungkan.

Bangsa Romawi dan Persia itu terhentak kaget. Mereka kira pembebasan yang dilakukan oleh kaum muslimin itu dikomandoi oleh istana megah dan penuh persenjataan, ternyata berawal dari sebuah masjid yang sederhana. Bahkan tanpa atap, tanpa kubah, tanpa ornamen apa-apa.

Mereka kira kaum muslimin dipimpin oleh seorang Raja yang bersinggasana emas, berjubahkan sutra, duduk diatas permadani. Ternyata kaum Muslimin sedari awal dipimpin oleh Nabiullah Muhammad shallallahu'alaihiwassalam. Sosok yang bisa ditemui siapa saja, sosok yang tak bersinggasana, sosok yang hidup bersama orang lemah.

Pun setelah khalifah kedua Umar bin Khattab RA, Umar Radhiyallahu'anhu juga tetap sederhana, memberi komando ke seluruh kaum muslimin dari bawah pelepah kurma atap Masjid Nabawi. Sesederhana itu para pembebas dunia ini.

Inilah Hawnan Leadership, adalah manifestasi dari karakter seorang Hamba,

ูˆَุนِุจَุงุฏُ ุงู„ุฑَّุญْู…ٰู†ِ ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ูŠَู…ْุดُูˆْู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุงَุฑْุถِ ู‡َูˆْู†ًุง ูˆَّุงِุฐَุง ุฎَุงุทَุจَู‡ُู…ُ ุงู„ْุฌٰู‡ِู„ُูˆْู†َ ู‚َุงู„ُูˆْุง ุณَู„ٰู…ًุง

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. --- Q.S Al-Furqan [25] : 63

Mari kita berfokus ke kalimat ini : 

ูŠَู…ْุดُูˆْู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุงَุฑْุถِ ู‡َูˆْู†ًุง

Mereka berjalan diatas muka bumi ini dengan rendah hati. Hawnan. Ha wa na. Tenang, anteng, gak petantang petenteng.

Inilah refleksi kepemimpinan yang kemudian dijalankan Nabiullah Muhammad Shallallahu'alaihi wassalam, dan diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin setelahnya.

Seorang pemimpin yang bersedia memberikan orang buta. Seorang pemimpin yang memikul gandum untuk ummatnya. Seorang pemimpin yang selalu hadir di Masjid Nabawi, mendengarkan keluh kesah warganya. Seorang pemimpin yang gemar bermusyawarah, merendah, berkenan menyimak pendapat saudaranya.

Pada kepemimpinan merendah inilah, terhimpun berbagai kemuliaan. Berhimpunnya dukungan, berhimpunnya sumber daya, berhimpunya keberkahan.

14 abad yang lalu, kepemimpinan merendah ini terbukti berhasil memimpin dunia, menjadi sinar kepemimpinan peradaban, yang akhirnya menarik Romawi Timur dan Persia untuk masuk dalam ruang pelayanan kaum muslimin.

***

Hari ini jargon leadership terkadang mendewa-dewakan ketinggian. Bos yang serba bisa, bos yang mulia, bos yang tidak ada salahnya, bos yang harus dituruti. Kepemimpinan dengan basis ego tinggi ini sebenarnya biang dari segala masalah.

Owner bisnis yang sok tahu, sulit mendapatkan masukan. Dunia yang sudah berubah pun terus disangkal. Imajinasinya masih berkutat di masa lalu. Dikasih masukan gak bisa.

Pemimpin bisnis yang meninggi susah dijangkau. Terkadang gak menjejak ke bumi. Tim dibawah sudah babak belur, imajinasinya masih saja melayang-layang gak menjejak, akibat jarang turun ke bawah, merasa spesial, merasa istimewa, sehingga hidup dalam penjara eksklusifitas. Kehilangan data valid.

Pengusaha yang merasa tinggi akan kehilangan kerendah hatian. Suasana hubungan yang humble akan sulit terasa. Ini yang akan membuat sumber daya menjauh, dukungan menjauh, karena aroma arogan dan dominan ketinggian egonya tercium keras di para mitra.

Pemimpin yang memutuskan hidup di puncak gunung memang akan tidak punya apa-apa dan kesepian. Di puncak gunung memang tidak ada apa-apa. Oksigen kurang, tumbuhan jarang, apalagi pemukiman. Pemimpin ego puncak akan nestapa.

Berbeda dengan Pemimpin Hawnan, pemimpin yang memutuskan hidup di lembah rendah. Pemimpin seperti ini akan penuh sumber daya, penuh saya dukung, penuh pertemanan. Karena di lembahlah semuanya terhimpun.

Dalam lembah yang rendah itu, air di gunung pun jatuh ke bawah, binatang gemuk pun hadir ke lembah, minum ke sungai. Tanaman pun subur-subur, penuh biji-bijian dan buah-buahan. 

Inilah kunci rahasia Hawnan Leadership. Sudah saatnya kita dengungkan kembali konsep kepemimpinan Nabi yang melembah, bukan memuncak.

***

Masjid Kapal Munzalan bisa jadi salah satu masjid modeling terbaik di negeri ini. Dengan raihan ziswaf 10M lebih per bulan, dan memiliki jaringan Baitul Maal serta gerakan di lebih dari 100 kota, saya insyaAllah gak berlebihan jika menobatkan masjid ini sebagai masjid terdepan di negeri ini.

Masjid yang kemudian memotori hadirnya 850 beras bagi ribuan pondok penerima manfaat dari Infaq Beras. Gerakannya ya dimulai dari Masjid ini.

Dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun, Masjid Kapal Munzalan menjelma menjadi "Masjid Franchise" pertama yang ada di negeri ini. Tiba-tiba ada puluhan titik Masjid Kapal Munzalan di negeri ini. Jakarta, Bogor, Jogja, Balikpapan, Bone, Pinrang, Pare-pare, dan menyusul di berbagai kota lainnya.

Jika kita mencoba untuk bermukim di Masjid Kapal Munzalan Pontianak dalam dua pekan saja, setidaknya hampir setiap pekan hadir wakaf tanah dan wakaf kendaraan. Non stop. Silih berganti.

Maka cobalah lihat bagaimana Kepemimpinan Masjid Kapal Munzalan ini dijalankan. Silakan disimak bagaimana rendah hatinya sang Founder Masjid, Tok Ya, Abangda Muhammad Nur Hasan . Yang saking rendah hatinya menyerahkan pengasuhan masjid yang beliau wakafkan ke Kiyai Luqman

Dan lihatlah Kiyai Luqmanulhakim, yang dengan kerendah hatiannya meleburkan gerakan infaq berasnya ke Masjid Munzalan. Meleburkan gerakannya, meleburkan dirinya, bahkan ridho menurunkan nama Ashabul Yamin sebagai gerakan awal beliau.

Melihat kepemimpinan Masjid Munzalan, Anda hanya menemukan kerendah hatian dari para pemimpinnya, itu yang membuat mereka besar. Mereka adalah pemimpin yang memutuskan melembah, mendengarkan, menghargai, memuliakan orang lain. Jauh dari tabiat meninggi.

***

Tulisan oleh ustad Rendy Saputra

Rabu, 08 Desember 2021

MARKETING ADALAH KONTES CARI PERHATIAN


All companies do marketing. Yes, semua perusahaan punya kegiatan marketing. Ada yang berhasil. Banyak juga yang buang-buang uang mubazir. Jadinya GG. Dan ada juga yang “clueless” ndak faham mau ngapain. The latest one is pathetic. 

So guys, 
what does marketing really means?

Well, intinya menurut Tn. Godin (Marketing Guru) Apapun kegiatan marketingnya, yang dilakukan tujuannya satu aja: BUYING ATTENTION. Yah, beliau bilangnya “marketing is a contest for people’s attention”. 

Marketing itu seperti sebuah perlombaan mencari perhatian. Itu saja katanya. Setelah dapet perhatian, then sales will comes naturally. 

Siapa sih marketers yang akan jadi pemenang dari lomba mencari perhatian ini. Kalau kata Tn. Godin, ada beberapa kriteria pemenangnya (4 types):

— Mereka yang menjual experiences. Yah trend hari ini seperti yang saya tuliskan juga adalah “Do not sell the product, but sell the experiences”. Artinya tujuan utama adalah pengalaman, behasil menjual produk itu sebenernya impact.

— Marketers yang punya prinsip “be a friend to get a friend”. Well yeah, authentic natural to the bone. Ndak pura-pura. Ndak ngasih ekspektasi berlebih. Yes, jika kamu temen saya, saya ndak akan ragu beli dari kamu.

— Marketers yang faham customer centric itu apa. Yes, marketers yang faham apapun produknya dan bagaimanapun tipe pelanggannya yang harus dilakukan adalah “mendengarkan”. It is kinda the important meet the urgent. Wajib dan mendesak.

— Marketers yang selalu faham target market selalu berubah, apalagi hari ini market as you know it udah usang. Artinya wajib update, wajib faham kerumunannya berada dimana. Shifting kemana wajib tahu. Rule of the games harus difahami dengan baik.

Yeah, bisa dipastikan kawan-kawan pasti faham. Hari ini, dilautan pasar yang penuh dengan derau (noise), mau ndak mau para marketers wajib membuat breakthough atau ide-ide segar untuk memenangkan “attention” market. Untuk bisa berdiri megang diatas kerumunan.

Sebenernya intinya sama sih dengan literatur2 yang lain. Fahami pelanggannya dulu, kemudian lakukan engage dengan mereka. Setelah engage they will soon LISTEN YOU. Yes, for sure, then they WILL BUY from you. Gitu sih sikliknya.


Mentalitas Kaya..


Ini tulisan berbobot dari seorang prakitisi Quran.. Alquran bukan hanya sekedar informasi dan teori.. tapi sebagai sebuah petunjuk untuk dipraktekkan

Oleh guru saya Riza Zacharias owner syamil Quran..  jangan lupa follow akun beliau.. yak

MEMILIH CARA KAYA

Tulisan2
(dari 3 bagian)

A’udzubillahiminasysyaithaanirrajiim..
Bismillahirrahmaanirrahiim..

Alhamdulillah, tulisan ke-2 tentang ‘Cara Menjadi Kaya’, kelar juga. 
๐Ÿ˜…๐Ÿ˜๐Ÿ™

Saya mulai dengan langkah yang ke-1. Pondasi (lagi). 

1. Mentality dan Mindset

Sebelum menjadi kaya dalam bentuk berkecukupannya harta, maka yang pertama harus ‘selesai’ adalah, MILIKILAH MENTAL KAYA.

Kalau dah kaya dari lahir? Atau terlanjur kaya, gimana? 
Sama. Cek ulang! Apakah itu seiring dengan sudah dimilikinya mental kaya? Atau belum?

Kalau bicara istilah mental kaya, berarti ada kebalikannya. Ya! Betul banget! Jangan sampai kita malah sebaliknya, memiliki mental miskin. 

Eeee...bentar-bentar. Memangnya bisa, kondisi riil saat ini masih miskin, tapi punya mental kaya? 
Atau sebaliknya, kaya (harta) namun mentalitas miskin.

Ada bangeeet. 

Contohnya:

- Orang yang miskin harta, namun dia kaya hati. Tidak pernah menganggap atau menyimpulkan, bahwa “kemiskinan dalam bentuk harta”, adalah ketetapan ‘harga mati’ dariNYA. Ia tetap husnudzan dan yakin, bahwa DIA adalah sang Maha Pemberi Rezeki terbaik, dan bahwa rezeki terbaiknya tidak harus dalam bentuk harta melimpah. Jikapun sudah maksimal ikhtiar dan belum dapat yang dirasa ‘pantas’, maka mereka punya karakter tetap husnudzan pada Allah.

- Mereka di setiap ada kesempatan memberi atau membantu oranglain, selalu digunakan. Tidak dia sia-siakan. Bahkan jikapun sulit kesempatan itu muncul, dia menjadikan “memberi dan membantu” sebagai bagian dari ‘passion’nya. 

Naaah....
Sebagai muslim, sangat banyak pesanNYA dan pesan RasulNYA, bahwa seorang muslim itu, ‘hakikat’nya mesti “kaya”. Bahkan bukan hanya kaya hati, tapi juga kaya harta.

Allah Swt berfirman: 

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.” 
(QS. Al-Hijr [15]:19-20).

‎ู…َุง ุฃَู†ْุฒَู„ْู†َุง ุนَู„َูŠْูƒَ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ู„ِุชَุดْู‚َู‰ٰ
“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.”
(QS. Thaha: 2)

Di ayat lain, Allah swt berfirman: 
‎ู‡ُูˆَ ุงู„َّุฐِูŠ ุฌَุนَู„َ ู„َูƒُู…ُ ุงู„ْุฃَุฑْุถَ ุฐَู„ُูˆู„ًุง ูَุงู…ْุดُูˆุง ูِูŠ ู…َู†َุงูƒِุจِู‡َุง ูˆَูƒُู„ُูˆุง ู…ِู†ْ ุฑِุฒْู‚ِู‡ِ 
“Dialah yang menjadikan bumi itu MUDAH bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya”. 
(QS. Al-Mulk:15)
Tentang ayat ini, Ibnu Katsir mengatakan: ” Menyebarlah kemanapun kalian inginkan di penjuru-penjuru-Nya, dan berkelilinglah di sudut-sudut, tepian dan wilayah-wilayah-Nya untuk menjalankan usaha dan perniagaan". 

Jika kita memaknai dan yakin akan mutlaknya kebenaran Al Quran, maka kita akan yakin juga bahwa islam sebagaimana karakteristik ajarannya, diturunkan untuk “memudahkan” urusan ummatnya, pengikutnya. 

Jadi inSyaAllah, urusan “Cara Menjadi Kaya” pun jika merujuk panduan Islam (harusnya) tetap kita jalani prosesnya dengan bahagia. 

Ini bukan ngegampangin?
Bukan!
Bukan ngegampangin ataupun prosesnya menjadi gampang. 
Tapii...
inSyaAllah jika memahami panduannya (al Quran, al Islam), mudah-mudahan menjadi jauh lebih mudah. 

Trus, gimana? 
Gini, tetep. 
Mulai dari mentality dan mindset harus benar dulu. 
Bahwa kadar rezeki setiap orang sudah ditetapkanNYA, iya.
Bahwa kita dibikin tidak tahu jatah maksimal rezeki kekayaan kita berapa besar? Iya. 

Sebab:
- Allah suka hambaNya lakukan ikhtiar terbaik.
- Allah cinta dan senang jika hambaNya menghiba memohon, selalu mendekat bergantung padaNya.
- Allah jadikan itu jalan ujian yang mesti dilalui prosesnya, sebagai pembeda mana hambaNya yang mengejar ridhaNya, mana yang tidak berputus asa atas rahmatNya, mana yang berputus asa terhadap rahmatNya. 

Pun, bagaimana sikap hamba saat mudah mendapat harta, atau saat ‘sulit’ mendapatkannya, 
- apakah yang mudah dapat dan atau banyak dapat tetap pandai bersyukur? 
Atau jadi lupa diri merasa karena kepandaian dan kerja hebatnya sajalah maka dia merasa pantas dapat harta banyak? 
- apakah yang sulit dapat atau kurang, tetap husnudzan padaNya dan bersabar? 
Atau malah merasa Allah tidak menyayanginya?

Coba lihat, bagaimana Allah dan RasulNYA, menjadikan Rukun Islam sebagai Pilar ‘sempurna’ nya seseorang menjadi muslim/ah:

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata: 

“Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: 
Islam dibangun diatas lima perkara; 
- bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, 
- menegakkan shalat, 
- menunaikan zakat, 
- melaksanakan haji dan 
- puasa Ramadhan.”
(Riwayat Turmuzi dan Muslim)

Lihat kalimatnya, kadar tekanannya sama. Bagaimana bahwa perintah zakat, perintah haji, amat sangat terkait dengan “kekayaan” (relatif).
Tapi, kongkritnya dua pilar islam itu bisa kita tunaikan, jika kita punya harta. Tidak tergolong mustahik, dan punya harta untuk berzakat dan naik haji.

Apakah kita berani mengatakan, bahwa Allah tidak Maha Mengetahui? Betapa akan ada penganut agamanya yang tinggal di sebuah negara kepulauan yang bernama Indonesia, yang ratusan juta jumlahnya dan mayoritasnya miskin? 

Apakah kita berani menyimpulkan bahwa Allah seolah tidak ‘adil? Membuat aturan yang “sulit sekali” ditunaikan oleh semua penganutnya??

Tidak mungkin kaan? 
Kita yakin Allah Maha Mengetahui, dst..
Tidak mungkin Allah tidak Maha Mengetahui, tidak mungkin Allah tidak ‘adil. 
Itu sebab pengertian mendasar ini mesti kita luruskan! 
Kita luruskan fundamental mentalitas kita, fundamental pemahaman atau mindset kita.

Maka, jika yang boleh tidak zakat dan tidak berhaji adalah mereka muslim yang tidak mampu, bisa kita katakan, bahwa semua rukun islam itu WAJIB ditunaikan, KECUALI bagi yang tidak mampu.

Shalat, wajib berdiri bagi yang mampu, duduk jika sakit. Jika masih ngga bisa maka berbaring. Ngga bisa melafadzkan, maka pakai isyarat. Masih ngga bisa? 
Maka di shalatkan.
๐Ÿ˜…

Shaum, begitu pula. Zakat, sama. Haji? Pun demikian.

Okay. Kita selesai yaa.. di point ini. 
Maka, sebagai muslim, mestinya mentality dan mindset yang kita miliki adalah:

JANGAN MAU JADI MUSLIM YANG KECUALI!

InSyaAllah, menjadi muslim, harus sangat yakin dan bersemangat, oleh sebab (ternyata) dari ‘sononya’ sudah mengemban “misi kaya”. 

Asyiiiik...

Lantas, apalagi?

Di titik ini baru kita pilih lagi. 
KAYA yang BAGAIMANA?

Ini yang kita harus pagari dengan pemahaman, agar kayanya seorang muslim, adalah kaya yang mengundang RidhaNYA.

Iya sih, yang paling utama dan penting adalah Allah ridha sama kita. Semoga, RidhoNya dapat, dan rezeki melimpah untuk kemaslahatan ummat yang besar juga dapat, sebagaimana do’a sakti sejak kecil, 

Robbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar...

Bukan sekedar menjadi kaya harta. Sebab kebutuhan kita segitu-gitunya. Namun harus berpikir, bahwa jika kita kaya untuk diri sendiri, pastilah ada mentoknya. Jika kita kaya untuk bisa membantu sebanyak-banyaknya sesama? Maka visi besar ini akan mengantarkan kita pada upaya membangun kebaikan, membangun peradaban. 

Never ending ikhtiar, never ending ‘semangat’, dan menjadi ibadah inSyaaAllah...

Daaan...kabar baiknya... ada beberapa jalan menuju Kaya. Kita pilh yang mana? 

Tulisan ke-3 inSyaAllah..

Wallahu a’lam

Riza Zacharias

#SyaamilQuran
#MuhammadTeladanku

Rabu, 17 November 2021

INFJ, Si Kepribadian Paling Langka



Salam Pengetahuan Bagi Kita Semua!

Kepribadian INFJ merupakan singkatan dari kata Introverted, Intuitive, Feeling, Judging. INFJ kerap dijuluki sebagai 'The Advocate' atau 'Sang Penasihat'. Dijuluki hal tersebut karena memang orang yang memiliki kepribadian INFJ umumnya suka menolong, suportif, dan sangat peka terhadap perasaan orang lain. Tercatat hanya 1-3% orang yang memiliki kepribadian INFJ. Oprah Winfrey, Taylor Swift, dan Martin Luther King Jr merupakan artis yang ternyata memiliki kepribadian INFJ. 

Kenapa disebut INFJ? 

Introversion artinya orang dengan kepribadian ini cenderung memiliki sifat introvert, sehingga membutuhkan waktu sendiri untuk kembali mengisi energinya. Sementara itu intuition artinya orang tersebut lebih suka memerhatikan pola dan garis besar dari suatu hal dibanding detail teknisnya. Sifat intuitionnya juga membuat para INFJ senang memikirkan tentang kemungkinan, berimajinasi soal masa depan, dan berdiskusi soal teori-teori abstrak.
Karakter feeling pada INFJ menandakan bahwa saat mengambil suatu keputusan, mereka akan lebih mempertimbangkan soal perasaan dan emosi dirinya dan orang-orang di sekitarnya dibandingkan dengan hal-hal yang logis dan tidak personal. 

Terakhir, karakter judging pada INFJ menandakan cara orang tersebut berhadapan dengan dunia atau orang-orang di sekitarnya. Orang dengan kepribadian ini lebih suka dengan hal-hal yang terstruktur dan bulat saat mengambil keputusan.
Namun dibalik itu semua, INFJ memiliki beberapa fakta yang unik dan juga mengejutkan. 

Berikut adalah fakta mengenai kepribadian INFJ:

1. Kepribadian INFJ suka berpikir lebih dalam

Orang dengan tipe kepribadian INFJ suka menemukan makna dan mendalami makna suatu hubungan. Mereka yang memiliki kepribadian INFJ lebih menyukai alasan yang lebih dalam ketika seseorang membuat keputusan atau melakukan sesuatu dan tidak puas hanya karena penampilannya. 

2. Introvert yang bukan berarti penyendiri

INFJ sendiri merupakan introvert. Namun bukan berarti mereka selalu menyendiri atau hidup sendiri. Mereka dapat membangun hubungan yang kuat dengan orang di sekitarnya serta membantu orang lain. Hanya saja ketika mereka kekurangan energi, mereka suka menikmati me time untuk mengisi ulang energi mereka.

3. Berada pada gelombang yang berbeda

INFJ kerap dianggap asing oleh orang lain. Karena INFJ sendiri memiliki dua sisi yang berlawanan pada diri mereka, yakni tertutup dan juga berorientasi pada orang lain. Kaum INFJ sendiri sangat sulit dimengerti oleh orang-orang sekitarnya. Mereka sendiri pun tidak tahu pada kepribadian mereka sendiri. Alhasil INFJ sering merasa terasingkan dan salah memahami mereka. 

4. Emosional dan rasional dalam waktu bersamaan

Dua hal tersebut membuat INFJ begitu istimewa. Dalam tes kepribadian MBTI, INFJ punya kepribadian yang hampir sama dengan INTJ. Bedanya hanya INTJ lebih menggunakan pikiran (thinking) dibandingkan dengan perasaan (feeling). 

5. Sering bertepuk sebelah tangan

INFJ dikenal sebagai pendengar yang hebat. Mereka bahkan mampu menciptakan keterikatan emosi yang mendalam pada orang lain. Dalam artian INFJ juga sering bertepuk sebelah tangan karena lebih sering memberi lebih banyak dibandingkan dengan apa yang mereka terima. Contohnya seperti, INFJ selalu menjadi pendengar bagi orang lain namun mereka sulit didengan oleh orang lain. 

6. Sensitif pada konflik

INFJ selalu berusaha membangun hubungan yang baik dengan orang di sekitarnya, sehingga adanya perdebatan atau pertengkaran kerap membuat mereka merasa tertekan. INFJ akan mengalami gejala seperti sulit tidur, sakit perut, hingga sakit kepala saat bertengkah dengan orang yang ia rasa dekat dengan dirinya. Namun bukan berarti orang yang memiliki kepribadian ini, harus menghindari konflik seterusnya. 

7. Merasa dilahirkan untuk hal yang luar biasa

Para INFJ kerap memikirkan bahwa mereka ditakdirkan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Namun masalahnya, banyak yang 'tersesat', tidak tahu bagaimana cara mengubah dunia atau mengangggap diri mereka tidak memiliki kemampuan yang sepadan untuk melakuka hal itu. 

8. Pemimpi 

Dan yang terakhir adalah pemimpi. Saat semua orang sibuk dengan membicarakan tentang selebriti atau hal-hal yang panas lainnya, INFJ lebih suka memikirkan hal-hal yang berbau perjalan waktu, arti dari kehidupan, dan juga hal-hal yang luar biasa lainnya. Tetapi pada umumnya orang-orang berkepribadian INFJ kerap tidak menceritakan hal-hal yang terlintas dalam pikiran mereka. Mereka menganggap bahwa orang lain tidak akan tertarik kepada hal-hal yang dipikirkan oleh INFJ. 

Itulah pengertian dan juga fakta menarik sekaligus mengejutkan mengenai INFJ. Bagi kalian yang memiliki kepribadian seperti itu harus merasa istimewa karena kalian berbeda dengan banyak orang di dunia ini. Jika kalian belum mengetahui tipe kepribadian kalian, bisa cek saja di Google Test MBTI secara online. 

Panjang Umur Perjuangan, Panjang Umur Ruang Pengetahuan

Minggu, 14 November 2021

AGAR ALLAH RIDHO TERHADAP BISNIS KITA



Berdasarkan pengalaman ...
Ada 2 Hal yang mesti dipelajari saat memulai Bisnis..
Ilmu Dunia dan Ilmu Akhirat nya..

Ilmu Akhirat atau Ilmu Allah adalah syarat2 syarie yang mesti kita pelajari sebelum ber Muamalah..
Apa saja yg mesti kita pahami : 
- Fiqih Muamalah
- Aqad antar kita dgn Investor
- Aqad antar Perusahaan/Owner dgn Staff
- Aqad antar Perusahaan dgn Pihak2 Ketiga
- Sumber2 Modal Kerja Yang Halal
- Hak & Kewajiban Kerja Secara Syariah
Dll

Sedangkan Ilmu Dunia meliputi :
- Bisnis Proses /Operasional Bisnis yg akan kita geluti.
- Management Perusahaan terkait SDM & Keuangan.
- Bagaimana memasarkan Product terkait : Branding, Marketing and Selling.

Banyak dr Kita terkadang saat memulai Bisnis..
Yang paling dahulu d utamakan adalah Bab Ilmu Dunianya..
Shg terkadang salah dr sisi menetapkan modal kerja dr Riba, aqad2 yang tidak syarie dll..
Sehingga dikhawatirkan Allah tidak ridho terhadap bisnis kita..
Kita bekerja keras mengejar Omzet, namun tak juga kunjung datang, atau mendapatkan Omzet namun tetap saja Bisnismya bermasalah..

Bahkan seolah2 Bisnis kita maju..
Namun ternyata itu hanya Istidraj saja sebagai cobaan dr Allah..

Seandainya ada seorang Imam /Ulil Amri yang baik dlm sebuah Institusi Negara..
Kontrol tersebut mestinya dijalankan oleh negara..
Memastikan Bisnis Rakyatnya harus sesuai Syariat..
Agar Allah Ridho terhadap kita..

Perhatikan kisah tentang Umar Bin Khattab saat menjadi Khalifah..
Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa Beliau memerintahkan para penguasa untuk mengumpulkan seluruh pedagang dan orang-orang pasar, lalu beliau menguji mereka satu-persatu..
Saat Beliau dapati di antara mereka ada yang tidak mengerti Hukum Halal-Haram tentang jual-beli, maka Umar Bin Khattab melarangnya Para Pedagang masuk ke pasar seraya menyuruhnya mempelajari Fiqih Muamalat..
Bila telah paham, para Pedagang tersebut dibolehkan masuk pasar.

Kemudian diriwayatkan dari Abu Laits, ia berkata,

ู„َุง ูŠَุญู„ُّ ู„ِู„ุฑَّุฌُู„ ุฃَู†ْ ูŠَุดْุชَุบِู„َ ุจِุงู„ْุจَูŠْุนِ ูˆَุงู„ุดِّุฑَุงุกِ ู…َุงู„َู…ْ ูŠَุญْูَุธْ ูƒِุชَุงุจَ ุงู„ْุจُูŠُูˆْุน

Seorang laki-laki tidak halal melakukan akad jual-beli selagi dia belum menguasai bab fiqih jual-beli.

Sungguh indah jika menjalankan segala sesuatunya berdasarkan Syariat Allah..
Termasuk memulai dan menjalankan Bisnis..
Ittaqillah... Ittaqillah haitsuma kunta..
Semoga Allah masukkan kita kepada Golongan orang2 yang sabar..
Sabar dalam berikhtiar HANYA mencari yg Halal..
Sabar dalam menjalani Bisnis..
Sabar dalam setiap cobaan..

Bisa jadi kita salah memulai..
Tetapi Muslim Yang Cerdas adalah ketika ia salah melangkah, maka ia segera memperbaiki diri..

Rabu, 10 November 2021

๐—ฃ๐—ฎ๐—ธ, ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฐ๐—ฎ๐—น๐—ผ๐—ป ๐—–๐— ๐—ข ๐—บ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ ๐—ด๐—ฎ๐—ท๐—ถ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ ๐˜€๐—ฑ ๐Ÿฎ๐Ÿฑ๐—ท๐˜ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ, ๐—ฏ๐—ฒ๐—ด๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ฝ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐˜„๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ป๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฏ๐—ถ๐˜€๐—ป๐—ถ๐˜€ ๐˜€๐—ฎ๐˜†๐—ฎ. 
.
.

๐—ง๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ๐—บ ๐—ฐ๐˜ƒ ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ ๐˜„๐—ฎ ๐˜€๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐˜€...๐˜๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ธ ๐˜†๐—ผ๐˜‚, ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐˜‚.
.
.

๐—Ÿ๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐—ถ-๐—ฝ๐˜‚๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด-๐—ฎ๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜€ ๐—ต๐—ฎ๐—น ๐—ถ๐—ป๐—ถ.
.
.

๐—ฆ๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—น ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ, ๐—ฝ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ.
.
.

๐—ฆ๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ..๐˜€๐—ผ๐˜๐—ผ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ถ๐—ฟ๐—ผ ๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐˜€, ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐˜‚ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜
.
.

๐—ฆ๐—ฒ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ธ๐˜‚๐˜€๐—ถ ๐Ÿญ ๐—ท๐—ฎ๐—บ, ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐—ถ ๐—ฝ๐˜‚๐˜๐˜‚๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—น ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐˜ ๐—ถ๐—ป๐—ถ.
.
.

๐—จ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป ๐—ฏ๐—ถ๐˜€๐—ป๐—ถ๐˜€ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ผ๐—บ๐˜€๐—ฒ๐˜ ๐Ÿญ๐Ÿฌ ๐˜€๐—ฑ ๐Ÿญ๐Ÿฌ๐Ÿฌ๐—ท๐˜ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฏ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—ฏ๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐˜€๐˜‚๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—บ ๐˜†๐—ด ๐—ฐ๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐—ป. ๐—ฆ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—ฝ๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ๐—ป, ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด, ๐—ผ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ผ๐—ป๐—ฎ๐—น, ๐—ณ๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ฐ๐—ฒ, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—›๐—ฅ.

๐—ž๐—ฎ๐—น๐—ผ ๐—บ๐—ฎ๐˜‚ ๐—ป๐—ฎ๐—ถ๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฒ ๐Ÿญ๐— , ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ต ๐˜๐˜‚ ๐˜๐—ถ๐—บ ๐˜†๐—ด ๐—ถ๐˜€๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜๐—ต๐—ถ๐—ป๐—ธ๐—ฒ๐—ฟ ๐—น๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ธ. ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—น ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚. ๐—•๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—บ ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ถ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—ฐ๐—ผ-๐—ณ๐—ผ๐˜‚๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ. 

๐——๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐Ÿญ๐—  ๐—ธ๐—ฒ ๐Ÿฏ๐—  ๐—ฏ๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ต ๐˜€๐˜‚๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฒ๐—ฎ๐—บ. ๐—ง๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—ป๐˜-๐˜๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—ป๐˜ ๐—ท๐—ฎ๐—ด๐—ผ๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ถ๐˜€๐—ป๐—ถ๐˜€๐—บ๐˜‚ ๐—น๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ฐ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜. ๐—ž๐—ผ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ต๐—ถ๐—ป๐—ธ๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐˜๐—ผ๐—ฟ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ท๐—ฎ๐—ด๐—ผ๐—ฎ๐—ป. ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—ป๐˜ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฝ๐—ผ๐˜€๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐—ฒ๐˜…๐—ฒ๐—ฐ๐˜‚๐˜๐—ผ๐—ฟ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฟ๐˜‚๐˜ ๐—น๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ท๐—ฎ๐—ด๐—ผ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜†๐—ด ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ.

๐—จ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ ๐—น๐—ฒ๐˜ƒ๐—ฒ๐—น ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿฏ๐—  ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐˜‚๐˜€๐˜๐—ฎ๐—ถ๐—ป, ๐—ธ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฏ๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ต ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐—ธ๐—ถ๐—ป ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐—ฟ๐—ผ๐—ณ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ผ๐—ป๐—ฎ๐—น. ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฐ๐—ผ๐—ฟ๐—ฝ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ฒ ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ. ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ฝ๐˜‚๐˜‡๐˜‡๐—น๐—ฒ ๐˜€๐˜‚๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ๐—บ-๐—บ๐˜‚. ๐—ง๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ฒ๐—ฟ ๐—ธ๐—ป๐—ผ๐˜„๐—น๐—ฒ๐—ฑ๐—ด๐—ฒ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฟ๐—ผ๐—ณ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ผ๐—ป๐—ฎ๐—น ๐—บ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐˜€๐—ฒ๐˜ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ถ๐˜๐˜‚. ๐—ง๐—ถ๐—บ ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—ธ๐˜‚๐˜ ๐—ป๐—ฎ๐—ถ๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€. ๐—Ÿ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ถ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฒ๐—ป๐—ด. ๐——๐—ถ ๐˜๐—ถ๐—บ ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป, ๐˜€๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด-๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ ๐—น๐—ฒ๐˜ƒ๐—ฒ๐—น ๐—ถ๐—ป๐—ถ. ๐—•๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ผ๐˜€...

๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐˜„๐—ผ๐—ฟ๐—ธ?

๐—•๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜, ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—น, ๐˜€๐˜‚๐—ธ๐˜€๐—ฒ๐˜€ ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ฏ๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ด๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—น, ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ณ๐—ฎ๐˜€๐—ฒ ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ. ๐—œ๐˜๐˜€ ๐—ผ๐—ธ๐—ฎ๐˜†...

๐—ง๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ต๐—ฎ, ๐˜๐˜‚๐—ด๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐—ถ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—น ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐˜‚๐˜๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป? 

๐—•๐—˜ ๐—•๐—ฅ๐—”๐—ฉ๐—˜

๐—๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—น๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ ๐˜€๐—ผ๐—ต๐—ถ๐—ฏ ๐Ÿ˜

๐๐ˆ๐’๐Œ๐ˆ๐‹๐‹๐€๐‡ ๐Š๐Ž๐Œ๐ˆ๐’๐€๐‘๐ˆ๐’?


๐Š๐š๐ฅ๐š๐ฎ ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฌ๐ž๐›๐š๐ ๐š๐ข ๐จ๐ฐ๐ง๐ž๐ซ ๐ฆ๐š๐ฌ๐ข๐ก ๐ข๐ค๐ฎ๐ญ ๐ญ๐ž๐ซ๐ฃ๐ฎ๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐š๐ซ๐š๐ก๐ค๐š๐ง ๐ค๐š๐ซ๐ฒ๐š๐ฐ๐š๐ง (๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ง๐  ๐ฃ๐š๐ฐ๐š๐› ๐ญ๐ž๐ซ๐ก๐š๐๐š๐ฉ ๐ค๐ข๐ญ๐š), ๐›๐ž๐ซ๐š๐ซ๐ญ๐ข ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฌ๐ž๐›๐š๐ ๐š๐ข ๐จ๐ฐ๐ง๐ž๐ซ ๐ฆ๐ž๐ซ๐š๐ง๐ ๐ค๐š๐ฉ ๐‚๐„๐Ž.

๐Š๐š๐ฅ๐š๐ฎ ๐๐ข ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง ๐ค๐จ๐ซ๐ฉ๐จ๐ซ๐š๐ญ, ๐๐ข ๐š๐ญ๐š๐ฌ๐ง๐ฒ๐š ๐‚๐„๐Ž ๐ฆ๐š๐ฌ๐ข๐ก ๐š๐๐š ๐ฅ๐š๐ ๐ข ๐จ๐ซ๐š๐ง๐ -๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐๐ข ๐š๐ญ๐š๐ฌ๐ง๐ฒ๐š. ๐Œ๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐ข๐ง ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฌ๐ž๐ซ๐ข๐ง๐  ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ซ ๐ข๐ฌ๐ญ๐ข๐ฅ๐š๐ก ๐๐จ๐š๐ซ๐ ๐จ๐Ÿ ๐‚๐จ๐ฆ๐ฆ๐ข๐ญ๐ญ๐ž๐ž, ๐๐จ๐š๐ซ๐ ๐จ๐Ÿ ๐ƒ๐ข๐ซ๐ž๐œ๐ญ๐จ๐ซ๐ฌ, ๐๐š๐ง ๐ฌ๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฌ๐š๐ญ๐ฎ๐ง๐ฒ๐š ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐Š๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ, ๐ฉ๐จ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ž๐ญ ๐ฃ๐š๐๐ข ๐›๐š๐ก๐š๐ง ๐ ๐ฎ๐ฒ๐จ๐ง๐š๐ง "๐๐ข๐ฌ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ฅ๐š๐ก ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ", ๐ก๐ž๐ก๐ž๐ก๐ž๐ก๐ž.

๐๐š๐ก, ๐ฌ๐ž๐›๐ž๐ญ๐ฎ๐ฅ๐ง๐ฒ๐š, ๐š๐ฉ๐š ๐Ÿ๐ฎ๐ง๐ ๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ ๐๐š๐ง ๐š๐ฉ๐š๐ค๐š๐ก ๐ฉ๐ž๐ง๐ญ๐ข๐ง๐  ๐›๐ฎ๐š๐ญ ๐”๐Œ๐Š๐Œ ๐ฉ๐ฎ๐ง๐ฒ๐š ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ?

~~~

๐‰๐š๐๐ข ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฃ๐š๐›๐š๐ญ๐š๐ง ๐ญ๐ž๐ซ๐ญ๐ข๐ง๐ ๐ ๐ข ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง ๐๐š๐ง ๐ญ๐ž๐ซ๐ค๐š๐๐š๐ง๐  ๐›๐ข๐ฌ๐š ๐ฃ๐ฎ๐ ๐š ๐›๐ž๐ซ๐ญ๐ข๐ง๐๐š๐ค ๐ฌ๐ž๐›๐š๐ ๐š๐ข ๐ฉ๐ž๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ค ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง/๐ฉ๐ž๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ค ๐ฌ๐š๐ก๐š๐ฆ.

๐๐จ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข ๐ข๐ง๐ข ๐›๐ž๐ค๐ž๐ซ๐ฃ๐š ๐ฌ๐š๐ฆ๐š ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ง ๐๐ข๐ซ๐ž๐ค๐ฌ๐ข (๐๐ž๐ฐ๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐š๐ซ๐š๐ก) ๐๐š๐ง ๐›๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ง๐  ๐ฃ๐š๐ฐ๐š๐› ๐š๐ญ๐š๐ฌ ๐ค๐ž๐ฆ๐š๐ฃ๐ฎ๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐ซ๐ญ๐š ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ฐ๐š๐ก๐ข ๐ฉ๐ข๐ก๐š๐ค-๐ฉ๐ข๐ก๐š๐ค ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐š๐๐š ๐๐ข ๐›๐š๐ฐ๐š๐ก๐ง๐ฒ๐š ๐ฌ๐ž๐œ๐š๐ซ๐š ๐ฅ๐š๐ง๐ ๐ฌ๐ฎ๐ง๐ .

๐Š๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ญ๐ฎ๐ง๐ฃ๐ฎ๐ค ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ก ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฐ๐š๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ž๐ฅ๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ก ๐ค๐ž๐ ๐ข๐š๐ญ๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง, ๐ญ๐ž๐ซ๐ฎ๐ญ๐š๐ฆ๐š ๐ญ๐ž๐ง๐ญ๐š๐ง๐  ๐ค๐ž๐›๐ข๐ฃ๐š๐ค๐š๐ง ๐๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ฅ๐จ๐ฅ๐š๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง.

๐”๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ง๐ฒ๐š, ๐ฃ๐š๐›๐š๐ญ๐š๐ง ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ข๐ฌ๐ข ๐จ๐ฅ๐ž๐ก ๐ฌ๐ž๐ค๐ž๐ฅ๐จ๐ฆ๐ฉ๐จ๐ค ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ž๐ซ๐ง๐š๐ฆ๐š ๐๐ž๐ฐ๐š๐ง ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ. ๐ƒ๐ž๐ฐ๐š๐ง ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ž๐ง๐๐ข๐ซ๐ข ๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง ๐จ๐ฅ๐ž๐ก ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ญ๐š๐ฆ๐š.

๐˜๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ฎ๐š๐ญ ๐ฉ๐จ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐š๐ง๐ ๐ ๐š๐ฉ ๐ฉ๐ž๐ง๐ญ๐ข๐ง๐  ๐ข๐ญ๐ฎ, ๐ฅ๐ž๐š๐๐ž๐ซ๐ฌ ๐๐š๐ซ๐ข ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐›๐ž๐ญ๐ฎ๐ฅ๐ง๐ฒ๐š ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฅ๐ฎ ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฐ๐š๐ฌ๐š๐ง ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐๐š๐ฉ๐š๐ญ ๐Œ๐„๐Œ๐๐”๐€๐“ ๐Š๐„๐๐ˆ๐‰๐€๐Š๐€๐ ๐’๐„๐’๐”๐€๐ˆ ๐ƒ๐„๐๐†๐€๐ ๐•๐ˆ๐’๐ˆ ๐Œ๐ˆ๐’๐ˆ ๐๐„๐‘๐”๐’๐€๐‡๐€๐€๐.

๐๐ ๐ ๐š๐ค ๐œ๐ฎ๐ฆ๐š ๐ข๐ญ๐ฎ, ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฉ๐ฎ๐ง๐ฒ๐š ๐Š๐„๐–๐„๐๐€๐๐†๐€๐ ๐Œ๐„๐๐†๐†๐€๐๐“๐ˆ ๐๐ˆ๐Œ๐๐ˆ๐๐€๐ ๐๐„๐‘๐”๐’๐€๐‡๐€๐€๐ ๐ฃ๐ข๐ค๐š ๐๐ข๐ซ๐š๐ฌ๐š ๐ฉ๐ž๐ฆ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง ๐ญ๐ข๐๐š๐ค ๐๐š๐ฉ๐š๐ญ ๐ฆ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐ฅ๐š๐ง๐ค๐š๐ง ๐ญ๐š๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ง๐  ๐ฃ๐š๐ฐ๐š๐›๐ง๐ฒ๐š ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ง ๐›๐š๐ข๐ค.

๐Œ๐ž๐ฆ๐š๐ง๐  ๐๐ข ๐ญ๐ข๐š๐ฉ ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง ๐š๐๐š ๐Ÿ๐ฎ๐ง๐ ๐ฌ๐ข, ๐ฐ๐ž๐ฐ๐ž๐ง๐š๐ง๐ , ๐๐š๐ง ๐ญ๐š๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ง๐  ๐ฃ๐š๐ฐ๐š๐› ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐ž๐›๐ข๐ก ๐ฆ๐ž๐ง๐ฒ๐ž๐ฌ๐ฎ๐š๐ข๐ค๐š๐ง ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ง ๐ค๐ž๐›๐ข๐ฃ๐š๐ค๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง/๐ฉ๐ž๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ค ๐ฆ๐จ๐๐š๐ฅ.

๐๐š๐ฆ๐ฎ๐ง, ๐ฌ๐ž๐œ๐š๐ซ๐š ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฆ ๐๐ž๐ญ๐š๐ข๐ฅ ๐ญ๐š๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ง๐  ๐ฃ๐š๐ฐ๐š๐› ๐Š๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ ๐ค๐ข๐ซ๐š-๐ค๐ข๐ซ๐š ๐›๐ž๐ ๐ข๐ง๐ข:

๐Ÿ) ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฐ๐š๐ฌ๐ข ๐ฃ๐š๐ฅ๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐œ๐š๐ซ๐š ๐›๐ž๐ซ๐ค๐š๐ฅ๐š ๐๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ง๐ฒ๐š๐ข ๐ค๐ž๐ฐ๐š๐ฃ๐ข๐›๐š๐ง ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ฏ๐š๐ฅ๐ฎ๐š๐ฌ๐ข ๐ญ๐ž๐ง๐ญ๐š๐ง๐  ๐ก๐š๐ฌ๐ข๐ฅ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐๐ข๐ฉ๐ž๐ซ๐จ๐ฅ๐ž๐ก ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง
๐Ÿ) ๐Œ๐ž๐ง๐ž๐ง๐ญ๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ฌ๐ข๐š๐ฉ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐๐ข ๐๐ข๐ซ๐ž๐ค๐ญ๐ฎ๐ซ
๐Ÿ‘) ๐Œ๐ž๐ง๐ฒ๐ž๐ญ๐ฎ๐ฃ๐ฎ๐ข ๐ซ๐ž๐ง๐œ๐š๐ง๐š ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐š๐ค๐š๐ง ๐๐ข ๐š๐ฃ๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐จ๐ฅ๐ž๐ก ๐ฉ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง
๐Ÿ’) ๐Œ๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ซ๐ข๐ค๐š๐ง ๐ฆ๐š๐ฌ๐ฎ๐ค๐š๐ง-๐ฆ๐š๐ฌ๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ž๐ซ๐ ๐ฎ๐ง๐š ๐›๐š๐ ๐ข ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง.

๐ƒ๐š๐ง ๐ญ๐ž๐ซ๐ง๐ฒ๐š๐ญ๐š ๐ฃ๐ฎ๐ ๐š ๐๐ข๐š๐ญ๐ฎ๐ซ ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐๐š๐ฌ๐š๐ฅ ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ’ ๐”๐ง๐๐š๐ง๐ -๐”๐ง๐๐š๐ง๐  ๐๐จ.๐Ÿ’๐ŸŽ ๐“๐š๐ก๐ฎ๐ง ๐Ÿ๐ŸŽ๐ŸŽ๐Ÿ• ๐ญ๐ž๐ง๐ญ๐š๐ง๐  ๐๐ž๐ซ๐ฌ๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง ๐“๐ž๐ซ๐›๐š๐ญ๐š๐ฌ. ๐ƒ๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฎ๐ง๐๐š๐ง๐ -๐ฎ๐ง๐๐š๐ง๐  ๐ญ๐ž๐ซ๐ฌ๐ž๐›๐ฎ๐ญ, ๐๐ข๐ฌ๐ž๐›๐ฎ๐ญ๐ค๐š๐ง ๐ญ๐ฎ๐ ๐š๐ฌ ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก:

๐Ÿ) ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฐ๐š๐ฌ๐ข ๐ค๐ž๐ ๐ข๐š๐ญ๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง
๐Ÿ) ๐Œ๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ซ๐ข๐ค๐š๐ง ๐ง๐š๐ฌ๐ข๐ก๐š๐ญ ๐ค๐ž๐ฉ๐š๐๐š ๐๐ข๐ซ๐ž๐ค๐ฌ๐ข ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐ฉ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง
๐Ÿ‘) ๐๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ง๐  ๐ฃ๐š๐ฐ๐š๐› ๐ฃ๐ข๐ค๐š ๐ญ๐ž๐ซ๐ฃ๐š๐๐ข ๐ค๐ž๐ซ๐ฎ๐ ๐ข๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง ๐š๐ค๐ข๐›๐š๐ญ ๐ค๐ž๐ฅ๐š๐ฅ๐š๐ข๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š

๐Š๐š๐ฅ๐š๐ฎ ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ซ๐ฎ๐ ๐ข, ๐ฆ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐๐ข ๐ญ๐š๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ง๐  ๐ฃ๐š๐ฐ๐š๐› ๐›๐ž๐ซ๐ฌ๐š๐ฆ๐š ๐ฌ๐ž๐ฅ๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ก ๐๐ž๐ฐ๐š๐ง ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ. ๐“๐š๐ฉ๐ข ๐ค๐š๐ฅ๐š๐ฎ ๐๐ž๐ฐ๐š๐ง ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฎ๐๐š๐ก ๐›๐ž๐ซ๐ก๐š๐ญ๐ข-๐ก๐š๐ญ๐ข ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ก๐ข๐ง๐๐š๐ซ๐ข ๐ค๐ž๐ซ๐ฎ๐ ๐ข๐š๐ง ๐ญ๐ž๐ซ๐ฌ๐ž๐›๐ฎ๐ญ, ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ซ๐ข ๐ฆ๐š๐ฌ๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฉ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง, ๐๐š๐ง ๐ญ๐ข๐๐š๐ค ๐š๐๐š ๐ค๐ž๐ฉ๐ž๐ง๐ญ๐ข๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฉ๐ซ๐ข๐›๐š๐๐ข ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ค๐ž๐ซ๐ฎ๐ ๐ข๐š๐ง ๐ญ๐ž๐ซ๐ฌ๐ž๐›๐ฎ๐ญ, ๐ญ๐š๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ง๐  ๐ฃ๐š๐ฐ๐š๐› ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฆ๐ฉ๐š๐ก๐ค๐š๐ง ๐ค๐ž ๐ฉ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง๐š๐ง ๐ฅ๐š๐ง๐ ๐ฌ๐ฎ๐ง๐ .

๐๐š๐ก, ๐ฌ๐ž๐ค๐š๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ง๐ฒ๐š๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š, ๐”๐Œ๐Š๐Œ ๐๐ž๐ซ๐ฅ๐ฎ ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐“๐ข๐๐š๐ค?

๐๐ฎ๐š๐ญ ๐ฆ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐ฐ๐š๐› ๐ข๐ญ๐ฎ, ๐œ๐ž๐ค ๐ฅ๐š๐ ๐ข ๐š๐ฉ๐š๐ค๐š๐ก ๐ฌ๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฌ๐š๐ญ๐ฎ ๐’๐“๐‘๐€๐“๐„๐†๐ˆ-๐ง๐ฒ๐š ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐š๐ซ๐š๐ก ๐ฉ๐š๐๐š ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐๐ž๐ซ๐ฌ๐ž๐ซ๐จ๐š๐ง ๐“๐ž๐ซ๐›๐š๐ญ๐š๐ฌ, ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ฐ๐š๐ก๐ข ๐ฅ๐ž๐›๐ข๐ก ๐›๐š๐ง๐ฒ๐š๐ค ๐ญ๐ž๐ง๐š๐ ๐š, ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐›๐š๐ก๐ค๐š๐ง ๐›๐ž๐ซ๐ญ๐ฎ๐ฃ๐ฎ๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐๐š๐ฉ๐š๐ญ๐ค๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ง๐๐š๐ง๐š๐š๐ง ๐›๐š๐ข๐ค ๐๐š๐ซ๐ข ๐ฉ๐ž๐ฆ๐จ๐๐š๐ฅ ๐ฏ๐ž๐ง๐ญ๐ฎ๐ซ๐š ๐ฆ๐š๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐ฉ๐ฎ๐›๐ฅ๐ข๐ค?

๐Š๐š๐ฅ๐š๐ฎ ๐ข๐ฒ๐š, ๐ฒ๐š ๐›๐ž๐ซ๐š๐ซ๐ญ๐ข ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฅ๐ฎ ๐๐ข๐ฉ๐ž๐ซ๐ฌ๐ข๐š๐ฉ๐ค๐š๐ง ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ข๐ญ๐ฎ.

๐’๐ž๐œ๐š๐ซ๐š ๐ž๐ค๐ฌ๐ญ๐ž๐ซ๐ง๐š๐ฅ, ๐ฌ๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ค๐จ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ซ๐ข๐ฌ ๐›๐ข๐ฌ๐š ๐ฃ๐š๐๐ข ๐ฌ๐ฎ๐ฆ๐›๐ž๐ซ ๐ค๐ž๐ฉ๐ž๐ซ๐œ๐š๐ฒ๐š๐š๐ง ๐ฉ๐ฎ๐›๐ฅ๐ข๐ค ๐›๐š๐ก๐ฐ๐š ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง ๐ญ๐ž๐ซ๐ฌ๐ž๐›๐ฎ๐ญ ๐›๐ž๐ซ๐š๐๐š ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฐ๐š๐ฌ๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š. ๐€๐ฉ๐š๐ฅ๐š๐ ๐ข ๐ค๐š๐ฅ๐š๐ฎ ๐ฆ๐ž๐ฅ๐ข๐ก๐š๐ญ ๐ญ๐ซ๐š๐œ๐ค ๐ซ๐ž๐œ๐จ๐ซ๐ ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฅ๐š๐ฆ๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐ž๐ซ๐ง๐š๐ก ๐ญ๐ž๐ซ๐ ๐š๐›๐ฎ๐ง๐  ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐›๐ž๐›๐ž๐ซ๐š๐ฉ๐š ๐ค๐จ๐ซ๐ฉ๐จ๐ซ๐š๐ญ, ๐ฆ๐ข๐ฌ๐š๐ฅ๐ง๐ฒ๐š.

๐’๐ž๐œ๐š๐ซ๐š ๐ข๐ง๐ญ๐ž๐ซ๐ง๐š๐ฅ, ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ง ๐ข๐ฅ๐ฆ๐ฎ ๐๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฅ๐š๐ฆ๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š ๐›๐ข๐ฌ๐š ๐๐ข๐ ๐ฎ๐ง๐š๐ค๐š๐ง ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐ข๐ง๐ ๐ค๐š๐ญ๐ค๐š๐ง ๐ค๐ฎ๐š๐ฅ๐ข๐ญ๐š๐ฌ ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š๐š๐ง ๐๐ข ๐ฆ๐š๐ฌ๐š ๐๐ž๐ฉ๐š๐ง.

๐“๐š๐ฉ๐ข, ๐ค๐š๐ฅ๐š๐ฎ ๐”๐Œ๐Š๐Œ ๐ฆ๐ž๐ซ๐š๐ฌ๐š ๐›๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ก (๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐ข๐ง ๐ง๐ฒ๐จ๐›๐š) ๐Ÿ๐ฎ๐ง๐ ๐ฌ๐ข ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฐ๐š๐ฌ๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š, ๐ฌ๐ž๐ญ๐ข๐๐š๐ค๐ง๐ฒ๐š ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ซ๐š๐ฌ๐š๐ค๐š๐ง ๐š๐๐š ๐ฉ๐ข๐ก๐š๐ค ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ข๐ฌ๐š ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฐ๐š๐ฌ๐ข ๐๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐๐ข ๐ญ๐ž๐ฆ๐ฉ๐š๐ญ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐๐š๐ฉ๐š๐ญ๐ค๐š๐ง ๐ฌ๐š๐ซ๐š๐ง ๐ฌ๐ญ๐ซ๐š๐ญ๐ž๐ ๐ข), ๐”๐Œ๐Š๐Œ ๐›๐ข๐ฌ๐š ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ข๐ค๐ฎ๐ญ๐ข ๐›๐ž๐ซ๐›๐š๐ ๐š๐ข ๐ฉ๐ซ๐จ๐ ๐ซ๐š๐ฆ ๐ฌ๐ž๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐ข ๐ญ๐ซ๐š๐ข๐ง๐ข๐ง๐ , ๐œ๐จ๐š๐œ๐ก๐ข๐ง๐ , ๐ฆ๐š๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ง ๐ฉ๐ž๐ง๐๐š๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง๐ ๐š๐ง ๐›๐ข๐ฌ๐ง๐ข๐ฌ.

๐’๐ž๐ฆ๐จ๐ ๐š ๐ง๐š๐ฆ๐›๐š๐ก ๐ข๐ง๐ฌ๐ฉ๐ข๐ซ๐š๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ข๐š๐ง๐  ๐ก๐š๐ซ๐ข ๐ข๐ง๐ข ๐›๐ฎ๐š๐ญ ๐ญ๐ž๐ฆ๐ž๐ง-๐ญ๐ž๐ฆ๐ž๐ง ๐ฒ๐š๐š๐š ๐Ÿคฉ

Senin, 08 November 2021

BELAJAR HOW PEOPLE BUY: BAGAIMANA MEREKA MENOLAK PENAWARAN


Lho, belajar bagaimana orang mau membeli, kok malah mempelajari cara mereka menolak?

Karena ternyata, dengan kita mengantisipasi penolakan tersebut di dalam narasi marketing kita, pembaca akan LEBIH MUDAH MENERIMA AJAKAN.

Kalau menurut Knowles dan Linn dalam bukunya "Resistance and Persuasion", ada empat penolakan manusia yang wajib diketahui:

1) REAKTANSI

Reaktansi adalah respon yang muncul (dan rasanya tidak menyenangkan) ketika diberi penawaran/perintah secara langsung, di mana penawaran/perintah itu dianggap oleh manusia bisa menghilangkan kebebasannya menentukan PILIHAN/ALTERNATIF.

Secara alamiah manusia merasa punya kekuatan untuk memilih. Sehingga, HINDARI ajakan yang seakan-akan tidak ada alternatifnya.

2) DISTRUST (KETIDAKPERCAYAAN)

Manusia mempunyai keyakinan masing-masing yang terbangun berdasarkan pengaruh lingkungan terdekatnya, sehingga, jika menerima/melihat sesuatu yang berpotensi mengubah keyakinannya itu, muncullah ketidakpercayaan.

Manusia akan melakukan cross-check dengan referensi informasi yang sudah ada sebelumnya, menimbang-nimbang apa motivasi sesungguhnya dari penawaran tersebut, serta bagaimana fakta yang sesungguhnya.

Maka, penting untuk transparan dengan value yang diberikan, sehingga, calon pembeli melihat kita berbisnis bukan sedang mengambil uang mereka, tapi karena ada value untuk mereka yang membutuhkan.

3) SCRUTINY

Terjemahnya pengawasan.

Ini unik sekali, karena meskipun kita menarget orang yang tepat (mereka membutuhkan sesuatu, kita bisa memberikannya sesuai dengan keinginannya), orang ini ternyata BISA LEBIH BERHATI-HATI dan sangat memikirkan / mempertimbangkan dengan berbagai situasi.

Maka, penting untuk mempunyai product knowledge yang baik, sehingga, jika orang seperti ini sudah menampakkan ciri-cirinya, kita TIDAK PERLU terlalu banyak memberikan pengaruh, cukup memberikan jawaban sesuai PORSI DAN FAKTANYA.

4) INERSIA

Dalam teori fisika, inersia itu sebuah kekuatan yang ada di dalam benda, untuk tetap MEMPERTAHANKAN KEADAANNYA DI TEMPAT. Alias mager hehehe ๐Ÿ˜.

Knowles dan Linn mengibaratkan inersia ini dengan seseorang yang TIDAK MEMUNCULKAN reaktansi, distrust, bahkan scrutiny.

“Hanya tidak mau saja”.

Seseorang yang memiliki 'inersia' ini punya kecenderungan menjaga keseimbangan kondisi yang saat ini sedang dialaminya. Sehingga, mereka cenderung menolak setiap kemungkinan ajakan.

Knowles dan Linn tidak memberikan penjelasan lebih lanjut bagaimana mengajak orang dengan inersia yang besar. Namun, secara umum (teorinya) benda dengan inersia yang besar pasti MEMBUTUHKAN GAYA TARIK LEBIH BESAR.

Yang berarti seseorang dengan inersia perlu sesuatu yang benar-benar mengganggu stabilitas kehidupannya. Mereka akan ‘sedikit terpaksa’ berada dalam instabilitas, dan berusaha mendapatkan stabilitas kehidupannya kembali.

Dari sini, bisnis berperan agar ‘stabilitas’-nya kembali seperti semula.

~~

Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh kita mengantisipasi penolakan ini? Menurut Knowles dan Linn:

1) MEMBERIKAN ALTERNATIF: Kita bisa menyediakan variasi di dalam bisnis/produk, sehingga, mereka bisa memilih sesuai kebutuhannya.

2) TRANSPARANSI: Apa tujuan kita yang sesungguhnya, perlu 'diolah' dalam narasi marketing kita. Ada banyak cara melakukan transparansi niat kita ini agar cukup terbaca dan tidak terlalu polos juga. Makanya, perlu kemampuan mengolah tulisan/narasi yang baik.

3) DELIVERED WHAT IT IS: Perkuat product knowledge dan bersiap apabila ada banyak yang menanyakan detail lebih lanjut tentang produk kita. Proses diskusi ini jangan dikurangi, karena 'sentuhan manusia' lebih dihargai. Sehingga, cukup fasilitasi saja.

4) STRONG PROMISES: Mengajak orang dengan inersia/mager memang seninya lebih tinggi hehehe. Namun, kita bisa cari satu-dua promises (janji) yang cukup kuat 'mengganggu stabilitas' kehidupannya. Tampakkan narasi apa adanya. Jika mereka merasa terganggu, kita hadir untuk menstabilkan kembali kehidupannya (dengan kualitas yang lebih baik).

~~~

Semoga dapet inspirasi! Buat temen-temen yang mau dapetin insight-insight detil kayak gini, bisa SapSkrep (alias subscribe) ke sini yaaa: https://thepengusaha.com

Minggu, 07 November 2021

LEMBAH KEHAMBAAN


Sudah lama saya diajarkan Kiyai Luqmanulhakim, bahwa hanya pada Lembah Kehambaan lah semua yang baik-baik itu terhimpun, tapi saya susah mudeng. Dan baru akhir-akhir ini saya mulai mengerti. Dan semoga ini ngerti beneran, faham beneran.

Manusia itu diciptakan untuk jadi Hamba Allah, budaknya Allah, Hamba Sahaya, gak merdeka sama sekali. Diurus Allah siang malam, diberi rizky terus menerus, maka dari itu terikat syariat dan harus taat. Wajar.

Posisi Hamba Allah ini ya rendah, harus merendah dihadapan Allah, harus menghinakan diri dihadapan Allah. Maka di surah Al Furqon ayat 63, Allah menyebut Ibadurrahman itu berjalan diatas muka bumi dengan "haunan". Dengan rendah hati. Gak petantang petenteng.

***

Mereka yang rendah hati di muka bumi ini, secara alami akan jadi orang yang menyenangkan, karena sombong itu memuakkan, muji-muji diri itu bikin eneg, ngomongin kehebatan diri juga bikin mual.

Maka mereka yang menyetel batinnya rendah hati, menghargai orang lain, mendengarkan orang lain, selalu menganggap orang lain bisa jadi lebih mulia dari dirinya, akan jadi sosok yang menyenangkan.

Begitulah Kiyai Luqman, sosoknya menyenangkan, setiap ada orang yang menyampaikan sesuatu, beliau dengarkan seksama, bahkan tokoh-tokoh yang bisa jadi gak lebih populer dari dirinya, beliau resume ceramahnya.

Sikap rendah hati begini bikin mereka banyak teman, akhirnya banyak sahabat, akhirnya banyak daya dukung, akhirnya banyak hadir kekuatan. Aneh, tapi inilah Operating System Ilahi (OSI) makin merendah, makin ditinggikan Allah. Makin kuat.

***

Mereka yang merasa bahwa ilmunya terbatas akan sangat serius mendengarkan orang lain. Berbeda dengan yang sok pintar, sok sarjana, sok master, sok doktor. Merasa sudah kuliah lama, merasa pintar, sehingga gak mau mendengarkan dan gak mau belajar lagi.

Saya banyak menemukan rekan Doktor yang humble. Pintarnya luar biasa, tapi kalo kita lagi sampaikan sesuatu, dia mendengarkan seperti anak kecil polos yang gak ngerti apa-apa.

Melihat teman doktor semangat mendengar seperti ini, apa yang ada di fikiran kita jadi keluar semua. Hasil skor akhirnya, malah Pak Doktor ini yang akhirnya dapat pengetahuan baru. Buah dari kerendah hatian.

Maka wajar saja, yang merasa pintar dan sok tahu, kadang hidupnya gam kemana-mana, karena yang dipelajari adalah buku cetakan tahun 70an yang gak update sama sekali. Sudah menyimak pengetahuan dan wawasan baru.

Berbeda dengan yang melembahkan diri dalam perasaan merasa bodoh, merasa terbatas, merasa untuk terus menerus butuh ilmu, pastilah lebih mudah menghimpun pengetahuan.

Keanehan terjadi lagi, tapi inilah sistem operasi ilahi robbiy, yang merasa bodoh, Allah akan ajarkan ilmu nya. Wattaqullaha, wayu'allimukumullah.

***

Mereka yang merasa kaya, lalu mempertunjukkan kekayaan, mendendangkan aroma kehebatan, pasti membuat orang lain menyangka bahwa orang-orang begini gak butuh apa-apa. Jadinya bawaannya malas aja kalo deket-deket. Capek juga jadi peserta presentasi kehebatan ini itu. Capek juga dengerinnya.

Berbeda dengan mereka yang walaupun kaya raya, tapi masih humble, masih membuka ruang untuk sinergi, karena segmen golongan ini, sadar betul bahwa keterampilannya terbatas, waktunya terbatas, jadi bekerjasama berjamaah lebih baik.

Kang Dewa Eka Prayoga itu kurang miliarder apa? Tapi yang beliau hadirkan adalah pergaulan yang sangat terbuka akan sinergi. Dewa sadar betul bahwa keterampilannya harus dilengkapi oleh kompetensi orang lain.

Lagi-lagi mereka yang melembah merendah, akan menghimpun sumber daya yang berlimpah. Sementara yang bertahan di puncak bukit, akan selalu kekeringan dan kedinginan. Kekurangan oksigen pula.

***

Lembah itu rendah, dan air selalu mengalir ke tempat yang rendah. Setinggi apapun air itu berada, ia akan turun ke lembah juga. Maka sungai-sungai itu selalu berada ditempat rendah.

Ada nya air di tempat yang rendah mengundang kebaikan yang lain. Binatang datang ke sungai, manusia bermukim dekat sungai, mereka bercocok tanam pun dekat sumber air.

Maka pada lembah kehambaan, semua sumber daya terhimpun sempurna. Semua datang, semua hadir, semua mengalir deras.

Berbeda dengan puncak bukit yang tinggi. Di puncak gunung ribuan mdpl, mana ada sumur, Mana ada binatang ternak, mana ada oksigen yang cukup. Para pendaki gunung juga paling sebentar saja di atas puncak, habis itu turun lagi, gak ada yang bermukim.

Jadi sangat aneh jika kita diajarkan untuk menuju puncak, karir itu di puncak, on the top. Karena setelah memuncak itu ya turun, yang bener itu ya bermukim di lembah, lestari, kontinu, awet, dan penuh sumber daya.

Maka yang benar itu, mari kita menuju karir terbaik, rendahnya lembah kehambaan. Mari turun ke lembah, bukan naik ke puncak.

Di puncak gak ada apa-apa, dan di lembah ini banyak apa-apa.

Inilah kodifikasi arahan Al Quran kepada kita manusia, jadilah Hamba, jadilah Hamba Allah. Maka ketika Allah benar-benar jadi satu-satunya majikan, wajarlah jika kita yang sukses jadi budaknya Allah ini, akan Allah urus bulat-bulat.

Maka ketika melihat sebuah entitas dakwah yang seperti magnet, berhasil menarik banyak sumber daya kebaikan, saya komentarnya sederhana :

"Kiyainya sudah lama jadi Hamba, Pengasuh Masjidnya sudah lama berhasil jadi Hamba Allah, wajar Allah urus lahir batin."

Pertanyaannya akhir jadi sangat jelas,

Sudahkah kita serius menjadi Hamba Allah? sudahkah kita memposisikan Allah sebagai satu-satunya majikan? Atau bisa jadi kita memposisikan Allah seperti supplier atau vendor?

Hanya hati kita yang bisa menjawab.

URS - Serial Kehambaan

#QuranicManagement - Memanage hidup agar sesuai dengan tuntunan Al Quran.

Rabu, 03 November 2021

PUNCAK KARIR ITU TERNYATA LEMBAH


Tidak diciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk menghamba kepada Allah. Quran Surah Adz Dzariyat : ayat 56.

Kalimat didalam Al Quran adalah liya'budun, menghamba, diterjemahkan dengan kata "beribadah". Kalo gak mendalam belajar bahasa, jadi lepas maknanya.

'Abd itu budak. Huruf yang merangkainya 'ain ba dan dal. Jika terangkai artinya hamba, budak, seseorang yang gak merdeka sama sekali, dan harus tunduk patuh pada majikan.

Allahumma anta Robbiy, ya Allah engkaulah Rabb.

Khalaqtani wa ana 'abduka, Engkau ciptakan aku dan aku adalah budakMu.

Inilah positioning yang Nabiullah Muhammad shallallahu'alaihiwassalam setting pada ummatnya. Di awal sayyidul istighfar. Allah itu Rabb, dan kita adalah budak.

Bahwa Allah itu Rabb, Allah itu Raja, Allah itu majikan, Allah itu yang berkuasa.

Dan manusia itu hamba Allah, kita cuma budak, kita ini rendah, terikat dengan aturan Allah, harus nurut Allah.

Maka Allah janjikan yang baik-baik pada hambanya di Al Quran.

Allah janjikan Rezeki untuk hambanya, di Quran Surah As Saba ayat 39

Allah janjikan perjalanan yang indah bagi hambanya, di Quran Surah Al Isra ayat 1.

Allah janjikan pengabulan permohonan pada hambanya, di Quran Surah Al Baqarah ayat 186.

Itulah ternyata puncak karir kita. Menjadi hamba. Tunduk dan menyerah kepada Allah. Merendah di hadapan Allah. Sadar posisi di muka bumi.

Ketika seseorang menjadi hamba Allah, maka Allah akan mengurusnya, melimpahinya ampunan, melimpahinya Maaf, memenuhi kebutuhannya.

Maka tugas menjadi sederhana, jadilah hamba Allah yang baik, taat, rendah hati, lurus.

***

Saat kita berkarir dalam bisnis atau dalam aktivitas apapun, tanpa disadari setan menghembuskan bisikan-bisikan agar kita lepas dari posisi Hamba.

Harusnya posisi rendah, tetapi hati kita tanpa sadar meninggi. Kalo sudah begini pasti Allah rendahkan secara paksa, cepat atau lambat.

Harusnya posisi kita hina, tetapi hati dan sikap kita ingin dimuliakan, ingin dispesialkan. Posisi hati dan sikap begini pasti akan dihinakan. Karena gak sesuai setting penciptaannya.

Harusnya posisi kita terus merasa lemah dimata Allah, tapi entah kenapa setan menghembuskan sikap sok hebat, sok jagoan, sok bisa. Sikap hati begini pasti akan dihempaskan Allah jadi lemah tak berdaya, cepat atau lambat.

Fir'aun tenggelam.
Qorun terbenam.
Abu Jahal tewas terhinakan di Badar.
Qisra lari tunggang langgang.
Namrudz ambruk.

Semua yang melawan posisi menjadi Hamba, pasti jatuh. Cepat atau lambat.

***

Menjadi pebisnis, pengusaha, penggerak, aktivis, filantropis, apapun itu, mari sama-sama kita niatkan menjadi hamba Allah saja.

Hamba Allah harusnya merendah, ya merendahlah, gak usah meninggi, gak usah merasa lebih baik dari yang lain, banyak-banyak sadar aib dan kekurangan

Hamba Allah harusnya mengurusi bumi, memakmurkan kehidupan, jadi kalo kita bikin produk atau program, niatnya menyenangkan Allah saja. Semoga produk yang kita deliver, memudahkan kehidupan manusia.

Hamba Allah harusnya fokus pada senangnya Allah saja, ridhonya Allah, karena Allah Master kita, kita slave. Kita budak, Allah majikan. Bukan malah fokus bikin senang manusia, bukan sibuk cari pengakuan manusia, sibuk cari eksistensi atas prestasi.

Jadilah Hamba Allah. Hambatan terbesar mengapa Allah gak mau mengurusi kita, karena hati kita ini gak mau tunduk jadi Hamba Allah.

Masih ingin punya predikat lain, si anu, sang anu, yang anu, yang anu anu, akhirnya gak pernah sadar jadi Hamba Allah. Sibuk sama sebutan, sorotan.

Di titik inilah kita gagal berkarir. Karena kita gagal ke posisi seharusnya. Gagal jadi hamba Allah, malah petantang petenteng merasa jagoan di muka bumi Allah.

Itulah mengapa sujud adalah aktivitas mulia. Karena wajah yang mulia, diletakkan diatas tanah yang hina dan rendah.

Maka tempat paling mulia adalah mim sajada. Masjid. Tempat sujud. Bukan tempat qiyam, tempat ruku', tapi Allah menamainya tempat sujud. Karena jiwa manusia itu harus rendah.

Rendah rendahkanlah jiwa kita wahai sahabat. Jangan meninggi, jangan merasa lebih baik dari yang lain. Merasa meninggi dan merasa lebih baik adalah karakter Iblis dalam Al Quran.

Hadirlah dengan penuh kerendahan..

"Ya Allah saya gak bisa, saya minta tolong, saya gak kuasa."

"Ya Allah, nyerah, maaf selama ini merasa mampu, merasa otak mampu, ikhtiar mampu, padahal semua kuasamu."

"Ya Allah maaf, banyak klaim prestasi, padahal tenaga darimu, otak karuniamu, nafas pun engkau beri, ide dan gagasan pun engkau yang kasih, maaf aku nge klaim-ngeklaim."

"Ya Allah aku HambaMu, gerakkan aku pada bisnis yang engkau ridho, pada pekerjaan yang engkau sukai, di sisa usia ini, arahkan hamba pada apa-apa yang bikin engkau senang."

"Ya Allah engkau Rabbku, aku hambaMu, maka senangmu adalah visiku, ridhomu adalah hasratku, kembali ke sisimu dalam rahmat adalah cita-cita tertinggiku."

Kita ini hanya hamba Allah, akan kembali ke Allah. Cepat atau lambat. Dunia ini panggung sementara saja. Jangan salah pilih tuhan. Jangan salah pilih majikan.

Itulah ternyata, puncak karir manusia itu bukan puncak gunung tinggi, tetapi ternyata berupa lembah kerendahan seorang hamba.

Lembah menghinakan diri didepan Allah.
Lembah rendah lemah di hadapan Allah.
Lembah dalam penuh harap di mata Allah.

Dan pada lembah itulah semua sumber kehidupan biasanya terhimpun.

Karena siapa yang merasa rendah akan ditinggikan Allah.

Karena siapa yang merasa hina akan dimuliakan Allah.

Karena siapa yang merasa lemah akan dikuatkan Allah.

Karena siapa yang merasa bodoh akan diajarkan Allah.

Karena siapa yang merasa butuh, akan dicukupkan Allah.

***


Salam
Berkarir jadi Hamba Allah

Kamis, 21 Oktober 2021

KONSEP REJEKI



Suatu ketika, Saya pernah datang kepada seorang guru dan bertanya...

"Guru, sebenarnya bagaimanakah konsep rejeki itu? Kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rejekinya segitu-gitu aja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak."

Sang guru pun menjawab...

Pada dasarnya rejeki itu ibarat hujan yang turun dari langit. Begitu nyata dan jelas. Manusia hanya perlu menjemputnya saja.

Kenapa rejeki manusia itu berbeda?
Karena wadah mereka untuk menampung rejeki juga berbeda. Ada yang kecil, ada yang sedang, dan ada yang besar. Bahkan ada yang sangat besar.

Wadah rejeki mereka itu ibaratkan sebuah kotak dan rejeki itu ibaratkan hujan yang turun dari langit. Semakin besar kotak untuk menampung air hujan maka air hujan yang kita dapatkan pun juga akan semakin besar.

Nah, kotak itu ada 3 dimensi, yaitu PANJANG, LEBAR, dan TINGGI. Untuk memperbesar ukuran wadah tadi, maka ketiga dimensi itu juga harus dibesarkan, tidak hanya ditambah salah satunya saja.

PANJANG Kotak itu melambangkan USAHA/IKHTIAR dalam menjemput rejeki.

LEBAR Kotak itu melambangkan ILMU yang dimiliki oleh seseorang.

sedangkan TINGGI melambangkan IBADAH dan RASA SYUKUR yang dimiliki seseorang.
 
Setelah Anda tahu 3 dimensi itu, tentu Anda pun tahu bahwa kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rejekinya segitu-gitu aja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak. Mereka mungkin saja punya uang banyak meski bekerjanya tidak terlalu berat karena mereka memiliki ILMU dan RASA SYUKUR serta IBADAH yang besar.


Selasa, 12 Oktober 2021

Copas dari M Dani Mardhani 

Berbagai upaya /ikhtiar banyak ditempuh orang untuk mencapai kesuksesan, apakah kesuksesan di bidang bisnis maupun karir. Baik ditempuh cara2 yg masuk akan maupun tidak. 

Berbagai macam program pelatihan/training sudah banyak diikuti dari yg gratisan bahkan sampai dengan bayaran yang tinggi yang bayarnya jutaan bahkan puluhan juta rupiah.

 Tetapi ternyata kebanyakan orang masih mengalami kegagalan demi kegagalan. 
Sampai kapan hal itu harus kita alami ? 

Mengapa hal itu masih terjadi dan kita alami ?

Ternyata dari acara yg sy ikuti di "THE BEST MORNING " pagi ini jam 5.30 -6.15 WIB adalah disebabkan karena : 1. Sikap/mindset pikiran kita yg tidak memutuskan menuju jalan kesuksesan sehingga yg kita dapatkan adalah kegagalan dan kegagalan. Kita harus tegaskan kepada diri kita bahwa kita harus menyatakan :
- Putuskan talak tiga kpd kegagalan, 
- Putuskan talak tiga kpd kesialan, 
- Putuskan talak tiga kpd kemiskinan.

Nyatakan kpd diri kita dan dunia bahwa saya harus Sukses maka yakinlah bahwa Allah SWT akan membukaan jalan, yakinlah akan didapatkan keajaiban terbuka nya pintu2 rezeki kita. 

Berprasangka baik lah kepada Allah, karena Allah bersama bersama prasangka hambaNya.

2. Hal penting yg juga harus kita Putuskan adalah dengan siapakah, bersama siapakah kita membersamai kesuksesan itu ? 

Alhamdulillah Sy mendapatkan Mentor yg luar biasa, yg tidak sekedar ingin mensukseskan dirinya sendiri krn Mentor sy lebih peduli untuk mensukseskan orang lain sbg mentee nya.

Dan Suatu kesyukuran bagi sy pula bhw sy bergabung dgn Komunitas positif, yg saling mengasah nilai2 kebaikan.  


Kamis, 16 September 2021

GOOD HABITS

13 Bad Habits yang Akan Merusak Hidupmu dan Solusi untuk Mengubahnya Menjadi Good Habits

****

Pada akhirnya, wajah masa depan dan hidup kita saat ini sejatinya sangat banyak ditentukan oleh habit atau kebiasaan yang kita jalani hari ini, jam demi jam, hari demi hari.

Saat hidup kita dipenuhi dengan aneka good habits (kebiasaan yang baik) yang produktif dan berfaedah, maka kemungkinan besar kita akan bisa merajut jalan hidup yang menggetarkan.

Sebaliknya, jila keseharian hidup kita justru digayuti oleh serangkaian bad habits yang destruktif, maka masa depan kita bisa kian menurun dalam jalan yang terjal dan penuh kemuraman.

Dalam prinsip tentang human performance, ada sebuah aturan yang menyebut bahwa corak nasib Anda itu akan amat ditentukan oleh serangkaian perilaku (behavior) yang Anda praktekkan dalam keseharianmu.

Sementara perilaku atau behavior Anda yang muncul itu akan sangat ditentukan oleh habitmu.

Sehingga alur yang dikenal dalam narasi tentang maximum human performance adalah seperti ini : your habit >> your behavior >> your destiny.

Makna alur itu adalah seperti ini : Destinasi masa depan Anda akan ditentukan oleh corak perilakumu. Dan corak perilaku Anda itu akan sangat diwarnai oleh serangkaian kebiasaan yang Anda lakukan, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun.

Maka untuk melakukan transformasi destinasi masa depan yang ingin kita tuju, kita perlu melakukan transformasi habit kita.

Habit dengan kata lain adalah sebuah pondasi dimana kita meletakkan arah masa depan yang hendak kita jalani. Habit adalah kata kunci yang benar-benar memberikan impak masif bagi jejak perjalanan hidup kita jalani.

Maka dari itu, tagline yang layak ditabalkan adalah : Change your habit. Change your life.

Makna dari tagline itu sederhana : untuk mengubah jalan hidup menuju hidup yang lebih baik, kita mesti memiliki keberanian dan kecakapan untuk mengubah habit kita, dari semula banyak melakukan bad habits menjadi lebih rajin melakoni good habits.

Berikut adalah serangkaian good habits dalam beragam bidang kehidupan. Anda bisa tandai mana saja yang telah Anda praktekkan selama ini. Daftar bad habits akan kita ulas dalam bagian berikutnya.

Good Habits dalam Dunia Kerja dan Pengembangan Diri
    Habit membaca buku tiap hari
    Habit menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
    Habit melakukan action nyata secara konsisten (tidak hanya omong doang)
    Habit mempalajari dan mengembangkan skills secara rutin
    
Good Habits dalam Keuangan
    Habit mengalokasikan dana investasi rutin tiap bulan
    Habit mencatat pengeluaran secara rapi
   

Good Habits dalam Kesehatan :
    Habit jalan kaki tiap pagi selama 30 menit
    Habit melakukan olahraga minimal tiga kali seminggu selama minimal 45 menit (jenis olahraga bisa renang, lari, senam, yoga, gowes, futsal atau yang lainnya).
    Habit makan sayur dan buah dalam jumlah yang memadai
    Habit minum segelas air putih sehabis bangun pagi
    Habit tidur minimal 7 jam tiap hari
    
Good Habits dalam Kehidupan Spiritual dan Sosial
    Habit sholat Tahajud
    Habit membaca kita suci minimal 3 halaman tiap hari
    
SEMENTARA dalam bagian berikut ini, terdapat sejumlah contoh BAD HABITS yang mungkin selama ini kita lakukan dengan rutin.

Bad Habits dalam Dunia Kerja dan Pengembangan Diri

    Habit menunda-nunda dalam menyelesaikan pekerjaan
    Habit berhayal dan melamun, namun zero action
    Habit lembur kerja sampai larut malam
    Habit nikmati konten online dan medsos via hape berjam-jam yang isinya tidak berdampak sama sekali terhadap peningkatan skills dan penghasilan
   
Bad Habits dalam Keuangan

    Habit belanja online meski barang yang dibeli sudah punya
    Habit pesan makan via Gofood dan akhirnya saldo uang cepat habit tanpa terasa
    Habit menghabiskan semua penghasilan tanpa kontrol dan tanpa dicatat secara tertib
    
Bad Habits dalam Kesehatan :

    Habit makan sembarangan (makan yang kurang sehat dan banyak kolesterol, atau sarat gula lainnya)
    Habit minum kopi manis dan aneka junk drink lainnya
    Habit duduk berjam-jam tanpa lakukan peregangan (riset menunjukkan duduk terlalu lama bisa membuat kita cepat mati)
    Habit begadang dan kurang tidur
    Habit merokok
  
Anda bisa lihat daftar good and bad habits di atas. Kalau saja kita lebih banyak melakukan good habits, maka dijamin hidup kita akan lebih top markotop. 

Sebaliknya, kalau kita ternyata lebih banyak terjebak dalam bad habits, maka dijamin hidup kita akan termehek-mehek.

Pertanyaannya sekarang : lalu bagaiman agar kita lebih banyak bisa melakukan GOOD HABITS dengan konsisten? Dan sebaliknya, bagaimana cara mudah untuk menghilangkan BAD HABITS dan mengubahnya menjadi GOOD HABITS?


Ingat : cara termudah dan terbaik untuk mengubah arah hidup itu adalah dengan mengubah KEBIASAAN atau HABITS yang kita lakukan tiap hari.

Hidup kita tak akan pernah berubah ke arah yang lebih baik, jika kita gagal mengubah bad habits menjadi good habits.

****

Rabu, 15 September 2021

Tips buat sahabat

4 Kalimat yang PANTANG UNTUK DIUCAPKAN PEBISNIS

1. "Saya Tidak Bisa"
Ketika Anda berkata : "Saya Tidak Bisa", maka pintu pikiran Anda tertutup untuk mencari jalan dan mencoba alternatif lain. Sebaliknya jika Anda berkata : "Saya Bisa", ini membuat Anda memeras otak & berusaha mencari jalan keluar.

2. "Tidak Mungkin"
Orang2 yg sering berkata : "Tidak Mungkin", akan menutup berbagai pintu keajaiban. Dengan sikap seperti ini akan sulit meraih sesuatu yg hebat. Karena hampir segala sesuatu yg kita nikmati hari ini adalah sesuatu yg mustahil di hari kemarin. Selalu ada mujizat TUHAN setiap hari, bagi orang yg percaya. Sesungguhnya Ia telah membuka pintu bagi kita!

3. "Saya Sudah Tahu"
Setiap kali Anda mengucapkan : "Saya Sudah Tahu", sebenarnya Anda sedang menutup pintu pembelajaran, sehingga Anda tidak lagi berusaha untuk mempelajari hal2 baru. Padahal dalam kehidupan selalu ada hal baru yg dapat kita pelajari. Kosongkan gelas dan tambah ilmu, jadi tidak meluber.

4. "Nanti Saja"
Setiap kali Anda menunda suatu pekerjaan dengan berkata : "Nanti Saja", berarti pekerjaan Anda akan semakin menumpuk, demikian juga apabila Anda menunda meraih suatu kesempatan, mungkin saja kesempatan itu tidak akan datang untuk kedua kali, atau bisa saja kesempatan itu telah diambil oleh orang lain.

Jadi, mari biasakan untuk terus menjadi lebih baik dan segera TAKE ACTION seperti ungkapan mas Hermas (penulis buku closing setiap hari ) yaitu Tidak Pakai TAPI Tidak Pakai NANTI

Terbaik Menurut Allah

๐Ÿ”ฐ Pintu 

Dalam kehidupan, akan ada banyak "pintu" yang kita temukan. 

Ada yang terbuka dengan mudah, padahal kita nggak punya kuncinya. Kita baru melangkah ..eh, pintunya terbuka lebar untuk kita. Lapang dan mudah. 

Ada pintu yang kita perlu mencoba beberapa kunci. Trial error, usaha pembelajaran panjang, baru bisa terbuka. Tak mudah dan melelahkan. 

Ada pintu yang ketika telah terbuka ternyata .. di depannya masih ada lagi pintu-pintu berikutnya, yang ternyata tak bisa dibuka dan kita mesti kembali mencoba lagi .. dan lagi ...

Ada pintu yang sama sekali tertutup, no matter how hard you try. Gak peduli betapa kita menginginkannya.

Ada pula pintu yang begitu melihatnya kita berucap .. ahh, bukan .. bukan itu .. dan Anda berlalu begitu saja melewatinya.

Ada juga pintu yang kayaknya menggoda sekali untuk dibuka, tapi ada kekuatan besar dalam diri yang menahan kita untuk tak melangkah membukanya ... 

Ada pintu yang duluu ketika kita sangat ingin masuk, tak bisa terbuka sama sekali. 
Eh, ketika kitanya sudah siap dan tak lagi berharap .. tetiba pintunya dibukakan dan kita dipersilahkan masuk dengan tenang ... 

~~~ 

What's meant for us will happen.
what's not meant will never be ours.

Pintu-pintu yang kita yakini akan membawa hal baik, patut kita upayakan .. ikhtiarkan untuk bisa kita buka. 
Setelah terbuka pun bukan berarti jalannya mudah. Bisa jadi kita masih harus berjuang lagi di perjalanan, membuka pintu berikutnya.

Masuk pintu yang salah pun in the end maybe they're not wrong at all, selama kita telah berhasil menemukan makna pembelajarannya. 
No failure, only feedback. 

Pintu yang tertutup sama sekali, pun bisa jadi adalah jalan keselamatan dari Allah agar kita tak tersesat, tak masuk dalam kubangan kesalahan, gak dipertemukan dgn hal yg toxic dan banyak lagi.. 

Perjalanan hidup menghadapkan kita pada banyak "pintu".
Apa yang kita dapatkan adalah nilai dan makna. 

Dalam pintu yang dibukakanNya, ada pengalaman.
Pada pintu yang ditutupkanNya pun ada pembelajaran.

Saya sungguh meyakini itu.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," 

[QS Al-Baqarah: 216]

15.09.21
Salam cinta dari Makassar ๐Ÿ’š

๐Ÿ”ฐ Fauziah Zulfitri, ACC 
๐Ÿ”ฐ Insight dari Timur Indonesia

Rabu, 01 September 2021

THINKER

Apa yang membuat seseorang merasa tidak berdaya? Jawabannya sederhana. Orang merasa tidak berdaya ketika ia kehilangan kendali terhadap dirinya , kehidupannya, dan waktunya. 


Orang merasa tidak berdaya ketika mereka tidak memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang ia ingin lakukan. Orang merasa tidak berdaya ketika ia tidak bisa menentukan hidupnya mau dibawa kemana. Orang merasa tidak berdaya ketika mereka tidak bisa mengendalikan waktunya akan digunakan untuk apa. 

Perhatikan 24 jam kita setiap hari. Lalu lihat, apakah setiap waktu yang kita punya kita gunakan untuk hal-hal yang memang INGIN kita lakukan? atau hanya diisi dengan kegiatan yang HARUS kita lakukan? Jika sebagian besar waktu kita hanya digunakan untuk melakukan hal-hal yang merasa kita harus lakukan, wajar bila kita merasa terjebak dan tertekan. Kita merasa tidak bisa mengendalikan hidup kita.

Bila kita ingin merasa punya kendali terhadap kehidupan kita, maka kita perlu fokus pada hal-hal yang memang di dalam kendali kita. Pak Stephen Covey pernah menggambarkan lingkaran sebagai berikut:

1. Lingkar kendali.
2. Lingkar pengaruh.
3. Lingkar peduli.

Lingkar kendali adalah apa-apa yang secara penuh bisa kita kendalikan. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita anggap penting, apa yang kita kerjakan, apa yang kita beli, keputusan, mood, motivasi, tindakan, perilaku, dan ucapan kita ada dalam kategori ini.

Lingkar pengaruh adalah apa-apa yang kita pedulikan, kita tidak memiliki kendali penuh atasnya, namun kita bisa berusaha untuk memengaruhinya. Kesehatan kita, tujuan kita, penghasilan kita, kinerja tim kita, sikap orang lain, dan masa depan, masuk dalam kategori ini.

Bukankah kesehatan ada dalam kendali kita? Tentu tidak. Kita memang bisa memutuskan berolahraga, makan-makanan bergizi seimbang, dan menjalani pola hidup sehat. Namun, siapa yang bisa menjamin kita tetap sehat? Hanya Allah. Kita bisa pengaruhi, tetapi kita tidak bisa kendalikan hasilnya.

Sikap orang lain pun sama. Kita bisa pengaruhi, namun kita tidak bisa mengendalikannya secara penuh. Demikian pula dengan masa depan kita.

Lingkar peduli adalah semua hal yang kita pedulikan, namun kita tidak punya pengaruh atasnya. Kebijakan ekonomi pemerintah, cuaca, kemacetan, pandemi,  masa lalu kita, dimana kita dilahirkan, komentar orang asing di sosial media, inflasi, adalah beberapa contoh yang masuk dalam kategori ini.

Lingkar pengaruh dan lingkar peduli ada di luar kendali kita. Kita tidak dapat mengendalikannya secara penuh. Maka, fokus ke sana akan membuat kita merasa tidak punya kendali. Kecemasan, frustrasi, stress, marah, dan takut sering kali merupakan reaksi yang terjadi saat kita terlalu banyak memikirkan hal-hal di luar kendali kita ini. Saat kita ingin mengendalikan hal-hal di luar kendali kita.

Kunci ketentraman batin adalah fokus pada lingkar kendali kita. Saat kita berfokus pada lingkar kendali kita, maka lingkar pengaruh kita akan membesar, insyaallah. Dan langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah mengenali prioritas kita:
- apa yang benar-benar ingin kita lakukan. 
- apa yang kita anggap benar dan ingin kita perjuangkan.
- apa yang benar-benar penting dalam hidup kita.
Dengan kata lain, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengenali nilai-nilai inti (core value) kita.

Langkah berikutnya adalah menjalani hidup selaras dengan nilai-nilai inti kita. Mendahulukan hal-hal penting sebelum hal-hal yang urgen. Mendahulukan hal-hal esensial sebelum hal-hal yang remeh temeh. Mendahulukan prioritas sebelum hal-hal sepele.

Saat ini dilakukan — saat aktivitas sehari-hari kita mencerminkan nilai-nilai yang kita anggap benar dan penting — maka kita akan mengalami ketentraman batin. Mengapa? Karena kita menjalani hidup dengan utuh, kongruen (baca: sama dan sebangun) antara apa yang kita anggap penting dengan apa yang kita lakukan, kongruen antara apa yang kita inginkan dengan apa yang kita lakukan.

#manajemenwaktu
#manajemenhidup
#produktivitas

DIBUTUHKAN - DIINGINKAN - DIPERCAYA




Oleh : Pak Bi

1. Bila produk anda merupakan produk yang ‘dibutuhkan’ konsumen atau disebut komoditi (kebutuhan dasar) atau product generic maka yang anda butuhkan adalah ilmu selling.

Fokus pada Product dan Price.

Magnet transaksinya ada pada keunggulan produknya (lebih berkualitas) atau keunggulan harganya (lebih murah).

Selling adalah ilmu bisnis paling tua, yang lahir sejak mata uang ditemukan manusia kira kira 600 tahun Sebelum Masehi.

2. Kalau anda mau produk anda ‘diinginkan’ konsumen maka magnet transaksinya ditambah 2 P lagi yakni Place (distribution) dan Promotion (advertising dan insentif).

Maka ilmu yg anda butuhkan adalah ilmu Marketing Modern yang dimulai sejak tahun 1960an.

3. Kalau anda mau produk anda ‘dipercaya’ konsumen maka anda perlu ilmu branding yang lahir tahun 1990.

Magnet transaksinya ada pada Brandnya.

Pertanyaannya adalah :

Bisakah anda menjual produk yg dibutuhkan konsumen tanpa diinginkan dan dipercaya konsumen?

Atau bisakah anda menjual produk yang dibutuhkan dan diinginkan tanpa dipercaya konsumen?

Atau bisakah konsumen membeli produk anda karena dibutuhkan, diinginkan dan dipercaya?

Mana menurut anda yang benar?

Apakah kosumen membeli karena percaya tapi gak butuh?

Apakah konsumen menginginkan produk anda tapi gak butuh dan gak dipercaya?

Follow ๐Ÿ‘‰๐Ÿฟ @subiakto

Minggu, 29 Agustus 2021

Benarkah Azan di Indonesia Tidak Mengikut Mazhab Imam Syafi’i?

Seorang sahabat bertanya tentang isi ceramah seorang ustadz yang beredar di media sosial. Dalam ceramah tersebut, sang ustadz menyebut bahwa azan yang digunakan di Indonesia tidak mengikut mazhab Imam Syafi’i. Kenapa demikian? Karena lafaz azan yang dikumandangkan para muazin di negeri ini adalah lafaz azan Bilal. Sementara azan yang diakui oleh Imam Syafi’i adalah azan Abu Mahdzurah, bukan azan Bilal. Berangkat dari perbedaan ini, sang ustadz lalu menyimpulkan bahwa: “Kita tidak wajib bermazhab…”.

☆☆☆

Perbedaan antara azan Abu Mahdzurah dengan azan Bilal sebenarnya hanya terletak pada satu poin saja yaitu masalah tarji’. Tarji’ adalah membaca kalimat syahadat secara pelan (sirr) sebelum membacanya dengan suara tinggi. Kalimat syahadat yang dimaksud adalah kalimat ุฃุดู‡ุฏ ุฃู† ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ yang dibaca dua kali dan kalimat ุฃุดู‡ุฏ ุฃู† ู…ุญู…ุฏุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ juga dibaca dua kali. Keempat kalimat ini dibaca secara pelan terlebih dahulu, baru setelah itu dibaca secara keras.

Karena perbedaan ini maka jumlah kalimat dalam azan Abu Mahdzurah adalah 19. Sementara jumlah kalimat dalam azan Bilal adalah 15. 

☆☆☆

Secara umum memang azan yang digunakan di banyak daerah di Indonesia adalah azan Bilal. Tapi ini tidak berarti bahwa azan Abu Mahdzurah tidak digunakan sama sekali. Sebagian masjid di kampung-kampung masih menggunakan azan Abu Mahdzurah. Hanya saja, karena tarji’ itu dibaca secara pelan sehingga tidak terdengar jelas, apalagi dari kejauhan. Masih ada para muadzin, sebelum membaca kalimat syahadat dengan keras, ia baca dulu dengan pelan. Ini artinya ia menggunakan azan Abu Mahdzurah.

Namun demikian, katakanlah sang muadzin tidak memakai azan Abu Mahdzurah, dan malah menggunakan azan Bilal, apakah itu berarti ia tdak lagi bermazhab Syafi’iyyah? Apakah untuk bermazhab Syafi’iyyah seseorang mesti mengikuti pendapat Imam Syafi’i seorang dan apa adanya, lalu mengabaikan pendapat ulama Syafi’iyyah yang lain?
 
Ini yang tidak dipahami sang ustadz secara baik dan juga orang-orang yang anti mazhab. Mereka mengganggap bahwa kalau bermazhab dengan mazhab tertentu, berarti mesti ikut seluruh pendapat sang pendiri mazhab. Dari anggapan inilah muncul kesan dan penilaian keliru bahwa bermazhab itu identik dengan ta’ashub (fanatik). 

Andaikan saja sang ustadz mau mengkaji mazhab secara lebih objektif dan mendalam, tentu kesimpulan seperti itu tidak akan muncul. Karena sesungguhnya bermazhab tidak berarti mengikuti pendapat pendiri mazhab secara membabi-buta tanpa dikaji kekuatan dalil dan argumentasinya. Maka, bermazhab sesungguhnya tidak identik dengan fanatik.

Para ulama yang datang setelah imam-imam pendiri mazhab, sebenarnya bisa saja membuat mazhab baru, karena banyak dari mereka yang sampai ke derjat mujtahid. Tapi mereka menemukan bahwa ushul yang akan mereka pakai tidak banyak berbeda dengan ushul yang telah dibangun secara kokoh oleh para pendiri mazhab. Kalau demikian, hasrat untuk mendirikan mazhab sendiri sementara pondasi dan akarnya sama dengan mazhab sebelumnya, tentu bisa menjadi nafsu dan syahwat ingin dikenal dan dikenang.

Perhatikan mazhab Hanafiyyah. Meskipun antara Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan dengan guru mereka sendiri Imam Abu Hanifah sang pendiri mazhab terdapat banyak perbedaan, tapi mereka tetap menisbahkan diri pada mazhab imam dan gurunya. Tidak pernah kita mendengar ada mazhab Yusufiyyah atau Hasaniyyah. 

Namun demikian, bernaungnya mereka di bawah panji mazhab sang guru tidak menghalangi mereka untuk berbeda dengan sang guru dalam banyak masalah. Kenapa? Karena memang bermazhab itu tidak berarti fanatik dan harus sama seratus persen.

☆☆☆

Kembali ke masalah azan. Imam Syafi’i memang lebih memilih azan Abu Mahdzurah yang jumlah kalimatnya 19. Tapi ini tidak berarti orang yang menggunakan azan Bilal yang jumlah kalimatnya 15 tidak lagi mengikuti mazhab Syafi’iyyah. Kenapa? Karena memang tarji’ itu sendiri dalam mazhab Syafi’iyyah hanyalah sunnah, bukan wajib.

Imam Nawawi, salah seorang rujukan utama dalam mazhab Syafi’iyyah menulis :

ูˆَู‡َุฐَุง ุงู„ุชَّุฑْุฌِูŠุนُ ุณُู†َّุฉٌ ุนَู„َู‰ ุงู„ْู…َุฐْู‡َุจِ ุงู„ุตَّุญِูŠุญِ ุงู„َّุฐِูŠ ู‚َุงู„َู‡ُ ุงู„ْุฃَูƒْุซَุฑُูˆู†َ ูَู„َูˆْ ุชَุฑَูƒَู‡ُ ุณَู‡ْูˆًุง ุฃَูˆْ ุนَู…ْุฏًุง ุตَุญَّ ุฃَุฐَุงู†ُู‡ُ ูˆَูَุงุชُู‡ُ ุงู„ْูَุถِูŠู„َุฉُ (ุงู„ู…ุฌู…ูˆุน ุดุฑุญ ุงู„ู…ู‡ุฐุจ 3/91)

“Tarji’ ini hukumnya sunnah menurut pendapat yang shahih yang disampaikan banyak ulama. Kalau seorang (muazin) meninggalkannya karena lupa atau sengaja, azannya tetap sah meski memang ia kehilangan fadhilah.”

Apakah Imam Nawawi tidak tahu kalau pendapat Imam Syafi’i dalam masalah ini cukup ‘keras’? Menurut Imam Syafi’i, kalau tarji’ ditinggalkan maka azan tidak sah. 
Imam Nawawi tentu tahu hal itu. Tapi Imam Nawawi bermazhab tidak seperti yang dipersepsikan sebagian orang; jumud dengan pendapat pendiri mazhab lalu mengabaikan dalil dan argumentasi yang boleh jadi lebih kuat.

Setelah menjelaskan hukum tarji’ diatas, Imam Nawawi menulis :

 ู‚َุงู„َ ุงู„ْู‚َุงุถِูŠ ุญُุณَูŠْู†ٌ ู†َู‚َู„َ ุฃَุญْู…َุฏُ ุงู„ْุจَูŠْู‡َู‚ِูŠُّ ุงู„ุงู…ุงู… ุนู† ุงู„ุดَّุงูِุนِูŠِّ ุฃَู†َّู‡ُ ุฅู†ْ ุชَุฑَูƒَ ุงู„ุชَّุฑْุฌِูŠุนَ ู„َุง ูŠَุตِุญُّ ุฃَุฐَุงู†ُู‡ُ 

Al-Qadhi Husein berkata, “Imam al-Baihaqi menukil dari Imam Syafi’i bahwa jika seseorang meninggalkan tarji’ maka azannya tidak sah.”

Perhatikan bagaimana beliau mengomentari hal ini:

ูˆَุงู„ْู…َุฐْู‡َุจُ ุงู„ْุฃَูˆَّู„ُ ู„ِุฃَู†َّู‡ُ ุฌَุงุกَุชْ ุฃَุญَุงุฏِูŠุซُ ูƒَุซِูŠุฑَุฉٌ ุจِุญَุฐْูِู‡ِ ู…ِู†ْู‡َุง ุญَุฏِูŠุซُ ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุจْู†ِ ุฒَูŠْุฏٍ ุงู„َّุฐِูŠ ู‚َุฏَّู…ْู†َุงู‡ُ ูِูŠ ุฃَูˆَّู„ِ ุงู„ْุจَุงุจِ ูˆَู„َูˆْ ูƒَุงู†َ ุฑُูƒْู†ًุง ู„َู…ْ ูŠُุชْุฑَูƒْ ูˆَู„ِุฃَู†َّู‡ُ ู„َูŠْุณَ ูِูŠ ุญَุฐْูِู‡ِ ุฅุฎْู„َุงู„ٌ ุธَุงู‡ِุฑٌ ุจِุฎِู„َุงูِ ุจَุงู‚ِูŠ ุงู„ْูƒَู„ِู…َุงุชِ

“Yang jadi pegangan dalam mazhab adalah yang pertama (bahwa tarji’ itu hukumnya sunnah) karena ada banyak hadits yang tidak mencantumkan tarji’, diantaranya hadits Abdullah bin Zaid yang telah kita kemukakan di awal bab. Kalau tarji’ itu adalah rukun tentu tidak akan pernah ditinggalkan sama sekali. Di samping itu juga, menghilangkan tarji’ ini tidak terlalu berpengaruh, berbeda dengan kalimat-kalimat yang lain.”

☆☆☆

Bukan hanya masalah tarji’, dalam masalah tatswib juga terdapat perbedaan pendapat di kalangan Syafi’iyyah. Tatswib artinya membaca ุงู„ุตَّู„ุงุฉُ ุฎَูŠْุฑٌ ู…ِّู†َ ุงู„ู†َّูˆْู…ِ setelah kalimat ุญَูŠَّ ุนَู„َู‰ ุงْู„ูَู„ุงَุญِ .

Imam Syafi’i memakruhkan membaca kalimat ini dalam azan subuh. Tapi pendapat yang lebih kuat dalam mazhab Syafi’iyyah, hal ini adalah sunnah.

Imam al-Baghawi, salah seorang ulama Syafi’iyyah menulis :

ูˆุงู„ุชุซูˆูŠุจ ุณู†َّุฉ ููŠ ุฃุฐุงู† ุงู„ุตُّุจุญ؛ ูˆู‡ูˆ ุฃู† ูŠู‚ูˆู„ ุจุนุฏ ุงู„ูุฑุงุบ ู…ู† ุงู„ุญูŠุนู„ุชูŠู†: ุงู„ุตَّู„ุงุฉُ ุฎَูŠْุฑٌ ู…ِّู†َ ุงู„ู†َّูˆْู…ِ ู…ุฑุชูŠู†.
ูˆูƒุฑู‡ู‡ ููŠ ุงู„ุฌุฏูŠุฏ؛ ู„ุฃู† ุฃุจุง ู…ุญุฐูˆุฑุฉ ู„ู… ูŠุญูƒู‡. ูู…ู† ุฃุตุญุงุจู†ุง ู…ู† ุฌุนู„ู‡ ุนู„ู‰ ู‚ูˆู„ูŠู†. ูˆุงู„ุตุญูŠุญ: ุฃู†ู‡ ุณู†ุฉٌ ู‚ูˆู„ุงً ูˆุงุญุฏุงً. ุฑูˆูŠ ุฐู„ูƒ ุนู† ุนู…ุฑ، ูˆุงุจู† ุนู…ุฑ، ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ، ูˆุฃุญู…ุฏ. ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ุฅู†ู…ุง ูƒุฑู‡ู‡ ููŠ ุงู„ุฌุฏูŠุฏ؛ ู„ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠุจู„ุบู‡ ุนู† ุฃุจูŠ ู…ุญุฐูˆุฑุฉ، ูˆู‚ุฏ ุซุจุช ุนู† ุฃุจูŠ ู…ุญุฐูˆุฑุฉ؛ ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡- ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ู‚ุงู„ ู„ู‡: "ูุฅู† ูƒุงู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ุตُّุจุญ، ู‚ู„ุช: ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฎูŠุฑٌ ู…ู† ุงู„ู†ูˆู…، ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฎูŠุฑ ู…ู† ุงู„ู†ูˆู…، ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ، ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ، ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡".

“Tatswib itu sunnah dalam azan subuh, yaitu membaca ุงู„ุตَّู„ุงุฉُ ุฎَูŠْุฑٌ ู…ِّู†َ ุงู„ู†َّูˆْู…ِ dua kali setelah hay’alatain. Imam Syafi’i memakruhkan ini dalam qaul jadid, karena Abu Mahdzurah tidak ada menyebutkan lafaz ini. Sebagian ulama Syafi’iyyah ada yang menjadikan hal ini dua pendapatnya. Tapi yang benar adalah tatswib tetap sunnah. Ini sudah disepakati. Ini diriwayatkan dari Umar dan Ibnu Umar. Ini juga pendapat Ibnu al-Mubarak dan Ahmad. Imam Syafi’i memakruhkannya dalam qaul jadid-nya karena hadits Abu Mahdzurah (mengenai lafaz ini) tidak sampai kepadanya. Padahal ada hadits yang kuat dari Abu Mahdzurah, Rasulullah Saw bersabda padanya: “Kalau (azan) shalat subuh ucapkanlah: ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฎูŠุฑٌ ู…ู† ุงู„ู†ูˆู…، ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฎูŠุฑ ู…ู† ุงู„ู†ูˆู…، ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ، ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ، ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡.”

☆☆☆

Di bagian akhir penjelasan, sang ustadz melantukan lafaz azan Abu Mahdzurah. Entah khilaf atau memang demikian yang beliau tahu, azan Abu Mahdzurah yang ia lantunkan berbeda dengan azan Abu Mahdzurah yang ada di berbagai riwayat dan yang juga digunakan banyak muazin bermazhab Syafi’iyyah. Dalam lantunan sang ustadz, kalimat takbir di awal azan dibacanya sebanyak 8 (delapan) kali. Sementara dalam riwayat yang shahih, dalam azan Abu Mahdzurah, takbir di awal hanya empat kali (dalam riwayat Abu Dawud) atau dua kali (dalam riwayat Muslim). 

Adapun yang sampai delapan kali seperti yang dilantunkan sang ustadz, bukanlah azan Abu Mahdzurah (ุฃุจูˆ ู…ุญุฐูˆุฑุฉ), melainkan azan Mahdhur (ู…ุญุธูˆุฑ) . ๐Ÿ˜

ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู… ูˆุฃุญูƒู…

[YJ]
Ibnu ‘Atha`illah Pun Awalnya Menentang Tasauf

Seorang bapak yang biasa mengikuti pengajian saya bertanya, “Ustadz, kenapa tidak banyak para ustadz yang membuka kajian tentang tasauf, apakah karena ia sesuatu yang salah, atau pembahasannya berat sehingga tak semua orang mampu mengkajinya?”

Dengan keterbatasan ilmu, saya menjawab, “Banyak faktornya, Pak… Diantaranya karena istilah ‘tasauf’ dalam persepsi sebagian orang terlanjur negatif. Ini disebabkan banyak hal. Ada yang disebabkan oleh perilaku dan praktek ibadah orang-orang yang mengaku sufi dan ahli tariqat yang menyimpang sehingga muncul kesan bahwa memang begitulah tasauf dan tariqat itu. Padahal, membebankan kesalahan oknum kepada komunitas adalah sesuatu yang salah, apalagi membebankan kesalahan oknum kepada suatu ajaran dan prinsip yang murni dan bersih. Ada juga karena keterbatasan bacaan dan sumber yang lebih terpercaya tentang tasauf. Ada juga karena polemik yang terjadi antara orang-orang yang anti tasauf dengan tokoh-tokoh tasauf. Polemik ini menghalangi mereka untuk mengkaji tasauf secara jernih dan murni.”

☆☆☆

Sebenarnya, Ibnu ‘Atha`illah sendiri yang merupakan salah seorang tokoh ternama dalam dunia tasauf yang dijuluki sebagai Shahib al-Hikam, awalnya juga menentang dan mengingkari tasauf. Ini ia ceritakan dalam kitabnya Lathaif al-Minan. Dalam bukunya ini ia bercerita tentang pertemuannya dengan sang guru ; Abu al-Abbas al-Mursi. 

“Aku termasuk orang yang sering mengkritik dan menentang Syekh ini (maksudnya Abu al-Abbas al-Mursi). Bukan karena ada sesuatu yang meragukan yang aku dengar langsung darinya atau yang disampaikan orang yang bisa dipertanggungjawabkan informasinya, melainkan karena polemik (mukhasamah) yang terjadi antaraku dengan beberapa orang muridnya. Itulah yang membuatku berkomentar negatif tentang mereka.

Tapi suatu hari aku berkata pada diri sendiri, “Mungkin ada baiknya aku pergi langsung mendengarkan perkataan orang ini (Syekh Abu al-Abbas). Orang yang benar tentu akan tampak tanda-tandanya (baik dalam perkataan maupun perbuatannya). Akhirnya aku datang ke majelisnya. 

Setibanya di majelis Abu al-Abbas, aku mendengar ia bicara tentang nafas (waktu) dan dzauq (rasa), tingkatan orang-orang yang berjuang menuju Allah (salik) dan sejauh mana pengenalan dan kedekatan mereka dengan-Nya. 

Ia (Abu al-Abbas) berkata, “Pertama adalah Islam. Ini derjat ketundukan, kepatuhan dan melaksanakan seluruh aturan syariat. Kedua adalah Iman. Ini derjat hakikat (inti) dari syariat dengan mengenali implikasi (lawazim) dari penghambaan. Ketiga adalah Ihsan. Ini adalah maqam (level) ‘menyaksikan’ (syuhud) al-Haqq SWT di dalam hati. Engkau bisa mengatakan, pertama ibadah (ุนุจุงุฏุฉ), kedua ubudiyyah (ุนุจูˆุฏูŠุฉ), ketiga ubudah (ุนุจูˆุฏุฉ). Engkau juga bisa mengatakan, pertama syariat (ุดุฑูŠุนุฉ), kedua hakikat (ุญู‚ูŠู‚ุฉ), ketiga tahaqquq (ุชุญู‚ู‚).”

Ia terus berkata, “engkau bisa mengatakan… engkau bisa mengatakan…” hingga aku tertegun dan merasa sangat takjub dengan kedalaman pemahamannya. Akhirnya aku tahu bahwa orang ini ‘menyauk’ dari karunia lautan ilahi. Setelah itu hilanglah semua yang aku rasakan sebelumnya (penentangan, ketidaksetujuan dan sebagainya).

Malam itu aku pulang ke rumah. Aneh, aku tak merasa ada hasrat untuk berkumpul dengan keluarga seperti kebiasaanku sebelumnya. Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi aku tidak tahu apa itu? Hatiku merasa disentuh oleh sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Akhirnya keesokan harinya aku kembali lagi ke majelis orang itu.

Ketika aku tiba di majelisnya, ia berdiri menyambutku penuh gembira. Akupun merasa malu. Aku merasa tidak pantas dihormati seperti itu. Kata pertama yang terucap dari mulutku padanya adalah, “Tuan, demi Allah, aku mencintaimu.” Ia pun membalas, “Dan akupun mencintaimu.”

Kemudian aku mengeluhkan padanya keresahan dan gundah-gulana yang kurasakan. Ia berkata:

"Seorang hamba ada dalam empat kondisi saja; nikmat (ู†ุนู…ุฉ), ujian (ุจู„ูŠุฉ), taat (ุทุงุนุฉ) dan maksiat (ู…ุนุตูŠุฉ). Kalau engkau berada dalam nikmat maka hak Allah terhadapmu adalah bersyukur. Kalau engkau berada dalam ujian maka hak Allah terhadapmu adalah bersabar. Kalau engkau berada dalam taat maka hak Allah terhadapmu adalah engkau merasakan semua itu datang dari-Nya. Kalau engkau berada dalam maksiat maka hak Allah terhadapmu adalah memohon ampun.”

Setelah mendengar itu, akupun pamit. Seluruh keresahan dan gundah-gulana yang kurasakan tadi hilang seperti baju yang baru saja aku tanggalkan.”

ู…ู† ูƒุงู†ุช ุจุฏุงูŠุชู‡ ู…ุญุฑู‚ุฉ ูƒุงู†ุช ู†ู‡ุงูŠุชู‡ ู…ุดุฑู‚ุฉ

ุงู„ุชุตูˆู ุงู„ุฅุนุฑุงุถ ุนู† ุงู„ุงุนุชุฑุงุถ

[YJ]

Sabtu, 28 Agustus 2021

Kendali Diri


Apa yang membuat seseorang merasa tidak berdaya? Jawabannya sederhana. Orang merasa tidak berdaya ketika ia kehilangan kendali terhadap dirinya , kehidupannya, dan waktunya. 

Orang merasa tidak berdaya ketika mereka tidak memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang ia ingin lakukan. Orang merasa tidak berdaya ketika ia tidak bisa menentukan hidupnya mau dibawa kemana. Orang merasa tidak berdaya ketika mereka tidak bisa mengendalikan waktunya akan digunakan untuk apa. 

Perhatikan 24 jam kita setiap hari. Lalu lihat, apakah setiap waktu yang kita punya kita gunakan untuk hal-hal yang memang INGIN kita lakukan? atau hanya diisi dengan kegiatan yang HARUS kita lakukan? Jika sebagian besar waktu kita hanya digunakan untuk melakukan hal-hal yang merasa kita harus lakukan, wajar bila kita merasa terjebak dan tertekan. Kita merasa tidak bisa mengendalikan hidup kita.

Bila kita ingin merasa punya kendali terhadap kehidupan kita, maka kita perlu fokus pada hal-hal yang memang di dalam kendali kita. Pak Stephen Covey pernah menggambarkan lingkaran sebagai berikut:

1. Lingkar kendali.
2. Lingkar pengaruh.
3. Lingkar peduli.

Lingkar kendali adalah apa-apa yang secara penuh bisa kita kendalikan. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita anggap penting, apa yang kita kerjakan, apa yang kita beli, keputusan, mood, motivasi, tindakan, perilaku, dan ucapan kita ada dalam kategori ini.

Lingkar pengaruh adalah apa-apa yang kita pedulikan, kita tidak memiliki kendali penuh atasnya, namun kita bisa berusaha untuk memengaruhinya. Kesehatan kita, tujuan kita, penghasilan kita, kinerja tim kita, sikap orang lain, dan masa depan, masuk dalam kategori ini.

Bukankah kesehatan ada dalam kendali kita? Tentu tidak. Kita memang bisa memutuskan berolahraga, makan-makanan bergizi seimbang, dan menjalani pola hidup sehat. Namun, siapa yang bisa menjamin kita tetap sehat? Hanya Allah. Kita bisa pengaruhi, tetapi kita tidak bisa kendalikan hasilnya.

Sikap orang lain pun sama. Kita bisa pengaruhi, namun kita tidak bisa mengendalikannya secara penuh. Demikian pula dengan masa depan kita.

Lingkar peduli adalah semua hal yang kita pedulikan, namun kita tidak punya pengaruh atasnya. Kebijakan ekonomi pemerintah, cuaca, kemacetan, pandemi, masa lalu kita, dimana kita dilahirkan, komentar orang asing di sosial media, inflasi, adalah beberapa contoh yang masuk dalam kategori ini.

Lingkar pengaruh dan lingkar peduli ada di luar kendali kita. Kita tidak dapat mengendalikannya secara penuh. Maka, fokus ke sana akan membuat kita merasa tidak punya kendali. Kecemasan, frustrasi, stress, marah, dan takut sering kali merupakan reaksi yang terjadi saat kita terlalu banyak memikirkan hal-hal di luar kendali kita ini. Saat kita ingin mengendalikan hal-hal di luar kendali kita.

Kunci ketentraman batin adalah fokus pada lingkar kendali kita. Saat kita berfokus pada lingkar kendali kita, maka lingkar pengaruh kita akan membesar, insyaallah. Dan langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah mengenali prioritas kita:
- apa yang benar-benar ingin kita lakukan. 
- apa yang kita anggap benar dan ingin kita perjuangkan.
- apa yang benar-benar penting dalam hidup kita.
Dengan kata lain, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengenali nilai-nilai inti (core value) kita.

Langkah berikutnya adalah menjalani hidup selaras dengan nilai-nilai inti kita. Mendahulukan hal-hal penting sebelum hal-hal yang urgen. Mendahulukan hal-hal esensial sebelum hal-hal yang remeh temeh. Mendahulukan prioritas sebelum hal-hal sepele.

Saat ini dilakukan — saat aktivitas sehari-hari kita mencerminkan nilai-nilai yang kita anggap benar dan penting — maka kita akan mengalami ketentraman batin. Mengapa? Karena kita menjalani hidup dengan utuh, kongruen (baca: sama dan sebangun) antara apa yang kita anggap penting dengan apa yang kita lakukan, kongruen antara apa yang kita inginkan dengan apa yang kita lakukan.

#manajemenwaktu
#manajemenhidup
#produktivitas