Sabtu, 14 September 2019

HARTA KARUN PENGASUHAN


Kenangan indah adalah suatu rezeki yang luar biasa. Nyaman dihati dan tenang dalam pikiran.
Kenangan yang bagaimana yang nikmatnya berjangka lama? Tentu kenangan yang positif. Kenangan yang dibuat bersama dengan sengaja. Kenangan karena kebersamaan yang dilalui dengan bahagia.

Kenangan yang saya ingin bagi ini adalah pengalaman pribadi, dan juga  pengalaman beberapa teman yang saya rasa pantas kita kutip disini.

“Saya selalu menyempatkan diri mengantarkan anak saya sekolah. TIdak saya serahkan sama sopir. Karena waktu bersama anak2 itu tidak lama”, demikian kata seorang kawan saya anggota DPR puluhan tahun yang lalu.

“Waktu kita bersama mereka sangat pendek” lanjutnya .”Kalau mereka menjelang atau sudah remaja, mereka sudah tidak mau lagi kita antar kesekolah”.
Malah ada anak teman saya pingin sekolah ditempat yang jauh. Supaya ada alasan utk ber lama lama dengan teman2nya.

Dunia mereka berobah cepat sekali.. kadang2 kita tidak menyadarinya. Tau tau anak kita sudah beranjak besar dan bahkan sudah tidak mau dan punya banyak alasan bila kita ajak bepergian dengan keluarga.

Saya masih teringat beberapa kenangan manis dengan anak anak kami, waktu mereka masih kecil.

Putri kami yang sulung, sangat manja. Takut ketemu orang baru dikenal.. Hobinya waktu kecil adalah naik lift dipertokoan dekat kami tinggal. Saking hobinya naik lift, kami pernah terkunci tidak bisa keluar dari  lift, untung tidak lama.
Kalau kami bepergian dan harus diusahakan ada yg  naik lift nya. Sejak dia TK sampai SD kelas tinggi, dialah yang harus menekan tombol lift, tidak boleh yang lain..

Selain itu, sejak kecil entah kenapa, dia sangat penjijik.Semua harus bersih. Kalau turun tangga dia tidak mau pegang teralis tangga, katanya: “Sudah dipegang banyak orang, kotor!”.
Sehingga kalau naik prosotan di Monas (waktu itu ada prosotan dan arena permainan lain disana) dia juga tidak mau memegang dengan telapak tangannya tapi dengan bagian punggung tangannya.
Kalau  prosotan itu berpasir, dia jijik kalau sampai terpegang pasir itu dan minta di lap lebih dahulu…
Kami ber dua, selalu berusaha seminggu sekali minimal membawanya bermain ke Monas. Setelah kehadiran adiknya minimal saya sendiri bermain berdua dengannya.

Putri kami yang kedua lain lagi. Kalau bepergian paaaling senang bertanya dengan kata2: “Masih jauh ayah?”." Masih jauh nggak ma?" Jawaban yang paling dia suka adalah: ”Jauuuuuuuh sekaliiii…. !!” kata jauh itu harus diucapkan dengan berirama dan panjaang. Lantas dia tersenyum puas dengan jawaban itu dan bertahan untuk tidak bertanya lagi sampai tiga puluh menit kemudian. Setelah itu dia bertanya lagi..dan lagi dan lagi sampai ketujuan.

Waktu masuk sekolah pertama di sebuah Taman Kanak Kanak  di Honolulu, Hawaii tangisnya luar biasa. Sehingga tidak tahan kita untuk meninggalkannya. Tapi karena setiap kali begitu, gurunya meyakinkan kami bahwa dia akan baik2 saja kalau bapak ibu tidak dilihatnya lagi disekitarnya, dan ibunya meninggalkannya dengan air mata iba..

Putri kami ini suka sekali bertanya tentang apa saja dan non stop. Kami berusaha menjawab, kadang sudah sekenanya, karena kecapean.Kalau sudah benar benar lelah ibunya akan bilang : “Cukup dulu ya bertanyanya, mama capek dulu!”

Putri kami yang ketiga, kalau diantarkan kesekolah sejak TK sampai SD senang duduk distang sepeda. Dengan tugas memberikan tanda dengan tangan kalau mau belok, dan mengatakan :”Kiri!´ atau “Kanan!”, padahal jalanan komplek sepi sekali. Tapi dia dengan setia menjulurkan tangannya kekanan atau kekiri. Sekolahnya ‘Fine View Elementary School’ memang tidak jauh dengan tempat kami tinggal; Alumni Village, Tallahassee, Florida,
Jadi tak melelahkan benar bila diantar dengan sepeda. Diapun tidak mau kalau diantar dengan mobil.. Saya pun menikmatinya.

Pada suatu kali gurunya ingin bicara dengan kami. Berdebar juga hati ini, ada apa gerangan.

Ternyata  gurunya hanya ingin menyampaikan sebagai berikut:”Sudah lama saya jadi guru, baru kali ini saya dikritik oleh anak bapak tentang posisi meja, lokasi lemari dan benda2 dalam kelas, karena menurut dia posisi itu tidak menarik!”.

Menurut guru ini, keberanian itu luar biasa dan tolong dibina untuk dia dapat mengeluarkan pendapat yang sehat”.

Wah.. untung di Amerika, saya tidak membayangkan kalau itu terjadi di negeri sendiri…

Sekarang anak kami yang sulung sudah punya anak menjelang remaja, tinggal di Kuala Lumpur.

Putri kami kedua sudah punya tiga anak berdiam di Singapura. Masing masing mereka, alhamdulillah mengantar jemput anak anak mereka sendiri.

Putri bungsu kami tinggal nun jauh ditanah suci : Madinah al Munawwarah. Alhamdulilah 4 bulan yg lalu  menghadiahi kami cucu perempuan kedua dari tujuh cucu.

Tapi kenangan demi kenangan yang kami lalui bersama mereka itu abadi dalam ingatan kami, semoga juga dalam ingatan mereka.
Kenangan manis ini mereka  perlukan sebagai pengalaman menyenangkan yang tidak terlupakan dan  modal dalam mereka mengasuh anak anaknya pula. Bagian dan kebahagiaan mereka, yang waktu itu alhamdulillah jauh dari resah dan gundah.

Ternyata kenangan manis dengan anak2 kita tersebut seperti tulisan dalam prasasti. Umurnya lama dan tidak mudah hilang. Kenangan dengan mereka adalah kenangan yang menyenangkan kalau diingat.
Ternyata, hubungan kita dengan mereka yang hangat dan ikhlas tersebut, menarik dan sangat menyenangkan kalau diungkit kembali.
“Saya tidak pernah lupa, kata istri saya dalam suatu ceramahnya di kediaman Konsul Jenderal RI di Sydney pertengahan November 2016 yl. “ Supaya kantor Konsultan saya bisa berjalan di awal awal berdirinya,suami saya membelikan mesin fax dan membayar gaji staf saya tiap bulan” katanya sambil tersendat tidak bisa menahan rasa harunya.

Nah, kenangan manis itu sebagian besar bisa kita ciptakan dengan kebersamaan dan kehangatan dalam keluarga. Masing2 kita punya kenangan manis dengan anak2 kita.
Kawan kawan dalam grup ini yang sudah jadi kakek nenek pasti juga tidak kurang pengalaman manisnya dengan para anak dan cucu tercinta.

Ayo kita berpacu dengan waktu untuk menciptakan kenangan manis yang tidak terlupakan baik oleh kita maupun anak anak kita. Karena kenangan manis inilah “harta karun” pengasuhan yang sebenarnya.
Ia akan terpatri dalam sanubari kehidupan kita dan keluarga yang selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Bila anda tua nanti, anda pasti akan merasakan apa yg kami alami:  Waktu yang sekarang terasa sangat padat, tergesa2, berat dan panjang, akan terasa sangat pendek..pendek sekali.

Berupayalah untuk menimbun harta karun Pengasuhan….
Selamat berjuang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar