Bumi Berakhir Tahun 2106?
Terpaksa saya kutip pertanyaan Stephen Hawking ini: adakah, dalam waktu 100 tahun lagi manusia masih memiliki kemampuan hidup di bumi. Pertanyaan itu ia ucapkan di tahun 2006. Dua belas tahun kemudian, 14 Maret 2018, ia meninggal. Selain Lubang Hitam, pertanyaan inilah yang banyak diingat publik.
Selain seorang agnostik, Hawking, dalam beberapa hal adalah seorang humoris. Sebagai agnostik, kalimat itu bisa saya tafsirkan adalah prediksinya sebagai ilmuwan, bahwa nasib bumi akan berakhir di tahun itu. Tetapi sebagai humoris, ia terpaksa mengemas pernyataan itu sebagai pertanyaan. Ia, sebagai fisikawan teori paling fenmenal di zamannya, tentu telah membuat kalkulasi. Bukan kapasitas saya untuk menjangkau ilmu fisika sampai sejauh itu. Tetapi ‘’prediksi’’ Hawking itu membuat saya berpikir tentang soal yang tak dia singgung: kebakaran hutan dan korupsi.
Di awal-awal masa jabatannya, Presiden Jokowi mengunjungi lokasi kebakaran hutan Sumatera tepat di jantungnya. Saya masih sering melihat foto itu kaena tersimpan di file ceramah saya. Tahun ini, Presiden kembali mengunjungi lokasi kebakaran serupa. Dengan pose yang juga nyaris tak berbeda. Dalam bahasa simbol, pose ini mestinya mengirim pesan yang jelas: api, apapun alasannya, apapun hambatannya, akan lekas padam. Kebakaran hutan sebagai sebuah ‘’tradisi’’ mestinya, telah harus berhenti karena Presdien telah bertandang sampai sejauh itu. Tetapi nyatanya tidak. Ada atau tidak ada kunjungan Presiden itu ternyata tak menghentikan laju api. Lalu simbol apalagi yang harus dikirim agar kerusakan ini berhenti? Saya tak tahu lagi.
Lalu tradisi yang lain, korupsi. Adakah kedua peristiwa itu berkaitan? Secara langsung bisa jadi tidak. Tetapi kegemparan KPK di hari-hari ini, mengisyaratakan, bahwa perang pada korupsi masih akan lama, tak peduli apakah KPK kuat atau lemah, diperkuat atau diperlemah. Persoalannya bukan apakah KPK kuat. Persoalannya ialah jika budaya korupsi teryata jauh lebih kuat. Ini baru di Indonesia, lalu berapa besar korupsi di dunia lengkap dengan segala macam jubah dan atas namanya? Ini belum menghitung perang dagang, perang nikotin, perang kepentingan, dan ujungnya, ketika seluruh bahasa perang tak lagi bisa dipakai, sampailah pada perang pungkasan yang disebut Hawking: nuklir. Itulah mungkin kalkulasi Hawking.
Bumi, akan menjadi rapuh oleh kelakuan penghuninya. Itu baru perilaku penghuni. Belum perilaku alam raya itu sendiri.
Di alam raya ini, kedudukan bumi ternyata ringkih sekali. Sampah teknologi yang berlalu-lalang di ruang angkasa ternyata telah menjadi polusi mulai sejak Sptunik diluncurkn. Sampah itu ‘’abadi’’ di sana dan siap mengancam bumi kapan saja. Jumlah populasi, tingkat polusi, dan ketersediaan pangan adalah ancaman besar di masa depan yang tak akan lama lagi itu. Sejak abad 18, Robert Malthus telah cemas pada ancaman populasi. Salah satu soal yang tak bisa dihentikan dai manusia, menurut Malthus adalah reproduksi. Matlhus benar, di tahun 2012 lalu, penduduk bumi telah genap tujuh milyar, jauh meninggalkan jumlah ideal yakni 4 milyar. Tetapi angka 10 milyar di tahun 2050 tak sulit dibayangkan. Itulah jumlah tersesak yang bisa ditolerir, itu pun dengan syarat ke sepuluh miyar manusia itu harus semuanya menjadi vegetarian. Adalah salah satu yang mengejutkan bahwa penyumbang efek rumah kaca adalah sendawa sapi.
Itulah mengapa, entah kebetulan atau tidak, NASA mencanangkan pendaratan di Mars untuk mencoba mengais kehidupan di Planet itu. Angka itu ditawar setengah, menjadi 2025 saja oleh seorang imigran Afrika Seatan yang kini mencengangkan dunia dengan mega-proyeknya: luar angkasa. Orang itu adalah Elon Musk. Pindah ke Mars adah obsesinya. Elon tak sedang bermimpi. Ia adalah pencemas besar tentang nasib bumi dan telah melahirkan Tesla motor, mobil listri yang ramah lingkungan dan biro ravel luar ankasa lewat SpaceX.
Pendaratan di bulan yang tercatat sebagai suskes besar manusa ternyata hanya untuk mengabarkan berita buruk: bulan tak bisa dihuni. Padahal jarak dari bumi hanya 3 hari dengan teknologi Apolo. Maka tedekat kedua adalah Mars.
Jarak menujunya memang membutuhkan 240 hari dari bumi. Tetapi ada kemungkinan kehidupan lebih mudah direkayasa karena Mars menyimpan deposit es. Kini, tiba-tiba kita sangat berharap dari usaha Elon Musk, jika bumi hanya dipenuhi kebakaran hutan, korupsi dan aneka perang kepentingan itu. Belum pula jika tata surya kita yang lemah itu didekati satu saja dari Lubang Hitam yang jumlahnya milyaran itu. Gravitasinya akan menelan seluruh tata surya dalam sekejab. Di luar itu, ternyata juga ada banyak sekali planet pengelana, Rogue Planet, ditaksir 200 milyar jumlahnya. Planet ini adalah planet gelandangan tanpa tata surya dan berjalan ke mana saja dia suka sambil menabarak siapa saja. Bumi yang ringkih ini di luar itu, akan menjadi ringkih dari dalam dengan aneka kejahatan dan terutama korupsi para penghuninya ini.
Copas Prie Gs

Tidak ada komentar:
Posting Komentar