Jumat, 13 September 2019

Belajar Empati



Mengajarkan anak untuk hidup, tidak terlepas dari menanamkan Empati. Bagaimana caranya?

Cara terbaik untuk mengajarkan empati, adalah dengan mencontohkannya. Jika si anak terjatuh, yang ditanya bukan kenapa bisa jatuh, atau menyalahkannya, tapi yang ditanya.. mana yang sakit? Are you OK?.

Ketika anak pulang dan dengan rasa takutnya menunjukkan hasil ujian yang bernilai jelek.. bukan dimarahi atau dinasehati dengan serentetan kata-kata yang berisi hikmah namun disampaikan dalam bentuk marah, tapi disenyumin dulu, dipeluk.. karena dia sudah berani jujur! Padahal kalau dia ngak kasih tahu, kita juga sudah lupa.

Susahkah ? Sangat!

Tapi bukan berarti ngak bisa!!!

Ketika pagi ini, si kecil saya kembali merengek untuk tidak sekolah, saya menghentikan apa yang sedang saya lakukan, lalu fokus kepadanya. 

“Kenapa ngak mau sekolah?” tanya saya. 
“Pusing” jawabnya. 
“Ooh pusing, sini baring deket Ayah” ajak saya. Sambil perlahan saya pijat kepalanya. 

Bel akan berbunyi 15 menit lagi. Anak ini masih selonjoran di kamar saya, pake baju tidur dan gigi yg belum disikat. Satu-satunya yang ia sudah lakukan adalah sholat! dan memang buat saya, itu yang utama. 

Setelah merasa diterima, baru saya bicara. Saya tahu sekolah buat dia (saat ini) belum enak. Saya tanya, maunya gimana?. “Ngak sekolah” jawabnya.

Saya sudah memperkirakan, itu pasti tujuan dia.

Tujuan saya? dia mau berangkat walau belum sepenuhnya ikhlas, walau terlambat, tetapi pusingnya harus lebih dulu hilang. 

Saya lalu menawarkan beberapa opsi untuk menghilangkan pusing. Diantaranya mandi air hangat dan minum teh hangat. Perlahan dia setuju. Lalu dia mandi dan pakai baju. Alhamdulillah!
Satu tahap sudah selamat!

Kita ngobrol di meja makan seperti biasa, padahal bel sekolah sudah berbunyi jam segitu. 

Setelah siap semua, saya temani ayahnya mengantarkan dia. Di pintu gerbang sekolah, airmatanya mulai keluar lagi. Saya duduk peluk. Ngak perlu banyak bicara, dia hanya perlu pelukan. 

Minta izin diantar kedepan kelas. 
Menangis lagi. 
Kami duduk dalam diam.
Lalu saya bertanya, sebetulnya apa yang memberatkan hati. Dia menggeleng sambil tetap sedih. Saya tebak perasaannya, lalu mendengarkannya.

Setelah menerima perasaan, lalu saya bilang “Ayah tahu Daffa sedih, ngak suka, ngak ngerti sama pelajarannya. Nanti pulang, kalau sudah ngak capek, kita belajar ya.. pake slide show” tawar saya. Dia mengangguk perlahan. 

Saya lanjutkan dengan mengatakan “Mama  mendoakan Daffa gembira hari ini, Daffa boleh ngak tolong Ayah?”. Dia mengangguk. 
“Boleh ngak Daffa berusaha untuk senang hari ini?, ngak usah senang, cukup BERUSAHA untuk senang?” tanya saya lagi. 
Dia mengangguk lagi. Pak gurunya sudah menunggu di samping kami. Saya tanya “sudah boleh masuk kelas Daffa?”. Daffa mengangguk dan menghentikan airmatanya. Saya peluk sekali lagi, cium pipinya, dan ia pun berjalan ke kelasnya.

Apakah saya begini setiap hari?
Tentu tidak, saya manusia juga. Banyak ngak sabar dibandingkan sabarnya. Tapi yang pasti, saya mau berusaha, saya mau berubah. Belajar untuk menjadi pendengar perasaan. Belajar untuk meninggalkan apa yang sedang saya lakukan, untuk fokus ke anak yang sedang bermasalah. 

Semoga Allah senantiasa membantu saya dalam menjaga amanah yang diberikan olehNYA.

Kalau saya bisa, anda juga.

Mari berbenah diri. 
Dari hari ke hari.
Terima perasaan anak.
Ajarkan empati. 
Bukankah itu nanti, 
Yang kita harapkan
anak mengerti?
Ketika tubuh mulai melemah,
Perasaan mulai mudah sedih. 

Semoga ananda berkenan memberhentikan kegiatannya, sekedar untuk memeluk tubuh Ayahnya yang merenta. 

Barakallahu fiik
Muhammad Daffa Mubarok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar