DIKIT-DIKIT UNFRIEND, EFEKTIFKAH?
Saya gak tau, berapa kali Anda diancam oleh teman social media Anda, jika gak komen atau like status yang ia buat, maka Anda akan di remove dari pertemanan mereka. Sudah lama sih sebenarnya fenomena ini muncul di dunia per-FB an.
Terus terang, Saya termasuk golongan orang yang kurang respect dengan cara-cara seperti ini. Memaksakan sebuah engagement.
Bagusnya jika kita mau "UNFRIEND" list teman-teman kita yg tidak aktif itu gak perlu di announce atau diumumin dulu.
Kenapa? Karena nanti yg muncul adalah fake interactions, fake engagement
Jika teman kita like, komen karena kita todong, jangan berharap komennya bisa tulus, keluar dari hati yang terdalam
Unfriend teman yg "dianggap" tertidur sebenarnya sah-sah aja kita lakukan
Karena itu kan akun masing-masing, dan memilih pertemanan juga hak masing-masing
Tapi jika terlalu sering dilakukan, dampak negatifnya sebenarnya bukan pada orang yg kita "unfriend". Akan jadi kebiasaan.
Jangan terlalu pede dan berpikir kalau orang yang kita unfriend akan merasa kehilangan status-status "berharga" kita.
Lha wong status kita yang terakhir-terakhir aja dia gak "engaged" gak bingung. Kehilangan status kita ya biasa aja laah..
Sebenarnya kita sendirilah seharusnya merasakan dampak negatifnya jika buru-buru meng-"UNFRIEND" mereka
Koq bisa?
Minimnya interaksi pada status atau postingan yang kita buat, bukanlah salah dari mereka yang ngga mau like dan ngga mau komen
Tapi kitalah yg salah sebenarnya
Sebenarnya ada banyak alasan kenapa teman kita enggan berinteraksi dengan kita, engage dengan status kita. Namun jika kita sederhanakan alasan terbesarnya cuma satu..
"Status kita memang tidak menarik buat mereka".
Kata menarik ini memang sangat luas definisinya
Tidak relevan atau gak nyambung dengan kepentingan mereka
Kepentingan orang itu tentu saja beda-beda
Ada yg bermain social media untuk sekedar bersosialisasi dan silaturahmi, ada yg niat mencari ilmu atau berbagi ilmu, ada yg nyari hiburan, ada juga yg mencari penghasilan.
Kalau orang di social media niatnya nyari teman, nyari hiburan tapi kita hajar terus-terusan pake postingan barang dagangan, ya tentu saja kabur mereka.
Sehalus-halusnya kita jualan, se covert-covert nya penawaran yang kita buat, kalo terlalu sering diumbar dan dilakukan pasti ya bikin jengah orang.
Jadi pahami dulu apa kira-kira motif mayoritas teman yang ada di friendlist kita.
Saya rajin banget kasih react "ha ha" ke status teman yg suka bikin status unfaedah karena memang sangat menghibur. Karena bagi Saya status-status guyonan cerdas itu "valuable" banget.
Apalagi kalo nemu status insightful atau yg biasa teman-teman sebut "status daging". Gak sungkan Saya akan like, komen bahkan share. Meskipun orang tersebut sama sekali Saya gak kenal.
Kadang kita terlalu gampang baperan, dan berpikir kalau semua orang memiliki pemikiran yang sama kaya kita.
Sesuatu yang menurut kita keren, belum tentu keren juga menurut orang lain.
Mereka punya ukuran mereka sendiri. Jadi kita gak bisa paksakan mereka harus like dan komen status kita.
Karena bisa jadi tujuan kita bikin status atau postingan memang tidak kita persembahkan untuk mereka. Lebih sering kita bikin status karena ingin dibenarkan dan di-iya-kan oleh teman-teman kita.
Pengennya apa yang kita bilang keren, harusnya mereka juga bilang keren.
Itu namanya kita masih terpengaruh dengan yang namanya "CONFIRMATION BIASED". Hanya mengkonfirmasi apa yang kita anggap benar, kita anggap keren harus dikatakan benar dan keren oleh teman kita.
Sejatinya kita bikin status tidak sebenar-benarnya untuk mereka, ya wajar kalo buat mereka status yang kita buat gak pernah "ngena" ke mereka.
Mestinya sepinya engagement terhadap status atau postingan yang kita buat, mestinya itu adalah modal berharga untuk mengupgrade diri.
Kita perlu mengasah skill yang namanya "EMPATHIC LISTENING".
Seni untuk mendengar apa sih sebenarnya yang valuable atau berharga bagi orang-orang yang ada disekitar kita.
Skill ini sangat penting untuk dikuasai jika kita ingin benar-benar membangun audiens. Audiens akan terbangun dengan sendirinya jika kita yang pertama kali peduli dengan mereka.
People don't care how much you know, until they know how much you care.
- Theodore Roosevelt
Kita terjemahkan bebas dalam model interaksi sosial media bisa jadi seperti ini..
Tak akan ada yang PEDULI seberapa banyak yang kita tahu, sampai mereka benar-benar tahu.. seberapa PEDULI kita dengan masalah mereka.
Dalam versi yang lebih singkat, sebuah pengetahuan akan menjadi berharga ketika ia menjelma menjadi solusi dari masalah banyak orang.
Jadi solusi untuk mendapatkan engagement yang lebih baik di setiap status dan postingan yang kita buat, bukan dengan mengancam "UNFRIEND", tapi naikkan level ke-PEDULI-an kita terhadap "masalah" teman kita.
Jika postingan kita banyak memberi manfaat buat mereka, yakin deh lambat laun mereka akan dengan senang hati, like, komen dan bahkan share status yang kita buat.
Minimal kita mau tahu dan mendengarkan apa yang dikeluhkan oleh mayoritas teman-teman kita.
Baru kita bikin kan status atau postingan yang menjawab apa keluhan dan keresahan mereka.
Meskipun begitu, jika kita sudah berusaha memahami tapi interaksinya masih minim, jangan buru-buru baper.
Coba terus, karena memahami audiens itu juga butuh waktu. Tetaplah tulus dan konsisten berbagi. Status, postingan dan konten-konten yang kita buat akan menemukan pasangannya sendiri. Dan itu tidak selalu harus datang dari lingkaran pertemanan yang kita punya.
Rumus ber social media itu sederhana koq.
Perlakukan teman kita seperti kita ingin diperlakukan.
Jika kita gak ingin terus-terusan dijuali, ya jangan lakukan ke orang lain.
Jika kita ingin orang lain peduli sama status kita, ya kita harus peduli dulu dengan keresahan mereka
Salam Berkah
By Muhammad Azhar
22.00 PM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar